
"Sigh... Berat banget kepalaku. Semua yang terjadi hari ini benar-benar di luar dugaan." Dede mengendarai sepeda motornya menuju kontrakan.
Niatnya untuk kembalis ke kantor setelah bertemu dengan Ina ia urungkan. Ia pun meminta izin kepada atasannya dengan alasan tidak enak badan.
Walau pun sudah mencoba beberapa kali, namun setiap pengakuan Ina selalu terlintas di kepalanya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka, dirinya ternyata hanyalah bulan-bulanan dari istri dan teman-temannya.
"Apakah ini hukumanku karena memperlakukan Luke seperti itu?" pikir Dede. Kepalanya terus saja memikirkan berbagai hal.
"Tidak. Ini bahkan terjadi sebelum aku meminta Luke untuk menjauhiku. Dan aku tidak sendiri. Teman-teman juga melakukan hal yang sama padanya, bahkan membullynya." Dede berusaha menyangkal semua itu.
Gedubrak...! Tiiiittt....!
"Duh, hati-hati dong, Mas! Dagangan saya hampir tumpah semua nih." Dede hampir saja menabrak seorang pedagang siomay keliling.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Apa ada yang rusak atau terluka?" tanya Dede. Ia segera menepikan sepeda motornya.
"Tidak ada. Cuma kamu hampir saja bikin nama saya berubah jadi Almarhum," sahut pedagang siomay itu sambil memperbaiki posisi spionnya.
"Saya benar-benar minta maaf, Pak."
Beberapa pengendara lain mulai berhenti dan berkumpul.
"Sudah... bubar, bubar... tidak ada apa-apa di sini," kata pedagang itu.
*****
Beberapa hari kemudian.
Klontang! Klontang! Klontang!
Luke mengaduk rebusan air jahe merah dengan cepat. Ia tidak peduli lagi apakah ada orang yang mendengar dan memprotes cara masaknya saat ini. Yang penting minuman tradisional itu bisa segera diminum.
"Errrgghhh... Duh, katanya minum air jahe bisa menghilangkan masuk angin. Tetapi sudah dari kemarin nggak reda juga," ucap Luke seorang diri.
"Hmmm... Siapa ini yang pagi-pagi masak ikan? Baunya bikin mu.. Hueeekkk."
Luke berlari ke kamar mandi yang hanya berada empat langkah dari tempatnya sekarang. Tetapi terasa seperti empat puluh meter baginya saat ini.
"Dia memuntahkan seluruh isi perutnya di sana, yang hanya tinggal cairan saja. Mual dan muntah ini bukanlah baru terjadi kali ini saja. Sejak dua hari yang lalu, ia selalu merasakan hal yang sama. Pagi ini saja, ia telah empat kali bolak balik ke kamar mandi.
Napas Luke terengah-engah. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya.
__ADS_1
"Aku harus kuat," gumamnya pada diri sendiri.
Di sebalik dinding kamar mandi Luke, seorang pria yang lagi memasak ikan goreng, mendengar semua aktivitas Luke.
"Dia kenapa sih pagi ini? Tadi sudah ribut seperti pedangang panci keliling, sekarang malah muntah hanya gara-gara bau ikan goreng. Memangnya dia wanita hamil?" gerutu Dede.
Setelah memasak, Dede segera sarapan dan menyiapkan bekal. Sejak ia memilih hidup terpisah dengan Ina, ia memang selalu membawa bekal ke kantor, untuk menghemat waktu dan biaya bahan bakar kendaraan.
Seperti biasanya, pahi ini para pakar gosip sudah berkumpul di bawah jemuran untuk berbagi informasi terhangat. Kira-kira ada gosip apa ya pagi ini?
"Wajah Luke pucat banget, ya. Kayak orang gak makan seminggu aja," ujar Nurul memulai gosip pagi ini.
"Tyas, rumah kamu kan tepat di sebelah rumah Luke. Pasti dengar dong, apa yang terjadi sama dia beberapa hari ini," tambah Kak Nia.
"Iya, sih. Aku dengar. Dari kemarin dia muntah terus," sahut Kak Tyas.
"Nah, kan? Aku juga sebenarnya dengar dia muntah-muntah. Apa dia hamil, ya?" kata Nurul.
"Ya bisa aja kan dia masuk angin, atau ada masalah dengan lambung," bantah Kak Tyas.
"Benar, tuh. Gak semua perempuan yang muntah itu artinya hamil. Banyak ciri lain dari orang hamil. Kamu sih belum pernah merasakan, tapi sok tahu," sambung Kak Nia.
Selama lima tahun pernikahannya, Nurul memang belum diberi kesempatan untuk memiliki buah hati, hingga kini ia bercerai. Tetapi hal itu lantas tidak membuat Nurul sedih. Menurutnya, memiliki anak itu sangat repot dan menghambat aktivitas pribadi.
Tetapi kemudian Dede mengingat semua kejadian tadi pagi, dan menghitung tanggal di kalender.
"Tidak mungkin seperti itu, kan? Waktunya memang pas satu setengah bulan, sejak aku mengantar Luke yang sedang sakit," ucap Dede cemas.
*****
"Akhirnya aku bisa sampai juga ke kampus, walau pun agak sempoyongan," ujar Luke lega.
Sambil mengunyah obat maag, ia memperhatikan kelas dari depan. Para mahasiswa diberikan tugas mandiri. Selain untuk tambahan nilai, ia juga bisa istirahat sementara waktu.
Tling! Sebuah pesan masuk ke ponsel Luke.
"Hai, apa kabar? Kamu sibuk hari ini?" tulis Satria.
^^^"Tidak terlalu. Aku hanya ada mengajar satu mata kuliah lagi jam sepuluh nanti," balas Luke.^^^
"Kalau begitu, mau makan siang denganku? Kita pilih tempat yang sering kamu kunjungi saja, agar tidak lelah," ajak Satria.
__ADS_1
Luke berpikir sejenak, "Dalam rangka apa dia mengajakku makan siang bersama? Tetapi kalau aku menolaknya, dia pasti akan sedih. Beberapa waktu lalu, dia kan telah membantuku. Aku juga sudah terlalu sering menolak ajakannya," gumam Luke.
"Baiklah. Bagaimana kalau di rumah makan Padang dekat kampusku saja?" tulis Luke.
"Boleh juga. Aku akan meluncur ke kampusmu sekitar jam dua belas 😉" balas Satria segera.
Pukul 12.05, belum ada kabar juga dari Satria. Luke menunggu di dalam ruangannya, sambil menuntaskan draft novelnya untuk upload nanti malam.
Sementara itu di rumah sakit Medika Nusantara...
"Satria, bisakah kamu tangani seorang pasien lagi sebelum makan siang? Ia haru mengejar pesawat untuk kembali ke kotanya jam dua nanti," kata dokter Iswandi, seniornya.
"Baik, dokter," sahut Satria tak kuasa menolak permintaan dokter Iswandi.
"Ah, Luke pasti telah menungguku," gumam Satria. Ia segera mengirim pesan pada Luke.
"Maaf. Aku harus menangani seorang pasien lagi. Setelah itu aku langsung ke sana."
^^^"Ok. Tidak apa-apa :)" balas Luke.^^^
"Sebaiknya aku ke rumah sakit universitas saja, kepala ku semakin terasa berat. Perutku juga sering keram. Apa karena bulan ini aku belum kedatangan tamu bulanan, ya?" bisik Luke dalam hati.
Tanpa menunggu lama, Luke segera menuju ke rumah sakit universitas untuk memeriksakan diri.
Tepat setelah hasil pemeriksaan Luke selesai, Satria pun menelepon.
" Halo Luke. Apa kamu masih di kampus?"
"Ya, aku lagi di rumah sakit universitas," jawab Luke.
"Kamu lagi di rumah sakit? Kenapa?" tanya Satria.
"Aku hanya memeriksakan kesehatan, dan sepertinya aku-"
"Luke. Aku mohon maaf. Sepertinya siang ini kita tidak jadi makan bersama. Aku ada pertemuan penting dengan pimpinan rumah sakit," ucap Satria terburu-buru.
"Oh, iya. Baiklah. Tidak usah meminta maaf. Tentu hal itu jauh lebih penting," ucap Luke pura-pura ceria.
"Lain kali akan aku traktir, ditempat favoritmu," ujar Satria sebelum menutup teleponnya.
"Huh... Hampir saja. Tahan Luke. Apa kata Satria nanti bila kamu jujur. Ia belum tentu bisa menerimanya, dan berteman baik seperti sekarang," ucap Luke sedih.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca.