
"Halo? Luke? Kamu di mana? Ada apa?" Nada bicara Satria berubah menjadi panik. Ia mendengar suara riuh orang mengobrol dan musik yang berdentum.
"Aku... Aku... Ada di pesta menemani... "
"Share lokasimu, cepat. Aku akan menjemputmu sekarang," seru Satria. Ia mendengar suara Luke seperti menangis.
Tling! Tak lama kemudian, sebuah pesan dari Luke pun diterima Satria.
"Villa Ratu Kencana, Blok A Nomor 13? Ini kan Rumah Jaksa Agung Setiawan. Syukurlah tidak jauh dari sini," ucap Satria. Ia langsung memutar mobilnya menuju lokasi yang dimaksud.
"Sudah kuduga, pasti ada yang tidak beres dengan Luke. Ia selalu menolak setiap aku mengajaknya ke tempat keramaian. Tetapi mengapa ia bisa berada di pesta seorang jaksa terkenal?" pikir Satria.
*****
Di pesta ulang tahun
Lukman mulai panik, karena tidak menemukan Luke di tempat ia tinggalkan sebelum mengangkat telepon tadi. Ia melebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan untuk mencari rekannya itu.
"Sebenarnya ada apa sih dengan Luke? Sejak tadi ia memang terlihat aneh. Harusnya tidak usah aku paksa menemaniku kemari," ujar Lukman merasa bersalah. Ia mengitari seluruh ruangan.
Telepon Luke tidak diangkat sejak tadi, membuat Lukman semakin gelisah.
"Ah, apa dia ke toilet?"
Tanpa pikir panjang, pengacara muda itu langsung menuju ke area toilet perempuan.
"Mbak, bisa tolong di cek kan ke dalam nggak? Ada teman saya memakai gaun biru, rambut kemerah-merahan. Ia agak kurang sehat," pinta Lukman pada seorang pelayan yang berjaga di depan toilet.
"Toiletnya lagi kosong, Kak. Wanita terakhir yang keluar dari sini memakai gaun merah dan rambut hitam," sahut pelayan itu.
"Duh... Luke... Kamu di mana sih?" keluh Lukman sambil mencoba menelepon Luke kembali.
"Halo?"
"Luke kamu di mana?" tanya Lukman.
"Aku... di... Taman depan.. Aku..." Suara Luke terdengar sangat lemah dan sesak.
"Jangan ke mana-mana, tunggu aku di sana," ujar Lukman sambil berlari.
"Hei, Lukman. Apa kabar? Sudah lama banget gak ketemu kamu, sejak kita wisuda. Kamu sudah berhasil lolos ujian pengacara ya rupanya?"
Dua wanita muda dan seorang pria menghadang Lukman yang hendak keluar. Mereka adalah teman kuliah Lukman di jurusan hukum dahulu. Namun berbeda dengan Lukman, dua di antara mereka lulus ujian pengacara setahun setelah tamat, dan seorang lagi bekerja di kantor kejaksaan sebagai PNS.
"Maaf, aku sedang buru-buru. Rekanku sedang membutuhkanku di luar," ujar Lukman. Hatinya tak tenang sebelum ia menemukan Luke.
"Duh, sombong banget sih. Kalau kamu gak dekat dengan orang-orang tinggi di acara seperti ini, kamu bakal susah lho dalam karir," ujar salah seorang di antara mereka.
"Maaf, Bella. Lain kali kita bicara," sahut Lukman sambil bergegas pergi.
__ADS_1
"Awas ya, kalau dia berurusan di kantor kejaksaan gak bakal aku bantu," gumam Bella kesal.
"Duh, Bella. Kamu masih naksir sama Lukman, ya? Baperan banget sih?"
"Apaan sih, Luna," Bella semakin kesal.
*****
"Maaf, Mas siapa? Ada undangannya?" seorang penjaga menahan Dede yang hendak masuk ke dalam gerbang.
"Oh, ada. Ini, saya dari firma hukum R.U," jawab Dede.
Penjaga itu mengecek foto undangan di ponsel Dede.
"Duh, lama banget, sih," batin Dede tidak sabaran.
"Oke, silakan masuk. Sepeda motornya bisa parkir di samping," kata penjaga itu kemudian.
"Terima kasih," ucap Dede buru-buru.
"Memangnya tamu undangan bos ada yang pakai sepeda motor?" bisik penjaga satu lagi.
"Sudahlah. Undangannya asli, kok. Barcodenya bisa dibaca," sahut penjaga pertama.
Setelah parkir sepeda motor dibantu beberapa pelayan, Dede segera berlari hendak masuk ke dalam rumah yang menjadi lokasi acara.
"Sial! Aku terlambat!"
Ia hampir tidak mengenali wanita itu. Pakaian serta dandanannya sungguh jauh berbeda daripada yang biasa ia lihat. Cantik sekali.
"Itu pria yang mengantar Luke malam itu. Kenapa ia bisa ada di sini?" gumam Dede kesal.
Dadanya terasa perih melihat gadis berambut merah itu pergi dan diselamatkan pria lain dan bukan dia. Dan kenapa pula di saat Luke sedang cantik dan tak berdaya begitu?
"Mengapa selalu begini? Aku membiarkan Luke pergi ketika ia sangat lemah dan tak berdaya. Aku lagi-lagi membiarkannya terluka," batin Dede menahan sakit di Dada.
"Dede, kamu sudah sampai? Salah seorang rekan dekat Luke sudah membawanya pulang," kata Lukman.
"Siapa dia? Kamu mengenalnya?" tanya Dede marah.
"Hei, tenang Bro. Dia teman satu kampung halaman Luke. Bahkan tuan rumah pesta ini mengenalnya dengan baik," jawab Lukman.
"Tidak bisa begini. Aku harus mengikuti mereka. Tak akan ku lepaskan lagi Lukella," batin Dede.
Dede bergegas mengambil sepeda motornya. Ia harus mengikuti mobil Lamborghini Veneno itu pergi sebelum terlalu jauh. Ia tak tahu lelaki itu berniat baik atau jahat pada Luke.
"Gak jadi ke pesta, Mas?" tanya pelayan yang tadi membantunya parkir.
"Gak," sahut Dede lalu mengegas sepeda motornya.
__ADS_1
"De, Dede... Kamu mau ke mana? Kamu tidak mendengarkanku?" seru Lukman.
*****
"Apa aku sudah tertinggal jauh? Ke mana mereka pergi?" gumam Dede.
Ia melalui jalan utama menuju keluar kompleks perumahan elit ini. Tidak ada tanda-tanda mobil mewah tadi di depan sana. Dede mulai ragu, ke mana ia harus pergi saat ini?
Sinar kemerahan di sebelah kanan menyilaukan mata Dede. Spontan kepalanya menoleh ke arah sumber cahaya.
"Ah, itu mereka."
Tanpa ragu, Dede langsung mengikuti mobil berwarna dark blue metallic itu.
Dede tetap menjaga jarak aman, agar mereka tak menyadari jika sedang diikuti.
"Jalan ini, sepertinya mengarah ke kontrakan," gumam Dede.
Meski jarang sekali melalui jalan beraspal itu, ia yakin bahwa ujung jalan ini menuju ke jalan utama di kota, membawa mereka mendekati kontrakan.
Ternyata tebakan Dede benar. Sepuluh menit kemudian, mobil mewah itu berbelok ke gang kontrakan mereka.
"Aku baru tahu kalau jalan tadi menuju ke pinggiran kota juga. Dan ternyata pria itu benar-benar membawa Luke pulang," gumam Dede. Ia mengamati dari jauh.
Luke beranjak turun dari mobil dan dipapah Satria hingga ke rumah. Ternyata gadis itu telah sadar.
Tak berapa lama, kedua muda-mudi itu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
"Sialan, mau ngapain mereka?"
Dede pun bergerak dari posisi persembunyiannya. Ia pura-pura baru pulang. Padahal niatnya, ingin mengamati Luke dan pria itu dari dekat.
"Aku pulang ya. Kalau ada apa-apa telepon saja. Satenya jangan lupa di makan," pamit Satria.
"Iya. Terima kasih, ya. Maaf sudah merepotkanmu," sahut Luke.
"Hah? Sudah keluar? Belum ada satu menit," batin Dede.
Sekarang sepeda motornya berhadapan langsung dengan Satria. Dede bersikap wajar, seolah-olah ia tak tahu apa pun.
"Bung, bisa bicara denganku sebentar?" ujar Satria pada Dede.
"Ya?" Dede pura-pura bingung.
"Aku tak tahu kamu siapa dan apa masalahmu, tetapi kamu mengikutiku sejak tadi?" tanya Satria.
Jeng... Jeng...
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, share dan vote ya. Sampai jumpa lagi....