Suami Tetangga

Suami Tetangga
Episode 23 - Gerebek (2)


__ADS_3

Dede melangkahkan kaki dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa pun di sana, kecuali Ina dan dirinya.


Sementara Ina menahan napas. Hatinya berdebar-debar. Akankah ia selamat malam ini?


"Di mana dia?" tanya Dede.


"Apa maksud Abang?" Ina pura-pura tidak mengerti.


"Aku tahu, kamu dan dia baru saja bermain, kan? Cepat berdiri di hadapanku saat ini juga, sebelum aku panggil warga lain untuk mengadili kalian," ujar Dede menahan amarah.


"Aku dan dia? Siapa?" Ina masih pura-pura tidak terjadi sesuatu.


"Bersembunyi di langit-langit rumah, dengan tumpukan debu dan anak tikus bukanlah ide yang baik. Sampai berapa lama ia bisa bertahan di atas sana?" tanya Dede dengan suara tinggi.


"A-pa?" suara Ina terdengar gemetar.


Dari mana suaminya tahu, kalau ia baru saja bermain panas dengan pria lain? Selama ini tak pernah ketahuan. Bahkan tadi pagi sebelum berangkat kerja, suaminya masih bersikap seperti biasa.


"Ini pasti ulah Kak Luke. Ia pasti mengadu pada suamiku. Dasar wanita ular," rutuk Ina dalam hati.


Dede mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia lalu mengetik sesuatu di layar ponselnya.


"Apa yang ia lakukan?" pikir Ina ketakutan.


"Abang pasti salah paham. Tak ada sesuatu apa pun yang terjadi. Ina ambilkan baju ganti, ya," Ina mencoba menenangkan suasana. Ina bergelayut manja di lengan Dede.


"Sudahlah, tidak usah berkilah lagi. Aku sudah tahu kebusukanmu. Tunggu saja, sebentar lagi warga sekitar akan menangkap pria selingkuhanmu itu," ucap Dede menepis lengan Ina. Ia merasa sangat jijik dengan wanita di hadapannya saat ini.


Srak... srak... terdengar gesekan halus dari langit-langit rumah. Ina menahan napas. Semoga saja ia dapat kabur dari sisi lain langit-langit kontrakan ini.


"Ini bukan seperti yang Abang pikirkan." Ina terus berusaha meyakinkan suaminya. "Apa abang tak percaya padaku?"


"Ya, sekarang aku tak percaya lagi padamu. Petugas keamanan di sini sering melihat seorang lelaki masuk ke rumah ini. Tetapi beberapa jam kemudian, ia keluar. Tak lama setelah itu, mereka pun melihatku pulang," ucap Dede dengan suara tinggi.

__ADS_1


"Petugas keamanan mana? Pasti ini hanya ulah tetangga sebelah yang tak suka melihat pernikahan kita, kan? Ina tahu, dia dulu pernah suka sama Abang di SMA," bantah Ina. Ia sangat yakin tidak ada seorang pun yang melihat pria itu datang ke rumahnya.


"Kamu menuduh orang lain untuk menutupi kebusukanmu?" tanya Dede.


"Aku tak berbuat apa pun. Wanita ular itu yang memulai semuanya. Mengadu domba kita seperti ini," seru Ina tak terima.


"Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan bungkus k*nd*m di bawah tempat tidur itu? Aku tak pernah membeli dan menggunakannya," tunjuk Dede. "Dan hingga sekarang aku masih bisa mencium cairan tubuhmu seperti saat kita sedang bermain," lanjutnya.


Bola mata Ina membulat. Kakinya lemas. Ia tak menyangka masih ada jejak permainannya di kamar itu.


"Meskipun mereka tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi pria mana yang berjalan mengendap-ngendap ke rumauhnya sendiri, lalu kembali lagi dengan sepeda motor?" lanjut Dede.


Grusak... Gubrak... Gubrak...


"Tangkap dia, itu pelakunya!" teriak salah seorang pria di luar sana.


"Dia lari ke arah perumahan sebelah. Kejar... kejar... jangan sampai lepas," seru yang lainnya lagi.


Grusak... Grusak... Drak... Drak... Terdengar suara dari atap-atap rumah yang terbuat dari seng.


Ina duduk bersimpuh di lantai. Ia menahan napasnya. Bagaimana ini? Bagaimana nasib dirinya selanjutnya? Ia benar-benar tak ingin melepaskan Dede. Lelaki sempurna yang sudah diincarnya sejak SMA dulu.


"Dede harus tetap menjadi milikku," gumam Ina dalam hati.


"Permisi.... De, sudah tertangkap. Sekarang lagi di bawa warga ke rumah Pak RW," ucap Lukman di depan pintu rumah.


"Benarkah? Aku segera ke sana," ucap Dede. Namun sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya. "Bagaimana dengan Ina? Siapa yang menjaganya di sini?" pikir Dede.


"Biar aku dan para ibu-ibu di sini yang menjaga Ina," ucap Lukman dan Bang Tigor bersamaan. Seakan mengerti kekhawatiran tetangganya.


"Baiklah, terima kasih," ucap Dede. Ia bergegas ke rumah Pak RW dengan sepeda motornya.


"Ini pelakunya, apakah kamu mengenalinya?" tanya beberapa warga ketika Dede sampai. Mereka mengikat seorang pria dengan tali tambang besar.

__ADS_1


Lelaki itu berkulit putih, rambut hitam dan lurus, mata agak sipit dan tinggi sekitar 180 cm. Kondisinya kini agak babak belur. Beberapa bagian di wajah lengannya membiru, sementara kakinya berdarah. Pakaiannya tak bersih lagi, pasti terkena kotoran ketika ia bersembunyi di langit-langit rumah. Mungkin terluka saat mencoba kabur tadi. Dede sangat mengenali pria itu.


"Teguh?" gumam Dede tak percaya. Inikah yang berani mencicipi tubuh istrinya?


"Kamu benar-benar mengenalnya?" tanya Pak RW.


"Dia teman SMA saya, bahkan teman akrab saya hingga kuliah," jawab Dede.


"De, ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Ina tak melakukan apa-apa," kata Teguh membela diri.


"Diam, kamu!" teriak Dede muak.


"De, dengarkan aku dulu. Ina memintaku datang untuk mengantarkan kosmetik yang dipesannya. Lalu kamu datang tiba-tiba, aku..."


"Mengantar kosmetik? Tengah malam begini? Apa itu masuk akal?" potong Dede.


"I..itu... Aku baru saja sampai dari lu-"


"Mari kita lihat rekaman video CCTV di ruang tamuku, ya. Apa benar kamu hanya bertamu dan mengantar kosmetik, atau lebih dari itu," jawab Dede tegas.


CCTV? Wajah Teguh langsung pucat. Ia tak menyangka jika Dede memasang CCTV di rumahnya.


"Bagaimana ini? Ina tadi menyerangku ketika kami masih di ruang tamu," batin Teguh. Hatinya semakin tidak tenang.


Wajah pria bernama lengkap Teguh Fai Nuraga itu mendadak pucat. Ia tak mampu mengucapkan apa pun lagi. Saat ini ia hanya berharap agar warga tak menghabisinya malam ini. Ia masih memiliki anak dan istri yang harus dinafkahinya.


Bagaimana masa depannya nanti jika kasus ini dibawa ke pengadilan oleh Dede?


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan subscribe, ya.


Author libur dulu ya tiga hari ke depan. Pengen liburan sambil cari inspirasi. Sampai jumpa minggu depan... 😘

__ADS_1


__ADS_2