
Tiga minggu berlalu, sejak pertemuan terakhir antara Luke dan Satria. Hingga sekarang mereka belum sempat berjumpa lagi.
Satria sibuk dengan pekerjaan dan persiapannya ke Austria, sedangkan Luke pun sibuk mempersiapkan ujian akhir semester bagi para mahasiswanya.
Pada akhirmya, Luke tidak bisa berterus terang pada Satria tentang keadaan dirinya. Ia malah membiarkan Satria berjanji untuk menikahinya.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Luke dengan suara bergetar.
"Waalaikumussalam, Nak. Tumben jam kerja begini menelepon ibu. Kamu nggak kerja?" tanya ibu.
"Kerja, Bu. Ini lagi di kampus. Tetapi tidak terlalu sibuk," jawab Luke. Kakinya bergoyang, mengubah posisi duduknya untuk mengurangi rasa gugup.
"Apakah ibu sedang senggang? Ada sesuatu yang harus ku katakan pada ibu. Ku mohon, ibu jangan marah padaku," ujar Luke sambil mengepalkan tangannya. Dadanya berdebar kencang. "Aku harus berani," batinnya.
"Apa itu, Nak?" tanya ibu khawatir.
"Hmm... Begini, Bu." Luke lalu menceritakan semuanya pada ibu. Ia pasrah, apakah ibunya akan marah, atau malah sedih, yang penting ia telah menceritakan semuanya.
"Astaghfirullah, Nak. Jadi selama ini kamu simpan seorang diri semua masalah ini?" ujar ibu dengan suara tertahan. Jelas sekali ia menahan tangis.
"Iya, Bu," ujar Luke. Air matanya mengalir begitu deras. Rasa sesak didadanya kian membuncah, dan kini perlahan hanyut.
"Tidak apa-apa, Nak. Jangan khawatir. Pulanglah ke sini. Kita cari solusinya bersama," kata ibu setelah keadaan sedikit tenang.
"Ceritakan jugalah pada adikmu. Agar beban di hatimu sedikit berkurang. Ia sudah cukup dewasa untuk mengetahui hal ini," ujar ibu.
Entah kenapa, beban ratusan ton yang bergelayut di hati dan pikirannya selama beberapa tahun ini, mendadak hilang. Meski belum terselesaikan dengan baik, setidaknya ia tidak menanggungnya sendirian lagi.
__ADS_1
"Baik, Bu. Aku akan pulang, tetapi setelah semua pekerjaanku di sini selesai. Aku masih pegawai baru, tidak enak rasanya bila sering-sering cuti dan izin," ujar Luke sambil membuang lendir di hidungnya.
"Apa kamu baik-baik saja sampai menjelang pulang nanti?" tanya ibu.
"Jangan khawatir, Bu. Aku baik-baik saja. Tak berapa lama lagi akan waktunya liburan semester. Aku bisa ambil cuti di situ," jawab Luke.
"Syukurlah kalau begitu. Tetapi kalau ada sesuatu, jangan sungkan untuk mengabari ibu atau pun adikmu," kata ibu.
*****
"Luke, maaf jika kamu tak berkenan dengan pesanku ini. Tetapi aku sungguh khawatir, bagaimana keadaanmu sekarang." Dede mengirimkan pesan pada Luke.
^^^"Aku baik-baik saja. Keadaanku tidak seperti yang kamu pikirkan kemarin. Jadi tidak ada kewajibanmu lagi untuk khawatir dan menanyakan kabarku," balas Luke.^^^
"Dia benar-benar semakin menutup diri dariku. Tetapi apa dugaanku memang salah?" gumam Dede sambil memandang layar ponselnya.
Entah ini hal baik atau buruk, belakangan ini Dede lebih merasa khawatir dan peduli pada Luke dibandingkan Ina. Ia hanya berkomunikasi dengan Ina jika mengirimkan nafkah. Mereka sepakat untuk tidak mengangkat kasus itu ke ranah hukum, selama Ina mau pisah ranjang dengannya.
Papa calling...
"Assalamualaikum, Pa," jawab Dede.
"Waalaikumussalam. Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Alhamdulillah baik, Pa," jawab Dede.
"Ina mana? Kenapa ia tak pernah mengangkat telepon dari Papa?"
__ADS_1
Batin Dede menangis. Sungguh orang tua malang. Ia tak tahu jika anak gadisnya telah berbuat yang tak pantas. Meski ia membenci Ina, tetapi kedua mertuanya tetap ia sayangi seperti orang tuanya sendiri.
"Ina..." Dede terdiam sejenak. Tangisnya tertahan. Tetapi ia tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi.
"Pa, maafkan aku belum bisa menjadi menantu dan suami yang baik," ujar Dede.
"Ada apa, Nak? Apa ada masalah di antara kalian berdua?" tanya pensiunan polisi itu.
Dengan berat hati, akhirnya Dede menceritakan semua yang telah terjadi, baik kesalahan yang telah ia perbuat, maupun Ina lakukan. Sungguh, ia sudah pasrah menerima makian dari ayah keduanya tersebut.
Ia tak mau menyimpan atau menutupi apa pun lagi, termasuk kesalahan dirinya sendiri.
"Papa tak bisa bohong, jika Papa tidak keceea padamu. Tetapi... Papa sungguh minta maaf, telah membesarkan Ina menjadi anak yang manja dan tak berbudi baik," ujar ayah mertua Dede di seberang sana. Suaranya terdengar bergetar, sesekali ia menghirup napas dalam-dalam. Jelas sekali hatinya sangat sedih dan terpukul.
"Pa..." Dede tak sanggup lagi mengatakan apa pun. Saat ini hatinya hanya ingin memeluk ayah mertuanya yang sangat terkejut.
"Nak, terserah jalan apa yang akan kamu ambil antara Ina dan dirimu. Tetapi nasehat Papa, pilihlah jalan terbaik, diskusikan dengan kepala dingin. Jangan sampai kalian saling menyakiti dan memusuhi lagi. Papa tak akan menahanmu atau pun ikut campur," ujar pria itu dengan suara semakin serak.
"Pa, aku menyayangimu," tangis Dede.
(Bersambung)
Halo teman-teman. Yang suka kisah misteri atau fantasi mampir di karya baru aku, yuk. Masih anget banget nih. Baru terbit.
__ADS_1
Mampir aja dulu, mana tahu suka. Hehehe....
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi..