Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 34 - Pacar Hasil Taruhan


__ADS_3

"Jadi, setelah sekian belas tahun, kamu akan kembali pada pacar pertama kamu? Dan melupakan aku begitu saja? Kamu lupa, bagaimana dahulu kamu mengejarku, bahkan sampai mengundangku ke pesta ulang tahunmu?" tanya Dede sengit.


"Tidak, bukan seperti itu..." ucap Ina di tengah isak tangisnya. Apakah ia harus menceritakan semuanya dengan jelas?


"Jika dahulu kamu pergi meninggalkannya, lalu kenapa sekarang kamu kembali padanya?" Desak Dede.


"Dan bagaimana aku bisa baru tahu hal ini, kamu dan Teguh adalah mantan pacar? Sedangkan di saat yang sama, kami berteman dengan akrab. Apa ia melakukannya denganmu untuk balas dendam padaku?" tanya Dede lagi.


Ina terdiam dalam tangisannya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari suaminya. Sejujurnya, ia pun tak paham. Yang ia rasakan hanyalah, gair*hnya selalu bergejolak setiap bertemu dengan mantan pacarnya itu.


Tling. Sebuah pesan masuk ke ponsel Dede


"Hei, b*jing*n. Cabut tuntutanmu! Dan tanggung jawablah karena Lili meninggalkanku. Aku pun jadi jatuh miskin karenamu." Teguh mengirimkan sebuah pesan.


"Si*lan kau! Kenapa aku harus tanggung jawab? Memangnya ini akibat ulah siapa? Kau pikir keluargamu saja yang hancur?" balas Dede.


"Tanyakan pada istri tercantikmu itu, siapa yang mengajak affair duluan? Dia atau aku?" tulis Teguh.


"Kalau kamu punya waktu untuk mengirim banyak pesan padaku, lebih baik digunakan untuk merenungi kesalahanmu dan meminta maaf padaku," balas Dede lagi.


"Kamu pikir Ina benar-benar mencintaimu? Dulu ia berpacaran denganku. Kami putus karena ia menginginkannya, lalu ia mengejarmu sebagai bahan taruhan, untuk membuktikan bahwa dia memang paling cantik di antara yang lainnya. Dia tak pernah benar-benar mencintaimu," tulis Teguh panjang lebar.


"Hah, apa? Taruhan? Kenapa aku baru mendengarnya? Apa ia bisa dipercaya?" ucap Dede dalam hati.


"Ada apa? Kenapa ia terdiam? Pesan dari siapa yang dibacanya?" pikir Ina gelisah. Ia melihat raut wajah Dede semakin kusut.


"Apa yang dibilang Teguh ini benar?" tanya Dede.


Ia menyodorkan ponselnya kepada Ina, dan memintanya membaca pesan dari selingkuhan wanita itu.


Ina mengerutkan dahinya, sedetik kemudian matanya terbuka lebar. Kedua tangannya meremas ujung dress yang ia pakai saat ini.


"Sudah kamu baca? Lalu apa jawabanmu?" tanya Dede.

__ADS_1


"Ahh... ini..."


"Huh! Kamu bahkan tidak langsung menyangkalnya, jadi kuanggap ini benar," kata Dede.


Ina menggigit bibirnya. Kenapa masalahnya jadi semakin besar? Padahal ia sudah menutup rapat soal taruhan ini.


"Kupikir, dengan kita berbicara saling terbuka, ada harapan untuk memperbaiki hubungan seperti dahulu lagi. Ternyata, apa yang terjadi sangat jauh dari perkiraanku," ucap Dede semakin kesal.


Ia meminta bertemu Ina, dengan tujuan yang baik. Mereka bisa saling intropeksi diri, dan Dede akan berusaha memaafkan apa yang telah dilakukan Ina padanya.


Tidak disangka, Ina yang dahulu tampak menyukai Dede, ternyata hanyalah demi sebuah taruhan kalangan remaja kaya. Meski Dede belum mengetahui cerita sesungguhnya.


"Bukan seperti itu," bisik Ina disela tangisnya. Ia mengelap hidungnya yang penuh lendir dengan tisu.


"Lalu? Ceritakan padaku semuanya, agar aku tak salah paham. Aku ingin mendengarnya langsung darimu," kata Dede berusaha tenang.


"Saat kelas satu SMA, Rindi dan Vera memang memberiku tantangan, untuk mencari pacar lain, yang bisa kugandeng saat hari ulang tahunku yang ke tujuh belas. Mereka akan meninggalkanku jika tak mengikuti keinginan mereka." Ina mulai menceritakannya. Tidak ada gunanya lagi menyimpan masa lalunya. Dede sudah terlanjur mengetahuinya.


"Kenapa? Kamu kan populer," sahut Dede.


*****


Belasan tahun silam, ketika Ina telah menerima tantangan dari kedua temannya, Ina pun sibuk menyeleksi setiap siswa yang ada di sekolahnya. Hingga keesokan harinya, Ina masih belum menemukan orang yang tepat.


"Tinggal dua hari lagi, nih. Tapi kamu masih belum dapat cowok baru. Kalau kamu nggak dapat juga, berarti keluar dari geng kami. Kamu bukanlah wanita cantik dan populer," ujar Vera dan Rindi.


Ina yang penakut mulai khawatir ditinggalkan teman-temannya. Meski ia tahu, teman-temannya sangat tocxic, tetapi ia tak bisa memisahkan diri dari mereka.


"Siapa itu?" tanya Ina pada Teguh, pacarnya.


Salah seorang teman dekat Teguh, terlihat lumayan. Walau pun dia bukan cowok yang paling populer, tetapi wajahnya lumayan.


"Itu, Dede. Teman sekelasku di IPA. Kenapa?" tanya Teguh kala itu.

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa. Sepertinya ia anak band. Aku pernah melihatnya manggung," jawab Ina gugup.


"Dia bukan anak band, tetapi anak teater. Tetapi dia memang suka bermusik. Kamu tertarik padanya?" jelas Teguh.


"Ah... itu... tidak... bukan seperti itu," sahut Ina takut.


"Hahhh... sudahlah. Aku sudah meeasakan ada yang aneh sejak kemarin. Tetapi aku masih mengamatinya. Saat ini sepertinya sudah keterlaluan," ujar Teguh.


"Hmm... Sebenarnya begini..." Ina lalu mencerikatan semuanya.


"Hei, kenapa begitu. Aku yakin, tanpa mereka pun kamu akan tetap populer. Kamu jauh lebih cantik dibandinglan mereka," jawab Teguh marah. Ia tidak terima dengan rencana Vera dan Kiki.


"Sayang, tenanglah. Ini tidak akan lama. Aku hanya berpura-pura. Setelah itu aku akan memutuskannya. Jadi tolonglah aku," pinta Ina.


"Tidak. Kamu akan tetap aman jika bersamaku. Tak akan ada orang yang akan mengganggumu, meski kamu tidak satu geng dengan mereka lagi," marah Teguh.


"Bagaimana aku bisa percaya? Kamu saja selalu mengelak jika aku ingin mengenalkanku pada ayah," balas Ina.


"Aku bukan mengelak. Tetapi waktunya belum tepat. Sudahlah, terserahmu saja. Aku tak akan ikut campur apa pun yang terjadi nanti," ucap Teguh.


"Sayang, kita bukan putus beneran. Ini hanya pura-pura. Setelah itu kita akan kembali seperti semula," bujuk Ina.


Teguh yang terlanjur sakit hati, meninggalkan Ina begitu saja.


Singkat cerita, Ina berhasil meyakinkan orang tuanya untuk membuat sebuah pesta ulang tahun mewah. Ina ingin memikat Dede dengan kecantikannya di pesta itu nanti. Hampir semua anak-anak kelompok menengah dan populer di undang.


"Mana? Katanya kamu sudah berhasil mendekati Dede? Tapi kelihatannya ia cuek-cuek saja, tuh," ejak Rindi ketika mereka pulang sekolah. Dede seperti biasanya, ia berkumpul dengan teman-temannya di parkiran sekolah, termasuk Teguh.


"Benar, kok. Tetapi ia bilang, akan jadi kejutan di hari ulang tahunku nanti," jawab Ina sambil tersenyum kecut.


"Sialan cowok itu, padahal aku sudah bersusah payah meminta nomor teleponnya pada guru Teater, dan berusaha PDKT semalaman, tetapi ia malah tidak pernah melihatku di sekolah," gerutu Ina dalam hati.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, share dan vote ya...


__ADS_2