
Tiiittt... Suara klakson di depan rumah kontrakan.
Dede dan istrinya ke luar rumah. Bersamaan dengan Luke yang mengambil pesanan ojek food. Ia malas keluar lagi membeli makan di tengah hujan angin.
"Kak Luke? Ternyata kakak di rumah dari tadi?" tanya Ina saat mereka bertemu pandang.
"Iya," jawab Luke singkat.
"Kakak tidak mendengar suaraku sejak tadi?" tanya Ina lagi.
"Dengar. Lalu kenapa?" tanya Luke cuek.
Ina memasang wajah sebal. "Kakak tidak berniat membantuku?"
"Bukannya kamu bilang, ada banyak yang bisa membantumu jika sakit?" tukas Luke.
"Sudah, ayo. Pikirkan dahulu kondisi tubuhmu sebelum memarahi orang," ucap Dede pada Istrinya. Ia menuntun istrinya menuju taksi di bawah naungan payung.
"Cih, sedang sakit gitu, masih bisa mengomel juga. Makanya, kalau ngomong dipikir-pikir dulu," gumam Luke .
"Kamu kenapa sih? Lagi sakit seperti ini kok masih bisa marah-marah? Tadi aja, nangis-nangis kesakitan," ucap Dede pada istrinya ketika di taksi.
"Kok Abang selalu membela wanita ular itu dari pada aku?" ujar Ina Kesal.
"Uhuk.. uhuk..." Pak supir memberi kode.
"Ya, aneh aja. Masih ada tenaga rupanya kamu untuk marah-marah. Tuh, darah gak ingat lagi?" sahut Dede. Nampaknya mereka tidak mengerti kode dari kursi depan.
"Gimana gak marah. Dia ada di rumah, tapi tetangga sakit kok gak dibantu. Gak punya empati banget."
"Lho, kan kamu sendiri yang bilang, gak perlu repot-repot bantu tetangga. Dan kalau kamu sakit juga gak perlu dia tolong kan? Masih banyak yang lain bisa menolong kamu," ujar Dede.
"Hissss...." Ina menggeram kesal. Perutmya semakin terasa sakit.
"Dia juga pasti merasa kesal karena kejadian kemarin. Dan kamu tahu? Dia yang memberitahu abang kalau kamu sakit," ungkap Dede.
"Apa?"
"Dia tadi mengirim pesan kepada abang, kalau kamu sedang sakit. Sebelumnya ia menelepon abang berulang kali, tetapi tidak terangkat. Pulang dari sini kamu harus minta maaf padanya," kata Dede.
Ina memasang wajah berkerut. Ia tidak terima disuruh meminta maaf kepada rivalnya.
"Aduh, kok kencang kali membawa mobilnya Pak?" protes Dede.
"Biar cepat sampai, Pak. Kasihan ibunya sudah kesakitan," jawab sang supir. Ia sengaja menekan gas mobilnya. Dari pada mendengar pertengkaran suami istri di belakang.
__ADS_1
"Ya, kalau gini jantung saya yang sakit," ujar Dede.
*****
"Aneh, ya. Kok bisa sih suami si Nurul selingkuh gitu?" ujar Fitri.
"Ya bisa lah. Namanya juga laki-laki. Nampak yang lebih bening, lebih cantik, langsung belok," sahut Merry.
"Iya tuh, bener. Apalagi si Nurul ini kan pemalas. Jarang masak, jarang berbenah rumah. Wajah doang cantik. Laki-laki mana yang betah?" ujar Kak Tyas.
"Nah, apalagi pelakor zaman sekarang gak pakai rambu-rambu. Main tikung aja," kata Kak Nia pula.
"Bukan main tikung. Tapi main sambar. Si Nurul kan bisa ngomong doang. Jaga laki sendiri juga gak bisa," sahut Merry.
"Eh, kabarnya si Ina keguguran ya?" tanya Kak Tyas.
"Hooh, karma tuh. Kemarin kan dia ngatain si Luke," jawab Kak Nia.
"Emang kemarin pada gak dengar ya dia nangis abis jatuh?" tanya Fitri.
"Dengar, sih. Cuma malas aja keluar. Bikin repot," sahut Kak Nia.
"Iya tuh, benar. Aku juga dengar sih samar-samar. Tapi malas banget mau keluar. Mana udah mau hujan lagi," sahut Merry.
"Kalau aku kemarin emang gak ada di rumah. Lagi arisan keluarga," kata Kak Tyas.
"Kemarin mereka mengejek dan menginjak harga diriku. Sekarang semua orang dikatain. Mereka sebenarnya di pihak siapa sih? Emangnya mereka gak tahu ya, kalau obrolan mereka kedengaran sampai ke dalam rumah?" gumam Luke lagi.
*****
"Duh, berkasku di mana sih?" Luke memuntahkan isi tasnya. Mencari berkas-berkas paper dan CV dosen yang harus ia lengkapi hari ini.
"Astaga. Pasti tertinggal di atas tempat tidur deh. Duh, ini gara-gara emak-emak gibah tadi pagi," gumam Luke.
Heran deh, dia yang teledor, kok orang gibah yang disalahkan.
"Lucia, tempat yang bisa cetak foto di sekitar sini di mana ya?" tanya Luke.
"Oh, di fotocopy kampus bisa sih, Bu. Tapi bukanya jam sembilan nanti."
"Waduh, gawat."
"Kenapa, Bu?" tanya Lucia.
"Paper pengajuan penelitian dosen dan CVnya kapan ya terakhir di kumpul?" tanya Luke.
__ADS_1
"Hari ini, Bu. Sebelum rapat di Dekanat jam setengah sembilan nanti. Kalau terlambat, tahun depan baru bisa mengajukan lagi," ucap Lucia.
"Ehm, Lucia. Kamu bisa tolong saya nggak? Print kan paper saya. Semalam sudah saya print, tetapi tertinggal di rumah. Gak sempat lagi dijemput," kata Luke.
"Bisa, Bu. Tapi untuk cetak fotonya gak bisa. Kami gak punya kertasnya. Ibu bisa cetak di fotokopi seberang kampus."
"Oh, gitu ya. Saya pinjam sepeda motor kamu ya. Nanti saya isi deh minyaknya. Terus saya minta tolong juga print kan paper. Ini filenya," ucap Luke sambil menyerahkan sebuah flasdisk.
"Oke, Bu," jawab Lucia.
Tak butuh waktu lama, Luke telah sampai di tempat yang ditunjuk Lucia.
"Luke, ngapain kamu di sini?"
"Dede?" ucap Luke terkejut.
"Kamu menguntit aku sampai sini? Mengerikan," kata Dede.
"Hei, hei, siapa yang menguntitmu? Aku ke sini ada keperluan," bantah Luke.
"Keperluan apa? Terlalu kebetulan kalau kita selalu bertemu di luar," kata Dede lagi.
"Apa kamu bilang? Lalu siapa yang sengaja datang ke rumah malam-malam?" jawab Luke.
"Hah, cerita itu lagi. Lalu apa keperluanmu di sini. Aku selalu di sini setiap pagi. Kamu pasti sudah tahu jadwalku, kan?"
"Duh, bikin emosi sa-"
"Maaf, Bung. Saya tidak tahu Anda siapa. Tapi gadis ini sedang ada keperluan dengan saya di sini," ucap seorang lelaki memotong ucapan Luke.
Luke menoleh ke belakang. Pria itu menyentuh lengan Luke, memberi kode.
"Hah, kamu kan?" Dede terkejut.
"Ya, makanya jangan ganggu gadi ini lagi. Yuk, kita harus segera ke kampus," ucap pria itu.
Luke mengikuti pria itu keluar toko. Mereka lalu kembali ke kampus menggunakan mobil.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu. Tapi apa, ya?" pikir Luke.
"Sudahlah. Nanti ku ingat-ingat lagi. Yang penting sekarang aku selamat dari Dede berkat pria ini." ucap Luke dalam hati.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya.
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya. ^_^