Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 21 - Kesalahan Fatal


__ADS_3

(Kalau mau tahu kejutan episode hari ini, baca sampai akhir ya guys. Hehehe)


"Apa gak masalah, aku tinggalkan Luke dalam keadaan begitu? Tapi pertemuan dengan Kepala Departemen Kesehatan Jiwa memang tidak bisa diundur lagi, sih," gumam Satria sambil menyetir.


Beberapa menit setelah mengajak Luke ke pesta, ia mendapat panggilan dari rumah sakit tempatnya bekerja. Satria memang bekerja di rumah sakit swasta terbesar di kota itu, selain memiliki praktek sendiri di sebuah bangunan yang disewanya di pusat kota. Yah, gak salah juga sih, Luke berpikir ia seorang dokter. Karena psikiater masih termasuk salah satu spesialis ilmu kedokteran juga.


Saat ia tinggalkan, Luke sudah tidak begitu panik seperti beberapa saat sebelumnya. Napasnya sudah kembali normal dan tubuhnya tak gemetar lagi. Tetapi, tetap saja Satria merasa cemas.


"Luke mempunyai trauma apa ya di masa lalu? Sepertinya ia selalu menghindar dan merasa cemas setiap kali aku mengajaknya ke suatu tempat," pikir Satria.


Di kampus fisika...


Tok... Tok... Tok...


"Permisi, Bu. Ruangan sudah siap. Para mahasiswa juga telah hadir semua," lapor salah seorang mahasiswa.


"Baik. Baca buku kalian, Ibu beri waktu lima belas menit. Hari ini kita mengadakan kuis, materi minggu lalu," ucap Luke.


"Siap, Bu," jawab mahasiswa itu, lalu meninggalkan ruangan Luke.


"Para mahasiswa pasti sedang protes karena aku memberikan kuis dadakan. Hah... Mau bagaimana lagi, aku harus memulihkan kondisiku terlebih dahulu," gumam Luke sambil merapikan rambut dan lipstiknya.


"Apa Satria tadi menyadarinya? Ia kan psikiater? Hah... Kenapa harus kambuh di saat begitu, sih?" keluh Luke lagi. Beberapa saat kemudian, ia menuju ruang kelas.


*****


Klotak, klotak. Sepatu pantofel yang dikenakan Luke mengetuk-ngetuk jalanan bersemen di depan kontrakannya.


"Saha eta?" (*siapa itu?) tanya Mang Ucup pedangang cilok yang biasa mangkal di depan kontrakan mereka jika sore hari.


"Lah, itu kan si Luke," jawab Bang Tagor, pedagang nasi goreng yang gerobaknya berada di sebelah gerobak cilok Mang Ucup.


"Luke si cewek tomboy? Penjaga kontrakan? Geulis pisan euy," ujar Mang Ucup tak percaya.


"Iyalah. Lihat aja tuh, dia nanti masuk rumah nomor empat," jawab Bang Tagor dengan logat khas Bataknya.


"Iyelah. Si Luke kan kini sudah menjadi Ibu Dosen. Tentulah penampilan pun berubah," sahut Kak Inah, perawan melayu cantik yang lagi menunggu nasi goreng kari kambing pesanannya.


"Orang-orang sini gak pernah absen menggibah, ya," ucap Luke dalam hati. Ia mendengar semua obrolan mereka tadi.


Ah, ia tak sengaja bertemu pandang dengan Ina. Wanita muda berambut hitam panjang itu segera membuang muka.


"Sepertinya ia masih sangat marah padaku. Salah sendiri, bicara sembarangan. Dia pikir aku wanita baik berhati malaikat?" gumam Luke dalam hati. Ia tak peduli wajah masam yang berpapasan dengannya tadi. Jika orang mampu berbuat jahat padanya, kenapa ia tidak?

__ADS_1


"Luke? Apa kabar?"


"Eh, Lukman? Kabarku baik. Kamu sendiri ke mana aja? Udah hampir dua minggu gak kelihatan," sahut Luke.


"Wah, kamu kangen ya?" goda Lukman.


"Ishhh..." gumam Luke sambil memutar bola matanya dan memonyongkan bibirnya, berpura-pura jijik.


"Hehehe... Aku baru saja selesai tes pengacara. Dan Alhamdulillah lulus," ucap Lukman.


"Benarkah? Wah selamat, ya."


"Terima kasih. Sekarang aku masih bergabung di sebuah firma hukum. Jadi, kalau sewaktu-waktu kamu butuh aku untuk melabrak para tetangga kita, aku selalu siap," kata Lukman sambil mengedipkan mata. Baru dua minggu gak kelihatan aja, udah makin jago menggombal nih cowok.


"Eh, maksud kamu?"


"Aku sudah mendengar semua cerita tentang kamu dari nenek kos. Meskipun tak pernah ikut campur, tapi ia selalu mendengarkan pertengkaran kalian. Tenang saja, kami tak percaya gosip murahan tentangmu itu. Makanya nenek masih membiarkanmu tinggal di sini," ucap Lukman.


"Benar juga. Seperti itu pertengkaran kami, tak mungkin nenek tidak mendengarnya sedikit pun," ucap Luke.


"Lalu kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Luke pada Lukman.


"Aku? Tentu saja masih mengontrak di sini. Gajiku belum cukup besar untuk membeli rumah sendiri. Aku masih harus menabung. Lagian, sabtu minggu aku masih bekerja sebagai satpam di ruko kemarin," jelas Lukman.


"Wah, serius? Kerja doubel gitu? Emang calon suami idaman banget kamu, ya. Pekerja keras," celetuk Luke.


"Eh?" Luke salah tingkah.


"Hahahah... Selow Luke. Meski penampilanmu berubah. Kamu masih tetap saja polos seperti dulu, ya." Lukman terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang keram.


"Sialan bocah satu ini. Awas, ya. Bakalan aku bilang sama ibu-ibu kompleks sini, kalau kamu sebenarnya lulusan sekolah hukum dan kini jadi pengacara hebat," ancam Luke.


"Hei, jangan!" seru Lukman.


Selama ini memang tidak ada yang tahu selain Luke dan pemilik kontrakan jika Lukman sang satpam ganteng itu lulusan sekolah hukum terbaik di kotanya. Info menarik ini tentunya membuat para fans (ibu-ibu kompleks) semakin ngefans dengan Lukman.


*****


Ina menggigit bibirnya agar suaranya tak keluar. Kucing betina itu menikmati setiap sentuhan di ujung syarafnya.


"Katanya sedikit aja, kok jadi semua?" protes Ina kemudian.


"Tetapi enak kan kalau semuanya?"

__ADS_1


"Hu'um."


Ina tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Seluruh syarafnya aktif dan otot-otot tubuhnya mengejang kemudian menjadi sangat rileks.


Grak... Grak... Tempat tidur berderak-derak dengan kuat. Seperti akan runtuh saja.


"Sshhh... Pelan-pelan, nanti bisa kedengaran keluar," bisik Ina sambil mendesis keenakan.


Tetap saja, semuanya terdengar jelas dari kamar sebelah. Luke yang saat itu tengah bekerja, mengoreksi hasil kuis para siswa siang tadi, merasa sangat terganggu.


"Tetangga sebelah memang sudah gila. Bukannya ia baru saja keguguran? Tapi permainannya sama saja, ganas," gumam Luke sambil menyetel musik dari ponselnya.


Sssshhhh... Suara racauan dari kamar sebelah kian terdengar jelas. Luke semakin tidak bisa berkonsentrasi. Matanya menatap jam dinding, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima. Berarti sudah hampir dua puluh menit tetangga sebelah berpacu dalam permainan panas.


"Kuat juga stamina mereka. Apa karena mereka rajin berlatih setiap hari?" pikir Luke.


Ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu kepada Dede dengan terpaksa. Ia sudah muak menyumbat telinganya dengan headphone. Luke bahkan mengenyampingkan semua permasalahannya dengan mantan gebetannya itu.


"Aku tahu kalian masih bisa dibilang pengantin baru. Tetapi bisakah kalian lebih tenang sedikit bermainnya? Aku sedang banyak kerjaan, nih." Luke lalu menekan tombol send.


Tling! Berselang beberapa detik kemudian, datang balasan dari Dede.


"Hah, cepat sekali. Ia bermain sambil memegang ponsel?" pikir Luke. Suara desah*n bak ular mendesis di sebelah masih juga belum reda.


Luke membuka pesan itu tak sabar.


"Apa maksudmu? Siapa yang bermain panas? Aku masih di lembur di kantor," tulis Dede.


"Hah, lembur? Jam segini? Ia mau mencoba menipuku rupanya," gumam Luke.


Tling! Datang lagi sebuah pesan dari Dede. Luke segera membukanya.


"Hah, ini kan?" seru Luke.


Dede mengirim sebuah foto selfi, ternyata ia memang masih lembur di kantor bersama beberapa rekannya dan berkas yang menumpuk.


"Mampus, aku! Sepertinya aku baru saja membuat kesalahan fatal," ucap Luke.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa Like, Share dan Vote ya.


Yang suka kisah fantasi/misteri mampir ke novel aku yuk. Barangkali suka.

__ADS_1



Sampai jumpa di episode berikutnya. ^_^


__ADS_2