
Byurrr... Luke menyiram seluruh tubuhnya dengan air bak yang sejuk. Sebagian beban di kepalanya yang tadi bersarang di sana, seakan hanyut terbawa air yang menuruni setiap sela tubuhnya.
"Apa-apaan dia? Sampai datang seperti itu ke kampus hanya untuk curhat masalah rumah tangganya? Dia pikir aku penasehat cintanya?" gerutu Luke. Ia masih mengingat kejadian tadi.
"Dulu saja ia membuangku dan memintaku jauh seperti lalat yang terus mengganggu. Eh, tetapi benar juga sih. Aku lalat dan dia daging busuknya. Hahahah," ucap Luke seorang diri.
Jika ada yang melihat Luke saat ini, pasti mengira gadis itu memiliki gangguang jiwa.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum. Luke... Lukella..."
"Haduh... Itu artis kompleks ngapain lagi panggil-panggil. Merusak kesenangan batin aja," ujar Luke. Lamunannya buyar seketika.
"Assalamualaikum, Lukella... Kamu di rumah kan?"
"Waalaikumussalam. Iya, sebentar Lukman. Aku baru selesai mandi," sahut Luke setengah berteriak. Ia buru-buru melilitkan handuk di tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Luke ketika selesai berpakaian. Tetangga ganteng itu rupanya masih menunggunya di teras rumah.
"Luke, kamu tidak sibuk kan? Tolong aku, ya..." pinta Lukman.
"Tolong? Tolong apa?" tanya Luke bingung.
"Malam ini ada acara di rumah salah seorang jaksa. Dan aku diminta untuk mewakili firma hukum kami. Atasanku sedang tidak bisa hadir karena istrinya sedang tidak sehat. Dan rekan-rekan yang lain sedang ada di luar kota," kata Lukman.
"Lalu?"
"Tolong bantu aku memilih pakaian. Aku tidak pernah datang ke acara semi formal seperti ini. Apalagi ini acaranya orang penting di kota ini," ujar Lukman.
"Kenapa kamu meminta bantuanku? Memangnya aku pernah menghadiri acara seperti itu? Lagian, kita juga tidak terlalu dekat, kan?" tolak Luke.
"Oh, ayolah. Jangan begitu dong. Ini menyangkut pekerjaanku juga. Sebagai imbalannya, seminggu ke depan aku akan membelikanmu semua makanan berkuah kacang kesukaanmu," bujuk Lukman.
"Tidak." Luke masih menolaknya.
"Bagaimana kalau dua minggu. Aku akan membelikan makanan kesukaanmu selama dua minggu penuh. Ditambah sambal jengkol dan petai juga deh. Please..." Lukman tetap tidak menyerah.
"Lukman. Aku bukan orang yang bisa disogok begitu. Aku menolaknya karena memang tidak bisa membantumu. Cobalah bertanya pada yang lain," jawab Luke.
"Aku sudah meminta bantuan pada Fitri dan Merry. Tetapi mereka malah memberiku pakaian seperti acara pesta khitanan. Lalu kata mereka, mungkin pengalamanmu selama mengikuti olimpiade dan bertemu banyak orang, bisa membantuku," sahut Lukman.
"Hmm.. Aneh juga. Cowok kece kayak kamu rupanya punya masalah soal penampilan juga," kata Luke. "Baiklah, aku coba membantumu," lanjutnya lagi.
Mereka berdua lalu menuju ke rumah Lukman. Sang pemilik rumah sengaja membuka pintu dan jendelanya lebar-lebar agar tidak menimbulkan fitnah.
__ADS_1
Setelah membongkar semua isi lemari lelaki itu, Luke tidak menemukan satu baju pun yang pantas digunakan untuk undangan nanti malam.
"Kamu pecinta baju kaos kelas berat, ya? Tidak ada baju lain selain seragam kerjamu," keluh Luke.
"Hehehe. Hanya itu baju yang nyaman ku pakai," sahut Lukman.
Pantas saja Merry dan Fitri tadi tidak menemukan pakaian yang tepat untuk Lukman.
Luke melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.20, beberapa menit menjelang magrib. Sementara acara dimulai pukul 07.30. Mereka langsung memutuskan untuk membeli pakaian di distro terdekat setelah sholay magrib.
"Yuk," ajak Lukman.
"Ini mobil siapa?" tanya Luke bingung.
"Mobil atasan aku. Dikasih pinjam khusus untuk menghadiri undangan," sahut Lukman.
"Hah... Itu kan Luke dan Lukman?" gumam Dede yang berselisih dengan mobil yang dikendarai Lukman.
"Sialan gadis itu. Dia meninggalkanku sendirian di kampus dan dia malah pergi dengan pria lain?" gumam Dede kesal.
Entah kenapa hatinya merasa sakit saat melihat Luke berdampingan dengan pria lain.
*****
Luke dan Lukman sibuk memilih blazer, kemeja, celana, dan sepatu untuk Lukman. Tidak hanya warna dan model, mereka juga memilih harga yang sesuai dengan isi kantong.
"Sebentar, ya," ucap Lukman.
Luke hanya mengangguk sambil meneruskan kegiatannya. Cukup lama Lukman menerima telepon dari atasannya. Luke sudah hampir selesai memilih.
"Ini bagaimana?" tanya Luke sambil menunjukkan pakaian yang dipilihnya.
"Bagus. Aku suka," jawab Lukman singkat. "Pilih pakaian untukmu juga," lanjut Lukman.
"Kenapa?" tanya Luke bingung. Perasaannya gak enak.
"Tema pesta malam ini adalah couple. Atasan barusan memintaku datang membawa rekan wanita," jawab Lukman.
"Tidak. Aku tidak bisa," ucap Luke cemas.
"Mbak, carikan dress yang bagus untuknya, ya," pinta Lukman pada seorang pramuniaga. Ia tidak mendengarkan ucapan Luke.
"Untuk acara apa, Kak?" tanya wanita muda itu.
"Untuk acara ulang tahun anak remaja rekan kami," jawab Lukman.
__ADS_1
"Apa? Ti-tidak. Lukman. Dengarkan aku," ucap Luke semakin cemas. Ia menyesal, tidak bertanya sejak awal acara apa yang hendak dihadiri oleh Lukman.
"Santai saja, Luke. Kita hanya setor wajah sebentar, lalu kemudian pulang. Tolong bantu aku kali ini saja," pinta Lukman memelas.
Di saat yang bersamaan, pramuniaga tadi membawa beberapa dress cantik untuk dipilih Luke.
"Bisa tolong bantu make up kan juga mbak?" pinta Lukman.
*****
"Sudah jam berapa ini? Kenapa mereka belum pulang juga?" gumam Dede gelisah.
Sepuluh menit sekali ia melirik jam di layar ponselnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Dede sampai lupa, perutnya belum diisi sejak tadi.
"Sebenarnya ke mana mereka? Apa Luke dan Lukman sudah jadian? Apa itu alasannya Luke meninggalkanku di kampus, karena ia ada janji dengan Lukman?" Dede tak bisa berhenti berpikir.
Trrrringgg... Ponsel Lukman kembali berbunyi. Ia menepi untuk mengindari keramaian.
"Halo, De. Ada apa?" ucap Lukman di telepon.
"Tadi kamu pergi dengan Luke, ya?" tanya Dede. Ia mendengar suara dentuman musik yang kuat di seberang sana.
"Halo... Apa? Tidak jelas suaramu," ujar Lukman.
"Kamu berada di mana saat ini? Apa Luke bersamamu?" Dede mengganti pertanyaannya. Kali ini ia bicara setengah berteriak.
"Iya, benar. Luke sedang bersamaku saat ini. Kenapa?" tanya Lukman.
"Anu ... Luke sepertinya lupa menutup jendela. Apakah kalian masih lama?" Dede mencari alasan yang masuk akal.
"Bisa tolong tutupkan dari luar saja jendelanya? Kami sekarang sedang berada di pesta ulang tahun remaja, anak salah seorang rekan kerja. Mungkin pulang sedikit larut," ucap Lukman.
"Apa? Pesta ulang tahun? Kamu membawa Luke ke sana?" sahut Dede panik.
"Bawa ia pulang sekarang," lanjutnya.
"Hei, kenapa?" balas Lukman tersinggung.
"Berikan alamatmu. Aku menyusul kalian ke sana sekarang," ucap Dede.
"Kenapa kamu begini? Bisakah beri kami ruang privasi?" tolak Lukman.
"Ini demi keselamatan Luke. Ikuti saja kata-kataku. Aku mengenalnya lebih lama darimu," desak Dede.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya. Sampai jumpa lagi.