
"Apaan nih, Kak?" tanya Ina ketika Luke memberinya satu set rantang yang isinya cukup berat.
"Makanan," jawab Luke singkat.
Ina mengerutkan keningnya. Jawaban Luke tidak menjawab rasa penasarannya.
"Maksudku... Banyak sekali... seperti hantaran orang kenduri di kampung saja," kata Ina.
Luke hanya menatap Ina dengan bibir terbungkam. Ia tak berniat menjawab pertanyaan Ina. Membuat tetangganya gemas penasaran.
Beberapa waktu yang lalu, setelah masalah menimpa mereka, kehidupan mereka kembali seperti biasa. Saling bertetangga walau pun masih jarang bertegur sapa. Luke melanjutkan pekerjaannya sebagai dosen fisika. Dede yang masih belum pulih, terpaksa cuti agak lama. Ina menggantikannya bekerja di sebuah toko kosmetik.
Sementara Nurul, yang terlanjur jatuh cinta pada ketampanan Dede, mendadak patah hati melihat Ina dan Dede kembali rujuk. Hingga kini, ia tak pernah menyerah untuk selalu menggoda suami tetangganya tersebut. Sebutan pelakor padanya pun tak pernah ia hiraukan.
"Kak, ini kakak semua yang memasak?" tanya Ina. Ia membongkar rantang yang diberikan oleh Luke. Isinya ada nasi gurih, gulai ayam, sambal telur puyuh, dan beberapa jenis kue basah.
"Tidak. Itu beli," kata Luke yang sibuk menyiram bunga.
"Astaga...!" gerutu Ina yang semakin penasaran.
"Kalau dikasih rezeki itu harusnya mengucapkan 'alhamdulillah', bukan astaga," kata Luke dengan wajah datar.
Ina menghela napas. Tetangganya yang satu ini benar-benar menguji kesabaran.
Sebuah mobil berhenti di depan kontrakan mereka. Disusul dengan sebuah mobil pick up.
"Loh, kok malah menyiram bunga? Udah siap packing semua?" tanya Satria yang baru saja turun dari mobilnya.
"Loh, mobil mewahnya mana, Bang?" tanya Ina pada Satria. Biasanya ia mengendarai BMW miliknya, namun kali ini ia hanya membawa mobil Inova.
__ADS_1
"Mau bawa barang pindahan," jawab Satria.
"Pindah? Kak Luke mau pindah?" tanya Ina.
"Iya," kata Luke singkat.
"Ke mana?" tanya Ina lagi.
"Eh... itu.." Luke ragu-ragu mau menjawab.
"Kamu pasti belum memberitahu para tetangga, ya," kata Satria.
"Duh, apaan sih?" batin Ina semakin kepo. Rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun.
"Aku dan Luke akan menikah," kata Satria.
"Hah, serius? Kapan? Wah... Akhirnya..." ujar Ina senang. Entah senang karena rasa penasarannya terpuaskan, atau senang karena tetangganya akan menikah.
"Tanggal 24 Februari atau 24 Maret? 24 Februari kan besok??!" ucap Ina.
"Iya, memang besok akadnya," jawab Luke santai.
"Astaga! Benar-benar gak habis pikir. Besok mau menikah tapi santai banget. Jadi ini beneran rantangan kenduri?" kata Ina.
"Hu'um," jawab Luke.
"Kamu salah Ina. Luke bukan santai. Dia malah stress banget mau nikah, sampai gak tahu lagi apa yang dibikinnya seminggu terakhir ini," cerita Satria.
"Syukur deh kalau begitu. Setelah Hampir setahun hubungan tanpa status dengan Bang Satria, akhirnya menikah juga," kata Ina.
__ADS_1
"Hahaha... kenapa kesannya aku yang dighosting, yak?" kata Satria.
"Hehe, tetapi emang begitu kan? Ini aja aku masih nggak menyangka kalau Kak Luke beneran mau nikah. Emangnya gak pakai pingitan atau persiapan lainnya gitu? Pestanya kapan?" tanya Ina penasaran.
"Persiapan udah dari sebulan yang lalu, sih. Kami akad aja sama kenduri malamnya. Luke nggak mau pesta tuh katanya. Takut traumanya kambuh kalau lihat orang rame-rame," kata Satria.
"Oh, gitu... Kakak jahat banget sih? Gak ada dikit pun ngabarin kalau mau nikah," kata Ina.
"Ah, ya..." gumam Luke. Dia benar-benar ngeblank.
"Bro, selamat ya. Akhirnya diterima juga sama Luke. Aku tahu rasanya gimana membujuk Luke," kata Lukman dan Hendra yang baru saja datang.
"Hei, kenapa orang-orang pada memberi selamat pada Satria, ya? Padahal yang perlu diberi selamat kan aku?" kata Luke.
"Iya. Seharusnya emang Luke yang mendapat ucapan selamat. Dari dia yang sangat tertutup, sampai membuka hati untuk berteman dengan kita, lalu sekarang memutuskan untuk menikah. Semua bukanlah keputusan yang mudah bagi Luke," jelas Satria.
Dede yang mendengar semuanya dari dalam rumah, hanya bisa mengucapkan selamat di dalam hati. Dirinya benar-benar malu untuk berhadapan langsung dengan Luke.
Obrolan mereka pun berhenti sementara. Beberapa orang membantu Luke pindahan. Di waktu yang bersamaan, Luke pun memberikan undangan.
Jangankan orang lain, dirinya pun tidak menyangka akan melepas lajang dan berkomitmen besar seperti ini. Sungguh, Satria benar-benar seperti sosok pelindung baginya. Ia merasa aman dan nyaman bersama pria itu.
(Tamat)
Terima kasih seluruh pembaca yang telah setia mengikuti kisah kelamku dari awal hingga akhir. Semoga kisah kalian, dipenuhi berkah dan rasa cinta, ya. Tidak seperti kisah author yang sangat kelam dan menyedihkan (sampai dijadikan novel segala).
Awalnya author ragu banget mau nulis kisah ini. Akankah ada yang mau membacanya? Apakah kisahnya pantas untuk dituliskan di sini? Tetapi berkat semua dukungan dari kalian, akhirnya author pun pede menuliskan kisah ini hingga tamat.
Mohon maaf jika banyak kekurangan. Author masih dalam tahap belajar. Sampai jumpa lagi di karya author berikutnya.
__ADS_1
Love you all... and Thank You So Much.... ❤❤❤