Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 14 - Dibalik Topeng


__ADS_3

"Duh, lemas banget ya mulut kamu jadi cowok. Kalau memang gak suka bertetangga denganku kenapa gak pindah aja. Gak takut sama wanita ular kayak aku? Aku bisa mematuk kalian kapan saja," geram Luke. Ia merasa sangat kesal. Sepertinya apapun ya penjelasannya saat ini tidak akan ada yang terima.


"Tadi malam?" Merry dan tetangga lainnya saling berpandangan.


"Tunggu dulu. Aku melihatmu keluar dari rumah Luke bukan tadi malam, tetapi kemarin malam," ucap Merry pada Dede.


"Hmm.. Yah, maksudku malam kemarin," ucap Dede kikuk.


"Tetapi saat itu yang kelihatan tak sadar kamu, bukan Luke. Padahal kamu bilang Luke yang sakit, kan?" tanya Merry.


"Wah, makin seru nih," ucap Nurul dalam hati. Dasar lucknut.


"Ah, itu... "Dede bingung mau menjawab apa. Ina menatapnya dengan curiga. 


"Saat aku keluar subuh kemarin, Dede tertidur di teras rumahku. Dia bilang habis menggerebek rumah rekan kerja yang telah menipunya. Dia mendatangi rumahku untuk curhat," jawab Luke.


"Ditipu? Kok nggak bilang aku, Yang?" tanya Ina.


"Menggerebek? Emang tempat hiburan malam?" ucap Tyo.


"Kenapa kamu curhat dengan Luke?" tanya Teguh pula.


"Ah, itu alasan Luke aja. Aku juga nggak ingat bagaimana bisa bersama dia. Yang aku ingat subuh itu kemejaku sudah terbuka separuh. Aku ingin pulang tetapi badanku lemah, seperti habis minum obat," jawab Dede.


"Cih, masih aja ngeles. Malu tuh sama gender. Jadi cewek aja lu," sahut Luke ketus. Badannya terasa semakin panas. Entah itu karena demam atau emosi.


"Maksudnya kamu dikasih obat sama Luke? Terus yang malam tadi?" tanya Nurul dan Kak Tyas penasaran.


"Sudah kubilang kan, Luke menelponku. Dia menyuruhku datang," jawab Dede.


"Aku harus bicara lagi dengan Lukman nanti, sebelum dia menyampaikan berita yang sebenarnya," pikir Dede dalam hati.


"Gila nih cewek, lagi sakit aja masih ambil kesempatan, padahal bininya ada di sebelah. Gimana kalau lagi sehat? Hii, ngeri," ucap Teguh.


"Ya Ina juga aneh. Masa suaminya belum pulang gak merasa kehilangan? Padahal tiap malam aku dengar suara orang 'gulat'?" sindir Luke.

__ADS_1


"Oh, ya... Itu... Abang memang sering izin untuk lembur. Jadi aku biasa menonton TV sampai tertidur," jawab Ina. Gantian Dede yang menatap Ina dengan tajam.


"Ternyata pelakor zaman sekarang makin ganas ya? Jaga deh, suami kalian masing-masing," ucap Nurul.


"Aku kira kakak orang baik, ternyata menusuk dari belakang," kata Ina.


"Terserah kalian aja, deh. Gak ada gunanya berdebat dengan otak gibah kayak kalian. Toh bangkai disimpan lama-lama pasti tercium juga," ucap Luke. Ia sudah malas bicara dengan mereka.


Sebuah pick up tua masuk ke halaman kontrakan mereka. Sejenak mengalihkan perdebatan sengit tadi. Dede menatap mobil itu dengan tajam.


"Bu Ella," sahut seorang gadis muda yang turun dari pick up itu.


"Ya?" Luke menatap gadis itu bingung.


"Saya Lestari. Mahasiswa ibu," ucap gadis itu memperkenalkan diri.


"Oh, iya," jawab Luke. "Mari masuk," ajak Luke.


"Nggak usah, Bu. Saya sebentar saja. Minggu depan saya ada seminar, dan harus mendapatkan persetujuan ibu hari ini, agar berkasnya bisa segera di usulkan. Tetapi, karena ibu sakit saya jadi mengunjungi ibu ke rumah," kata Lestari.


"Iya. Saya dosen MIPA Fisika," jawab Luke tegas.


Glek. Tetangganya menelan ludah.


"Oh, begitu. Mana berkasnya?" ujar Luke pada Lestari. Lestari pun mengeluarkan beberapa bundel berkas dari ranselnya.


"Kamu... Yang tadi malam, kan? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya pria yang mengantar Lestari kepada Luke.


"Hmm... " Luke memasang wajah bingung.


"Oh, itu. Kamu yang pingsan tadi malam di kedai nasi depan. Saya membawamu ke klinik bersama seorang temanmu. Ia selalu menggendong dan memegang erat tanganmu," jelas pria itu. "Nah, ini temanmu, kan?" Pria itu menunjuk Dede.


Semua yang ada disitu saling berpandangan. Apa maksudnya ini? Siapa yang berbohong?


"Duh, Bapak ini cari masalah saja. Pantas saja pick up nya terlihat familiar," batin Dede. Namun ia tak membalas ucapan ayah Lestari. Ia takut kebohongan lainnya akan terbongkar.

__ADS_1


"Oh, terima kasih banyak Pak, sudah membawa saya berobat," ucap Luke.


"Sama-sama, Nak. Saya tidak tahu kalau kamu ternyata dosen anak saya," sahut pria itu. "Lestari, kenapa kamu gak bawakan buah atau makanan untuk ibu dosenmu. Dia pasti kelelahan karena kegiatan di kampus, sampai sakit begini."


"Hehehe... Maaf, Yah, Bu. Aku tidak memikirkan ke sana. Yang aku pikirkan hanya tanda tangan dokumen. Lain kali akan aku bawakan untuk ibu," ucap Lestari.


"Tidak apa-apa, Pak. Yang penting Bapak sudah membuka kedok dan membawa kebenaran ke sini," ucap Luke. Baru kali ini ia merasa senang dengan orang ember di tempat ramai.


"Maksudnya?" tanya Lestari dan ayahnya tidak mengerti.


"Hahaha.. Lupakan saja. Mari ke dalam. Saya buatkan teh untuk membalas kebaikan Bapak tadi malam," kata Luke.


"Tidak perlu, Nak. Kami akan segera kembali ke kampus."


"Benar, Bu. Terima kasih. Maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat ibu," ucap Lestari.


Sepeninggal Lestari dan ayahnya mereka hanya terdiam.


"Duh, kok gak asyik banget sih? Mana yang tadi berkoar-koar menginjak harga diriku? Ku pikir akan butuh berbulan-bulan kebenaran itu terbongkar. Ternyata hanya butuh waktu kurang dari satu jam, ya." Luke menyindir para tetangganya.


"Tapi tetap saja kakak wanita gak benar. Bisa membawa lelaki, bahkan suami orang ke dalam rumah," ucap Ina.


"Iya.. Iya.. Aku ini wanita ular. Jadi jangan dekat-dekat, deh. Apalagi cowok. Nanti kena patuk, naksir pula padaku. Yang pada punya suami, tolong dirantai aja biar gak menyeberang ke rumah sebelah," ucap Luke ketus.


"Oh, iya. Tanggung jawab yang tadi ngatain aku morotin cowok untuk biayai hidupku. Jangan main-main sama dosen MIPA kalau kalian masih pengangguran dan hanya bisa menggosip," tambah Luke Lalu meninggalkan mereka semua.


"Bang, aku butuh semua penjelasan abang atas semua ini," bisik Ina pada suaminya.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like share dan komen.


Maaf, ya. Momen yang harusnya klimaks malah jadi anti klimaks. Authornya lagi teparrr... karena kebanyakan ambil job di dunia nyata.


Sampai jumpa di episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2