Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 19 - Teater & Trauma


__ADS_3

"Hei, enak ya, dipeluk cowok cakep."


"Eh, Apa?" Luke tersentak kaget.


Seorang pria datang menghampiri mereka. Akan tetapi Dede justru semakin menarik Luke dalam pelukannya.


"Lepaskan," ucap Luke malu. Ia mendorong tubuh Dede dengan kuat.


Bruk!!


“Aduh!” seru Luke. “Aku yang mendorongnya, tetapi kenapa justru aku yang terjatuh?” pikir Luke sambil menggosok sikunya yang ngilu.


“Eh, di mana ini?” Luke bingung. Bukannya ia tadi berada di lobby hotel menggunakan gaun biru? Kenapa sekarang ia memakai baju kaos abu-abu? Luke memandang sekeliling.


“Astaga! Ini kamarku! Jadi aku tadi bermimpi?” gumam Luke. Jam dinding menunjukkan pukul  7.13. Berarti ia melewatkan sholat magrib.


“Hah, sudah gila aku? Memimpikan dia? Yang benar saja?” ucap Luke bergidik geli.


Di dunia nyata saja ia tidak pernah membayangkan dipeluk apalagi sampai tidur di dadanya. Hiii….


“Apa tadi itu mimpi basah? Kenapa harus dengan suami orang sih? Bukan, pria brengsek lebih tepatnya.” Luke meraba pakaian dalamnya. Tidak ada basah ataupun bau aneh.


“Oh, iya. Satria pasti menungguku.”


Luke mengambil ponselnya dan membuka percakapan terakhir.


“Hai, Luke. Apa kabar?”


^^^“Apa?” balasnya^^^


“Haduh, galak amat Neng. Nonton teater, yuk. kamu suka teater nggak?” tulis Satria.


Hanya sampai situ percakapan mereka. Pesan terakhir pukul 17.05.


“Hah, jadi aku belum membalas pesannya? Berarti semua pesan yang aku balas itu, hingga janji ketemuan di hotel Iblis itu semuanya mimpi?” gumam Luke.


“Teater, ya. Aku nggak punya kenangan indah dengan teater. Yang ada justru kenangan kelam,” ucap Luke dalam hati.


Matanya menerawang jauh. Kenangannya berputar ke belasan tahun silam saat ia masih duduk di kelas tiga SMA. Kejadian masa itu sungguh bertolak belakang dengan mimpi Luke barusan.


Saat itu adalah class meeting setelah ujian semester satu. Seluruh siswa berkumpul di lapangan. Menonton pertunjukan pentas seni. Puluhan siswa turut serta dalam pementasan itu. Tapi Luke hanya memandang satu siswa saja. Dede Purwanto. Iya, nama yang sangat medok jawa.  Ia sudah menaruh hati pada pria itu, sejak duduk di kelas satu SMA.


Saat itu mereka secara tidak sengaja bertemu saat Luke menyampaikan pesan dari guru Fisika. Dede memang bukanlah siswa yang pintar. Tapi ia bersikap jujur saat ujian, berbeda dengan tampilannya yang sedikit badboy. Bahkan demi memperbaiki nilainya di remedial fisika, ia rela belajar dengan Luke setiap pulang sekolah. Ia ternyata juga pandai dalam pelajaran Bahasa Arab dan komputer.


Hingga di kelas dua dan tiga, mereka bertemu lagi di kelas XI IPA 1. Dede mungkin tidak mengenalinya lagi ketika mereka bertemu di kelas dua. Luke bukanlah tipe cewek yang populer di sekolah, meski ia cukup pintar. Namun, di kelas tiga mereka cukup sering satu kelompok tugas. Meski demikian, Luke tetap tidaklah terlalu akrab dengan cowok populer itu.

__ADS_1


“Hei, apa kamu tidak bisa melihat yang lain juga? Di sana ada banyak cowok,” kata Flora. Selama dua tahun lebih menyimpan rasa, hanya Flora, sahabatnya sejak kelas lima SD, yang menjadi tempat curhatnya.


“Duh, kamu ini. Hanya ini yang bisa kulakukan,” ucap Luke.


Usai pentas seni, para siswa berhamburan menuju booth makanan, tak terkecuali Luke dan Flora. Mereka menuju booth martabak milik kelas 1 B, dan memesan dua buah martabak mini topping jagung keju.


“Martabak topping coklat dua, ya. Sekalian aku bayar yang ini.”


Luke menoleh. Dede tersenyum manis padanya.


“Sekali ini aku traktir deh, karena kamu memandangku hingga akhir pementasan,” kata Dede.


Pipi Luke memerah. Ia tidak menyangka pria ini mengetahui aksinya.


“Luke, kau menyukaiku, kan?” tanya Dede ketika mereka duduk bersama di bawah pohon akasia halaman sekolah. Pipi Luke memerah. Sama hangatnya dengan martabak yang sedang mereka nikmati.


“Hei, kau mendengarku?” tanya Dede lagi.


Luke mengangkat wajahnya tanpa berani menatap Dede. Flora menyenggol bahu Luke. Seakan ia berkata, ‘jujur sajalah!’


“Beberapa bulan lagi, kita akan ujian nasional. Setelah lulus kita akan berpisah. Memilih jalan masing-masing dan entah kapan bisa bertemu lagi. Jadi aku harus mengatakan secepatnya, Dede menatap Luke lekat-lekat, Aku tahu kau sudah menyukaiku sejak lama. Iya, kan?”


“Dari mana kamu tahu?” tanya Luke


“Tergambar jelas di wajahmu, sikapmu. Kamu juga terlalu sering menoleh ke belakang ketika jam pelajaran,” jawab Dede.


“Ah, aku akan memberikan kenang-kenangan untukmu.” Dede tidak menjawab pertanyaan Luke. Dia mengeluarkan sebuah spidol permanen, lalu meraih lengan Luke.


“Aku memberikan tanda tanganku yang berharga hanya padamu,” kata Dede sambil menuliskan tanda tangan dan namanya di lengan sweater Luke yang panjang. Karena hari ini hari bebas, maka para siswa pun dibebaskan memakai aksesoris asal tidak berlebihan.


“Ehm..” Luke merasa kaku seperti boneka pinokio. Sementara Flora bergeser sejauh sepuluh inchi dari mereka.


“Kenapa kamu memberikannya sekarang? Kita masih punya waktu sekitar empat bulan lagi hingga kelulusan tiba,” tanya Luke tak mengerti.


“Luke, aku hanya ingin mengatakan ini sekali saja. Terima kasih karena menyukaiku. Kurasa setiap orang pasti ingin jadian dan bersama orang yang disukainya. Tapi bisakah kamu simpan saja perasaanmu itu? Cukuplah aku dan Flora saja yang tahu,” ucap Dede kemudian.


“Kenapa? Apakah aku mengganggumu?” tanya Luke sambil menggigit bibir, menahan rasa sakit.


“Hmm.. tidak. Hanya saja aku tidak bisa bersamamu,” jawab Dede sembari menatap Luke. “Bagaimana tanggapan teman-teman jika kita dekat apalagi bersama?” lanjutnya.


“Maksudmu? Aku membuatmu malu karena tampilanku yang tomboy? Atau karena kamu yang populer tiba-tiba menjadi teman dekatku yang tidak populer ini?” tanya Luke bertubi-tubi.


“Eh, bukan seperti itu juga. Tapi aku memang tidak bisa bersama denganmu. Kuharap setelah ini kamu jangan menunjukkan sikapmu, perasaanmu padaku. Dan jangan terlalu akrab denganku.”


“Apa salahku? Apakah aku pernah memintamu untuk jadian denganku? Atau dengan sengaja menunjukkan perasaanku padamu di depan semua orang?” ucap Luke lagi. Kekagumannya pada pria ini beberapa saat yang lalu, kini menguap seluruhnya.

__ADS_1


“Maaf Luke. Kita punya tipe yang berbeda. Selain itu, hampir semua orang di kelas telah mengetahui isi hatimu itu,” kata Dede.


“Apa maksudmu? Bukannya tadi kamu bilang kalau hanya aku dan Flora yang tahu? Maksudmu Flora berkhianat?” Cecar Luke.


“Tidak. Bukan seperti itu. Dengan sikapmu yang seperti itu di kelas, siapa yang tidak akan mengira perasaanmu itu? Kita bukan anak SMP yang baru mengenal cinta lagi. Atau… kamu memang baru mengenalnya?” balas Dede.


Sigh. Luke tak bisa menampiknya.


“Jangan dekat denganku lagi. Kalau nanti kita satu kelompok tugas, bersikaplah seolah-olah kita baru kenal,” pinta Dede tidak tahu diri.


“Segitu memalukannya kalau orang tahu aku menyukai-“


“Dasar cowok brengsek! Luke, sudahlah. Kamu tidak perlu menyukai orang yang sudah menghinamu begini,” ujar Flora sembari mengajak Luke beranjak dari situ.


Flora sadar, ia terlalu ikut campur urusan percintaan sahabatnya. Tetapi ia juga tidak bisa diam saja melihat sahabatnya diinjak-injak seperti itu.


“Hei, tunggu. Minggu depan Dewi ulang tahun. Kamu sedari dulu ingin dekat dengan geng mereka, kan?” ucap Dede, menahan mereka pergi.


“Lalu?” tanya Luke acuh.


“Datanglah ke pesta itu, jika tidak datang aku akan menyebarkan, kalau Lukella gadis olimpiade yang culun itu berani mendekati bahkan melecehkanku,” ancam Dede.


“Apa? Tidak cukup kamu menghinaku dan menyuruhku menjauh? Kenapa sekarang kamu ingin menyebarkan rumor tidak benar itu?” protes Luke.


“Benar. Siapa yang akan percaya rumor murahan seperti itu. Di mana-mana laki-laki yang melecehkan wanita,” tambah Flora.


“Tentu saja aku harus menjaga harga diriku. Karena sebagian orang percaya, kalau aku yang duluan menggodamu ketika kelas satu. Aku tidak ingin namaku tercemar seperti itu, terutama di kalangan adik kelas yang tidak tahu kebenarannya,” ucap Dede.


“Apa kamu bilang? Namamu tercemar? Jadi kamu ingin mencemarkan namaku juga?” ucap Luke marah.


“Aku tidak akan menyebarkannya, jika kamu menuruti keinginanku. Tetapi jika aku menyebarkannya, siapa yang akan mereka percaya? Kamu, si culun yang tidak punya teman? Atau aku, siswa populer yang punya banyak teman? Pintar saja tidak cukup untuk membuat mereka percaya,” kata Dede.


Luke mengepalkan tangannya. Bersiap-siap ingin menghajar makhluk bejat di hadapannya. Sebenarnya dari tadi ia ingin mempraktekkan ilmu bela diri yang di ajarkan ayahnya, namun masih di tahan, mengingat mereka berada di lingkungan sekolah.


“Aku tahu, dulu kamu hampir dilecehkan oleh senior kita, kan? Apa kamu ingin aku menyebarkan rumor itu juga? Tidak ada yang tahu kan, dia yang memulai atau kamu yang duluan menggodanya.”


“Tidak! Jangan,” ucap Luke. Kakinya menyerang tubuh pria itu. Namun di luar dugaan, ternyata Dede juga lihai bela diri.


“Maka dari itu, datanglah. Aku akan kasih tahu tanggal acaranya nanti. Apa susahnya sih datang? Atau kamu memang gak pede untuk bergabung dengan kami?” ucap Dede seraya menangkis semua tendangan dan pukulan Luke.


“Oooh… Luke… Masih hidupkah?”


Sebuah pesan masuk dari Satria membuyarkan semua kenangan kelam itu.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya.


Sampai jumpa di episode berikutnya. ^_^


__ADS_2