
"Hah, kamu kan?" Dede terkejut.
"Ya, makanya jangan ganggu gadi ini lagi. Yuk Luke, kita harus segera ke kampus," ucap pria itu.
Luke mengikuti pria itu keluar toko. Mereka lalu kembali ke kampus menggunakan mobil.
"Aneh sekali. Mengapa aku mengikuti pria ini? Padahal aku baru bertemu dengannya dua kali. Aku tidak kena hipnotis, kan?" gumam Luke.
"Kamu mikirin apa? Jangan khawatir, aku gak bakal minta ongkos padamu, kok. Gratis," ucap pria itu salah paham.
"Oh, bukan gitu? Kamu tahu namaku dari mana?" tanya Luke.
"Aku mendengar pria itu menyebut namamu."
"Sejak kapan kamu ada di sana? Lalu darimana kamu tahu aku akan ke kampus?" tanya Luke lagi.
"Sejak awal, sebelum kalian bertengkar. Aku ingat saat pertama kali mengantarmu dulu, saat kamu akan wawancara seleksi dosen. Pria itu juga yang menatapmu pergi ketika aku menjemputmu di kos, kan?"
"Ah, kamu masih ingat rupanya. Padahal pelangganmu banyak sekali, kan?"
"Aku tidak akan melupakan wanita yang hampir lupa membayar ongkos taksi sepertimu," jawab pria itu lagi sambil tertawa.
"Duh, dasar. Kirain kamu benar-benar baik. Biasanya pria mengingat wanita karena sesuatu hal yang membuatnya kagum. Cantik, ramah, misalnya," ujar Luke.
"Itu sih biasa. Wanita yang pelupa baru luar biasa. Hahahaha."
"Hmm... Iya deh. Ledek aja aku terus. Tapi kok kamu bisa ada di situ juga tadi? Lagi nunggu pelanggan, kah?"
"Oh, itu... Kita sama. Aku hari ini juga aku harus mengumpulkan paper penelitian dosen. Semalam aku sudah mengeprint nya, tadi tinggal jemput saja," ucapnya.
"Paper penelitian dosen? Kamu dosen juga?" tanya Luke penasaran.
"Iya. Aku dosen kimia. Namaku Hendra Yohanes. Salam kenal."
"Aku Lukella, dosen fisika. Salam kenal juga. Tapi mengapa aku jarang melihatmu di kampus? Dan kamu beneran jadi supir taksi online?"
"Aku lebih sering di kampus pasca sarjana. Aku mengajar di sana. Dan ya... Seperti yang kamu tahu, aku mengambil part time sebagai supir online."
"Wow, hebat," ucap Luke kagum. "Eh, aku turun di sini saja, deh," sambungnya.
"Oke deh. Kapan-kapan kita bertemu lagi, ya. Makan siang bersama," ajak Hendra.
"Bo-boleh saja. Thanks a lot, kamu sudah membantuku tadi," balas Luke.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu. Tapi apa, ya?" pikir Luke saat berjalan di koridor ruang dosen.
"Sudahlah. Nanti ku ingat-ingat lagi. Yang penting sekarang aku selamat dari Dede berkat pria ini," ucap Luke dalam hati.
"Lucia, sudah selesai ngeprint paper saya?"
"Sudah, Bu. Saya letakkan di ruangan ibu. Oh iya, sepeda motor saya ibu parkir di mana, ya? Saya harus pergi ke rektorat mengantar berkas mahasiswa," ujar Lucia.
"Sepeda motor?" Luke mengerutkan kening.
"Astaghfirullah. Lupa, tadi kan saya pinjam motor, ya." Luke menepuk jidat.
"Ini kuncinya. Tetapi sepeda motor kamu tertinggal di tempat fotocopy," ujar Luke.
"Lali gimana caranya ibu bisa kembali ke kampus?" tanya Lucia bingung.
*****
__ADS_1
"Duh, Dede beg*. Kenapa kamu malah marah-marah sama Luke, sih?" gumam Dede sambil menyusun berkas pajak.
"Padahal aku mau berterima kasih dengannya. Tapi kok malah teringat lagi masalah di kos kemarin? Bikin kesal aja."
"Lalu cowok itu, yang menjemput Luke pagi itu rupanya. Ternyata benar teman pria luke, bukan supir online seperti dugaan Ina. Apa mereka satu tempat kerja ya? Duh kenapa aku jadi repot mikirin itu sih?
"De, Dede...?"
"Hoi..! Ngelamun aja."
"Duh, apaan sih Ja, ngagetin aja," ucap Dede pada Jaya, teman sekantornya.
"Itu elu dari tadi di panggil Pak Bos, Dede. Tapi dari tadi melamun aja," ucap Jaya.
Mata Dede membulat, melihat atasannya berdiri di hadapannya sambil berkecak pinggang.
Glek. "Mampus, aku. Gaji bulan ini pasti terancam," pikir Dede.
"Ke mana telinga kamu? Tertinggal di rumah? Atau mau saya kasih bonus tambahan untuk membeli cotton bud?"
"Iya. Maaf, Pak," sahut Dede.
"Kamu tadi ke fotocopy saya suruh apa?" tanya Pak Candra, atasannya.
"Fotokopi lembar berita acara dan laporan keuangan," sahut Dede polos.
"Lalu ini apa yang kamu bawa pulang?" tanya Pak Candra. Tangan kanannya meletakkan setumpuk kertas penuh coretan.
"Kertas ulangan? Kok bisa?" ucap Dede bingung.
"Kok malah tanya balik dengan saya? Kan kamu yang kerja. Sana, tukar lagi. Awas kalau laporan keuangan kita bocor ke luar," perintah Pak Candra.
"Baik, Pak."
"Sialan, lu. Bukannya bantu," gerutu Dede.
"Haishhh, ini pasti gara-gara Luke tadi. Dia memang paling jagoan kalau bikin orang susah," gumam Dede.
"Ah, tapi kenapa segampang itu dia pergi bareng cowok? Dia udah gak trauma sama laki-laki lagi?" Dede kembali memikirkan Luke.
"Dede! Telat satu menit lagi, saya potong gaji kamu lima persen!"
"I-iya, Pak."
*****
"Ada-ada saja kejadian hari ini. Untung paperku diterima, meskipun harus meminta belas kasih para dosen senior," gumam Luke.
Ia merebahkan punggungnya ke kasur empuk. Hari ini ia pulang lebih cepat dari biasanya. Ia hanya mengisi satu mata kuliah. Namun entah kenapa, terasa capek luar biasa.
Drrtt... Ponselnya bergetar.
"Hai, Luke. Apa kabar?"
"Hah, Satria. Tumben mengirimku pesan. Apa dia masih belum menyerah kencan buta denganku?" pikir Luke.
^^^"Apa?" balas Luke singkat.^^^
"Haduh, galak amat Neng. Nonton Teater, yuk. Kamu suka teater nggak?" tulis Satria.
^^^"Hmmm... Lumayan," jawab Luke.^^^
__ADS_1
"Aku tunggu di Hotel Iblis, ya. Ini tiketnya." Satria mengirimkan sebuah foto e-tiket.
"Tenang saja, aku gak akan membawamu ke hotel, kok. Hanya menonton teater saja," tulis Satria lagi.
^^^"Hah, sekarang?" tanya Luke.^^^
"Yo'i," balas Satria lagi.
Dalam sekejap Luke telah sampai ke tempat yang mereka janjikan. Luke memakai gaun selutut, rambut digerai dengan jepit kecil berbentuk bunga mawar untuk poninya, serta wedges berwarna senada dengan bajunya.
"Canggung banget pakai ginian. Tapi kamu harus bisa, Luke. Kan sudah berjanji akan berubah," ucap Luke pada dirinya sendiri.
^^^"Kamu di mana?" Luke mengirim pesan kepada Satria.^^^
"Tunggu sebentar, ya. Aku masih di lantai sebelas bertemu klienku. Kamu tunggu di lobby saja dulu," balas Satria.
"Dia tidak menipuku, kan?" Luke mulai was-was.
"Lapar, nih. Aku belum sempat makan tadi sebelum ke sini. Cari makan dulu ah," gumam Luke. Cacing di perutnya sudah demo sejak tadi.
"Dede? Kenapa kamu ada di sini?" Luke terkejut melihat musuh bebuyutannya ada di situ.
"Aku ingin mengajakmu berkencan," jawabnya.
"Apa? Kencan? Kamu sudah gila ya? Aku tidak salah dengar, kan?" sahut Luke.
"Serius. Aku akan mengajakmu berkencan," katanya lagi. Ia memakai baju kaos putih dan celana jeans. Jelas sekali berbeda dengan penampilannya sejak menikah yang lebih sering pakai kemeja dan celana kain.
"Kamu sudah menikah? Untuk apa mengajakku berkencan? Aku bisa di cap sebagai Ratu Pelakor Sejagad kalau mengikuti keinginanmu," jawab Luke.
"Tapi hubunganku dengan Ina kan sedang diujung tanduk. Aku tidak tahu apakah bisa berbaikan lagi dengannya atau tidak," balasnya.
"Bisa gila aku kalau dekat-dekat denganmu," ucap Luke kembali masuk ke dalam hotel. Di luar sedang hujan lebat. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar membeli makanan.
"Uh, dingin..." ucap Luke. Ia membuka wedgesnya dan melipat kakinya ke atas sofa.
"Hangat," batin luke. Ia mengerjapkan matanya. "Hei, sudah berapa lama aku tertidur," gumamnya.
Astaga. Apa ini? Ia ternyata berada di dalam pelukan Dede.
"Apa selama aku tertidur ia memelukku?" Luke berusaha melepas pelukannya.
"Sstt... Biarkan seperti ini sebentar saja. Kamu sedang kedinginan kan?" bisik Dede.
"Tapi, dia bisa melihat kita nanti."
"Dia? Siapa? Cowok pilihanmu itu? Atau istriku?" tanya Dede.
"Sekarang mereka tidak ada di sini. Tenanglah aku tidak akan berbuat jahat padamu. Kamu dulu ingin merasakan momen seperti ini denganku, kan?" Dede mendekap Luke ke dalam pelukannya.
"Ah, seperti ini ya rasa pelukannya? Hangat dan menenangkan." Luke meletakkan kepalanya di dada pria tersebut.
"Hei, enak ya, dipeluk cowok cakep."
"Eh, Apa?" Luke tersentak kaget.
Seorang pria datang menghampiri mereka. Akan tetapi Dede justru semakin menarik Luke dalam pelukannya.
"Lepaskan," ucap luke malu.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, share dan vote ya.
Sampai jumpa di episode berikutnya. ^_^