
"Gak bisa Satria, ini melanggar hak pasien. Meskipun kamu sangat mengenalnya tetapi semua data-data pasien tetaplah rahasia. Kecuali jika ada izin dari dirinya," tolak dokter Lambert ketika Satria menanyakan rekam medis Luke.
"Jika aku katakan aku calon suaminya, apakah tetap tidak boleh?" bujuk Satria.
Dokter Lambert tetap menggeleng, "kamu kan dokter, pasti kamu paham kode etiknya, kan?" ujar dokter Lambert.
Tentu saja Satria paham, tetapi semua peraturan dan kode etik itu mengalahkan rasa penasaran Luke, apa yang sebenarnya terjadi pada Luke.
Gagal membujuk dokter Lambert, Satria kini sedang bersikukuh dengan dokter Yunita. Namun jawaban dokter spesialis Obstetri & Ginekologi tersebut tidak jauh berbeda dengan dokter spesialis kejiwaan tadi.
"Jika kamu memang dekat dengannya, kenapa kamu tidak bisa bertanya langsung padanya?" ucap dokter Yunita.
Satria hanya terdiam, tidak salah memang yang diucapkan oleh dokter cantik itu.
Entah sejak kapan Satria mulai ada rasa pada Luke. Bermula dari perjodohan yang dilakukan orang tua mereka, tetapi yang jelas, semakin sering ia bertemu dengan gadis introvert itu, semakin kuat hatinya untuk segera memilikinya.
Namun jalan yang ia tempuh tidak mudah. Lukella bukanlah wanita yang mudah membuka diri, selain sifatnya yang introvert, masa lalunya yang pahit membuat wanita itu mengunci pintu hatinya rapat-rapat.
Segala cara dilakukan Satria, kesabaran yang besar sangat dibutuhkan. Namun siapa yang tidak sakit hatinya? Sekian lama ia menjaga hatinya selama di negeri orang, justru kabar pahit yang ia dengar pertama kali.
"Aku masih tak percaya jika Luke wanita seperti itu," gumam Satria. Ia berusaha kembali menghubungi ibunda Luke, setelah beberapa kali telepinnya tidak diangkat.
*****
Hujan rintik-rintik disertai petir yang menggelegar sesekali, membuat Luke, Flora dan pelayat lainnya memenuhi teras ruang jenazah rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Jenazah Shilla siap dibawa kembali ke kampung halaman untuk dimakamkan. Beberapa sanak keluarga yang turut menjemput, tak bisa menahan air mata mereka.
Tubuh Luke mulai gemetar. Kepalanya sedikit pusing. Ia menggenggam lengan Flora erat-erat.
"Luke, kau baik-baik saja? Apa kita terobos saja hujan ini?" bisik Flora.
Luke menggeleng, "Aku tidak baik-baik saja. Tetapi kita juga tak bisa pulang. Apa kamu mau jadi tengkorak panggang karena tersambar petir?" bisik Luke pula.
Sebenarnya ia bisa saja datang ke ruang dokter Yunita saat ini. Tetapi jika hal itu ia lakukan, maka ada kemungkinan akan terlihat oleh Satria mau pun teman-temannya yang datang melayat.
"Ke kantin, yuk. Istirahat di sana hingga cuaca cukup reda," bisik Flora.
Luke pun mengangguk, sepertinya itu solusi terbaik untuk saat ini. Dede yang beeada sekitar dua puluh langkah dari mereka, memperhatikan gadis berhijab itu lekat-lekat.
"Sejak tadi ia berada di sini tanpa membawa bayi, sepertinya itu memang bukan bayi dia. Tetapi apa alasan dia tidak kembali ke kontrakan selama enam bulan?" batin Dede.
"Luke, kamu masih belum terlihat baik. Apa kamu yakin mau kembali tinggal di kontrakan lagi?" tanya Flora.
"Iya. Aku harus berusaha, Flo. Sampai kapan aku harus terus menghindar? Hidup harus tetap berjalan, kan?" kata Luke.
Flora menatap wajah sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu selalu tampak tegar dan garang. Padahal hatinya sangat rapuh. Ia pun seprrti membuat tembok tebal terhadap sekelilingnya demi melindungi dirinya sendiri.
"Sepertinya hujan mulai reda. Kita jalan aja yuk," ajak Flora.
"Kuy lah," sahut Luke.
__ADS_1
Dua sahabat itu berjalan beriringan menuju parkiran sepeda motor, yang cukup jauh dari kantin tempat mereka berada sekarang. Tubuh Luke terasa semakin lemah, pandangannya mulai buram.
Bruk!
"Luke!" seru Flora panik.
Saat ini mereka berada di belakang gudang farmasi yang cukup sepi. Tak banyak orang berlalu lalang di sana.
"Luke, kau baik-baik saja?" kali ini suara laki-laki.
"Dede? Sedang apa ia di sini? Menguntit kami?" pikir Flora.
Beberapa petugas medis yang kebetulan lewat, datang mendekati mereka. Gadis berhijab itu masih tak sadarkan diri. Dede dan paramedis berusaha mengangkat Luke dari lantai keramik.
Deg! Tiba-tiba jantung Dede berdegup kencang ketika baju yang dipakai Luke tersibak di bagian perut. Mata pria itu menangkap luka sayatan di bawah pusar. Luka sayatan itu sangat familiar bagi para wanita.
Beberapa detik kemudian, Dede berusaha mengalihkan pikirannya. Keselamatan Luke lebih penting saat ini. Ia pun membantu paramedis medis untuk membetulkan posisi Luke di atas ranjang pasien.
"Jangan dekati wanitaku," seru seseorang. Semua orang di situ terkejut.
"Bawa wanita ini ke IGD, aku akan menyusul," ujar Satria pada paramedis.
"Baik, dokter."
Flora dan Dede tercengang, mereka baru tahu jika Satria seorang dokter, lebih tepatnya psikiater.
__ADS_1
"Apakah ia masih membela Luke seperti saat ini, jika tahu keadaan tubuh Luke yabg sebenarnya?" pikir Dede dalam hati.
(Bersambung)