Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 37 - Keputusan Satria


__ADS_3

"Satria, mau ke mana?"


"Aku mau keluar sebentar. Ada janji makan siang dengan temanku. Ada apa? Jangan beri aku pasien lagi sebelum makan siang ini," ucap Satria pada temannya. Cacing di perutnya mulai parade.


"Bukan itu. Profesor Adi Candra mau bertemu denganmu. Katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan," ucap Juliansyah, rekan Satria.


"Saat ini? Tidak bisakah dia memberiku waktu untuk makan siang dulu?" kata Satria pada Juli.


"Oh... kamu tahu kan bagaimana sifat profesor. Dia tidak akan mau mengundur waktu, apalagi menunggu. Cepatlah," kata Juli.


"Baiklah," balas Satria.


"Halo Luke. Apa kamu masih di kampus?" Satria menelepon Luke, sambil menuju ke ruangan profesor.


"Ya, aku lagi di rumah sakit universitas," jawab Luke.


"Kamu lagi di rumah sakit? Kenapa?" tanya Satria.


"Aku hanya memeriksakan kesehatan, dan sepertinya aku-"


"Luke. Aku mohon maaf. Sepertinya siang ini kita tidak jadi makan bersama. Aku ada pertemuan penting dengan pimpinan rumah sakit," ucap Satria terburu-buru. Ia kini telah berada tepat di depan ruangan Profesor Adi Candra.


"Oh, iya. Baiklah. Tidak usah meminta maaf. Tentu hal itu jauh lebih penting," ucap Luke.


"Lain kali akan aku traktir, ditempat favoritmu," ujar Satria sebelum menutup teleponnya.


"Huffhh... kapan aku bisa PDKT dengan benar kepapa Luke, ya?" keluh Satria dalam hati.


"Permisi, Profesor. Bapak memanggil saya?" ucsp Satria setelah mengetuk pintu atasannya.


"Iya, benar. Masuklah. Kita berbincang sembari makan siang," sambut kepala rumah sakit itu dengan ramah.


Tetapi hal itu justru membuat Satria semakin gugup, "Saya tidak melakukan kesalahan, kan?" ucap Satria lirih.


"Hahaha... tentu tidak, Satria. Aku akan memberikan penawaran khusus padamu. Baru-baru ini, sebuah universitas di Austria membaca Jurnalmu tentang 'Analisis Pola Komunikasi (Trash Talking) dengan Remaja Penggemar Game Online Melalui Metode Terapeutik' itu," ucap profesor sambil menyendok nasi ke dalam piringnya.


"Jadi, mereka tertarik untuk menawarkanmu kerja praktik di sana. Yah, hitung-hitung menambah ilmu dan pengalaman," ucap profesor yang meraih gelar akademik tertinggi di usia tiga puluh tujuh tahun itu.


"Kerja praktik di sana?" ucap Satria mengulang kalimat atasannya.


"Iya, setingkat dengan diklat, lah. Nanti ada sertifikatnya. Jika kamu berkenan, langsung saja ambil S3 di sana."

__ADS_1


"Tapi profesor?" Satria tidak melanjutkan ucapannya. Ia mulai bimbang, apakah ia harus menerimanya atau menolaknya.


"Kenapa? Apa kamu mengkhawatirkan pekerjaan kamu di sini? Kami akan menunggumu kembali."


"Ehmmm..."


"Atau soal wanita? Kudengar kamu mulai mendekati seorang wanita akhir-akhir ini," goda atasannya.


"Yah, itu juga tidak salah, Prof. Tetapi saya juga harus memikirkan banyak hal sebelum pergi.


"Tentu saja saya akan memberikan kamu waktu untuk berpikir. Semua harus dipersiapkan dengan matang sebelum kamu belajar di negeri lain. Akan tetapi jika ini terkait wanita, sampaikanlah dahulu jika kamu ingin belajar. Kalau dia memang serius padamu, ia pasti akan mendukung," nasehat profesor muda itu.


"Baik. Terima kasih banyak, Prof," ucap Satria.


*****


Satu minggu kemudian.


"Halo, Luke. Kamu sibuk hari ini. Aku mau ngajak kamu makan siang, nih. Menepati janjiku hang waktu itu," ucap Satria di telepon.


"Uh, maaf. Aku ada seminar jam satu nanti. Dan tidak boleh terlambat," jawab Luke tak enak hati.


"Makan malam... Sepertinya aku bisa," jawab Luke setelah berpikir.


"Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti. Sampai jumpa," kata Satria riang.


"Hahh... Ujung-ujungnya aku tidak bisa menolaknya," batin Luke sembari menyeruput air jeruk nipis.


Langit mulai mengubah warnanya dari biru menjadi jingga. Suasana kampus yang dipenuhi mahasiswa pun mulai lengang, ditinggalkan para manusia. Kini berganti dengan penghuni malam, para burung dan kelelawar yang datang berbondong-bondong.


"Haduh... Satria ke mana, sih? Katanya mau jemput di kampus. Kayaknya sebentar lagi yang datang padaku bukan Satria, tetapi makhluk dari alam lain. Tahu gini aku ganjel perut dengan tahu gejrot tadi," gumam Luke.


Tangan Luke merogoh-rogoh isi tasnya, "Waduh, jeruk nipisku habis. Permen asam jawa juga gak ada," keluh Luke.


"Hai, udah nunggu lama, ya?" sapa Satria. Seperti biasa. Ia terlihat stunning meski sudah bekerja seharian.


"Belum lama, kok. Aku baru lumutan, belum sempat jadi fosil," sahut Luke datar.


"Hahahah... Iya, deh. Maaf. Yuk, langsung aja. Udah lapar, kan?" ajak Satria.


*****

__ADS_1


"Maaf, ya. Aku baru menepati janji sekarang. Waktu itu aku mendadak dipanggil atasan. Dia menawariku untuk belajar ke Austria," kata Satria sambil menunggu pesanan datang.


"Ke Austria? Berapa lama?" ucap Luke terkejut.


"Enam bulan." Satria lalu menceritakan semuanya dengan lengkap pada Luke.


"Jadi, kamu memutuskan untuk menerimanya?" kata Luke lirih.


"Iya. Sepertinya ini kesempatan yang bagus untuk meningkatkan kualitas profesiku. Kalau langsung ambil S3, aku masih belum siap," jawab Satria.


"Eh, kenapa wajahmu begitu? Kamu sedih karena aku pergi?" tanya Satria kemudian. Wajah Luke terlihat sangat sayu.


"Ehm, tidak. Aku bangga padamu," jawab Luke sambil mengalihkan pandangan dari Satria.


"Dia akan pergi selama enam bulan. Sebaiknya aku memberi tahunya atau tidak, ya? Jika enam bulan, saat dia kembali nanti pasti diriku sudah tidak seperti yang dikenalnya saat ini." Luke mengalami perang batin.


"Tetapi untuk apa juga aku katakan padanya? Hubungam kami kan hanya sebatas teman. Ia tidak perlu tahu dengan kondisiku saat ini. Mungkin saja selama di sana, ia menemukan wanita pilihannya," batin Luke lagi.


"Luke? Kenapa malah melamun sendiri? Apa ada masalah?" tanya Satria cemas.


"Oh.. Tidak ada apa-apa. Aku hanya kepikiran tugas yang menumpuk akhir-akhir ini," ucap Luke berbohong.


"Waduh, maaf ya. Aku malah mengajakmu di saat sibuk. Aku akan langsung mengantarmu pulang setelah makan," kata Satria merasa bersalah.


"Santailah. Aku juga ingin beristirahat sejenak dari rutinitas," balas Luke.


"Benarkah?" tanya Satria memastikan. Luke mengangguk dengan yakin.


"Ehmm... Itu... Aku tidak tahu ini waktunya tepat atau tidak. Tetapi harus mengatakannya sekarang. Aku berniat serius denganmu. Meminangmu jadi istriku. Tetapi jika nanti selama enam bulan ke depan, kamu menemukan orang yang lebih telat dariku, aku tak akan menahanmu," ucap Satria. Dadanya berdegup kencang saking gugupnya.


"Tapi syaratnya, orang itu harus lelaki baik-baik. Tetapi di lubuk hatiku, aku ingin kamu hanya menungguku seorang," ucap Satria menuntaskan kalimatnya.


Luke yang mendengarkan dengan seksama, tnpa disadari meneteskan air mata. "Apakah Satria masih akan bicara seperti ini jika ia tahu keadaanku yang sebenarnya?" gumam Luke dalam hati.


"Luke? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Kita pulang saja, ya. Makanannya dibungkus saja," ucap Satria kemudian.


"Waduh, aku lupa. Beberapa hari yang lalu, Luke kan bilang sedang ada di rumah sakit. Apa ia belum sehat betul?" batin Satria sambil memapah Luke ke mobil.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2