Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 26 - Gadis Martabak Mini


__ADS_3

"Lalu bagaimana keputusanmu, De?" tanya Lukman pada Dede.


Dede menatap Ina Dengan tajam. "Aku ingin kamu kembali ke rumah orang tuamu," ucap Dede pada Ina.


"Apa? Tidak! Aku tidak terima diusir seperti ini," ucap Ina.


"Wah, sudah terbukti salah seperti ini, kamu masih saja menyalak seperti hewan liar, ya," ujar Dede sinis.


"Aku tidak mengusirmu. kamu sendiri lah yang membuatku seperti ini," lanjut Dede.


"De, pikirkan lagi. Apa kamu tidak takut menyesal nantinya? Bukankah sedari dulu kamu sangat menginginkan Ina? Jika kamu melepaskannya, belum tentu kamu bisa mendapatkannya lagi," ucap Tyo yang baru saja datang ke kantor pengacara.


"Apa? Menyesal? Justru aku akan menyesal nantinya jika aku mempertahankan dia. Bagaimana wanita jal*ng ini menjadi ibu dari anakku nanti?" ucap Dede.


"Aku bisa perbaiki ini semua. Aku tidak akan biarkan pernikahan kita berakhir seperti ini saja," teriak Ina.


"Sudahlah Ina. Aku sudah pesan tiket untukmu. Tinggallah kamu di kampung halaman hingga datang surat dari pengadilan," lanjut Dede.


"Aku tidak mau! Izinkan aku memperbaiki semuanya. Kamu juga tidak sepenuhnya bersih, kan? Kamu dan Luke pernah merasakan cinta satu malam. Oh, atau lebih? Jadi kita sama-sama perbaiki," kata Ina tak tahu malu.


"Aku tidak pernah melakukan apapun dengan siapa pun! Termasuk suamimu," tegas Luke. "Justru kalian yang menuduhku, yang melakukannya kan?" lanjutnya.


"De, apa kamu yakin akan pisah dengan Ina? Bagaimana tanggapan mertuamu nanti?" tanya Tyo lagi.


Dede memang belum menceritakan masalah ini pada orang tuanya, maupun mertuanya. Ia tak cukup yakin bisa mengalahkan Ina di pengadilan.


Orang tua Ina adalah orang terpandang di kampung halamannya. Ina, yang merupakan bungsu dari tiga bersaudara, merupakan emas permata bagi orang tuanya. Mereka akan melakukan apa saja demi memenuhi keinginan putri bungsu mereka. Meskipun cara yang diambil terkadang salah.


"Aku izinkan kamu mengambil barang-barang yang dibutuhkan di rumah. Setelah itu, aku mengantarmu ke terminal," tegas Dede.


"Aku minta tolong pada Luke dan Lukman untuk membuat laporan, berdasarkan kesaksian Luke. Tambahkan juga tuntutan dari Lili," lanjut Dede.


Ina dan Teguh menatap Dede dan Luke dengan geram. Hidup mereka hancur dalam sekejap gara-gara wanita berambut merah ini.


*****


Satu minggu berlalu. Keadaan kontrakan kembali seperti biasa. Hanya kehidupan Dede yang sedikit berubah. Ia harus kembali mengurus dirinya sendiri seperti masa kuliah.


"Ssstt.. Kasihan tuh, calon duda keren. Gak nyangka, ya si Ina seperti itu. Padahal kelihatannya wanita baik-baik," ucap Merry pada Kak Tyas ketika menjemur kain.

__ADS_1


"Hadeehhh... Warga di sini gak ada kapok-kapoknya, ya? Masih aja suka ngomongin orang," kata Luka setengah teriak. Ia muak mendengar gibah tak henti-hentinya.


"Tuh, calon pelakor mulai berkoak-koak membela suami orang. Padahal jelas-jelas belum cerai," balas Kak Tyas menyindir Luke.


"Ih, bukan calon pelakor. Tetapi emang pelakor. Kan dia yang laporin Ina ke suaminya," ucap Kak Nada yang baru bergabung.


"Duh, kontrakanmu rame banget ya, Ke," kata Flora, sahabat Luke sejak sekolah.


"Hei, Flora. Tumben datang? Gak usah dengarkan tuh belatung-belatung. Yuk, masuk," ucap Luke.


"Aku cuma mau main aja, kebetulan lagi ada kerjaan di dekat sini nanti siang," ucap Flora.


"Eh, itu gadis martabak mini ngapain di sini? Udah jadi teman kamu? Gila, dandanannya berubah banget dari zaman SMA dulu," kata Flora.


"Gadis martabak mini?" Luke mengerutkan dahinya.


"Itu. Adik kelas yang jaga martabak mini di acara teater sekolah. Sesaat sebelum Dede memperlakukanmu dengan kejam." Flora menunjuk seorang wanita berambut panjang dan menggunakan pakaian cukup mini.


"Lah, itu kan istrinya Dede," jawab Luke.


"Apa? Istri Dede? Dede Purwanto?" teriak Flora.


"Sssttt... Jangan kuat-kuat bicaranya. Nanti Dede bisa dengar," bisik Luke.


Pertanyaan Flora barusan langsung terjawab. Dede membuka pintu dan keluar setelah mendengar ketukan pintu dari Ina.


"Daebak! Jadi selama ini kamu bertetangga dengan gebetan, eh maksudku pria brengsek itu?" bisik Flora. Luke mengangguk.


"Lalu kamu bisa bertahan?" tanya Flora tadi.


"Tentu saja tidak. Traumaku berulang kali kambuh sejak mereka datang," jawab Luke. "Lalu apa maksudmu gadis martabak tadi?" tanya Luke.


"Kamu benar-benar tidak tahu? Ina setiaseh, anak kepala polisi di daerah kita. Ratu kecantikan sekolah mengalahkan Vera. Ia selalu menebar pesona pada mantan gebetanmu itu. Kamu ke mana aja sih, Neng. Olimpiade mulu, sih," cerita Flora. Luke hanya menyengir.


"Dengan kekuasaan yang dimiliki ayahnya, ia membuat banyak kesempatan agar bisa selalu bertemu dengan Dede. Mulai dari seni drama, pesta ulang tahun mewah, hingga booth martabak pada saat class meeting SMA dulu," lanjut Luke.


"Lalu kenapa kamu tidak memberi tahuku?" tanya Luke sedikit kesal.


"Aku juga baru tahu setelah insiden kamu dengan Dede waktu itu. Para siswa menyebut mereka calon pasangan paling serasi di Sekolah. Ternyata kecantikan Ina membuat Dede jatuh hati. Ia rela melakukan apa saja demi mendapatkan Ina. Bahkan membelikan hadiah ulang tahun mewah dari hasil nabung uang jajannya sebulan. Namun dia gadis licik. Ia membuat seakan-akan dirinya mahal, sehingga Dede mengejar-ngejar dirinya," jelas Flora.

__ADS_1


"Ah, lalu apa hubungannya dengan martabak?"


"Ina tahu, Dede sangat menyukai makanan manis, terutama martabak mini. Makanya pada saat class meeting, kelas mereka menyewa pedagang martabak, lalu para siswa menjajakannya," jawab Flora. "Bahkan dengar-dengar, pentas seni sekolah kita dapat sponsor dari ayahnya," lanjutnya.


"Eh, bukannya makanan favorit Dede soto ayam ibu kantin sekolah?" gumam Luke.


"Aduh, Non. Kamu mainnya kurang jauh, nih. Makanya kalah saing sama Ina," ucap Flora.


"Sialan," gerutu Luke. "Hei, berarti yang dicari Dede saat ia berkunjung ke booth martabak itu Ina? Bukan aku?" ucap Luke agak sedih.


"Nah, aku juga berpikir ke sana setelah Dede menyakitimu," ujar Flora.


Ingatan Luke kembali berputar ke belasan tahun lalu. Saat itu sedang ada pertunjukan seni untuk mengisi class meeting. Usai pentas seni, para siswa berhamburan menuju booth makanan, tak terkecuali Luke dan Flora. Mereka menuju booth martabak milik kelas 1 B, dan memesan dua buah martabak mini topping jagung keju.


“Martabak topping coklat dua, ya. Sekalian aku bayar yang ini.”


Luke menoleh. Dede tersenyum manis padanya.


“Sekali ini aku traktir deh, karena kamu memandangku hingga akhir pementasan,” kata Dede.


Hmmm jika diingat-ingat lagi, Dede memang tersenyum saat itu, tetapi matanya memandang Ina, bukan dirinya.


"Haaahh.. Berarti sejak awal, Dede memang tidak pernah melihatku. Lagi pula, siapa yang bakal tidak tertarik dengan cewek cantik seperti dia?" pikir Luke sedih.


"Hei, Luke. Kenapa mereka bertengkar?" tanya Flora.


"Ah, itu..." Luke ragu, mau menceritakannya atau tidak.


"Apa?" desak Flora penasaran.


"Minggu lalu, Ina tertangkap basah sedang selingkuh dengan Teguh, suami Lili," jawab Luke.


"Apa? Teguh Fai Nuraga?" ujar Flora terkejut. Luke mengangguk.


"Bagaimana bisa? Apa mereka sampai berhuhungan?" tanya Flora semakin penasaran.


"Iya. Bahkan terekam video CCTV yang dipasang diam-diam oleh Dede," kata Luke.


"Oh.. Wow!" Flora kehabisan kata-kata. "Jika dia dulu sangat menginginkan Dede sampai menghalalkan segala cara, lalu mengapa kini ia selingkuh?" gumam Flora.

__ADS_1


"Oh, iya. Benar juga, ya?" sahut Luke.


(Bersambung)


__ADS_2