
"Jadi pesta ulang tahun mewah yang kamu buat itu hanya untuk menarikku masuk dalam taruhanmu?" tanya Dede di tengah cerita Ina.
Ina tidak menjawabnya. Bibirnya terkatup rapat. Meski hatinya ingin berkata jujur, tetapi pikirannya berkata lain. Ia sangat takut apa yang akan dilakukan Dede nantinya.
"Kamu tidak mau menjawabnya? Aku sudah tahu, selama beberapa minggu ini kamu tidak pulang ke rumah. Kamu pasti takut orang tuamu akan bertanya, kan? Jika kamu tidak berkata jujur, gimana jadinya jika video itu ditonton oleh kedua orang tuamu?" ancam Dede. Dadanya sudah sesak aekali menahan amarah.
Wanita berbalut dress mini itu akhirnya mengangguk pelan. Kepalanya tetap tertunduk ke bawah. Ia sangat takut menatap suaminya saat ini. Tetapi ia lebih takut jika ayah dan ibunya mengetahui perilaku buruknya.
"Tetapi mengapa ayahmu tidak mengatakan apa pun ketika aku dikenalkan padanya? Saat itu kan ada Teguh juga," tanya Dede.
"Ayah dan ibu tak pernah tahu, kalau aku berpacaran dengan Teguh. Semua kulakukan diam-diam."
"Sudah kuduga," sahut Dede. Ia menjeda ucapannya sejenak. Bibirnya menyeruput es cappucino yang dipesannya tadi.
"Aku memang sedikit merasa, kalau kamu mengundangku untuk menarik perhatianku padamu. Padahal kita sebelumnya tidak pernah bicara sama sekali. Tidak kusangka ada rahasia yang lebih besar dari pada ini. Lalu semua yang kamu lakukan hingga saat ini, apakah semua itu juga hanya taruhan?" bisik Dede sedih.
Ina menggeleng. "Setelah kamu menolakku secara tidak langsung di pesta itu, perlahan teman-temanku mulai meninggalkanku. Aku pun tak pernah lagi hang out. Kehidupan remajaku membosankan. Lalu rasa egoisku untuk mendapatkanmu semakin tinggi," ungkap Ina. Ia menghentikan ceritanya sejenak.
"Aku mengikutimu dalam ekskul teater, jadi relawan panti asuhan yang bahkan bukan minatku sama sekali. Semua itu hanya untuk mendapatkan dirimu. Tetapi aku tidak mengerti. Setelah semua yang kulakukan, kamu tidak juga melirikku," bisik Ina. Ia terdengar marah dan putus asa.
__ADS_1
"Tetapi aku kan selalu melakukan apa yang kamu inginkan," bantah Dede.
"Iya. Kamu memang melakukan semuanya. Tampil di teater besar, mengisi pemain drum di band indie kesukaanku, menghadiri pesta-pesta yang aku adakan, bahkan mengantar jemputku dari tempat kursus kecantikan," ucap Ina. Ia mengambil selembar tisu dan mengelap air matanya di pipi.
"Tetapi kamu seperti robot yang melakukan semua keinginanku tanpa protes sedikit pun. Di saat yang sama, hatimu menjaga jarak padaku, bahkan selalu menolak untuk mengumunkan jika kita berpacaran sejak teater sekolah saat itu. Seperti ada hati seseorang yang ingin kamu jaga. Aku bahkan susah payah untuk meminta bantuan teman-teman dekatmu," lanjut Ina.
Dede termenung mendengar ucapan Ina. Ternyata wanita itu menyadari semuanya. Perasaan Dede berkecamuk. Ia sangat ingin marah. Tetapi di sisi lain, ia juga penasaran dengan cerita Ina sampai akhir. Bantuan apa yang dilakukan oleh teman-temannya?
"Tetapi kenapa kamu tidak berhenti melakukannya? Apakah menang taruhan itu adalah segalanya? Bantuan seperti apa yang mereka lakukan?" ucap Dede sambil mengeretakkan gigi. Jika bukan di tempat ramai, rasanya ia sudah memaki wanita di depannya sejak tadi.
"Rasa ingin menang taruhan, lama-lama berubah menjadi obsesi. Aku mengetahui hampir semua yang kamu sukai dan tidak kamu sukai, termasuk martabak itu. Aku melalukannya dengan tulus, karena aku mulai menyukaimu," ucap Ina setengah berbisik. Ia meneguk es teh yang baru saja di pesannya lagi.
"Menjauhkan semua wanita dariku? Apa itu sebabnya teman-teman mereka semua membully Luke, seakan-akan aku yang membuatnya?" pikir Dede geram.
"Ku mohon... Percayalah padaku," pinta Ina lirih.
"Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu sudah menghancurkannya terlebih dahulu?"
"I... itu...," Ina tidak bisa menjawabnya. Apa yang dikatakan Dede memang benar.
__ADS_1
Ina menahan tubuhnya yang semakin gemetar. Badannya terasa lemas dan tak berdaya. Ia menahan takut sejak tadi. Ditambah lagi, ia belum ada makan sejak malam tadi.
"Seperti yang aku katakan tadi. Kupikir, dengan kita berbicara saling terbuka, ada harapan untuk memperbaiki hubungan seperti dahulu lagi. Kita bisa saling intropeksi diri, dan aku akan berusaha memaafkan apa yang telah kamu lakukan," ucap Dede semakin kesal.
"Tetapi setelah semua yang aku dengarkan barusan, sepertinya aku akan mengubah kembali keputusanku. Aku mungkin bisa saja pura-pura melupakan semua yang telah terjadi. Tetapi, bagaimana dengan orang tuaku dan orang tuamu? Kamu telah membohongi orang tuamu sejak lama," kata Dede mencurahkan segala isi hatinya.
"Ma-maafkan aku," ucap Ina ditengah derai air matanya.
"Teguh selalu curhat, jika ia tidak pernah puas dengan permainan istrinya, terutama setelah mereka punya anak. Dan aku penasaran, seperti apa miliknya, dan apakah aku bisa memuaskannya?" tangis Ina. Ia mengelap hidungnya yang penuh lendir dengan tisu.
"Tetapi setelah itu, aku merasa bersalah dan menyesal. Namun ia terus datang padaku, dan mengancam akan menyebarkan masa lalu kami serta soal taruhan itu," lanjut Ina.
"Tidak ada gunanya kamu jelaskan sekarang. Aku sudah terlanjur sakit hati. Sekarang, kita tinggal terpisah saja dahulu. Aku akan mencarikanmu tempat kos, lalu mengirim uang untukmu secukupnya. Lakukanlah sesukamu di sana. Katakan kapan saja jika kamu ingin bercerai," ucap Dede dengan berat hati.
"Tunggu. Jangan tinggalkan aku," tangis Ina kian meledak. Beberapa pengunjung kafe melihat ke arah mereka.
"Aku janji, aku janji akan memperbaiki semuanya," pinta Ina. Ia meraih tangan Dede dan menggenggamnya.
"Jangan seperti ini. Kita lagi berada di tempat umum. Keputusanku tidak berubah. Jika kamu tetap memaksa, maka aku pun akan kembali memasukkan tuntutanku ke pengadilan," ucap Dede tegas. Ia lalu menepis tangan Ina dan meninggalkannya dalam keadaan menangis.
__ADS_1
(Bersambung)