Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 42 - Jejak Samar Sang Bintang


__ADS_3

"Halo, Luke? Tumben kamu menelepon?" tanya Flora ditengah kesibukannya mencatat laporan surat masuk dan surat keluar.


"Apa kamu tahu kabar teman-teman SMA kita?" tanya Luke selepas mengajar mahasiswa non reguler.


"Teman-teman SMA? Maksud kamu siapa nih? Teman SMA kan banyak?" tanya Flora. Kali ini ia menstempel beberapa berkas surat keluar.


"Dewi, Kiki, Shilla dkk," jawab Luke.


"Memangnya mereka bisa disebut teman? Tumben nih kamu ingin tahu kabar mereka? Bukan bermaksud balas dendam kan, Neng?" kata Flora.


"Hmmm... Tergantung," ucap Luke sambil terkikik.


"Aku tak banyak tahu tentang kabar mereka. Yang kutahu, Dewi belum menikah hingga kini, sejak ditinggal hamil oleh pacarnya. Tak ada lelaki yang mau menerimanya," lanjut cerita Flora.


Flora mengentikan ucapannya sejenak, mengetik sesuatu di lembar kerjanya, lalu di print.


"Kalau Kiki bekerja di sebuah minimarket pinggiran kota, karena ia tak menyelesaikan kuliah. Uang sekolah dari kakaknya habis untuk hura-hura," cerita Flora.


Luke terkejut mendengarnya. Selama ini Luke berpikir, mereka akan menjadi orang-orang yang duduk bersama para kelas atas lainnya. Memiliki kelompok sosialita sendiri, dan tak pernah berpikir tentang keuangan.


Belum lagi paras mereka yang berada di atas kecantikan rata-rata, pasti tak kan sulit mencari pasangan.


"Halo? Luke?" tanya Flora setelah tidak mendengar sahutan dari Luke.


"Iya, Flo. Sebenarnya, aku melihat Shilla kemarin di rumah sakit," kata Luke.


"Benarkah? Lalu bagaimana sikapnya?" tanya Flora penasaran.


"Entahlah. Sepertinya ia tidak mengenaliku. Kemarin aku tidak sengaja menabrak sebuah kursi roda ketika akan ke kasir. Tetapi wanita itu hanya mengucapkan maaf. Kondisinya... bisa dibilang sangat jauh dibandingkan SMA dulu," cerita Luke.


"Hmm... Baguslah. Jika ia hidup senang setelah berbuat jahat padamu, maka aku akan semakin membencinya," ujar Flora sambil tertawa puas.


"Flo, bagaimana kamu bisa tertawa riang seperti ini, mendengar kabar buruk temanmu?" protes Luke.


"Menurutku dia pantas mendapatkannya, Luke. Tetapi memang aku tidak pernah tahu kabar terakhir Shilla, baik dari grup alumni maupun media sosial," lanjut Flora.

__ADS_1


"Ah, begitu ya," kata Luke.


*****


Rumah Sakit Medika Nusantara, kamar perawatan Raflesia, nomor 4. Ruang perawatan khusus bagi pasien lupus. Dada Luke berdegup kencang. Kira-kira apa yang akan ia katakan nanti jika bertemu? Bisakah ia melakukan seperti yang disarankan Flora dan adiknya?


Tadi malam, Flora kembali menelepon. Ia mengatakan, jika beberapa tahun terakhir Shilla menderita penyakit osteomielitis dan lupus. Sudah lebih dari dua tahun ia bolak - balik ke rumah sakit untuk berobat.


Semalaman Luke berselancar di gugel untuk mencari tahu, apa itu penyakit osteomielitis dan lupus.


Berdasarkan beberapa sumber yang ia baca, osteomielitis atau Infeksi tulang adalah peradangan pada tulang yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Kelainan tulang ini sering terjadi pada orang yang mengalami cedera atau patah tulang terbuka, atau memiliki daya tahan tubuh yang lemah.


Sedangkan penyakit lupus atau lupus eritematosus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyebabkan peradangan di beberapa bagian tubuh, seperti kulit, sendi, ginjal hingga otak.


Lupus bukanlah penyakit menular. Tetapi lebih sering dialami oleh wanita usia produktif dan tidak dapat disembuhkan.


"Maaf, Kakak ingin membesuk siapa?" tanya perawat yang berjaga di depan kamar.


"Shilla Buchari," jawab Luke.


"Terima kasih," jawab Luke lalu bergegas masuk.


"Hai," sapa Luke pada wanita usia dua puluh delapan tahun yang terlihat lebih tua dari umurnya itu.


Seluruh kulitnya tampak keriput dan coklat tua. Tubuhnya sangat kurus hingga lekuk tulangnya terlihat. Matanya cekung dan bibir kering pecah-pecah.


Wanita itu menatap Luke cukup lama. Ia memperhatikan wanita di depannya dengan kening berkerut.


Saat itu, Luke mengenakan baju lengan panjang berbahan kashibo. Bagian kanan bajunya polos dengan warna coklat muda. Lalu ada strap model kerut yang bikin bajunya tampak sangat keren. Dipadukan dengan celana kain model lurus warna putih. Luke juga memoles wajahnya dengan make up natural agar kelihatan lebih cerah dan segar.


"Siapa, ya?" tanya wanita itu.


"Kita sudah bertemu kemarin, saat kursi rodamu bertabrakan denganku," jawab Luke.


"Oh... Maaf. Saya kemarin benar-benar tak sengaja," jawabnya.

__ADS_1


"Tidak hanya itu. Kita juga sudah pernah bertemu beberapa belas tahun silam di SMA. Dulu kamu memanggilku wanita ular berambut merah," ucap Luke lagi.


"Ah... Kamu.... Luke?" ucapnya sembari menutup wajahnya dengan selimut. "Bagaimana kamu bisa menemukanku di sini?"


Wajar jika Shilla tak langsung mengenalinya, tampilan Luke saat ini sangat jauh berbeda dibandingkan zaman SMA dulu. Luke juga sengaja menutup rambutnya dengan hijab.


"Bu Nanik, guru SMA kita dulu yang menyampaikannya padaku," jawab Luke. Lebih tepatnya Bu Nanik mengatakan psda Flora, sih.


"Jangan temui aku seperti ini. Aku malu," jawab Shilla.


"Kenapa kamu harus malu? Bukankah ini sudah sewajarnya kamu terima? Aku tidak akan bertanya kenapa kamu bisa sampai seperti ini. Tetapi aku hanya ingin menunjukkan padamu, jika hidupku baik-baik saja meski kalian membullyku dahulu," kata Luke.


"Luke. Maafkan aku. Kita dulu masih SMA. Belum bisa berpikiran jernih," sesal Shilla.


"Kamu bilang anak SMA tidak bisa berpikir? Lalu bagaimana bisa menyusun rencana pembullyan yang begitu keji? Kamu pikir berapa lama aku menderita akibat perlakuan kalian?" Luke mengeluarkan semua amarah yang telah disimpannya bertahun-tahun.


Meski Luke tahu, semua kalimatnya sudah sangat berlebihan untuk diucapkan pada orang sakit, tetapi hati dan pikirannya tidak mau berhenti untuk terus bicara.


"Luke, aku tahu kalau semua ini tak bisa dimaafkan begitu saja. Tetapi, aku benar-benar ingin meminta maaf. Aku tidak tahu kapan sisa umurku berakhir. Setelah kuliah, Restu meninggalkanku. Aku yang frustrasi, meminum segala obat-obatan untuk menghilangkannya. Tetapi pada akhirnya..." Shilla tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang cekung.


"Aku bukanlah temanmu. Kamu sendiri yang mengatakannya, bukan? Jadi aku pun ke sini bukan karena asas pertemanan," ucap Luke. Ia meletakkan sekantung buah mangga dan kelengkeng di atas meja kecil.


"Mulai sekarang hiduplah dengan baik, jangan menyesali perbuatan yang tidak akan bisa kamu perbaiki lagi," lanjut Luke.


"Oh, iya. Apa kamu sekarang bertetangga dengan Dede dan istrinya?" ucap Shilla.


"Tahu dari mana kamu?" Luke mengerutkan keningnya. Sedang sakit saja ia bisa tahu semua kabar yang beredar? Luar biasa.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


Yuk, mampir juga di Novel Mystery dan Fantasi karya baru author. Barangkali suka... 🙂


__ADS_1


__ADS_2