Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 50 - Akankah Bersatu?


__ADS_3

"Jadi siapa pelakunya? Sudah tertangkap?" tanya Luke lada Lukman.


"Sudah. Meski sempat buron selama dua hari, tetapi akhirnya tertangkap. Pelakunya preman bayaran," kata Lukman.


"Preman bayaran? Lalu siapa pelaku di belakangnya?" tanya Luke lagi.


"Siapa lagi? Sudah ketebak, kan? Siapa yang paling dendam dengan Dede?" ucap Lukman.


"Maksudmu Teguh?" tebak Luke.


Lukman menganggukkan kepalanya, "Makanya Ina tadi meneleponku. Ia memperingatkan agar kamu berhati-hati. Bisa saja ia melukaimu juga. Saat ini Teguh masih belum tertangkap. Keberadaannya masih buron sejak kemarin sore," jelas Lukman.


"Astaga! Ada-ada saja. Kasihan sekali Lili," gumam Luke.


Luke baru saja kembali dari rumah sakit setelah dirawat selama empat hari. Ia mendapat kabar jika tiga hari yang lalu Dede ditabrak dan diserang oleh orang tidak dikenal hingga kritis.


"Tenang Lukman, Luke aman bersamaku," kata Satria.


"Iya. Aku bersyukur sekali sekarang ada kamu di sampingnya. Kamu tahu betapa susahnya menjaga dirinya dahulu? Banyak sekali orang yang ingin menggodanya," kata Lukman.


"Tetapi bagaimana bisa kamu tidak tertarik dengannya?" tanya Satria. "Aku saja jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama," lanjutnya lagi.


"Ugh, aku mual mendengarnya," komentar Luke.


"Hahaha... Harusnya kamu berterima kasih, Satria. Jika aku naksir pada Luke juga, maka kamu tak akan bisa mendapatkannya," kata Lukman.


"Beneran kamu nggak pernah naksir Luke? Tetapi kenapa kamu baik banget sama dia?" tanya Satria. Kali ini dia serius.


"Aku emang naksir Luke. Tetapi entah kenapa lambat laun perasaan suka itu berubah jadi rasa sayang abang kepada adiknya. Aku sayang dia, tetapi nggak cemburu saat kamu mendekatinya, malah aku lega dia mendapatkan laki-laki yang baik," jawab Lukman tulus.


Ia sendiri bingung, bagaimana perasaannya berubah seperti itu.


"Aih... Beneran?" ucap Luke sambil menyunggingkan senyum.


*****

__ADS_1


"De, bagaimana kabarmu?" ucap Luke. Ia duduk di kursi yang diberikan Ina.


"Alhamdulillah, sudah mendingan," bisik Dede. Kaki kirinya masih digips, tangandan perutnya mendapatkan beberapa jahitan, dan wajahnya bonyok karena mencium tanah kerikil.


"Luke, sekali lagi aku benar-benar minta maaf, atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku tahu, ini masih belum setimpal dengan dosa-dosaku padamu," ucap Dede lirih. Matanya berkaca-kaca.


"Yah, aku memang masih marah padamu. Tetapi, aku juga tak bisa terus-terusan menolak permintaan maaf yang tulus," ucap Luke. Ia menyeka matamya yang juga mulai basah.


"Kurasa, semua yang terjadi padaku, adalah balasan atas apa yang telah kulakukan selama ini," ucap Dede.


"Kak, Ina juga minta maaf. Jujur, Ina malu sekali telah melakukan dosa yang sangat besar. Ina meremehkan dan merendahkan kakak, padahal diriku jauh lebih buruk dari itu," ucap Ina.


"Hei, ini bukan lebaran idul fitri, kan? Kenapa jadi halal bi halal begini?" ucap Satria memecah suasana.


"Si*l*an. Kamu hampir membuat ingusku keluar karena menangis sambil tertawa, tahu," gerutu Luke. "Ah, Ina. Kakak juga sudah memaafkanmu, walau pun rasa di hati ini tidak sama seperti saat kita pertama kenal dulu," lanjutnya.


"Jadi, apakah kalian akan menikah?" tanya Dede.


Luke dan Satria kompak menggelengkan kepala sebagai jawabannya.


"Luke belum siap. Dan aku tidak bisa memaksa. Setidaknya, dirinya sudah lebih terbuka dari pada dahulu," ucap Satria.


"Ternyata aku sudah menghancurkan anak gadis orang sedemikian dalam, ya?" sesal Dede.


"Percuma kamu menyesali sekarang, De. Di saat kamu sudah melihat semuanya," ucap Luke.


Dirinya memang belum siap berkomitmen memiliki sebuah keluarga. Berkali-kali disakiti dan ditipu membuatnya takut untuk mengikat janji suci. Ia lun takut tak bisa menjadi seorang ibu yang baik dengan kondisi mentalnya yang belum normal.


"Yah.. kamu benar. Aku memang benar-benar buruk," ucap Dede.


"Sudahlah kawan, kamu masih muda. Masih banyak waktu untuk berbenah," ucap Satria.


"Ah, bagaimana dengan kalian sendiri?" tanya Luke.


"Kami hampir saja bercerai, jika tidak ada kejadian yang menimpa Abang kemarin," jawab Ina.

__ADS_1


"Astaga!" seru Luke dan Satria bersamaan.


"Aku akhirnya menyadari, jika sesuatu yang diperoleh dengan cara tidak baik, maka hasipnya pun akan tidak baik. Jadi, kami ingin memulai semuanya dari awal, dengan cara yang baik," kata Ina.


"Aku pun menyadari, jika aku tak lebih baik dari Ina. Kami sama-sama salah. Maka kami akan sama-sama intropeksi," ucap Dede pula.


"Syukurlah kalau begitu," kata Luke.


"Sayang sekali, ya. Kita belum bisa menjadi tetangga yang akur," kata Ina.


"Loh, memangnya kalian mau pindah?" tanya Luke.


"Ah, tidak. Kupikir kakak yang bakal pindah. Karena beberapa hal yang terjadi belakangan," ucap Ina.


"Tidak. Rumah itu adalah kontrakan yang sempurna untuk orang bergaji pas-pasan sepertiku," kata Luke.


"Berarti kita berasal dari kaum yang sejenis, dong," ucap Ina. "Hati-hati, ya. Jangan sampai cemburu karena kami yang nantinya semakin mesra," kata Ina lagi.


"Dih, amit-amit. Nggak deh. Aku beneran udah ilang rasa sama suamimu yang jahat dan mesum itu," kata Luke.


"Astaga! Jahat banget sih. Bisa nggak ngomongmya di belakang aku aja," ucap Dede diikuti tawa Satria.


"Luke, bagaimana dengan teman-teman yang lain?" tanya Dede.


"Maksudmu Kiki dkk?" tanya Luke. Dede mengangguk.


"Kita tak bisa memaksa seseorang untuk meminta maaf pada kita, De," kata Luke kemudian.


"Dan... Aku juga masih penasaran, sebenarnya bayi itu milik siapa? Kulihat kakakmu agak kaku merawat bayi itu," tanya Dede.


"Itu... Anak saudara jauhku. Ibunya meninggal saat ia melahirkan, sementara ayahnya TKI di negeri Jiran. Aku juga sempat berpikir, jika aku mengandung, De. Perutku saat itu semakin membesar, dan aku selalu mual," ucap Luke.


"Ah, begitu. Aku bersyukur, sekaligus malu sekali," kata Dede.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2