
"Sudah hampir jam satu. Abang harus ke kantor," ujar Dede sambil mengikat handuk ke tubuhnya. Ia harus mandi sebelum kembali ke kantor.
"Nanti malam bisa kita sambung lagi," lanjut Dede sambil membelai dagu istrinya yang manis.
Ina masih memasang wajah cemberut. Permainan tadi masih tanggung. Wanita itu masih merasa belum tuntas sepenuhnya.
Sebenarnya tidak ada jadwal 'bermain' siang ini. Namun Dede tetap pulang ditengah kesibukan kantornya karena permintaan Ina.
Entah mengapa belakangan ini bir*h* wanita muda itu semakin tinggi.
Ina menutup tubuh dengan selimut. Bola matanya mengikuti gerak Dede yang hendak mandi. Hatinya masih kesal.
"Kenapa akhir-akhir ini abang tidak pernah bermain dengan maksimal, ya? Seperti ada yang dipikirkannya. Apa pekerjaan kantor membuatnya jenuh?" pikir Ina. Ia sangat ingin bertanya langsung, tetapi sepertinya Dede sedang terburu-buru.
Tak lama berselang, Dede bersiap kembali ke kantor. Ia sudah terlambat hampir dua puluh menit siang ini. Maklumlah, pegawai baru di salah satu Bank Swasta seperti dia harus berusaha disiplin dan rajin agar tetap bertahan.
"Hari ini pun dia tidak ada di rumah," ucap Dede ketika melihat rumah sebelah yang tertutup rapat dan terlihat gelap di dalam.
Beberapa hari ini Luke memang kerap pergi pagi-pagi sekali, lalu pulang menjelang magrib. Menggunakan setelan rapi dan formal, membuat tetangganya bertanya-tanya, di mana ia bekerja sekarang? Apakah ia bergabung dengan perusahaan MLM atau sales keliling?"
...*****...
Sore hari yang cerah dan damai, di halaman kontrakan sempit Gang Karet.
"Hei, gadis rambut merah. Sibuk mulu sekarang? Kerja di mana, sih?" tanya Kak Nada dan lainnya. Mereka lagi berkumpul di depan kontrakan. Yah, tipe emak-emak banget, sore-sore ngumpul lalu ngerumpi.
Luke hanya tersenyum. "Masih berusaha cari-cari aja," jawab Luke sekenanya.
"Mana pacar ganteng kamu kemarin?" tanya Kak Tyas pula.
"Oh, Luke punya pacar? Tampang begini punya pacar?" ejek Nurul.
"Hei, gini-gini aku masih jauh lebih cantik dari pada kamu, tahu," balas Luke.
"Hahaha ... Mampus, rasain tuh," tawa Kak Nada dan Kak Tyas.
"Lagian itu bukan pacarku, kok. Cuma supir online yang kebetulan cakep aja," ucap Luke jujur. Wanita berambut merah bak perempuan Rusia itu capek berbohong terus soal pacar. Beberapa hari terakhir ia memilih naik busway untuk menghemat ongkos.
"Hocky amat Lu dapat supir ganteng gitu. Masih single gak? Mana tahu jodoh, kan?" kata Kak Tyas sambil mengedipkan mata.
"Ih, apaan sih kak. Mana berani aku tanya-tanya gituan," jawab Luke. Matanya memandang rumah nomor tiga.
__ADS_1
"Tumben tertutup rapat. Apa mereka sedang tidak di rumah?" pikir Luke.
"Halah, paling juga kamu udah gonta ganti pacar. Cari bos-bos kaya untuk menghidupi kamu. Masa cuma modal nulis novel online doang bisa punya perabotan lengkap, sampai AC segala," tuduh Nurul.
"Hei, mulai deh. Menggibah," tegur Kak Nada.
"Pacar kemarin cuma bohongan? Berarti aku masih punya kesempatan, dong," ujar Lukman yang barusan keluar dari rumah. Ia bersiap pergi kerja. Dengan seragam satpam yang rapi ia terlihat lebih gagah dan tampan.
"Nguping aja cowok jomblo satu ini. Lagian, emangnya kamu pernah berusaha serius sama Luke?" tanya Kak Nada.
"Lah, mana tahu kan? Gadis bule kelahiran lokal ini mau sama aku yang hanya petugas keamanan rendahan. Usia kami kan cuma selisih tiga tahun," ujar Lukman sambil mengedipkan mata pada Luke.
Gadis berambut merah itu hanya tersenyum. "Aku bukan bule, Lukman," ujar Luke.
"Bagiku kamu tetap lebih cantik dibanding para wanita di luar sana," goda Lukman.
"Huekkkk!" Kak Nada dan Kak Tyas mengejek Lukman. Luke hanya tertawa.
"Kenapa kalian gak satu rumah aja, sih? Kan enak hemat sewa rumah dan biaya dapur. Bisa ehem-ehem juga kalau lagi pengen," kata Nurul.
"Ih, kotor banget sih otak cewek satu ini? Minta di rukiah kayaknya," ujar Kak Nada kesal.
Raut wajah Nurul berubah masam. Suami Nurul yang berprofesi sebagai supir antar kota memang jarang pulang. Biasanya ia hanya menampakkan wajah dua hingga tiga kali dalam satu bulan.
...*****...
Drrrrrr...... Hujan turun membasahi seluruh kota metropolitan tersebut. Musim hujan tampaknya sudah dimulai. Luke yang sedang duduk di ruang kerjanya hanya memandang pasrah ke luar.
"Duh, bakal basah semua nih cucianku," gumam Luke. Tangannya menggeser mouse dan mengklik tombol save pada layar laptopnya, untuk menyimpan naskah novelnya episode 75.
Tok, tok, tok...
"Permisi, Bu. Kelasnya sudah mau dimulai," ucap salah satu gadis muda, mengetuk ruangan Lukella.
Luke memandang jam tangannya. Sudah hampir pukul satu siang.
"Baik, ibu segera ke kelas. Siapkan absen beserta proyektornya, ya," jawab Luke sambil tersenyum.
Dosen muda itu segera mengambil laptopnya dan mengecek materi kuliah hari ini. Ya, ia berhasil lulus seleksi penerimaan dosen beberapa waktu lalu. Sekarang ia diberi tanggung jawab sebagai dosen mata kuliah Fisika Nuklir dan Fisika Material.
Setelah perjuangan bertahun-tahun lamanya, akhirnya Luke benar-benar memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Meski demikian, ia tetap melanjutkan profesinya sebagai penulis novel online.
__ADS_1
Namun Luke belum berniat memberi tahu tetangganya. Nanti saja jika aku benar-benar telah berhasil, pikirnya.
...*****...
"Lho, cucianku mana?" gumam Luke saat tiba di kontrakan. Cucian miliknya tidak terlihat lagi di jemuran yang basah kuyup akibat hujan siang tadi.
"Kak Luke," panggil Ina.
"Iya?"
"Ini jemuran kakak Ina angkat sebelum hujan tadi," kata Ina.
"Oh, trims," kata Luke.
Ina segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil cucian. Luke menunggunya di teras. Matanya menangkap Dedek yang hanya berbalut handuk putih. Dadanya yang bidang terbuka lebar. Rambutnya basah dan acak-acakan.
Deg! Jantung Luke berdetak keras. Tangan dan kakinya terasa lemas. Sekelebat bayangan mengerikan muncul di kepalanya. Luke segera mengalihkan pandangan. Ia mengatur napasnya yang mulai sesak.
"Ini, Kak." Ina menyerahkan setumpuk cucian yang masih agak lembab.
"Makasih, ya. Maaf ngerepotin," ujar Luke, lalu bergegas pulang.
Duh, Luke lupa. Bagaimana caranya ia membuka pintu jika kedua tangannya penuh cucian?
"Sini, Ina bantu, Kak. Mana kunci rumahnya?" tawar Ina.
"Oh, I-ini. Ada di dalam tas," ujar Luke menahan rasa malu.
"Kenapa dia baik banget, sih? Kalau dia jahat kan aku jadi ada alasan untuk membencinya," gumam Luke dalam hati.
Ceklek! Pintu rumah terbuka. Ina pun segera kembali ke rumahnya.
"Hah, ternyata aku masih belum bisa menghilangkan rasa traumaku sepenuhnya," ucap Luke. Ia menghempaskan badannya ke kasur. Sementara cuciannya diletakkan begitu saja di atas karpet depan TV.
"Oh, iya. Aku harus segera menjemur kain-kain ini sebelum bau apek." Luke mengangkat tubuhnya dengan malas.
"Eh? Kenapa CD ku kurang satu? Rasanya tadi pagi aku mencuci empat helai?" Luke mengingat-ingat.
"Eeeehhh....! Jangan-jangan tertinggal di rumah Ina," racau Luke dengan wajah bersemu merah.
(Bersambung)
__ADS_1