
"Hai, ganteng. Rajin banget deh, pagi-pagi udah rapi dan bikin sarapan," goda Nurul.
"Dih, ganjen banget sih, Rul?" ujar Kak Tyas sambil menyapu teras rumahnya.
Dede, pria yang menjadi objek pembicaraan tak peduli dengan sekelilingnya. Ia sibuk memanaskan sepeda motornya sambil melirik ke rumah sebelah.
"Sepertinya Luke pergi pagi-pagi sekali hari ini," ucap Dede dalam hati. Sejak beberapa hari.yang lalu ia ingin memastikan satu hal dengan teman sekolahnya itu, tetapi sepertinya gadis itu selalu menghindar.
"Selamat pagi, De. Bagaimana kabarmu?" tanya Kak Tyas. Mengalihkan pikiran Dede.
"Pagi juga. Alhamdulillah baik, Kak," jawab Dede datar.
"Ish, mas ganteng gak adil ah! Pas aku ngomong gak di sahutin. Pas Kak Tyas aja langsung dijawab.
" Haduh... Kecebong sawah diam, deh. Masa iddah* aja belum selesai udah gangguin suami orang," ujar Kak Tyas kesal.
*Dalam Islam ada istilah masa Iddah. Artinya, waktu bagi perempuan Muslimah yang telah diceraikan oleh suaminya untuk menahan diri tidak menikahi laki-laki lain. masa Iddah dijadikan sebagai bukti bersihnya rahim saat berpisah karena kematian suami atau talak dari suami. Masa iddah wanita yang cerai itu lamanya adalah tiga bulan.
"Dih, mana yang suami orang? Dede kan duren. Duda keren. Lagian masa iddah itu hanys menghambat para wanita mencari pasangan baru. Laki-laki aja baru sedetik cerai udah bisa nikah lagi sama cewek lain," sungut Nurul.
"Nurul nih beg* atau gimana, sih? Kamu gak tahu yang namanya adab, ya? Dede kan belum cerai. Dia masih resmi suami Ina," sahut Kak Nada yang baru saja keluar dari rumahnya.
"Iya, deh. Calonlah... calon duren..." kilah Nurul sok cantik.
"Jangan ganggu-ganggu suami orang, Nurul. Kamu kan tahu sendiri gimana rasanya kalau suami kamu digoda pelakor," kata Kak Tyas.
"Tapi ini kan beda. Ceweknya yang se-"
"Husss... Udah, diam. Urusin aja tuh iler di pipi. Belum cuci muka udah sok cantik godain cowok," ujar Kak Nada memotong ucapan Nurul. Ternyata hal itu ampuh membuat Nurul tunggang langgang ke dalam rumah.
"Ah, maaf kalau aku lancang. Tetapi apa kakak-kakak tahu kabar Luke saat ini?" tanya Dede.
Kak Nia dan Kak Nurul spontan bertukar pandang mendengar ucapan Dede.
"Ah, itu. Dia kan saksi utama dalam kasus aku dan Ina. Tetapi belakangan ini ia sulit sekali ditemui," Dede memberikan alasan agar tak dicurigai.
__ADS_1
"Ah, benar juga. Tetapi kami juga tak tahu pasti gimana kabarnya. Sejak kita merundung dia waktu itu, dia selalu menghindar dari kami," jawab Kak Nia.
"Iya, De. Tetapi belakangan ini ia sepertinya kurang sehat. Sering muntah dan batuk-batuk," tambah Kak Tyas.
"Nah, itu juga yang bikin aku penasaran. Aku selalu mendengar Luke muntah, terutama di pagi hari. Sebenarnya kenapa dia?" gumam Dede dalam hati.
"Luke pasti hamil itu. Dia kan pernah pulang bareng cowok yang pakai mobil mewah itu. Dibopong lagi," kata Nurul. Janda kembang bangkai itu rupanya sudah memoles wajahnya dan berganti pakaian.
"Hishhh.. ular kadut satu ini kok keluar lagi, sih?" geram Kak Tyas dan Kak Nurul.
"Cowok dengan mobil mewah? Sudah pasti itu Satria. Tetapi bukannya Satria hanya satu kali mengantar Luke pulang? Waktu ada masalah di pesta jaksa itu?" pikir Dede.
"Ah, sudah jam segini. Aku harus pergi," ucap Dede kemudian. Sebenarnya waktu masuk kerjanya masih cukup lama. Tetapi ia malas berlama-lama mengobrol dengan para tetangganya, terutama Nurul.
*****
"Luke? Sedang apa di sini?" tegur Dede.
Sepulang kerja, ia hendak membeli obat sakit kepala di apotik. Berbagai masalah yanh menimpanya belakangan ini, memang membuat kepalanya selalu berat dan sakit. Tidurnya juga tidak bagus.
Luke memutar kepalanya ke samping. Sosok yang paling tidak ingin ia lihat, malah bertemu di sini.
"Ck, ngapain sih dia di sini," gumam Luke dalam hati. Ia buru-buru menyimpan obat-obat yang diberikan penjaga apotik ke dalam tasnya. Padahal obat-obat itu belum sempat dibayar.
"Kamu sakit? Kamu habis beli obat apa?" tanya Dede. Bola matanya menatap Luke dan penjaga apotik itu bergantian.
Luke meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Menyuruh penjaga apotik itu untuk bungkam. Tanpa diminta Luke pun ia sudah pasti bungkam. Privasi pengunjung adalah kode etik mereka.
"Aku hanya merasa sedikit demam," jawab Luke setelah membayar obat yang baru saja dibelinya.
"Tetapi aku selalu dengar kamu muntah-muntah," sahut Dede. Matanya memancarkan rasa khawatir.
"Duh, mulai deh ngedrama," rutuk Luke dalam hati.
Mereka berdua akhirnya berpindah tempat, agar lebih leluasa berbicara.
__ADS_1
"Lihat aku. Kenapa kamu muntah. Kamu terlambat halangan gak bulan ini?" desak Dede.
"Kenapa juga kamu harus peduli padaku soal itu?" ucap Luke kemudian. Ia tahu pertanyaan Dede mengarah ke mana.
"Makanya, jawan aku dengan jelas," paksa Dede.
"Aku mengalami sakit pencernaan. Makanya aku sering mual. Dan aku juga harus mengkonsumsi beberapa obat," jawab Luke setengah hati.
"Hanya itu? Tetapi aku mendengarmu beberapa kali mengeluh, kamu terlambat datang bulan. Kamu tidak hamil, kan?" tanya Dede memastikan.
"Lancang sekali pertanyaanmu. Kamu pikir pantas menanyakan hal itu pada wanita lajang?" marah Luke.
"Luke. Aku ingat betul. Sudah enam minggu berlalu sejak aku mengantarmu pulang karena sakit," sahut Dede.
"Lalu?" tanya Luke singkat.
"Aku khawatir kamu mengandung anakku," jawab Dede lirih.
"Aku tidak hamil, b*d*h! Aku baik-baik saja. Dan kamu sendiri kan yang bilang, malam itu tidak terjadi apa pun?" ucap Luke dengan nada tinggi.
"A-aku tidak begitu yakin," sahut Dede lirih.
"Sial*n. Hei dengar, ya. Aku tidak percaya, kamu mau menyentuh gadis yang hina dan bikin kamu illfeel ini. Dan aku tidak sedang mengandung. Jadi jangan ikut campur lagi urusanku," jelas Luke.
"Luke. Kamu harus tahu. Aku menyukaimu sejak kelas satu SMA. Saat kamu mengajariku fisika untuk remedial. Hanya saja aku terlalu bodoh. Mau dijadikan boneka oleh mereka itu," sesal Dede.
"Terus, kamu pikir aku akan peduli, begitu?" ucap Luke sinis. Ia meninggalkan lelaki yang amat sangat dibencinya itu.
"Luke...Tunggu!"
"Pembicaraan kita sudah selesai, De. Jangan ikuti aku lagi," ucap Luke tanpa menoleh.
"Cowok sial! Kenapa dia baru mengatakannya padaku sekarang?" marah Luke dalam hati.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir. Selamat membaca.