
"Sudah pulang, Nak? Bagaimana hasil pemeriksaan hari ini?" tanya ibu.
"Alhamdulillah lancar, Bu. Hasilnya semakin membaik," jawab Luke sambil salim pada ibu.
"Lalu kenapa wajah kamu masih kusut begitu?" wajah ibu terlihat khawatir.
"Luke tadi tidak sengaja menabrak seorang pasien yang menggunakan kursi roda. Dan kalau tidak salah lihat, itu Shilla. Tetapi kenapa kondisinya sangat menyedihkan begitu, ya?" cerita Luke.
"Shilla? Wanita ibl*s yang membuat kakak menjadi menderita begini? Dia juga kan yang menyebatkan rumor buruk di SMA kakak dulu?" tanya adik Luke kesal.
"Benar kata adikmu, Luke. Lihatlah dirimu. Kamu baru saja akan meniti karir, sudah tertimpa cobaan lagi. Trauma yang kamu alami akibat ulah mereka juga semakin memburuk. Ini bukan saatnya kamu mengkhawatirkan orang lain," tambah ibu.
Luke tertunduk. Hati kecilnya memang merasa sakit karena bully teman-temannya dahulu. Tetapi kondisi Shilla tadi benar-benar parah. Ia terlihat puluhan tahun lebih tua dari usia semestinya. Badannya kurus, kulitnya kering dan kusam. Rambutnya tak kalah rusaknya karena tidak terurus. Mengapa salah satu gadis terpopuler di sekolah justru menjadi seperti itu?
Sejak tamat SMA, Luke memang memisahkan diri dari para alumni sekolahnya. Ia tidak ikut dalam reuni sekolah, tidak masuk ke dalam grup alumni, dia juga mengunfollow media sosial teman sekolahnya. Ia benar-benar memulai hidup baru ketika masa kuliah.
Rekan SMA yang masih ia hubungi hanya beberapa orang, yakni Flora, sahabatnya sejak SD. Sri Rahayu, teman sebangkunya kala kelas dua dan tiga SMA. Dan Bang Hari, seniornya yang sama-sama mengikuti olimpiade.
Pertemuannya dengan Dede, Teguh dan Tyo beberapa bulan lalu, adalah pertemuan pertamanya dengan teman-teman sekolahnya yang lain. Ia malah baru tahu, jika Teguh menikahi Lily.
"Kak, kenapa terdiam. Kakak tidak berpikir untuk mencari tahu keadaan teman kakak itu, kan? Lihatlah keadaan ibu. Jika kakak tidak peduli dengan diri kakak sendiri, cobalah untuk lebih memperhatikan ibu. Akhir-akhir ini ibu sangat kurang tidur hanya karena memikirkan anak gadis satu-satunya," ucap adik Luke lagi.
__ADS_1
Bola mata Luke beralih, dari jendela ke arah ibundanya. Wanita berumur 51 tahun itu sangat ringkih. Entah sejak kapan tubuh ibunda Luke jadi sekurus itu. Matanya sayu dan tampak sangat lelah. Tulang bahunya menonjol dibawah lapisan kulit yang coklat semakin terlihat keriput. Kulit antara kedua alisnya sangat berkerut, menunjukkan betapa seringnya ia berpikiran berat.
Hati Luke teriris. Seharusnya ia membahagiakan ibunya. Tetapi yang ada, ia malah membuat ibunya selalu khawatir dan bersedih. Benar yang dikatakan adik satu-satunya. Luke harus lebih memikirkan ibunya dibanding orang lain.
"Maafkan aku, Bu. Aku janji akan membahagiakan Ibu," ucap Luke lirih.
Sang ibunda memang tidak menyahut. Tetapi air mata yang mengalir deras di pipinya adalah sebuah jawaban yang sangat jelas.
Drrttttt... Ponsel Luke berdering.
"Kamu tidak lupa lagi, kan? Kelas hari ini dimulai pukul 12.50," tulis Hendra Yohanes, sang driver ojek online yang kini menjadi temannya.
"Oh, iya benar."
Setelah masa cutinya habis, Luke tidak kembali ke kota dan mengajar seperti biasanya. Ia memilih mengajar mahasiswa non reguler, dengan sistem belajar mengajar kelas jauh melalui online.
Hal tersebut memudahkan ia untuk bekerja sekaligus memulihkan keadaannya.
*****
"Lukman, kamu tahu di mana dan bagaimana keadaan Luke sekarang, kan?" desak Dede ketika bertemu Lukman di kontrakan.
__ADS_1
"Maaf, jawabanku masih sama seperti kemarin, Bro."
"Cowok si*l! Kamu yang menjaga dan merawat kontrakannya selama ia pergi, tidak mungkin tidak mengetahui apa pun," marah Dede.
"Siapa yang kamu sebut cowok si*l? Lihat dirimu sendiri. Berapa banyak orang yang kamu sakiti akibat ulahmu sejak remaja?" balas Lukman.
"Sebelum pulang, Luke hanya menitipkan kunci rumah padaku. Dan berpesan untuk membersihkannya seminggu sekali. Setiap bulan ia mengirimkan uang kontrakan pada nenek, dan nenek memberikan beberapa ratus ribu padaku sebagai upah. Hanya itu yang bisa kuceritakan padamu," jelas Lukman.
"Apa kamu sudah mengatakan semuanya?" selidik Dede.
"Memang apalagi yang bisa aku sembunyikan? Kamu lebih lama mengenal Luke. Kamu juga satu sekolah dengannya. Seharusnya kamu lebih memahaminya. Dan kamu bisa saja bertanya langsung dengan orang kampung halamannya, kan? Tetapi kenapa kamu malah 'mengeong' padaku setiap hari?" kesal Lukman.
Dede terdiam. Bukannya ia tak pernah mencoba mencari jejak keberadaan Luke di kampung halaman. Tetapi dari informasi yang terpercaya, mereka mengatakan jika Luke tak pernah terlihat di sana. Rumah ibunda Luke pun selalu tertutup seperti tidak berpenghuni. Ke mana gadis berambut merah itu pergi?
Tling! Ponsel Dede berbunyi.
"Hei, apa yang kamu katakan pada papa? Ia hampir saja membunuhku pagi ini," tulis Ina.
"Wah, sayang sekali. Kenapa ia tak langsung membunuhmu saja pagi tadi," balas Dede.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.