
BRUKK!!!!
"Luke! Luke!" panggil Dede panik.
Mbak ... mbak ... Eh, coba tolong bantu angkat mbak ini dong. Ke atas kursi sana saja," ujar sang pedagang pada pelanggan lain.
"Luke...?"
"Hmmm."
"Kamu nggak apa-apa? Ya ampun, kamu demam. Badan kamu panas banget," ucap Dede.
"Mas temannya, ya?" tanya pedagang nasi itu.
"Iya, Pak. Saya temannya," jawab Dede. Sementara Luke masih berbaring di kursi kayu. Kepalanya berat sekali.
"Pakai mobil saya saja, Mas. Saya antar ke klinik," ucap salah seorang pelanggan.
"Gak apa-apa, nih? Gak merepotkan Bapak? Rumah kami dekat kok dari sini," tanya Dede.
"Gak apa-apa. Sepeda motor Mas naikkan ke pick up saya saja. Kalau malam-malam pulang pakai sepeda motor, nanti semakin demam," lanjutnya pria itu.
"Oh, iya juga ya. Boleh lah, Pak. Maaf nih merepotkan," ucap Dede. "Luke, yuk aku antar ke klinik," lanjutnya. Luke yang tidak bertenaga hanya mengikut dengan pasrah.
Singkat cerita, mereka pun diantar ke klinik lalu kembali ke rumah oleh Bapak baik hati. Tak lupa Dede juga membeli dua bungkus nasi untuk dimakan di rumah nanti.
"Ke, Luke. Sudah sampai, nih. Mana kunci rumahmu?" bisik Dede sambil menopang badan Luke yang semakin lemas. Mereka telah di teras depan rumah Luke.
Karena tidak ada jawaban juga, akhirnya Dede menggeledah saku jaket dan celana training Dede.
Clekek! Dede membuka pintu pelan-pelan. Ia takut membangunkan seluruh tetangga, terutama istrinya. Maklum, saat itu sudah hampir pukul dua belas malam. Untung kondisi di sekitar kontrakan sudah sangat sepi. Kalau ada yang melihat mereka pulang berdua bisa berbahaya.
Bruk! Dede meletakkan Luke di atas tempat tidurnya. Udara malam yang sangat dingin memaksa Dede untuk menutup pintu. Setelah itu Dede langsung ke dapur mencari baskom dan handuk untuk mengompres.
Deg! Dede mematung di depan pintu kamar. Pemandangan di depannya membuat membuat napasnya sesak. Luke telah tertidur akibat obat dari dokter tadi. Beberapa kancing kemejanya yang berada di balik jaket terbuka. Menampakkan lapisan pakaian dalam wanita yang berwarna krem.
Dede canggung. Apakah ia harus menutup kancing baju itu, atau dibiarkannya saja? Kedua-duanya memiliki resiko besar jika Luke sampai terbangun.
"Ah, basah," gumam Dede saat menyentuh jaket Luke. "Ini pasti basah saat Luke pingsan di kedai nasi tadi," pikir Dede.
Dede terpaksa mengambil keputusan. Pria itu membuka jaket Luke pelan-pelan. Ia takut wanita itu terbangun. Jaket Luke benar-benar basah di bagian punggung. Kemejanya juga basah. Dede membuka lemari dan mencari baju Luke. Ia pun mengambil sebuah sweater abu-abu. Sepertinya cukup hangat.
__ADS_1
Dede menahan napas saat membuka kemeja Luke. Ia berharap Luke tertidur pulas saat ini. Kancing kemeja yang masih terpasang, dibuka satu per satu. Hati Dede ingin memejamkan mata, tetapi anggota tubuhnya berkata lain, matanya menatap tubuh gadis yang belum pernah disentuh pria itu.
"Ah, benar-benar putih gadis ini," pikir Dede.
Glek! Dede menelan ludah saat mengubah posisi Luke. Tangannya gemetaran. Keringat mengucur deras di balik baju kemeja yang dipakainya.
"Sialan! Aku tidak boleh terbawa suasana di depan gadis tidak berdaya," rutuk Dede.
"Kenapa n*fs*ku naik melihat gadis ini? Ini tidak mungkin? Dia bukan gadis yang membuat lelaki tertarik seperti itu," batin Dede, menyangkal perasaannya saat ini.
Ia segera menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali lengannya tersentuh bagian d*d* dan pangkal paha wanita itu. Dede benar-benar menahan napasnya.
"Maafkan aku, Luke. Ini tidak kusengaja," ucap Dede dalam hati.
Tentu saja mengganti pakaian wanita dewasa sangat berbeda, dibandingkan dengan anak-anak. Akan tetapi gadis berambut merah itu tetap terlelap. Sepertinya obat dari dokter itu benar-benar kuat.
"Pucat sekali wajahnya. Ia belum sempat makan apapun sejak tadi," pikir Dede khawatir. Ia mengompres kening Luke.
"Luke, bangun. Makan dulu," bisik Dede. Tidak ada tanggapan. Akhirnya Dede makan duluan.
...*****...
"Aaahh!" pekik Luke tertahan.
"Apa-apaan ini?" gumam Luke. Ia pun menyadari bajunya telah diganti.
"Nggak terjadi apa-apa, kan?" gumam Luke panik.
Matanya memperhatikan tubuh pria itu dari kepala sampai kaki. Hah, bagian dekat pangkal pahanya terlihat menonjol.
"Nggak, nggak mungkin. Dia tak pernah suka padaku. Jadi tidak mungkin ia macam-macam," sangkal Luke. Ia melirik ke dalam celananya. Masih sama seperti yang ia gunakan kemarin. Tidak ada bercak darah dan tidak ada rasa sakit.
"Hei, Dede. Bangun," bisik Luke.
Tak ada respon. Luke menatap wajah pria yang sedang terlelap. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, alis yang sempurna. Ah, dahulu Luke sangat mengaguminya. Sampai suatu hari pria ini membuatnya sangat terluka. Dan sekarang, pria ini kembali ke hadapannya bersama sang istri. Bahkan sampai terlelap di rumahnya seperti ini.
"Bangun." Luke mengguncang-guncang bahu pria tampan itu.
"Emh..." Dede mengerjapkan matanya. Mengumpulkan kesadaran.
"Jam berapa ini?" bisik Dede.
__ADS_1
"Tiga subuh. Bangunlah, sebelum kita digerebek tetangga," balas Luke.
"Hei, kenapa baju dan ikat pinggangku terbuka?" tanya Dede.
"Mana aku tahu? Sejak aku terbangun sudah seperti ini kondisinya," jawab Luke. Dede mengerutkan dahi.
"Hei, meski aku pernah suka padamu, tetapi bukan berarti aku menyerangmu di saat kamu tidur. Apalagi kamu telah beristri. Aku bukan wanita sembarangan. Lagian, kamu kan yang mengganti kemejaku?" ucap Luke berbisik.
"Ah, itu... Iya, aku yang menukarnya. Bajumu basah saat pingsan," jawab Dede. Ia malu sendiri mengingatnya.
"Eh?" Dede terkejut melihat senjata miliknya tegak sempurna. Ia segera menutupnya dengan kemeja. Luke pura-pura tidak melihat.
"Bagaimana keadaanmu?" Dede mengalihkan pembicaraan.
"Sudah agak mendingan. Terima kasih, sudah membawaku berobat. Tetapi kamu tetap berhutang maaf padaku. Karena telah mengganti pakaianku tanpa izin," ucap Luke.
"Ya, aku minta maaf," jawab Dede. Ia tidak sanggup melihat mata wanita di depannya.
"Kenapa kamu tidak segera pulang tadi malam? Bagaimana jika ada orang yang tahu kamu ada di sini semalaman?" tanya Luke.
"Aku... aku hanya khawatir padamu," jawab Dede.
"Khawatir? Aku bukan orang yang bisa membuatmu khawatir. Aku hanya lalat yang selalu menempel di buah segar, bukan begitu?"
"Luke. Aku minta maaf soal SMA dulu. Aku masih belum dewasa saat itu," jawab Dede. Luke menghela napas dalam-dalam.
"Oh, hampir lupa. Aku membelikanmu nasi bungkus, lauknya dipisah. Makanlah, kamu belum sempat mengisi perut kan sejak kemarin? Obat dari dokter aku letakkan di meja riasmu. Jangan lupa di makan," ucap Dede.
"Terima kasih. Nanti akan aku makan. Tetapi sepertinya saat ini kamu harus pulang. Sebelum itu, rapikan dulu pakaianmu. Aku tidak ingin tetangga bergosip miring tentangku seperti semalam," kata Luke. "Oh, iya. Biaya dokter dan nasi bungkus akan aku bayar nanti," lanjutnya.
"Oh, baiklah. Tetapi tidak usah kamu ganti uang itu. Anggap saja itu bagian kecil dari permintaan maafku," ucap Dede. Ia segera merapikan pakaiannya.
"Matikan lampu rumahmu. Agar tak ada yang curiga aku keluar dari rumahmu," ucap Dede.
Dede mengintip dari balik tirai jendela sebelum membuka pintu.
"Aman," ucapnya. Ia tidak melihat seorang pun di luar sana.
"Dede? Kenapa keluar dari rumah Luke malam-malam begini?"
"Gawat! Kenapa ia ada di sana?" ucap Dede dan Luke dalam hati.
__ADS_1
(Bersambung)