Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 49 - Takdir yang Buruk


__ADS_3

"De... Dede... astaga nih anak...!" Kesal Jaya.


Lelaki yang sedari tadi dipanggil hanya memandang layar laptop dengan pandangan kosong.


"De, Luke ada di sini!" seru Jaya.


"Luke? Mana?" ucap Dede panik.


"Nah, akhirnya... Udah kelar melamunnya? Kalau gitu kerjain tuh faktur pajak bulan ini," kata Jaya.


"Kamu ngibulin aku, ya?" kesal Dede.


"Ya kalau gak gitu, mungkin kamu bakal terus melamun sampai jam pulang. Lalu kerjaan kita gak beres dan disuruh lembur lagi sama big bos," jelas Jaya. "Aku nggak mau dong, jadwal kelonan sama istri terganggu," lanjutnya.


"Dasar, kamu. Tetapi kamu tahu dari mana soal Luke?" selidik Dede.


"Ya tahu lah... Semua orang di ruangan ini juga udah pada tahu. Tiap hari kamu selalu menelepon seseorang. Bagaimana kabar Luke? Kapan dia pulang? Kamu juga menatap fotonya setiap saat. Bukan selingkuhan kamu, kan?" cibir Jaya.


Ugh... Dede malu sekali. Bagaimana bisa seseorang yang telah bersuami justru memikirkan wanita lain saat bekerja? Tetapi memangnya Ina masih pantas untuk dipikitkan?


"Udah... udah... menggalaunya delay dulu... Sekarang kerjakan nih... Deadline nya nanti pukul tiga sore," ucap Jaya lagi. Ia memberikan setumpuk berkas pada Dede.


Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel Dede.


"Kita harus bertemu, selesaikan semua masalah ini. Kapan kamu ada waktu?"


"Ah, ternyata dari Ina," gumam Dede kecewa. Tetapi ia tidak akan lari. Memang benar, satu per satu masalah harus segera di selesaikan.

__ADS_1


Dede juga ingin menyelesaikan masalahnya dengan Luke. Meminta maaf atas semua kesalahannya, membayar semua yang telah ia lakukan dan... apa ia bisa merelakannya juga? Sepertinya tidak.


^^^"Baiklah, kita bertemu sabtu besok pukul sebelas, di tempat biasa," balas Dede.^^^


*****


Sabtu, pukul 10.40.


"Aih...! Kenapa harus kesiangan di hari ini, sih? Dasar kucing kawin si*l*an! Udah mengganggu, bikin iri pula," gerutu Dede.


Semalam, beberapa pasang kucing meraung-raung di sekitar kontrakan. Mereka memanggil pasangannya masing-masing.


Dede tidak bisa tidur hingga menjelang subuh. Setelah sholat, ia ingin sekali memejamkan mata satu jam saja. Namun malah bablas hingga pukul sepuluh.


Tadinya Dede ingin tampil sempurna saat bertemu dengan Ina. Tetapi sepertinya gagal total. Jangankan tampil sempurna, mengisi perut pun ia tak sempat.


Jalanan kota di hari sabtu ternyata cukup ramai. Dede pun mengambil jalan 'tikus' untuk mempersingkat waktu. Tak cukup dengan itu, pria usia 29 tahun itu menaikkan kecepatan sepeda motornya hingga mendekati kecepatan maksimal.


Bukan karena ia menghawatirkan wanita yang sedang menunggunys, tetapi ia ingin masalahnya cepat selesai.


Cekittt!!! Brak!!! Bruk!!! Prang!!!


"Aduh...!!!!"


*****


Kafe Pelangi, pukul 11.30.

__ADS_1


"Hah... Mana sih cowok g*la itu?" kesal Ina. Ia mematut wajahnya di depan cermin untuk yang kesekian kalinya. Ina memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik yang mulai memudar.


"Lama banget, sih? Apa aku harus memesan jus timun untuk yang kedua kalinya?" ucap Ina.


Pikirannya kembali kacau. Ia berpikir, jika Dede mempermainkan dirinya. Lelaki itu tak benar-benar ingin menyelesaikan masalah dengannya.


Sudah yang kesekian kalinya mereka janji untuk bertemu, tetapi pada akhirnya selalu gagal. Lelaki itu pun memberi talak satu padanya hanya melalui telepon. Benar-benar keterlaluan. Oleh sebab itu, ia pun mungkin tidak akan datang hari ini.


"Dasar pengecut. Jika memang ingin berpisah ya lakukan dengan jelas. Jika tidak, jangan biarkan aku luntang-lantung begini," tangis Ina. Ia mulai menyesali perbuatannya dahulu.


Drrtt...


"Duh, Papa kenapa telepon, sih?" gerutu Ina.


"Halo, Pa?" jawab Ina.


"Halo, Ina. Kamu di mana? Sudah dapat kabar belum?"


"Kabar apa?" tanya Ina.


"Dede..."


"Apa? Papa jangan bohong, dong," jerit Ina tak percaya. Air matanya seketika menganak sungai.


"Kenapa Papa harus berbohong? Cepat datang kemari.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2