
"Kita harus bicara. Kamu saja yang pilih waktu dan tempatnya."
"Haiissshh!" Ina melemparkan ponselnya ke kasur, setelah membaca pesan singkat dari suaminya.
"Mau bicara apa dia? Paling juga ujung-ujungnya minta cerai lagi," rutuk Ina kesal.
Meski Ina menyadari, apa yang dilakukannya benar-benar suatu kesalahan besar, tetapi ia tetap tidak mau menurunkan egonya.
Hati kecilnya merasa bersalah pada pria yang sudah menikahinya hampir setahun yang lalu. Tetapi di sisi lain, ia juga tidak ingin melepaskan Dede yang ia dapatkan karena hasil taruhan dengan teman-temannya.
Ya, Ina memang tidak betul-betul menyukai Dede ketika mereka saling kenal di SMA dulu. Semua yang Ina lakukan untuk membuat Dede dekat padanya, hanyalah sebuah tantangan dari teman-teman satu gengnya dan seorang cowok yang sudah berpacaran dengan Ina sejak SMP.
"Udah mau ulang tahun ke tujuh belas, nih. Masa kamu masih belum ada ganti pacar? Katanya kamu cantik?" sindir Rindi, teman se-geng Ina.
"Emang aku cantik. Terus, harus ganti pacar gitu? Tetapi aku masih cinta sama dia," jawab Ina.
"Iya dong. Apa buktinya kamu cantik, kalau cuma punya pacar satu? Untuk usia remaja seperti kita, pacaran itu kan proses saling mengenal. Bukan untuk serius yang akan di bawa sampai menikah," balas Vera pula.
Vera adalah gadis cantik yang mampu menyaingi kecantikan Ina. Kulitnya yang berwarna kuning langsat, mata sipit, rambut panjang bergelombang, serta bulu mata yang lentik, membuat cewek berdarah Surabaya - Bali itu menjadi ikon SMP Bella Pahlawan.
Rindi juga tidak bisa dikesampingkan. Wanita minang yang memikiki tubuh yang sedikit gemuk, kulit putih cerah, rambut hitam agak keriting, memiliki daya tarik tersendiri di mata para cowok.
Akan tetapi berbeda dengan Ina, mereka berdua sudah berganti pacar beberapa kali sejak duduk di kelas tiga SMP. Pergaulan mereka lebih bebas, dibandingkan Ina yang selalu berada di bawah pantauan ayahnya. Bahkan, Ina berpacaran saat ini tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Gini, deh. Kami beri waktu selama tiga hari, lalu pilih cowok yang kamu anggap paling menarik perhatianmu di SMA ini, lalu kamu harus mendapatkannya sebelum hari ulang tahunmu tiba," usul Rindi.
"Nah, boleh juga tuh. Kamu harus bisa mengajaknya ke pesta ulang tahunmu yang ke tujuh belas," timpal Vera.
Ina yang masih penakut dan cukup polos itu, berpikir sejenak mendengar usul teman-temannya.
"Tetapi bagaimana jika pacarku nanti marah?" ucap Ina khawatir.
"Aduh... berantem sama pacar itu biasa. Lagian kalau kamu punya pacar baru, kamu bisa bedakan gimana rasanya pacaran dengan orang yang berbeda," kata Vera.
"Aku jamin, deh. Kamu pasti bosan hanya berpacaran dengan satu orang saja selamanya," ucap Rindi.
"Tetapi hanya pacaran sebentar, kan? Bukan untuk selamanya?" tanya Ina.
"Ya itu sih terserah kamu, mau ganti cowok lain lagi juga terserah. Namanya juga ganti rasa. Yang penting, kita tetap menjaga kesucian diri kita," jelas Vera dan Rindi.
"Duh, kenapa aku jadi teringat masa SMA, ya?" gumam Ina.
Dddrrrrrttt.... Ponsel Ina kembali bergetar.
__ADS_1
"Kalau tidak mau mendapat surat gugatan cerai dari pengadilan, lekaslah cari waktu untuk bertemu," pesan Dede lagi.
"Baiklah. Kita akan bertemu di kafe pelangi jalan Ratulangi, pukul dua belas, besok siang," balas Ina kemudian.
"Dia ternyata bukan mengajak bercerai, lalu apa?" pikir Ina.
Entah mengapa, ia menjadi tak sabar untuk bertemu suaminya, sejak pertemuan terakhir mereka delapan hari yang lalu.
Meski Ina banyak mengancam Dede, sebenarnya ia sendiri sama sekali belum mengatakan apa oun pada ayah dan ibunya. Kedua orang tua Ina sangat menyayangi Dede sebagai menantu. Karena itu juga, mereka diam-diam membantu Dede mendapatkan pekerjaan tetap, sesaat setelah Dede dsn anak gadis mereka menikah. Kabar gugat cerai ini mereka pasti akan membuat orang tuanya shock jika mendengarnya.
Ina memang telah menyiapkan dua orang pengacara handal, jika sewaktu-waktu Dede menyerangnya di pengadilan. Akan tetapi, ancaman demi ancaman yang dilayangkan Ina hanyalah karangan dirinya semata.
Ia pun selama pergi dari rumah kontrakan, bukan pulang ke kampung halaman, melainkan ke kota sebelah, tempat ia kuliah sebelum menikah dulu.
*****
Keesokan harinya, ternyata Ina datang terlebih dahulu dibandingkan Dede. Ia sudah menunggu sekitar sepuluh menit dari waktu janjian, tetapi suaminya belum datang juga.
"Apa aku yang sangat tidak sabaran untuk bertemu dengannya, ya?" bisik Ina. Perutnya sudah kenyang. Es boba taro yang dipesannya tadi, kini hanya tersisa gelasnya saja.
"Maaf terlambat. Aku harus selesaikan berkas-berkas di kantor dulu," ucap Dede sambil ngos-ngosan. Sepertinya ia baru saja berlari di tengah panas.
"Ya. Kenapa kamu mengajakku bertemu lagi?" ksta Ina pura-pura ketus.
"Ada beberapa hal, yang ingin kutanyakan langsung padamu," jawab Dede setelah ia memesan minuman. Tenggorokannya terasa kering sekali setelah berlari dari parkiran yang diterpa teriknya matahari.
"Hmmm..." Ina mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak siap mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Dede.
"Ina, sebenarnya apa kealahan yang telah aku lakukan? Mengapa kamu sampai berbuat seperti ini padaku?" tanya Dede pada istrinya.
Raut wajahnya sama sekali tidak menggambarkan kemarahan, yang terlihat hanyalah tatapan sedih.
"Aku... tidak tahu harus menjawab apa," ucap Ina lirih, hampir tidak terdengar.
"Katakan saja sejujurnya, aku ingin mendengar semuanya, meskipun itu pahit. Apa semua itu karena Luke? Kamu cemburu dengannya?" kata Dede.
"Aku belum siap menjelaskannya," jawab Ina. Ia tak sanggup melihat wajah suaminya. Dirinya benar-benar merasa kotor.
"Begini sajalah, kita makan siang dahulu, setelah itu baru kita berbicara," sahut Dede mengalah.
"Ku rasa, sampai kapan pun aku tak akan siap," bisik Ina.
Arrgghhh... Dede merasa frustrasi mendengarnya. Semua bujukan yang dilontarkan, tidak mengubah pendirian Ina.
__ADS_1
"Apapun itu, mungkin bisa mengundur keputusanku untuk membawa tuntutanku ke pengadilan," ucap Dede. Suaranya yang tadi lembut, kini mulai meninggi.
"Siapa yang memulainya duluan?" tanya Dede kemudian.
"Maksudnya?" Ina tak paham.
"Siapa yang duluan mengajak berselingkuh. Kamu, atau pria bajingan itu?" tanya Dede lagi.
Ina terdiam cukup lama. Bibirnya bergetar, sulit sekali menjawab pertanyaan itu.
"Ina, katakanlah. Aku tidak akan membunuhmu apapun jawabanmu," bujuk Dede.
"Aku... aku yang mengajaknya," bisik Ina. Air matanya tak terbendung lagi.
Dede tidak membalas kata-kata istrinya. Hatinya hancur mendengar jawaban itu. Tetapi rasa marah yang sudah ia simpan sejak beberapa minggu lalu justru tidak bisa keluar. Yang ia rasakan hanyalah benar-benar sedih.
"Kenapa Ina? Apa karena masalah aku dan Luke waktu itu?" tanya Dede setelah beberapa saat kemudian.
"Iya, tetapi itu hanyalah sebagian kecil." Ina memberanikan diri untuk jujur. Sepertinya, ia benar-benar tak rela melepaskan pria ini.
"Lalu selebihnya?" bisik Dede.
"Aku... dan Teguh, telah berpacaran, sejak kita belum saling mengenal," ucap Ina dengan bibir bergetar. Ia benar-benar pasrah dengan reaksi Dede ketika mendengarnya.
"Pacaran?" Maksudmu, aku orang ketiga di tengah hubungan kalian?" tanya Dede tak mengerti.
Ina menggeleng. "Saat itu aku benar-benar ingin memilikimu. Lalu aku membuang semua yang mengganggu jalanku untuk mendapatkanmu, termasuk pacarku saat itu," kata Ina jujur.
Dede benar-benar shock mendengarnya. Bukankah ia pacar pertama Ina?
"Berarti benar, kamu sudah mengenal Luke sejak zaman SMA?" ucap Dede.
Ina kembali menggeleng. "Aku benar-benar tidak mengenalnya, hingga pindah ke sini. Tetapi aku kemudian banyak tahu tentangnya dari Shilla."
"Shilla? Shilla Buchari? Wanita ular yang beberapa kali menikung pacar teman dekatnya sendiri?" ujar Dede tidak habis pikir.
"Bukannya pacar dia yang direbut oleh Luke?" tanya Ina.
Dede hanya menggelengkan kepala. Istrinya telah benar-benar salah dalam memilih teman.
"Jadi, setelah sekian belas tahun, kamu akan kembali pada pacar pertama kamu? Dan melupakan aku begitu saja? Kamu lupa, bagaimana dahulu kamu mengejarku, bahkan sampai mengundangku ke pesta ulang tahunmua?" tanya Dede sengit.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share, dan vote ya....