Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 9 - Cemburu


__ADS_3

Satu minggu yang lalu, di pertemuan pertama antara Luke dan Satria.


"Duh, gimana ini? kenapa di saat begini saldoku mesti abis, sih? Aku jadi gak punya uang kan untuk bayar taksi online. Mana udah terlanjur pesan lagi," gerutu Luke.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Satria yang menunggu di dekat parkiran.


Luke sebenarnya malu banget mau jujur. Tetapi kalau ia tidak ngomong, mesti pulang pakai apa? Masa minta jemput kak Tyas? Dia pasti lagi kelonan sama bebebnya. Cari angkot juga gak mungkin. Udah pukul 8.30 malam gini.


"Susah ya, gak punya teman gini," gumam Luke.


"Apa? Susah kenapa?" tanya Satria penasaran.


"A-anu ... Itu..."


"Anu? Kamu ngomong apaan, sih? Anu apaan? Yang jelas dong," kata Satria sambil menahan tawa.


"Ish kamu ini. AKU PINJAM UANG KAMU UNTUK BAYAR TAKSI YA!" Luke berteriak saking gugupnya.


"Astaga. Gak usah teriak-teriak begini, dong. Gak usah ngegas bakal aku pinjami, kok," ucap Satria. Ia tidak bisa menahan tawanya.


"Aku malu, tahu!" sahut Luke. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Satria tidak bisa berhenti tertawa melihat wanita di depannya yang bertingkah seperti ABG. Jelas sekali jika wanita itu tidak pernah jalan bareng teman lelaki.


"Berapa?" tanya Satria sambil mengeluarkan dompet.


"Empat puluh lima ribu. Minggu depan setelah terima gaji aku bayar," jawab Luke. Bersamaan dengan itu, sebuah taksi meluncur ke dekat mereka.


"Kak Lukella?" tanya sang supir setelah menurunkan kaca.


"Iya, benar," jawab Luke.

__ADS_1


"Ini ongkosnya, Pak. Empat puluh lima ribu, kan? Kembaliannya ambil saja," ucap Satria sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. "Tapi Mbaknya pulang bareng saya," lanjut Satria.


"Loh, kok gitu?" tanya Luke dan pak supir bersamaan.


"Mbaknya masih ada janji dengan saya," jawab Satria.


"Janji apaan?" bisik Luke.


"Benar begitu? Saya nggak bisa terima ini dong," kata pak supir mengembalikan uang Satria.


"Nggak apa-apa, Pak. Kalau di cancel kan nanti rating bapak bisa turun. Kami yang salah, terlanjur pesan taksi padahal urusannya belum selesai," ucap Satria. Kakinya menyentuh sepatu Luke, memberi kode.


"Baiklah kalau begitu," jawab pak supir.


"Pak, tunggu," panggil Luke saat taksi itu mulai meninggalkan mereka. Tetapi Satria malah melambaikan tangan sambil tersenyum melepas kepergian taksi.


"Duh, kamu kenapa sih?" ujar Luke kesal.


"Huh, licik kamu ya. Nang... Neng... Nama saya Lukella, bukan Neneng." Luke menggenggam tangannya. Ia tak ingin Satria melihatnya cemas seperti ini.


"Tenang aja. Aku bakal antar kamu sampai depan rumah. Dijamin aman." Satria mengedipkan matanya.


Luke pasrah. Ia tak tahu lagi bagaimana harus pulang. "Mudah-mudahan ia bisa dipercaya. Dia kan anak teman ibu," pikir Luke.


Sesampainya di kontrakan, Dede melihat Luke diantar oleh seorang pria muda. Mereka terlihat sangat akrab.


"Siapa dia? Pacar Luke? Tetapi beda dengan pria waktu itu," pikir Dede. "Apa mungkin Luke sengaja berganti-ganti pasangan demi memenuhi kebutuhannya?"


...*****...


Hari Rabu pagi. Dede duduk santai di depan rumahnya sambil mengunyah bakwan panas masakan sang istri. Pria muda itu sedang menikmati hari waktu luangnya yang langka.

__ADS_1


"Bang, kita dapat undangan, lho."


"Undangan? Dari siapa?" tanya Dede datar.


"Tetangga sebelah. Minggu depan ia menikah?" jawab Ina.


"Hah? Luke menikah?" ucap Dede.


"Kak Luke? Bukan, bukan kak Luke yang menikah. Maksud Ina kak Fitriani," jelas Ina.


"Fitriani? Siapa?" tanya Dede malu.


"Oh, itu yang tinggal di rumah nomor tujuh. Kak Fitri memang jarang di rumah," jawab Ina.


"Abang kenapa terkejut banget sih disebut ada undangan dari tetangga? Apa dahulu memang benar pernah punya hubungan dengan Kak Luke? Apa sikapnya yang berubah belakangan ini juga karena Kak Luke?" ucap Ina dalam hati.


"Oh, gitu. Ah, sudah jam segini. Abang harus berangkat kerja," ujar Dede mengalihkan pembicaraan. Ia lalu mencium pipi istrinya. Ina hanya menatap suaminya penuh tanya.


"Astaga!" seru Dede terkejut. Ia bertatapan mata dengan Luke saat keluar rumah.


"Kenapa? Lihat aku kaya lihat hantu gitu?" ujar Luke.


"Ah, Ng-nggak kok." Dede mengalihkan pandangan.


"Kok segitu terkejutnya dapat undangan? Kamu kira undangan dariku?" selidik Luke.


"Bagaimana kamu bisa dengar?" tanya Dede.


"Suaramu kuat begitu gimana gak dengar? Semua tetangga juga bisa dengar kali," jawab Luke. "Kenapa? Cemburu?" tukas Luke sambil tersenyum jahil.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2