
"Maaf Satria. Keadaanku baik-baik, saja. Aku hanya terlambat bangun. Terima kasih untuk yang tadi malam. Maaf juga karena sudah merepotkanmu." Satria membaca pesan dari Luke.
"Rupanya dia sudah membalas pesanku sejak satu jam yang lalu," ucap Satria.
^^^"Syukurlah kalau kamu sudah baikan. Selalu jaga kesehatan, ya," balas Satria.^^^
"👌" balas Luke singkat.
"Duh, manisnya..." gumam Satria senyum-senyum sendiri.
"Apanya yang manis, Pak? Tehnya terlalu manis, ya?" tanya Sisi, seorang perawat yang juga asistennya.
"Eh, nggak kok. Apa jadwal saya selanjutnya?" ucap Satria.
"Ada dua orang pasien lagi yang harus ditangani. Korban kebakaran di rumah susun kemarin. Perawat di depan sedang mempersiapkan rekam medisnya," jawab Sisi.
"Baiklah, kamu boleh istirahat sejenak," kata Satria.
"Duh, fokuslah Satria. Kamu baru saja membuat orang lain salah paham," gumamnya
Akan tetapi, hati dan pikirannya tidak sejalan. Memorinya kembali berputar ke kejadian tadi malam.
"Kenapa aku gegabah seperti itu? Bagaimana jika yang dikatakan tetangga sebelah rumah Luke adalah kebenaran? Aku bahkan tidak mengenalinya," ucap Satria lirih.
"Untung saja Luke tidak tahu. Hampir saja aku membuat keributan di sana, jika salah menuduh orang. Sok keren banget sih kamu Satria." Satria terus saja bergumam seorang diri.
"Dari kejadian tadi malam, aku menyadari kalau Luke memiliki trauma terhadap keramaian. Tetapi bagaimana ia menjadi seorang dosen dan berdiri di depan para mahasiswa, ya? Apa ia hanya trauma pada pesta? Aku harus mencari tahu sebabnya. Luke terlihat sangat menderita tadi malam." Satria semakin pusing memikirkannya.
"Permisi, dokter. Ini Aruna, usia dua belas tahun. Sejak tertimpa musibah kebakaran kemarin, ia menjadi lebih sensitif terhadap suara," jelas Sisi. Ia mengantar seorang pasien pada Satria.
"Baiklah, silakan masuk. Keadaan vitalnya bagaimana?" tanya Satria.
*****
"De, aku mau tanya suatu hal padamu, di luar berita acara ini," ucap Lukman.
"Soal apa itu?" tanya Dede.
__ADS_1
"Apa kamu menyukai Luke?" tanya Lukman langsung ke intinya.
"Hah, kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dede mengelak.
"Yah... Kamu terlihat sangat panik tadi malam. Seperti ada hubungan erat antara Luke dengan dirimu. Apa kalian pernah ada hubungan di masa lalu?" ucap Lukman.
"Lalu kamu dan Luke sendiri bagaimana? Apa kamu juga menyukainya?" Dede balik bertanya.
"Juga? Hmmm.... Aku anggap itu jawaban pertanyaanku tadi. Artinya kamu menyukai Luke," sahut Lukman sambil tersenyum.
"Hei, kenapa kamu menyimpulkan seperti itu? Aku jadi seperti anak kecil, yang ketahuan mencuri coklat di kulkas," ujar Dede.
"Hahahah... Sudahlah kawan... Berterus terang saja. Aku tidak akan 'ember' seperti tetangga lainnya. Anggap saja ini pembicaraan antara dua pria dewasa," kata Lukman sambil tertawa kecil.
Dede menjadi salah tingkah. "Jawab dulu pertanyaanku," desak Dede kemudian.
"Duh, iya deh. Luke itu... Seseorang yang sangat berharga bagiku. Dia selalu menyemangatiku ketika aku sedang putus asa. Meski ia hampir tidak pernah bicara denganku dahulu, tetapi hal-hal kecil yang dilakukannya membuatku menjadi merasa berharga, di saat orang lain menjatuhkanku serendah-rendahnya," ungkap Lukman.
Dede mendengarkannya dengan seksama. Ia tak tahu harus berkomentar apa.
"Jadi, aku tidak ingin melihat gadis pendiam itu sakit dan terluka oleh siapa pun, termasuk diriku sendiri. Kejadian semalam, membuatku sangat menyesal. Aku hampir membuatnya melalui malam neraka," lanjut Lukman.
"Ah, tidak ada yang spesial. Dia hanya teman sekelasku kala SMA," ujar Dede.
"Tetapi saat kalian merundung Luke kemarin, aku sempat mendengar kalau kamu mantan gebetannya?" selidik Lukman.
"Iya, benar. Luka menyukaiku entah sejak kapan. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya. Suatu hari, aku mengatakan hal yang buruk padanya. Agar ia menjauhiku dan tidak mengganggu rencanaku mendapatkan Ina." Dede mengenang masa lalu.
"Tetapi rupanya, hal itu justru membuat hubungan pertemanan kami rusak. Ia menjadi orang yang semakin tertutup dari sebelumnya. Aku... Sebenarnya tidak menginginkan hal itu terjadi," ucap Dede lirih.
"Apakah kejadian tadi malam ada hubungannya dengan masalah saat itu?" tanya Lukman.
"Iya, benar. Pada saat itu, aku hanya menjadi penonton ketika teman-teman membullynya. Ia pikir, aku yang menyebarkan hal buruk tentang dirinya. Itu bukan diriku, tetapi entah mengapa aku tidak menyangkalnya. Lalu aku pun hanya dikenangnya sebagai orang brengs*k selama bertahun-tahun," ucap Dede.
"Aku tidak ingin kejadian itu terulang kembali tadi malam. Tetapi kenyataannya, aku hanyalah seorang pecundang yang hanya bisa membiarkannya pergi dalam keadaan lemah dan terluka," lanjut pria itu.
Lukman hanya terdiam mendengar semua kenyataan itu. Ternyata Luke telah melalui hal yang sangat berat, lebih dari yang ia kira. Pantas saja selama ini ia sangat tertutup. Pasti rongga di hatinya masih terisi oleh kenangan kelam masa lalu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dirimu dengan Ina selanjutnya? Apa kau benar-benar ingin berpisah?" tanya Lukman hati-hati.
"Entahlah, dulu aku sangat tergila-gila padanya. Bahkan nasehat dari ibuku, tidak pernah aku hiraukan. Aku menyingkirkan semua penghalang agar bisa mendapatkannya, termasuk Luke," cerita Dede.
"Tetapi sekarang, perasaan itu... 'Poooffff' tiba-tiba menghilang begitu saja seperti angin," lanjut Dede.
Tling! Sebuah pesan masuk di ponsel Dede.
"Aku tidak ingin bercerai. Tunggu saja hadiah menarik dari ayahku, jika kamu tetap meminta berpisah denganku," tulis Ina.
"B*ngs*t," seru Dede kesal.
*****
Dede menatap langit-langit kamarnya. Obrolan dirinya dengan Lukman siang tadi, lebih memenuhi memorinya dibandingkan ancaman dari Ina.
Lukella, ia bukanlah orang sembarangan bagi Dede. Meskipun tidak ada seorang pun yang tahu, namun Luke memiliki tempat sendiri di hatinya.
Dede pertama kali mengenal Luke, ketika gadis itu hampir saja dilecehkan oleh kakak kelas mereka. Dengan ponsel jadul miliknya, ia merekam aksi cab*l pria bejat itu pada Luke. Dede berharap, rekamannya bisa sebagai barang bukti untuk menyelamatkan wanita itu.
Di luar dugaan, dengan tubuh kecil dan kemampuan bela diri yang tidak bisa dianggap enteng, gadis remaja itu berhasil menyelamatkan diri sebelum diperlakukan lebih jauh lagi oleh pria hina itu. Gadis itu pun berhasil menjaga kesuciannya.
Masih di hari yang sama, Dede kehilangan ponselnya, dan menyebabkan video tanpa sensor itu tersebar luas ke seantero sekolah.
Dede sebagai tersangka utama tidak bisa berbuat apa pun. Orang tua Dede terpaksa membayar tinggi pada kepala polisi yang menjabat saat itu, agar identitas Dede tidak tersebar dan dirinya tidak menginap di balik jeruji besi. Yah, siapa lagi kalau bukan ayah Ina.
Beberapa bulan kemudian, gadis yang polos itu datang dan membantu dirinya tanpa pamrih. Menyelamatkannya dari jeratan remedial fisika yang membelenggu. Ia pun sedikit menaruh rasa pada gadis itu.
Akan tetapi, kedatangan Ina di SMA sebagai adik kelasnya, membuat segalanya berubah. Dede bak kerbau di cucuk hidungnya, ia pun mengikuti geng kelas atas agar bisa terlihat oleh Ina.
Luke benar, ia adalah pria brengs*k. Yang tetap mengikuti alur walau tahu itu salah. Bergabung dengan para berandal dan kasta tertinggi di sekolah itu, agar mendapatkan Ina, Sang Primadona Sekolah. Dia sendiri lah yang telah menghancurkan hidup Luke, gadis yang tulus mencintainya. Dan juga, gadis spesial di hatinya.
Bagaimana ia harus memperbaiki semua keadaan ini?
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like dan votenya.
__ADS_1
Sampai jumpa minggu depan....