
"Bung, bisa bicara denganku sebentar?" ujar Satria pada Dede.
"Ya?" Dede pura-pura bingung.
"Aku tak tahu kamu siapa dan apa masalahmu, tetapi kamu mengikutiku sejak tadi?" tanya Satria.
"Maksudmu?" Dede masih pura-pura.
"Kamu tadi datang ke pesta Jaksa Agung Setiawan, kan? Tetapi beberapa saat kemudian, kamu berada di belakang mobilku. Mengikutiku hingga sampai di sini," jelas Satria setelah berpindah tempat. Mereka sedikit menjauh dari kontrakan agar tidak mengganggu Luke istirahat.
"Heh, kamu tidak tahu kan? Aku memang tinggal di sini. Aku penghuni kamar nomor tiga," jawab Dede dengan tegas.
"Oh, ya...? Meskipun demikian, kenapa kamu mengambil jalan yang sama persis denganku? Padahal untuk sepeda motor, ada jalan lain yang lebih dekat dan lebih nyaman dari pada tadi."
"Memangnya jalan itu ayah kamu yang membangun? Dan apa hanya kamu saja yang boleh melaluinya? Aneh," ujar Dede menutupi kebohongannya.
"Aku tebak, kamu mengetahui apa yang dialami Luke," kata Satria.
"Apa lagi maksudnya ini?" Dede masih tetap berpura-pura.
"Lihatlah pakaianmu. Kamu pikir itu keren? Padahal kalau diperhatikan betul-betul, kamu seperti badut di taman bermain anak. Itu artinya kamu kamu tadi sedang terburu-buru. Asal pakai saja, yang penting mendekati dress code yang ditentukan," lanjut Satria.
Dede merasa pakaiannya baik-baik saja. Astaga, apa ini? Kemeja ungu dipadu dengan jas warna dongker dan celana cokelat? Dia pikir tadi itu setelan berwarna hitam. Oh bukan hanya itu, dia bahkan menggunakan sepatu yang berbeda di kanan dan kaki kiri.
"Lalu bisa kamu jelaskan? Mengapa kamu hanya menghadiri undangan kurang dari satu menit?" selidik Satria.
Dede tidak bisa mengelak lagi. Pria di depannya sungguh cerdas. Apakah dia mantan anggota detektif cilik dari komik Jepang yang terkenal itu?
"Terus kamu sendiri siapa? Tiba-tiba mengantarnya pulang? Apa kamu memang sedang berada di pesta itu? Bahkan sampai masuk ke dalam rumah dan menutup pintu?" cecar Dede.
"O, ow... Ada tetangga over protective rupanya di sini. Aku penasaran, kamu sudah beristri atau masih single. Tetapi sikapmu sungguh berbeda dari pria yang bersama Luke tadi," sahut Satria.
"Aku tidak butuh mendengar celotehanmu," kata Dede kesal.
"Ah... Jadi kamu masih penasaran dengan identitasku? Kenapa? Kamu tertarik dengan Luke dan merasa kalah saing denganku?" sindir Satria.
Dede mendengus kesal. "Susah kali bicara dengan pria ini. Dia pasti hanya seorang anak manja dari pengusaha kaya raya," pikir Dede.
"Aku Satria Aditama. Psikolog yang bekerja di rumah sakit S. Selain itu, aku juga utusan dari ibunda Luke, untuk menjaga anak gadisnya di kota ini. Yah, tidak menutup kemungkinan nanti kami akan berjodoh." Satria memberikan sebuah kartu nama pada Dede.
"Oohhh..."
__ADS_1
Rasa percaya diri Dede yang tadi sebesar gunung Jaya Wijaya, langsung lenyap entah ke mana. Dia benar-benar hanya sebuah 'kentang' di depan pria ini.
Lelaki yang ia kira hanya seorang anak manja konglomerat kota ini, ternyata seorang pria mapan dengan karir yang menjanjikan.
"Utusan ibunda Luke? Siapa pria ini sebenarnya? Tadi Lukman juga sempat mengatakan, dia satu kampung halaman dengan Luke. Artinya, ia juga satu kampung halaman denganku. Tetapi mengapa aku tidak mengenalnya?" pikir Dede.
"Kamu sendiri siapa?" tanya Satria.
"Aku? Ah.. Aku ya tetangganya. Seperti yang aku bilang tadi," jawab Dede ragu-ragu.
"Maksudku, kenapa kamu sangat protective dengan Luke. Aku baru tahu, hubungan antar tetangga sedekat itu? Padahal yang aku tahu, Luke sangat sulit akrab dengan pria mana pun. Apa kamu memang ingin mendekatinya? Atau kamu pernah mengenalnya di masa lalu?" tanya Satria penasaran.
"Hah... Apa maksudmu bertanya seperti itu? Hubunganku dengan Luke bukan urusanmu," ujar Dede tidak senang.
"Aku hanya mengatakan ini sekali saja. Jadi dengarkan baik-baik. Aku menyukai Lukella. Tetapi aku juga tidak melarang siapa pun mendekatinya, selama ia belum resmi menjadi milikku," kata Satria.
"Yah, memang seharusnya begitu, kan?" ujar Dede.
Ia tidak terlalu terkejut mendengar pria ini menyukai tetangganya. Gelagatnya sejak tadi sangat mudah ditebak.
"Tetapi ku harap, dia menemukan lelaki yang baik. Bukan lalat pengganggu seperti kamu," lanjut Satria.
*****
"Assalamualaikum. Luke..."
"Waalaikumussalam," sahut Luke. Ia terbangun karena panggilan seseorang dari luar.
"Duh, jam berapa ini? Apa aku melewatkan sholat subuh? Untung saja sempat makan sate pemberian Satria dan berganti pakaian semalam," gumam Luke seorang diri.
Ceklek! Luke membuka pintu, dan mendapati tetangganya yang telah berpakaian rapi, menunggunya di teras rumah.
"Hai, Lukman," ujar Luke canggung.
"Hai. Bagaimana keadaanmu? Ini aku bawakan nasi pecal kesukaanmu. Aku juga ingin meminta maaf soal tadi malam. Aku tidak tahu kalau kamu ada trauma dengan pesta," ucap Lukman.
"Oh... Soal itu... Aku juga salah, karena tidak berterus terang padamu. Tetapi, kamu tidak usah repot-repot membelikan sarapan seperti ini. Kan sudah ku katakan, aku tidak bisa disogok," kata Luke.
"Ini bukan sogokan. Tetapi ucapan terima kasih dan maafku," jelas Lukman. "Kalau saja kamu tidak menemaniku tadi malam, kamu pasti tidak akan berakhir seperti ini. Di saat yang sama, nama firma hukum kami juga semakin dikenal di kalangan atas berkat bantuanmu," kata Lukman.
"Oh..." ujar Luke. Ia kembali canggung.
__ADS_1
"Oh iya, bajunya aku cuci dulu, ya. Setelah itu akan aku kembalikan padamu," lanjut Luke.
"Baju mana? Gaun yang kamu pakai tadi malam? Ambil saja untukmu. Anggap saja hadiah dariku. Dan lagi, aku juga tidak bisa memakainya, kan? Apa kamu ingin memanggilku Lukman di siang hari dan Lulu di malam hari?" kata Lukman sambil tertawa kecil.
"Hahahah... Apa sih? Benar juga, ya. Kalau begitu aku akan ganti biayanya," ujar Luke malu.
"Sudahlah, itu hadiah untukmu. Segeralah sarapan. Jaga saja kesehatanmu. Aku juga harus pergi. Hari ini pembuatan berita acara kasus Dede dan istrinya," ucap Lukman lalu bergegas pergi.
"Oh iya! Aku juga harus berterima kasih pada Satria," seru Luke.
Ia bergegas ke dalam dan mengambil ponselnya. Tidak disangka, terdapat banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab. Luke langsung membuka pesan dari Satria.
"Selamat pagi, Luke. Bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Hai, Luke. Apakah kamu sudah bangun?"
"Apa keadaanmu masih buruk? Kenapa tidak menjawab pesan dariku? 😟"
"Banyak sekali pesan darinya. Ia pasti sangat khawatir. Tadi malam ia juga mengantarku pulang tanpa banyak bertanya," gumam Luke.
^^^"Maaf Satria. Keadaanku baik-baik, saja. Aku hanya terlambat bangun. Terima kasih untuk yang tadi malam. Maaf juga karena sudah merepotkanmu," balas Luke.^^^
Hingga beberapa menit kemudian, belum juga datang balasan dari Satria.
"Duh, ia pasti sudah sibuk di rumah sakit sekarang," pikir Luke.
"Satria pasti sudah mengetahui kalau aku mengidap post traumatic, ia kan seorang psikolog. Ah, Lukman pasti telah mengetahuinya juga. Bagaimana ini? Aku semakin membuat pria takut mendekatiku. Aku tidak boleh seperti ini terus," gumamnya lagi.
Luke lalu membuka pesan-pesan masuk lainnya.
"Selamat pagi Bu Ella. Apakah Ibu hari ini ada keperluan mendesak di luar? Para mahasiswa kelas B menanyakan Ibu hadir atau tidak," pesan dari Lucia.
"Waaakhh... Aku lupa. Pagi ini aku ada jadwal mengajar," seru Luke.
"Sampaikan pada mereka, saya akan datang terlambat sekitar tiga puluh menit," balas Luke.
Ia tidak bisa mengganti jadwal kelas seenaknya, sebagai para mahasiswa pasti akan kesulitan karena jadwal yang bentrok nantinya.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya.. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1