Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 27 - Rahasia Masa Lampau


__ADS_3

"Untuk apa lagi kamu datang ke sini?" tanya Dede ketus ketika melihat istrinya datang.


"Aku mau membuat kesepakatan padamu," ucap Ina.


"Kesepakatan? Kesepakatan apa? Kalau kita sama-sama selingkuh? Jadi aku harus menerimamu kembali, begitu?" tanya Dede dengan nada tinggi.


"Kurang lebih begitu," jawab Ina sambil menerobos masuk.


"Aku tidak sama denganmu. Aku tidak pernah selingkuh dengan siapa pun. Aku hanya-"


"Tetapi faktanya kamu tetap menggendong wanita itu dan memasuki rumahnya, kan?" sahut Ina tak kalah sengit. "Aku hanya ingin kembali menjadi istrimu. Memperbaiki segalanya dan mencoba lagi dari awal. Memangnya itu salah?"


"Tetapi aku berbeda denganmu. Aku tak melakukan hubungan apapun. Dan aku tidak ingin memulai apa pun lagi denganmu," jawab Dede.


"Tetap saja. Kamu tidak bisa menceraikanku," jawab Ina.


"Kenapa? Segitu terobsesinya kamu denganku? Bahkan sejak SMA kamu memanipulasi segala hal agar aku selalu menempel kepadamu, kan? Seolah-olah aku yang selalu mengejarmu. Di mata orang, kamu adalah bidadari yang sangat sulit didapatkan dan aku hanyalah pengemis," kata Dede.


"Cih." Ina tak dapat mengelak. "Sampai kapan pun aku tak akan melepaskan pria ini," ucap Ina dalam hati.


"Jangan coba-coba menceraikanku, jika ingin rahasiamu tersebar," ancam Ina.


"Oh, jadi setelah permohonanmu tidak aku hiraukan, sekarang kamu mencoba mengancamku? Lakukan saja jika kamu ingin menyebarkannya. Aku tidak takut. Memangnya rahasia apa yang kamu miliki?" ucap Dede.


"Kamu yakin?" tanya Ina.


"Iya, tentu saja. Aku punya pengacara handal di belakangku," jawab Dede.


"Maksud kamu pria cupu yang tinggal di rumah nomor delapan itu?" ejek Ina.


"Dia bukan pria cupu. Dan bukan hanya dia tim penasihat hukumku nanti. Lagian, apa kita bisa kembali seperti semula, jika sekarang saja kita sudah tak bisa sependapat seperti ini?" tanya Dede.


"Lalu memangnya kamu bisa lolos, jika aku mengangkat kasus penyebaran video p*rn* saat SMA dulu?" tantang Ina.


"Video p*rn*?" Dede tidak mengerti.


"Dahulu, saat Luke hampir dilecehkan oleh anak kelas tiga, sebenarnya kamu mengetahuinya, kan? Tetapi kamu membiarkannya saja, dan justru menikmatinya sambil merekam aksi itu. Tak lama setelah itu kamu menyebarkannya," jelas Ina.


"Hei, a-pa maksudmu?" Dede masih pura-pura tidak mengerti.


"Kamu pikir, karena saat itu aku belum masuk SMA, aku tidak mengetahuinya? Pelakunya adalah tetanggaku. Dan dia mengenali wajahmu saat bermain di rumahku. Dan ayahku sempat menangani kasus itu. Dia sangat dendam padamu, karena telah membuatnya mendekam di balik jeruji besi. Tetapi sayangnya, mengapa baru sekarang aku tahu, kalau cewek yang waktu itu adalah Luke," lanjut Ina.

__ADS_1


"Hei, diam kamu! Memangnya kenapa jika kamu angkat kasus itu? Siapa yang peduli lagi sekarang? Itu sudah lebih dari sepuluh tahun lalu," ujar Dede.


"Kamu pikir Luke akan diam saja jika lelaki yang dikaguminya selama ini ternyata pria brengsek? Lebih brengsek dari pada sekedar menghianatinya," kata Ina.


"Katakan saja padanya. Dia juga sudah tahu aku brengsek," jawab Dede sambil tersenyum sinis.


"Eh... " Ina kehabisan kata-kata. Tidak disangkanya ancaman ini tidak berlaku bagi suaminya.


"Sudahlah, sia-sia saja usahamu itu. Apa un halangannya, aku tetap akan melepaskanmu," ucap Dede. "Sekarang pergilah, selagi aku masih baik padamu," Dede menyeret Ina keluar dari rumah.


"Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal. Papa tidak akan membiarkanmu begitu saja. Kamu pikir bisa bekerja di tempat sekarang, karena siapa kalau bukan ayahku. Aku mau tinggal di rumah rongsok begini untuk melindungi harga dirimu," teriak Ina.


Ina yang terlanjur malu segera melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu. Ia tidak peduli dengan tatapan hina para tetangganya.


*****


"Flora, kamu masih hidup?" Luke mengguncang tubuh temannya.


"Sialan. Kamu pikir aku mayat hidup?" sahut Flora.


"Lagian, kamu dari tadi hanya mematung. Sejak aku cerita tentang tetangga sebelah," sindir Luke.


"Maksudmu menguping?" kata Luke.


"Jangan remehkan jiwa-jiwa detektif seperti aku. Apa kamu mendengarnya tadi? Video yang telah membuatmu malu dan trauma itu, ternyata dia lah pelakunya," kata Flora.


"Iya, aku dengar. Sangat jelas malah," jawab Luke.


"Lalu kamu akan diam saja seperti ini? Eh, tetapi kenapa penyebar video saat itu tidak tertangkap, ya?"


"Entahlah. Itu sudah lama berlalu. Pelakunya sudah dihukum gara-gara video itu tersebar. Dan seperti yang kamu bilang tadi, dia sudah mendapatkan balasan yang setimpal," sahut Luke. "Sudahlah, aku tidak ingin berurusan dengan mereka lagi," lanjutnya.


"Hooo... Ceritanya kamu sudah move on, nih?" ledek Flora.


"Apaan, sih? Kamu dari tadi sibuk menguping, memangnya pertemuan dengan klienmu jam berapa?" Luke mengalihkan cerita.


"Oh, iya. Aku lupa. Aku pergi dulu, deh," kata Flora.


*****


"Kenapa kamu ada di sini?" Luke terkejut melihat Dede berada di kampusnya. Ia duduk di bawah sebuah pohon bersama sepeda motornya, tepat di depan ruangan Luke.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang. Luke biasa pulang larut untuk menghindari pertemuan dengan tetangga-tetangga resek itu.


"Luke. Biarkan aku di sini dulu untuk sementara. Aku bertanya tempat kerjamu pada Lukman. Pria brengsek itu susah sekali dimintai informasi. Aku bahkan harus memberikan konsol game kesayanganku," cerita Dede.


"Wah, lelaki mata duitan. Eh, mata game-an. Awas nanti kalau aku jumpa dengannya," ucap Luke.


"Hei, sudahlah. Jangan terlalu menyalahkannya. Aku yang memaksanya," jawab Dede. "Aku hanya ingin curhat padamu," lanjutnya.


"Kenapa kamu harus curhat padaku? Temanmu kan banyak," tolak Luke.


"Kenapa begitu? Kita kan teman?" sahut Dede.


"Teman? kita kan tidak pernah dekat. Kelompokmu dan kelompokku, beda kasta" ucap Luke.


"Kenapa rumah tangga ku malah jadi seperti ini? Apa salahku? Ia bermain dengan pria lain, tetapi ia juga tak mau melepaskanku?" Dede tidak menghiraukan ucapan Luke.


Luke tidak menyahut. Ia tidak tahu harus senang atau sedih melihatnya.


"Dia adalah wanita yang benar-benar mampu membuatku tergila-gila. Merelakan banyak hal, salah satunya ibuku sendiri. Ibu sempat tidak setuju aku menikah dengannya. Karena ia gadis kaya raya yang manja. Tetapi aku tetap menikahinya. Aku tak peduli apa pun asal bisa menjadikannya milikku," curhat Dede.


"Tetapi lihatlah sekarang. Kehidupan kami hancur. Pekerjaan yang aku kira hasil jerih payahku sendiri, ternyata ada campur tangan ayahnya di sana."


Hati Luke sakit mendengarnya. Bagaimana bisa pria ini cerita tentang gadis pujaannya kepada wanita yang telah ditolak dan dipermalukannya?


"De, aku mendengar ucapanmu dengan Ina siang kemarin. Bohong jika aku tak marah, mengetahui bahwa kamulah yang merekam dan menyebarkan aksi tak senonoh itu. Sampai seluruh sekolah melihat tubuhku. Kamu tahu seberapa sakit dan traumanya aku? Belum lagi rasa trauma yang kamu tambahkan setelah mempermalukanku?" kata Luke.


"Aku benar-benar minta maaf soal itu. Meskipun kamu tidak akan memaafkanku. Aku sangat menyesal," ujar Dede.


"Percuma saja kamu menyesal sekarang. Luka di hatiku sudah begitu dalam. Kamu harus selesaikan sendiri masalah rumah tanggamu. Jangan merengek seperti bayi kecil," kata Luke.


"Pulanglah. Tak baik jika kita berdua terus berada di sini. Kau tau? Wanita yang dekat dengan lelaki yg sudah menikah, itu sama dengan penjahat kelas kakap. Pelakor," lanjut Luke.


"Apa? Pelakor? Kita kan tidak berbuat apa-apa?" bantah Dede


"Haish... Kau tidak akan mengerti rasanya... Aku tidak mau citraku semakin buruk karena pria brengsek sepertimu," ucap Luke.


Tak berapa lama kemudian, ojek online pesanan Luke pun datang. Ia meninggalkan Dede yang masih hanyut dalam kesedihan.


(Bersambung)


Terima kasih yang sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya.. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2