Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 40 - Rahasia Luke


__ADS_3

"Gimana kabarmu di kampung halaman, Luke?" tanya Lukman.


^^^"Alhamdulillah baik. Terima kasih ya sudah mau membantu merawat kamar kosku selama aku di kampung," balas Luke.^^^


^^^"Besok aku bawakan oleh-oleh khusus untukmu, deh," tulis Luke lagi.^^^


"Wah... mantap tuh. Kapan kamu balik ke sini?" tanya Lukman antusias.


^^^"Belum tahu. Mungkin nanti setelah kondisiku membaik dan mentalku telah siap," jawab Luke.^^^


"Para tetangga di sini pada kehilangan kamu. Terutama Dede. Hampir setiap hari mereka bertanya padaku dan nenek kos," kata Lukman.


^^^"Kehilangan? Maksudnya kehilangan bahan gosip? Pokoknya mereka jangan sampai tahu keadaanku, terutama Dede," tegas Luke.^^^


"Gak janji, ya. Soalnya teman SMA kamu itu kelimpungan banget setelah kamu pergi 😝" tulis Lukman.


^^^"Duh, sialan 🤬. Pokoknya kamu harus tutup mulut. Nanti aku kasih cuan* lebih deh..." kata Luke.^^^


*cuan\=uang


"Nah gitu dong. Aku kan jadi semangat buat jalankan tugas. 🤐" balas Lukman.


^^^"Wah... Dasar... Ternyata hubungan pertemanan kita hanya sebatas jumlah cuan, ya," balas Luke pula.^^^


"Hahaha... hidup ini perlu teman.. Tetapi juga butuh uang..." tulis Lukman sambil terkikik. Ia bisa membayangkan bagaimana buasnya raut wajah Luke saat ini.


Sementara itu, Luke senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Lukman. Ia tidak yakin jika Lukman mata duitan.


"Luke, apa kabar?"


"Hah... lagi-lagi dia mengirimku pesan. Apa dia masih belum menyerah juga pesannya tidak pernah ku balas?"


Luke menscroll semua pesan masuk dari Dede. Rata-rata isinya sama, menanyakan kabar dirinya.


Dua hari yang lalu...

__ADS_1


"Apa kabar Luke?"


Empat hari yang lalu...


"Hai Luke, apa kamu sehat?"


Tujuh hari yang lalu...


"Kamu sudah makan? Hari ini cuaca di tempatku sedang mendung. Ku harap kamu juga menjaga kesehatanmu."


Luke menghapus semua pesan itu. Biarlah Dede tahu jika ia membaca pesan darinya. Tetapi ia juga harus tahu, jika Luke tak pernah berniat untuk membalasnya kembali.


"Apa dia sudah tidak peduli lagi dengam istrinya? Kata Lukman sih dia masih menunda perceraiannya dengan Ina. Hah, suami istri itu benar-benar membuatku muak," gumam Luke.


"Pasien selanjutnya, Ibu Lukella."


"Baik." Luke segera menyimpan ponselnya dan masuk ke ruangan dr. Yunita, SpOG.


*****


Wina, 4 September. Pukul 3.30 PM.


"Yah, sedikit. Waktu itu aku tidak melakukan perpisahan dengan benar padanya," jawab Satria dengan Bahasa Jerman campur Inggris.


Tiga bulan di Austria dia memang sedikit memahami bahasa resmi negara Austria tersebut, tetapi ia belum begitu mahir untuk berbicara.


"Apakah dia wanita? Dia pacarmu?" Kali ini Nick yang bertanya.


"Benar dia wanita. Tetapi, aku tidak tahu apa huhungan kami saat ini. Kemarin aku setengah melamarnya, dan aku belum sempat mendengar jawabannya," kata Satria sambil tertawa hambar.


"Apa? Setengah melamar?" tawa Frans dan Nick.


"Wah, teman kita ini rupanya butuh penyegaran. Dia masih galau dengan hatinya di Indonesia," ledek Frans.


"Bagaimana kalau kita mencari Cocktail? Di musim panas begini, minum-minuman segar itu sangat menyenangkan. Dan mana tahu kita juga bisa bertemu dengan gadis-gadis cantik di sana," ajak Nick.

__ADS_1


"Aku tidak boleh minum alkohol, kawan," tolak Satria.


"Jangan khawatir, Bro. Kamu juga bisa minum kopi atau jus segar di sana. Kami tentu tak akan memaksamu mengikuti budaya kami," ujar Frans.


"Yah.. Baiklah." Satria mengalah.


Satria mengikuti kedua temannya yang berjalan kaki menuju pusat kota. Akan tetapi matanya tidak lepas dari layar ponselnya. Apa lagi alasannya? Tentu saja ia menunggu jawaban dari gadis yang dilamarnya sebelum berangkat. Yah...itu pun kalau bisa di sebut melamar.


"Hai Luke. Di sini lagi musim panas. Siang berlangsung lebih lama. Itu artinya waktu aku untuk mengingatmu juga lebih lama dari pada waktu untuk memimpikanmu," tulis Satria tiga hari yang lalu.


^^^"Dasar gombal. Ku harap kamu bisa lebih memanfaatkan waktumu untuk belajar dari pada menggoda gadis kampung di sini," kata Luke.^^^


"Aku sedang tidak menggombal. Bahkan saat belajar pun yang terbayang itu senyummu," balas Satria lagi.


"Ahhh... Kenapa dia tak membalas pesanku lagi, sih? Apa memang kata-kataku terlalu cheesy? getutu Satria.


"Hei, Nick. Hooman di belakang kita sepertinya benar-benar butuh asupan hiburan agar tidak homesick," bisik Frans diikuti anggukan temannya.


*****


"Terima kasih, Lukella. Keadaanmu baik-baik, saja. Tetapi kamu juga harus tetap cek up dua minggu lagi. Oh iya, jangan lupa konsultasi juga dengan spesialis yang saya sarankan waktu itu."


"Terima kasih, dokter. Saya pasti akan kembali dua minggu lagi," kata Luke lalu keluar dari ruang praktik dokter tersebut.


Sambil mengecek ponselnya, Luke berjalan menuju meja kasir.


"Duh, aku lupa membalas pesan dari Satria," gumam Luke.


Duk! Karena tak berhati-hati, Luke menabrak sebuah kursi roda di depannya.


"Maaf," ujar Luke.


"Maaf, juga," balas wanita berbalut perban di kaki kiri itu.


"Eh, bukankah itu Shilla?" Luke tentu tak bisa melupakan wajah teman sekelasnya, yang berhasil membuatnya jatuh mental karena dibully selama SMA.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2