
"Apa? Pesta ulang tahun? Kamu membawa Luke ke sana?" sahut Dede panik. "Bawa ia pulang sekarang," lanjutnya.
"Kenapa kamu begini? Bisakah beri kami ruang privasi?" tolak Lukman.
"Ini demi keselamatan Luke. Ikuti saja kata-kataku. Aku mengenalnya lebih lama darimu," seru Dede.
"Aku tidak bisa pulang begitu saja. Tuan Willhem, atasanku, berharap banyak padaku untuk menaikkan nama firma hukum kami di antara para tamu yang hadir. Awalnya kami pun hanya ingin setor wajah sebentar lalu pulang," sahut Lukman kesal.
"Sudahlah, berikan saja alamatmu. Aku akan membawanya pulang. Kamu bisa meneruskan pekerjaanmu."
Entah karena cemburu atau memang khawatir. Dede terus mendesak Lukman memberikan lokasi pesta.
"Sialan! Kamu kenapa sih? Segitu cemburunya aku membawa teman sekolahmu keluar?" marah Lukman.
"Aku harap kamu mendengarkanku kali ini saja. Aku pasti akan menjelaskannya padamu di lain waktu," desak Dede.
"Oke, oke. Aku akan memberitahu alamtnya beserta undangan sebagai kartu pass untuk masuk. Jangan lupa gunakan pakaian sesuai dress code," ujar Lukman. Ia akhirnya menyerah.
Di saat yang sama, Luke yang kehilangan jejak Lukman karena menerima telepon, mulai merasa panik. Pesta ini membuat napasnya sesak dan tubuh gemetaran. Ia benar-benar benci pesta, terutama ulang tahun.
Berulang kali ia mencoba menelepon Lukman, tetapi tidak tersambung. Tentu saja, Lukman lagi menerima telepon dari Dede. Lampu yang menyala redup dan para tamu yang berkerumun, membuat Luke semakin sulit menemukan Lukman.
Gadis dengan twist knot midi dress berwarna light blue dan alas kaki model oxford shoes itu mulai merasa pusing dan pandangan yang memudar. Ia semakin tak bisa melihat dengan jelas orang-orang di sekelilingnya. Dadanya seperti ditekan oleh beban seberat puluhan kilogram. Sesak sekali. Kenangan buruk belasan tahun silam menggelayuti pikirannya.
Drrrtt.... Ponsel Luke bergetar. Ia segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo Luke, kamu ada di rumah, kan? Aku membawakanmu sate madura spesial, nih," ujar Satria di telepon.
"Aku... Aku... Tolong aku..." ucap Luke terbata-bata. Napasnya semakin sesak. Tubuhnya melemah.
"Halo? Luke? Kamu di mana? Ada apa?" Nada bicara Satria berubah menjadi panik. Ia mendengar suara riuh orang mengobrol dan musik yang berdentum.
"Aku... Aku... berada di pesta..."
"Share lokasimu, cepat. Aku akan menjemputmu sekarang," seru Satria. Ia mendengar suara Luke seperti menangis.
*****
"Sial, sudah jam segini aja. Ku harap belum terjadi apa-apa dengan Luke," gumam Dede.
Ia mengegas sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Beberapa lampu merah diterobosnya begitu saja. Dalam pikirannya hanya membawa Luke dari tempat neraka itu.
Dede tidak lagi memikirkan dress code yang ada di dalam undangan. Ia menggunakan setelan jas yang biasa ia gunakan ke kantor.
__ADS_1
"Persetan dengan dress code. Yang penting aku sudah bawa undangannya," pikir Dede sambil terus melaju di tengah jalanan kota yang tak pernah sepi itu. Ia tidak ingin kejadian dahulu terulang kembali.
Ingatannya melayang saat mereka masih kelas tiga SMA. Tiga minggu setelah ia mencampakkan Luke di saat class meeting.
Ajakannya (lebih tepatnya ancaman) pada Luke ke pesta ulang tahun Dewi, teman sekelas mereka rupanya tidak dihiraukan oleh Luke. Hingga pesta usai, batang hidung gadis berambut merah itu tak kunjung terlihat.
Dede pun segera mengubah rencananya. Ia meminta Dewi kembali menggelar pesta ulang tahunnya di sekolah setelah liburan usai.
"Luke, kamu tahu kan hari ini ada yg ulang tahun," tanya Nike, teman sekelasnya.
"Ulang tahun? Aku tidak tahu, tuh," balas Luke.
"Masa sih? Mereka menunggumu di kelas. Kata mereka, kamu yang harusnya membawa kue ulang tahun," ucap Nike.
"Aku? Kenapa aku yang tidak populer ini harus membawakan mereka kue? Mereka saja tidak pernah menyapaku di kelas. Lalu kamu sendiri kenapa tidak ikut bergabung?" tanya Luke.
"Aku harus membantu ibuku di restoran. Selain itu, aku juga tidak terlalu dekat dengan mereka," jawab Nike.
Nike termasuk cewek kelas menengah di kelas. Ia tidak begitu populer, namun juga tidak dikucilkan. Ia lebih netral dalam berteman.
Luke bergegas meninggalkan halaman sekolah. Ia tidak ingin teman-teman menemukannnya sebelum ia pulang.
Siapa yang tidak tahu kalau hari ini Dewi sang Ratu IPA 1 ulang tahun. Tentu saja ia ingat. Meski sudah dilarang oleh pihak sekolah, mereka tetap melaksanakannya sepulang kegiatan klub.
Di sana tempat berkumpulnya kasta tertinggi di sekolah, para cewek dan cowok populer di sekolah. Itu bukanlah tempat yang cocok bagi Luke.
"Kalau kamu tidak datang, aku akan menyebarkan gosip bahwa kamu mendekati aku bahkan memaksaku berbuat mes*m. Apa kamu mau orang kembali teringat tentang video mes*mmu dengan kakak waktu itu?" ancam Dede.
"Aku harus apa?" gumam Luke putus asa. Meski di video itu jelas Luke menjadi korban, namun tak ada yang peduli. Mereka tetap mengatakan Luke wanita j*l*ng.
Tak banyak lagi orang di sekolah saat ini. Waktu yang hampir senja membuat para siswa dan guru pendamping klub segera pulang ke rumah.
*****
"Oh, ini gadis culun yang suka sama Dede itu? Lihatlah, dia ke sini hanya untuk menemui gebetannya?" celetuk Kiki, rekan dekat Dewi, ketika Luke datang membawa kue ulang tahun ke kelas. Dede yang melihat kejadian itu, hanya duduk saja sambil memainkan ponsel.
"Aku ke sini bukan untuk menemui Dede. Aku hanya mengantarkan kue ulang tahun ini," jawab Luke. Ia pun tidak ingin datang kemari jika bukan karena ancaman Dede.
"Wah, teman-teman. Lihatlah, dia bahkan rela menjadi babu hanya demi cowok yang terlalu tinggi untuknya. Sepertinya dia sudah lupa berada di kasta mana," kata Dewi, sang putri di pesta ini.
"Ck.. Selesaikan saja kegiatan kalian. Aku tidak sudi bergabung. Percuma aku menjelaskan pada kalian, kalau sekolahnya hanya sampai kantin pasti tak akan paham."
Luke meletakkan kotak berisi kue ulang tahun ke atas meja dengan kasar. Ia sadar, pasti bentuk kue itu sudah tak utuh lagi.
"Sialan, kamu. Kamu pikir siapa bisa merendahkan kami seperti itu? Dasar cewek culun gak tahu diri," ujar Kiki dan Shilla kesal.
__ADS_1
"Hei, siapa bilang kamu boleh pulang begitu saja? Jaga pintu selama pesta berlangsung. Jangan sampai ada guru yang tahu," ancam Dewi.
Tak ada satu pun yang menolong Luke di situ. Mereka semua hanya tertawa melihat gadis berambut merah itu berusaha melawan mereka dengan ilmu beladirinya. Tentu saja kalah. Ia hanya seorang diri melawan sekelompok orang-orang gila itu. Ponsel Luke bahkan direbut ketika akan menelepon cari bantuan.
"Beg* banget sih aku percaya pada kata-kata cowok brengsek itu," gumam Luke dalam hati.
Air mata yang sejak tadi di tahannya akhirnya tumpah juga. Dadanya terasa begitu sesak. Setelah dipaksa untuk melayani para eskpatriat sekolah itu, akhirnya Luke bisa bebas juga.
Luke berjalan menuju ke luar gerbang, menunggu angkot untuk pulang. Hari sudah sangat gelap. Awan cumulonimbus menguasai langit. Sepertinya tak lama lagi, hujan membasahi bumi.
"Luke, tunggu," Dede memanggilnya.
"Ngapain cowok munafik itu mengikutiku?" pikir Luke. Ia pura-pura tidak mendengarnya. Ia segera mengelap air matanya dengan tisu.
"Luke, kamu pasti mendengarku, kan? Kamu mau kemana? Ayo pulang denganku, sebelum mereka datang," ujar Dede.
"Mereka? Siapa? Mengapa kamu pura-pura baik denganku?" Luke tidak mengerti.
"Naik saja dulu ke mobilku. Sekarang tak ada waktu untuk menjelaskan," ujar Dede sambil menarik Luke ke dalam mobil.
"Lepaskan. Mengapa aku harus percaya padamu? Lihat apa yang teman-temanmu lakukan padaku tadi," kata Luke.
"Bukan aku yang menyebarkan berita itu. Dan bukan aku juga yang menyuruh mereka melakukan hal itu," jawab Dede.
"Lalu dari mana mereka tahu tentang perasaanku? Bukankah itu yang kamu inginkan?" Seluruh tubuh Luke bergetar. Bukan menahan marah, melainkan takut. Ia tak ingin lagi diperlakukan rendah oleh teman yang tak pantas disebut teman.
"Aku tidak tahu, tapi percayalah padaku. Aku antar kamu pulang, ya," sahut Dede.
"Tidak. Aku tak akan percaya lagi padamu. Untuk apa kamu berlagak khawatir padaku seperti ini? Bukankah kamu yang memintaku untuk menjauh?" ujar Luke. Ia segera melambaikan tangan pada angkot yang mengarah ke mereka. Sayangnya angkot itu terus melaju, karena telah penuh.
"Ya ampun, lama sekali, sih." Seorang wanita membuka jendela mobil dan berbicara pada Dede.
"Mila? Sabar sebentar ya," ujar Dede pada wanita yang digosipkan mantan pacar Dede ketika kelas satu.
Hal itu digunakan Luke untuk menjauh dari lelaki itu. Tak peduli ke mana kaki melangkah, pokoknya ia harus pergi sejauh mungkin dari situ.
"Hei, kau mau ke mana di tengah mendung begini? Lihatlah langit sangat gelap seperti jam tujuh malam." Luke tak berbalik. Ia tak ingin Dede melihatnya menangis.
"Hah... Memuakkan. Padahal tadi hampir saja berhasil. Dia pikir aku benar-benar peduli padanya?" gumam Dede.
*****
Tiiit... Suara klakson di depan membuat ingatan Dede buyar. Ah, ternyata ia hampir saja menabrak sebuah mobil pick up karena menerobos lampu merah. Ia tidak boleh terlambat, sebelum Luke kembali trauma karena masa lalunya.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya. Sampai jumpa lagi.