
Tap... Tap... Tap...
"Hei, aku nggak salah dengar, kan? Setelah enam bulan meninggalkan kontrakan ini ia kembali lagi?" gumam Dede.
Ia mendengar jelas Luke bercakap-cakap dengan seseorang. Tetapi ia berbicara dengan siapa? Kenapa tidak ada lawan bicaranya? Apa ia sedang menelepon?
Dede meninggalkan dapurnya dan melangkahkan kaki ke depan dengan hati-hati. Ia ingin memastikan apa yang di dengarnya barusan.
Krietttt! Suara pintu berdecit hampir saja membuatnya jantungnya copot.
"Sial*n. Berisik banget, sih," rutuk Dede dalam hati. "Lain kali engsel pintu tersebut harus diberi minyak," lanjutnya.
Bagaikan mata-mata kelas teri, Dede pun kembali memperhatikan rumah sebelah dengan seksama. Benar, jendela kamarnya terbuka. Jika Lukman yang berada di kamar nomor empat itu, ia hanya membuka pintu untuk mengeluarkan udara pengap saja.
"Hahahah.... Eea... Eeeaaa..."
"Wah, aku nggak salah dengar, kan? Itu suara bayi?" jantung Dede nyaris berhenti berdetak mendengar tawa bayi yang begitu renyah.
"Tenang, De. Kamu harus berpikir jernih. Dengarkan baik-baik itu berasal dari mana," ucapnya lirih.
Tetapi yang kemudian ia dengar adalah suara Luke yang mengobrol dengan bayi kecil itu. Kaki Dede lemas.
"Apa yang terjadi selama beberapa bulan ini? Bukankah waktu itu ia mengatakan dengan jelas, bahwa yang terjadi padanya tidak seperti yang aku pikirkan?"
Niat hati Dede yang hendak menyergap tetangga sebelah, akhirnya tertunda karena ikan yang digorengnya mengeluarkan asap dan bau gosong.
"Waduh! Harusnya tadi aku mematikan kompor dulu," seru Dede dalam hati sambil mengambil jurus seribu langkah.
*****
"Assalamualaikum, Luke. Bagaimana kabarmu? Aku baru saja kembali seminggu yang lalu. Apakah jadwalmu kosong hari ini?"
"Hei, Bang Sat. Jangan memelototi ponsel seperti itu terus.. Bisa-bisa layar ponselnya retak karena insecure padamu," tegur Yogi.
"Sudah ku bilang, jangan panggil aku seperti itu. Jadi terdengar aneh tahu," omel Satria. Yogi hanya terkikik melihat kakak kelasnya yang galau karena cewek.
__ADS_1
Sudah empat hari Luke tidak membalas pesan dari Satria. Teleponnya juga tidak pernah diangkat. Padahal ketika ia masih di Austria, Luke cukup rajin membalas pesan darinya, walau tetap menggunakan bahasa formal.
"Apa yang terjadi dengannya, ya? Apa kutemui saja di ke kampus?" pikir Satria.
Tangannya menimang-nimang beberapa bungkus souvenir manis untuk diberikan pada gadisnya.
"Apa waktu itu aku melamarnya dengan benar? Tetapi aku malah lebih terlihat seperti membuat hubungan Teman Tapi Mesra. Cewek mana pun pasti kesal jika ditinggalkan seperti itu. Ughhh... Gak tahu deh."
Satria tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hingga ia tidak menyadari, bahwa dirinya jadi perhatian para mahasiswi perawat yang sedang magang.
*****
Kali ini Dede telah rapi. Dapur yang hampir saja menjadi bencana juga sudah ia bereskan. Sambil mengurus rumah, telinganya tidak pernah lepas dari rumah sebelah (read: menguping). Dan sudah bisa dipastikan, jika suara bayi itu memang berasal dari rumah nomor empat. Hanya saja, siapa pemilik bayi itu harus dipastikan lagi.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum, Luke," panggil Dede dari luar. Tidak ada jawaban dari dalam.
Tok... Tok... Tok...
"Waalaikumussalam. Sebentar."
Ceklek!
"Ada apa?"
"Eh, itu..."
Wanita di hadapannya Dede kehilangan kata-kata yang telah di susunnya sejak tadi. Mata yang indah dan bulat, bulu mata yang lentik, pipi tembam dan rambut yang tertutup hijab biru.
"Kamu sekarang berhijab?" ucap Dede seketika.
"Kamu datang hanya untuk bertanya soal itu?" Luke balik bertanya.
"Ti-tidak. Sesungguhnya aku ingin melihat keadaanmu. Bagaimana kabarmu sekarang?" ucap Dede setelah berhasil mengendalikan diri di depan gadis cantik itu.
__ADS_1
Akan tetapi, Dede harus lebih sabar menanti jawabannya. Karena gadis manis yang berhijab itu secepat kilat kembali ke kamar, ketika mendengar suara bayi menangis. Ah, Dede jadi semakin penasaran.
"Maaf, apa tadi?" tanya Luke ketika ia telah kembali ke depan.
"Itu bayi siapa, Luke? Bolehkah aku melihatnya?" tanya Dede.
"Tidak. Dan itu bukan bayiku," jawab Luke tegas.
"Lalu itu anak siapa?" tanya Dede tidak menyerah.
"Bukan urusan kamu."
"Kamu tiba-tiba menghilang selama enam bulan, lalu kembali lagi dengan membawa bayi. Bagaimana aku tidak khawatir? Apakah itu bayiku?" Desak Dede.
"Apa? Luke punya bayi dengan Dede?" Satria yang baru saja datang tiba-tiba menyela.
"Bukan. Itu bukan bayiku apalagi Dede," tegas Luke.
"Kalau begitu, izinkan aku melihat bayi itu. Kenapa harus ditutupi?" desak Dede terus.
"Luke, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Satria pula.
"SUDAH KUBILANG INI BUKAN SEPERTI YANG KALIAN PIKIRKAN!!" teriak Luke.
Kedua pria itu terkejut melihat reaksinya. Namun mereka tidak bisa bicara lebih banyak, karena Luke kembali ke kamar ketika bayi itu menangis akibat teriakannya.
"Cih! Menyebalkan!" seru Satria lalu meninggalkan tempat itu. Luke yang mendengar dari dalam kamar hanya bisa tersenyum kecut.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
Yuk, mampir juga di karya Fantasy-Mystery karya author.
__ADS_1