Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 13 - Wanita Ular dari Masa Lalu


__ADS_3

"Dede? Kenapa kamu keluar dari rumah Luke malam-malam begini?"


"Gawat! Kenapa ia ada di sana?" ucap Dede dan Luke dalam hati.


Lukman berdiri di depan rumah nomor satu. Sepertinya ia baru saja pulang. Ia masih memakai seragam lengkap petugas keamanan.


"Sssttt! Aku akan jelaskan semuanya. Tetapi jangan di sini. Biarkan Luke istirahat agar tidak semakin demam," ucap Dede setengah berbisik.


"Tapi ..." ucapan Lukman terhenti. Dede keburu mendorongnya ke luar pagar kontrakan. Dede melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Luke kembali ke dalam rumah.


"Jelaskan semuanya. Luke yang aku tahu bukan gadis seperti itu," tuntut Lukman.


Mereka kini berdiri di bawah pohon beringin tidak jauh dari simpang gang kontrakan mereka. Kalau ada yang melihat, pasti mengira mereka sedang melakukan pesugihan.


"Ya. Akan aku jelaskan semuanya. Luke pingsan saat beli nasi tadi malam, dan kebetulan aku ada di sana. Mau tidak mau, aku mengantarnya pulang," jelas Dede singkat.


"Yakin itu saja?" Lukman menaikkan alisnya.


"Ya, tentu saja," jawab Dede.


"Memangnya jam berapa Luke beli makan malam? Dan ini sudah jam berapa?" selidik Lukman tak percaya.


"Ya, aku mengompress Luke, lalu tak sengaja tertidur. Dan tadi, aku baru saja terbangun dan akan pulang," ucap Dede. Ia tak ingin pria ini semakin mencecarnya dan menyimpulkan sendiri.


"Hah, jadi begitu? Apa kamu bisa dipercaya?" ucap Lukman.


"Tentu saja. Jika aku bohong, aku akan melihat penampakan Nyai Kunti saat ini juga," ucap Dede meyakinkan.


"Bung, kita sekarang ada di bawah pohon beringin. Kamu berkata benar pun, bisa saja saat ini kita sedang diintai Nyai Kunti. Apalagi hari ini Jumat Kliwon," ucap Lukman.


"Astaga, kenapa kamu baru ingatkan sekarang?" Bulu roma Dede langsung merinding. Lukman hanya menepuk jidatnya.


...*****...


^^^"Selamat pagi, Lucia. Mohon sampaikan pada mahasiswa kelas Fisika Nuklir hari ini, saya tidak dapat mengajar karena demam. Untuk kelas pengganti akan ditentukan minggu depan. Terima kasih." Luke memberi kabar kepada pegawai administrasi kampus.^^^


"Selamat pagi juga, Bu. Baik, akan saya sampaikan pesannya," balas Lucia.


^^^"Oh, iya. Surat izin saya menyusul," tulis Luke lagi.^^^


"Baik, Bu. Semoga lekas sembuh," balas Lucia pula.


"Duh, sudah berobat, tetapi kenapa demamku belum turun juga? Itu apa lagi ribut-ribut di luar?" keluh Luke.


Ia sudah rapi pagi ini. Rambut panjangnya dibiarkan terurai agar tidak sakit kepala, hanya disematkan jepit kecil di poninya. Bibirnya di sapu lipgloss pink matte. Wajahnya ditaburi bedak warna senada dengan kulitnya. Menurutnya, berdandan rapi dan segar dapat mengembalikan semangatnya.


"Luke... "

__ADS_1


"Ya, sebentar," ucap Luke.


"Nih, ada bubur ayam untukmu," ujar Lukman sambil menyerahkan sebuah kantong plastik.


"Ada apa, nih? Tumben?" tanya Luke.


"Ah, itu ... Dede bilang kamu demam. Ia lalu menitipkanmu padaku," ucap Lukman.


"Ooh," ucap Luke datar. "Thanks, ya. Nanti aku ganti uangnya. Tunggu gajian dulu," lanjut Luke.


"Eh, nggak usah. Aku ikhlas, kok. Nanti siang akan aku bawakan makan siang juga. Kamu istirahat saja," kata Lukman.


"Maaf merepotkanmu. Ngomong-ngomong, mau ke mana, nih? Rapi amat pakai kemeja dan jas?" tanya Luke. Lukman terlihat jauh lebih tampan dari pada biasanya.


"Oh, ada keperluan sedikit. Aku pergi, ya. Cepatlah sembuh. Biar aku bisa membully mu lagi," ucap Lukman.


"Sialan," ucap gadis rambut merah itu, sambil tertawa kecil.


"Hei, Luke? Kamu tinggal di sini juga?"


"Sulistyo? Teguh?" Luke terkejut melihat teman SMAnya ada di kontrakannya. Ah, bukan teman. Lebih tepatnya pembully kelas Paus. (Kelas kakap masih terlalu kecil, guys 😂)


"Hah! Kamu menguntit Dede sampai sini?" tuduh Tyo sembari tersenyum licik.


"Hei! Siapa yang kamu sebut penguntit? Aku lebih dulu tinggal di sini!" marah Luke.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Dede datang bersama istrinya menggunakan sepeda motor. "Hei, kalian sudah datang rupanya," ucap Dede lagi.


"Huh, sirik aja lu," jawab Dede.


"De, napa nih cewek ada di sini?" Tyo menunjuk Luke yang hendak masuk ke rumah.


"Ah, Luke? Aku juga gak tau kalau dia ternyata tinggal di sini," ujar Dede.


"Gila, sih. Segitu nekatnya mau sama kamu sampai menguntit ke sini," ucap Teguh.


"Hei, sudah ku bilang! Aku lebih dulu mengontrak di sini! Mengerti?" sergah Luke. Ia tidak jadi masuk ke dalam rumah.


"Ya deh. Tapi nggak menutup kemungkinan juga kalau kamu bakal nempel-nempel ke dia lagi, kan? Padahal kamu barusan juga menggoda cowok berjas hitam itu," seru Teguh gak mau kalah.


"Nempel gimana? Memangnya aku cewek apaan?" protes Luke.


"Jadi, seperti apa hubungan Kak Luke dan Abang di SMA dulu?" tanya Ina curiga.


"Oh ... Itu ..." Dede memutar bola matanya, untuk mencari jawaban yang paling tepat.


"Oh, kamu gak usah khawatir. Bukan Dede yang tertarik pada Luke. Tetapi Luke yang selalu mendekati Dede sampai menghalalkan semua cara," jawab Tyo memotong ucapan Dede.

__ADS_1


"Iya benar. Ingat gak waktu acara ulang tahun si Dewi? Dia sampai rela disuruh-suruh beli kue biar bisa gabung dengan kami, demi nyatain cinta sama Dede. Gila gak sih?" lanjut Teguh.


"Duh, untung aja diselamatkan Tyo dan Teguh. Kalau nggak, aku harus jawab apa di depan Ina," ucap Dede dalam hati.


"Kapan aku begitu?" tanya Luke.


"Kamu tahu istilah populer? 'Maling mana ada mau ngaku maling'. Iya, kan?" ucap Teguh.


"Hei!" Luke tak menyelesaikan kalimatnya. Tetangga lain keburu keluar rumah karena mendengar ribut-ribut.


"Kenapa sih pagi-pagi gini pada ribut? Kayak sinetron ikan terbang aja," keluh Kak Nia.


"Maafkan kami," ujar Dede.


"Eh, tunggu dulu. Jadi benar gosip-gosip tentang Kak Luke? Dan benar juga tentang pacar Kak Shilla yang direbut Kak Luke waktu SMA dulu?" tanya Ina semakin penasaran.


"Hah? Shilla?" Dede, Teguh dan Tyo saling berpandangan.


"Terus ada gosip apa pula?" tanya Dede cemas.


"Tuh, benar kan yang aku bilang. Luke cuma pura-pura lugu aja. Aslinya dia wanita ular," ucap Nurul.


"Hei, semua tetangga sudah tahu, kamu membawa Dede ke rumah malam hari. Sampai Dede pulang subuh-subuh dengan baju berantakan. Kamu apain dia? Padahal istrinya ada di sebelah," lanjut Ratu gosip itu pada Luke.


"A-apa?" Dede terkejut. Cepat sekali gosip tersebar?


"Bukan begitu," bantah Luke.


"Bukan apanya? Ternyata seperti ini sikap aslimu?" ucap Kak Tyas dan Merry.


"Apa memang itu profesimu? Menjalin kasih dengan laki-laki untuk membiayai hidupmu? Pantas saja semua peralatan di rumahmu lengkap. Padahal selama ini hanya mengurung diri di rumah," selidik Kak Nia.


"Dih, mengerikan. Pantas kamu nggak pernah datang ke reuni sekolah. Aku hanya dengar kalau kamu pengangguran. Rupanya sugar baby, toh," sahut Tyo.


"Aku tidak pernah seperti itu. Aku ini bekerja, meski kalian tidak tahu. Dan aku tidak pernah membawa Dede ke rumah."


"Aku melihatnya langsung. Masih mau membantah?" tegas Merry.


"Itu bukan aku. Tapi..."


"Ah, itu. Luke yang memintaku datang. Tadi malam ia meneleponku dan mengaku sakit parah," ucap Dede memotong kalimat Luke.


"Apa maksud kamu. Kan kamu yang --" Luke mulai kesal.


"Aku minta maaf Ina. Aku hanya membantunya sebagai sesama teman SMA. Tetapi kemudian ia memaksaku tinggal menemaninya dan mengompress kepalanya. Tetapi aku menolaknya. Ia memaksaku dan merusakkan kemejaku," ucap Dede yang kembali memotong ucapan Luke.


"Duh, lemas banget mulut kamu jadi cowok. Kalau memang gak suka bertetangga denganku kenapa gak pindah aja. Gak takut sama wanita ular kaya aku? Aku bisa mematuk kalian kapan aja," geram Luke. Ia merasa sangat kesal. Sepertinya apapun penjelasannya saat ini tidak akan ada yang terima.

__ADS_1


"Tadi malam?" Merry dan tetangga lainnya saling berpandangan.


(Bersambung)


__ADS_2