Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 20 - Pesta?


__ADS_3

"Ooohh... Luke... Masih hidupkah?"


Sebuah pesan masuk dari Satria membuyarkan semua kenangan kelam Luke.


^^^"Maaf. 🙏... Aku baru sempat baca pesannya," jawab Luke.^^^


"Its Ok. Jadi gimana tawaran aku tadi? Mau nonton teater gak? Aku gak paksa sih jika kamu keberatan," balas Satria.


^^^"Duh, maaf ya. Aku kurang suka nonton teater. Terima kasih ajakannya," tulis Luke.^^^


"Huff... Semoga dia tidak tersinggung. Aku benar-benar tidak bisa menonton teater, terutama setelah masalah itu," gumam Luke.


Ia memutuskan untuk menolak ajakan Satria. Trauma di hatinya beberapa belas tahun silam, masih sangat membekas di hatinya. Ia tak mau siapa pun mengetahuinya, termasuk Satria yang notabene utusan dari ibundanya.


Beberapa menit berlalu, belum juga ada balasan dari Satria. Luke mulai gelisah, apa dia benar-benar marah?


"Ck. Biar sajalah. Aku juga belum ada niat serius dengannya. Mendingan ngurus nih perut, yang udah mulai demo cacingnya," gumam Luke.


Luke membongkar isi kulkasnya. Ia mengambil sebuah dada ayam, sosis dan bunga kol.


"Bikin ayam teriyaki dicampur sosis dan bunga kol kayaknya enak, nih," ujar Luke.


Ctak.. Ctak...


"Lho, kompornya kok gak hidup? Argh... Habis gas rupanya," ujar Luke kesal.


"Beli sate padang di simpang depan sajalah," batin Luke. Perutnya semakin tidak bisa diajak kompromi. Bahan-bahan yang belum sempat diolah, disimpannya lagi ke dalam kulkas.


Luke bergegas memakai jaketnya dan mengambil sandal jepit. Ia hendak menuju pedagang sate padang yang biasa mangkal di simpang tak jauh dari kontrakannya.


Ah, rupanya Dede lagi duduk santai di teras rumahnya. Luke segera memalingkan wajah. Ia tidak siap melihat wajah ganteng tetangganya, setelah mimpi laknat sore tadi.


"Bisa-bisanya aku bermimpi dengannya sore tadi." Luke kembali bergumam sendiri.


Tak sampai sepuluh menit, Luke telah kembali ke kontrakannya sambil menenteng sebungkus sate yang mampu membuat air liur menetes.


"Luke," panggil Dede. Ia masih duduk di teras rumahnya seorang diri.


Luke tak menoleh, juga tak menyahut. Saat ini ia lebih mementingkan nasib ternaknya di perut.


"Luke, ada yang ingin aku sampaikan sebentar," ucap Dede lagi.

__ADS_1


"Maaf, aku mau makan. Aku juga lagi sibuk, banyak kerjaan," tolak Luke. Ia tidak menoleh sedikit pun. Ia lalu masuk dan mengunci pintu rumah.


"Hahh... Dia pasti marah banget padaku gara-gara tadi pagi.. Padahal aku mau minta maaf doang..." keluh Dede.


Sementara itu Luke di dinding sebelah...


"Hah... Bisa gila aku, teringat mimpi itu terus. Kenapa jadi kayak wanita mesum gini, sih?" ujar Luke.


"Wahai setan-setan perawan yang ada di sini, pergilah. Aku lagi tak berminat berhubungan dengan lelaki saat ini," ucap Luke seorang diri, bagaikan orang stress.


Sungguh kesalahpahaman yang hakiki saudara-saudara. -_-"


*****


"Cieee... Bu Ella, ditungguin pacarnya tuh," goda para mahasiswi yang berpapasan di dengan Luke di lorong kelas.


"Pacar?" gumam Luke bingung.


"Iya lho, Bu. Ganteng lagi. Duh, kayak CEO di drama-drama Korea gitu," sambung yang lain lagi.


"Kasihan, Bu. Udah lama lho ditungguin," sahut yang lain.


"Siapa, sih?" ucap Luke semakin penasaran. Rasanya ia tidak ada janji dengan siapa pun pagi ini.


"Jangan-jangan apa?"


"Astaga," ucap Luke terkejut. Seorang pria tiba-tiba muncul dari belakang. "Satria," ucapnya lagi.


Pria muda itu tersenyum manis. Ia menggunakan setelan slim fit jas berwarna hitam, dipadukan dengan kemeja putih dan dasi berwarna dark blue. Sebagai pemanis, ia menggunakan jam tangan Rolex Cosmograph Daytona Stainless-steel di lengan kirinya.


"Ah, pantas saja para mahasiswa menyebutnya mirip CEO di drama Korea, penampilannya seperti ini," gumam Luke dalam hati.


"Selamat siang, Bu Luke. Boleh saya diskusi dengan Ibu sebentar?" tanya Satria sambil tersenyum.


"Selamat siang juga, Pak Satria. Boleh. Yuk, ke ruanganku saja," ucap Luke.


Tiba-tiba ia teringat pesannya tadi malam. "Apa ia ke sini mau membahas masalah tadi malam?" Pikir Luke.


"Ada apa? Maaf banyak dokumen mahasiswa gini," kata Luke sesampainya di ruangan dosen.


"Aku hanya ingin memberikanmu ini," Satria memberikan sebuah kotak hitam berukuran sekitar 15 x 15 cm di dalam kantong kertas berwarna coklat.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Luke bingung.


"Buka saja," jawab Satria sambil tersenyum.


"Bento?" gumam Luke. Di dalam kotak itu berisi onigiri, tempura sayur, ayam teriyaki, sepotong grilled salmon, salad, dan beberapa buah anggur dan irisan lemon.


(Bento merupakan makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. biasanya dikemas untuk porsi satu orang. )


"Aku tidak tahu apa kesukaanmu, jadi ku bawakan ini saja untuk makan siangmu. Semoga kamu suka," ujar Satria.


"Apa dia memang dukun? Bagaimana ia tahu aku kepingin makan ayam teriyaki sejak semalam? Bagaimana pula ia tahu kalau aku belum membeli makan siang? Jangan-jangan dia juga tahu kalau gas di rumahku habis," ucap Luke dalam hati. Ia termenung cukup lama.


"Kamu kurang suka, ya? Katakan saja apa yang kamu suka, akan aku belikan," ucap Satria, melihat respon Luke yang tak seperti harapannya.


"Oh, suka kok. Aku suka makanan Jepang. Terima kasih, ya," jawab Luke segera. Ternyata Satria memang bukan dukun. Buktinya, ia tak bisa menebak isi pikiran Luke saat ini.


"Syukurlah jika kamu suka," sahut Satria lega.


"Tapi mengapa tiba-tiba memberikanku makan siang?" tanya Luke penasaran.


"Aku minta maaf soal tadi malam. Mengajakmu ke teater, tanpa tahu apa yang kamu rasakan," jawab Satria.


"Oh, ku pikir kamu marah padaku. Soalnya pesanku tak kunjung di balas," ucap Luke lega. Ia tak perlu memikirkan alasan, mengapa tak mau pergi menonton teater.


"Aku ketiduran," jawab Satria. "Tak mungkin kan aku katakan, lupa membalas pesannya karena asyik menonton Detective Canon hingga tengah malam," ucap Satria dalam hati.


"Oh, syukurlah," jawab Luke. "Eh, tapi 'Mengajakmu ke teater, tanpa tahu apa yang kamu rasakan', maksudnya apa?" pikir Luke.


"Malam ini kamu ada jadwal? Apa kamu mau menemaniku ke pesta pernikahan rekan kerjaku?" ajak Satria.


"Pe-pesta?" Dada Luke mulai sesak mendengar kata-kata pesta. Ia mengepalkan kedua tangannya agar cowok di depannya tak melihatnya gemetaran.


"Jika kamu tak bisa pergi, tak apa," ujar Satria kemudian. Ia menyadari perubahan sikap Luke sejak mengajaknya ke pesta.


"O-oh. Iya. A-aku tak bisa per-pergi. Maaf," ucap Luke. Ia terus berusaha mengendalikan tubuhnya. Kepalanya terasa semakin berat, matanya mulai berkunang-kunang.


"Tak masalah. Lain kali aku akan bertanya lebih dulu padamu, ke mana kamu ingin pergi," kata Satria merasa bersalah. Ia segera memberikan Luke segelas air mineral.


"Sepertinya aku baru saja salah mengatakan sesuatu," gumam Satria.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote nya ya.


__ADS_2