
"Satria..." bisik Luke
"Oh, Luke. Kamu sudah sadar?" ucap Satria diiringi senyuman manis.
Luke menatap sekeliling dengan bingung. Bagaimana ia bisa di sini? Kenapa ada Satria? Ah, apa ia telah mengetahui semuanya? Luke menatap cowok di depannya dengan risau.
"Tenanglah, Luke. Ini berada di rumah sakit. Kamu berada di bawah pengawasan dr. Yunita," jelas Satria. Ia ingin sekali menggenggam tangan wanita itu, tetapi ditahannya. Ia tak mau suasana menjadi sangat canggung.
"Ah, Satria... Aku..." Luke mengatupkan kedua bibirnya. Ia tak sanggup mengatakannya secara langsung.
"Maaf Luke. Tadi pagi aku bersikap seperti itu padamu. Jujur aku sangat terkejut mendengarnya. Tetapi bukan berarti aku mempercayainya begitu saja," ujar Satria, meluruskan masalah tadi pagi.
"Saat aku meninggalkanmu, pikiranku kacau. Aku segera mencari tahu kebenarannya. Tetapi tak ku sangka, kalau itu juga membuatmu sedih dan salah paham padaku," jelas Satria lagi.
"Tidak Satria. Aku lah yang salah. Aku tidak jujur padamu," bisik Luke. "Aku malu sekali, jika kamu mengetahuinya," lanjut wanita itu.
"Aku mengerti. Pasti terlalu berat bagimu untuk mengatakannya. Tetapi kamu juga harus tahu, bahwa sikapku juga bukan main-main. Niatku tulus dan serius. Aku akan menerima apa pun keadaanmu," kata Satria.
"Ah..." Luke menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak bisa menahan air mata yang terus mendesak untuk mengalir keluar.
"Tentu aku tak akan memaksamu, Luke. Aku juga tak meminta jawaban saat ini. Kamu ingin menikah atau tidak, itu tetap keputusanmu. Yang penting adalah kebahagiaan dirimu. Tak ada seorang pun yang bisa mengintervensinya," ucap Satria lembut.
"Tapi... Aku..."
"Jangan memandang rendah pada dirimu sendiri. Ingatlah, setiap orang itu cantik dengan definisi yang berbeda-beda. Kamu sempurna untukku," Satria memotong ucapan Luke.
"Jangan terus begini padaku. Kalau kamu begini, bisa-bisa seluruh pertahananku akan runtuh," ucap Luke disela isak tangisnya.
__ADS_1
Baru kali ini ia menemukan laki-laki yang mampu menyejukkan dan menenangkan hatinya, selain ayahnya.
"Aku mengerti, bahwa kamu butuh waktu yang sangat panjang untuk mengobati luka yang terlanjur dalam itu. Jadi, janganlah kamu pikirkan orang lain. Untuk sekali ini saja, jadilah orang yang egois," kata Satria.
Luke tak menyahut. Isak tangisnya saling bersahutan dengan napasnya yang tidak teratur. Ini bukanlah trauma, melainkan rasa haru yang memenuhi dadanya. Benarkah ini adalah jawaban doa yang selalu diucapkannya itu?
*****
Satu jam sebelum Luke pingsan...
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumussalam, Nak. Ibu dengar kamu sedang di Austria?"
"Sudah pulang kok, Bu. Hmm... Bagaimana kabar Luke?" tanya Satria.
"Heheh... itu..."
"Dasar anak nakal. Padahal katanya kangen padamu. Tetapi kenapa gengsi, sih? Keadaan Luke kurang baik, Nak. Hmm... bagaimana, ya?" ucap ibu ragu.
"Begini, Bu. Sebenarnya aku tak sengaja melihat nama Luke data pasien salah seorang rekanku. Tetapi, aku tidak mengetahuinya dengan jelas. Ibu tahu, kan? Ada kode etik yang membatasi kami," kata Satria.
"Oh begitu. Sebenarnya, ini lebih baik diceritakan langsung oleh Luke. Tetapi ibu juga tidak bisa menyimpannya darimu. Sebelum kamu mengambil keputusan yang salah lalu kecewa," kata ibu.
Jantung Satria berdetak kencang mendengarnya. Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Luke selama ia pergi?
"Nak, Luke baru saja operasi rahim. Ia menderita fibroid rahim. Lebih tepatnya fibroid submukosa. Hal itu cukup membuatnya stress dan rendah diri," kata ibu.
__ADS_1
"Ah, ternyata Luke baru saja melalui hal yang sangat berat seorang diri. Lalu bagaimana dengan departemen kejiwaan? Apakah ada hubungannya dengan trauma yang dialaminya dahulu?" tanya Satria.
"Oh, kamu mengetahui traumanya?" ucap ibu terkejut.
"Iya... secara gak sengaja..." jawab Satria.
"Menurut dokter, Luke mengalami Rape Trauma Syndrome sejak lama. Semakin lama semakin parah, dan berujung pada Hypoactive sexual desire disorder. Di saat yang sama, ia juga menderita agoraphobia. Sehingga ia butuh perawatan intensif. " ucap ibu.
Rape Trauma Syndrome: Sindrom trauma perkosaan.
Hypoactive sexual desire disorder: kondisi medis yang menandakan hasrat seksual rendah.
agoraphobia: fobia keramaian, seperti pesta, taman bermain, mall, dll.
"Duh... Anakku yang malang... ia bahkan selalu mengalami insomnia, pingsan, mengalami disorientasi, gemetar, mual dan muntah," isak ibu.
"Bu, semua yang dialami Luke memang sangat berat dan mengguncang mentalnya. Tetapi, semua itu bukan salahnya. Tidak ada alasan untuk menjauhinya," jelas Satria.
"Tetapi, Nak. Kamu lelaki yang sehat dan gagah. Orang tuamu pasti lebih senang kamu memiliki istri yang sehat lahir dan batin," ucap ibu.
"Tidak, Bu. Orang tuaku akan lebih senang, jika aku benar-benar memilih wanita yang sesuai dengan hatiku. Aku sangat mengenal mereka," jawab Sarria tegas.
"Jika memang demikian, ibu sangat berterima kasih, Nak. Tetapi semua keputusan tetap berada di tangan Lukella," jawab ibu terharu.
"Tentu saja, Bu. Aku akan sabar menunggu, sampai Luke membuka hatinya," ucap Satria penuh tekad.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...