
Minggu pagi-pagi sekali Indra bangun dan bersiap untuk jogging. Indra memang cowok yang rajin berolahraga.
"Hallo ponakan Om yang ganteng!" Indra mencubit-cubit gemas pipi keponakan ya g sedang digendong Bu Arif, Mama Indra.
"Sarapan dulu, Ndra! Tuh Mama sudah siapin makanan kesukaanmu." tukas Bu Arif
" Iya, Ma. Aku mau mandi dulu baru sarapan." jawab Indra sambil mengelap keringat dengan handuk yang dikalungkan di lehernya.
"Kamu pulang ke Malang nanti, Ndra?" tanya Bu Arif
"Sepertinya besok pagi-pagi, Ma!" jawab Indra.
"Hari ini aku mau ajak Kayla jalan-jalan, Ma!" imbuh Indra
"Ajaklah dia main-main ke sini! Hari ini Baby Rafa mau pulang. Biar mama nggak kesepian." rayu Bu Arif
"Oke, Ma aku usahain." jawab Indra seraya masuk ke kamarnya.
Hari itu Andri, adik Indra beserta istri dan anaknya harus pulang karena besok mereka harus menjalankan aktivitas kembali. Meskipun rumah mereka sama-sama di Surabaya, Andri memilih tinggal di rumah sendiri agar bisa mandiri menjalani hidup bersama anak dan istrinya.
Hari-hari Bu Arif hanya disibukkan dengan kegiatannya di toserba yang ada di seberang perumahan temoat mereka tinggal. Sementara Mbak Intan tinggal di Malang bersama suami dan dua anaknya.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Indra segera sarapan. Menu masakan yang disajikan mamanya selalu menjadi makanan favorit Indra. Karena jauh dari keluarga membuat Indra jarang makan masakan mamanya.
Indra sudah tampak tampan dengan setelan kaos putih dan celana jeansnya.
Indra menikmati sesuap demi sesuap makanan di meja makan. Kali itu Indra hanya makan sendirian, karena anggota keluarga yang lain sudah sarapan saat Indra mandi tadi.
Pak Arif, papa Indra sedang berada di luar kota untuk menemui kliennya. Pak Arif adalah pengusaha properti yang terbilang sukses.
Selesai sarapan Indra segera berpamitan sama mamanya untuk ke rumah Kayla.
"Ma, aku keluar dulu ya. Nanti kalau waktunya sempet akan aku ajak Kayla ke sini." pamit Indra
Indra melajukan mobilnya dengan santai. Ia sengaja tidak menghubungi Kayla pagi itu karena Indra sudah memberitahu Kayla semalam saat mereka telpon-telponan.
Sampai di rumah Kayla, Indra mendapati mamanya sedang mengobrol dengan Mbak Novi di teras rumah sambil minum teh. Sementara Kak Ryan sedang olahraga di halaman depan rumahnya.
"Udah ke sini lagi aja dia." ucap Ryan sambil memperhatikan mobil Indra yang sedang diparkir oleh si empunya.
"Hussh Ryan, kayak kamu nggak oernah kasmaran aja!" Mama memberi nasihat.
"Eh, Nov kayaknya adikmu belum bangun, ya! Coba gih tolong dikihat di kamarnya." ointa mama kepada Novi
"Iya Ma" Novi bergegas menuju ke kamar Kayla.
Pintu kamar Kayla ternyata tidak dikunci. Benar aja, Kayla masih berada dalam alam mimpinya.
"Dek, dek, Kayla bangun! Udah siang nih;" Nlvi menggoyang-goyangkan tubuh Kayla agar dia bangun.
"Masih ngantuk Kak!" Kayla masih bermalas-malasan.
"Eh . bangun dek. Itu si Indra udah ada di depan noh! " Novi masih berusaha bangunin adik iparnya. .
Kayla kaget mendengar Novi menyebut nama Indra.
"Hah jam berapa ini Kak?" tanya Kayla
"Jam 10.00 dek." jawab Novi
"Hmmm ontime banget sih tuh cowok!" Kayla beranjak menuju kamar mandi.
Novi ke luar dari kamar adik iparnya menuju teras depan untuk memberitahu bahwa Kayla masih mandi.
"Kayla masih mandi, Ndra!" kata Novi
"Iya Mbak" sahut Indra dan melanjutkan ngobrolnya dengan Ryan.
Kayla memilih baju yang menurutnya membuat penampilannya kelihatan cantik.
Sambil memoles riasan yang natural Kayla memandangi wajahnya di depan cermin.
"Not bad." gumam Kayla sambil tersenyum.
Kayla bergegas ke luar kamar menuju teras di mana Indra sedang menunggunya.
"Maaf Mas nunggunya lama ya!" sapa Kayla
"Hmmm pasti bangun tidur ya!" tebak Indra
"Ng.. Nggak,kok, udah dari tadi donk bangunnya." jawab Kayla berbohong.
"Hmm yakin? Kalau daritadi napa matanya masih sembab kayak habis bangun tidur" Indra terkekeh.
"Tuh kan daritadi disuruh bangun nggak bangun-bangun sih Kayla!" mama menasihati
"hmmm mama, kan Key baru tidur jam 3 oagi ma!" ucap Kayla membela diri.
__ADS_1
"Hah malam banget tidurnya?" tanya Indra. Padahal semalam Kayla berjanji akan tidur cepat.
Kini Indra berpikiran negatif. Ia mengira bahwa Kayla tidur selarut itu akibat telpon-telponan sama Beny.
"Jadi nggak nih keluarnya?" tanya Kayla.
" Kayla nggak sarapan dulu?" tanya Mama.
"Nggak ah ma, Key nggak lapar." ucap Kayla
"Mana ada sih ma orang jatuh cinta itu merasa lapar. Yang ada tuh bawaannya kenyang mulu' dan ingin selalu dekat." ledek Kak Ryan yang sontak diinjak kakinya oleh Kayla.
"Hufttt, sakit tau. dasar bocah tengil! Awas lo gue bales ntar ya!" umpat Ryan
"Da.. da Kakak! Ma , Ket keluar dulu, ya!" pamit Kayla sambil mencium tangan dan pipi mamanya.
Indra dan Kayla kini sedang berada di dalam mobil.
Tak ada pembicaraan di dalam mobil itu.
Indra masih jengkel karena mengira Kayla telepon dengan Beny sampai tidur dini hari.
Kayla pun juga rikuh untuk memulai pembicaraan.
Alhasil suasana di dalam mobil hening sampai mereka tiba di parkiran salah satu Mall terbesar di Kota Surabaya.
"Mau ngapain kita ke sini Mas?" tanya Kayla sambil berlari kecil menyeimbangi langkah Indra.
"Kok tiba-tiba jadi dingin gini sih" gumam Kayla.
Indra menuju ke salah satu restaurant cepat saji di dalam mall itu. Ia memesan makanan untuk Kayla dan minuman serta puding untuk dirinya.
Setelah mengambil makanan dan membayarnya, ia duduk di depan Kayla.
"Nih, makan dulu!" perintah Kayla dengan wajah datarnya.
"Aku belum lapar, Mas!" ucap Kayla bingung
"Kamu belum sarapan nanti bisa sakit. Cepetan habisin makanannya;" perintah Indra lagi masih dengan muka dingin.
Kayla pun memakan makananya dengan tidak bersemangat.
Sesekali ia menatap wajah Indra di hadapannya. Indra menunjukkan wajah yang tidak ramah.
"Tau gitu nggak usah ke luar!" gerutu Kayla yang didengar Indra
"Nggak kok nggak apa-apa." jawab Kayla gugup.
Melihat muka Indra yang garang Kayla jadi takut. Ia pun menitikkan air mata.
"Hey, kenala nangis? Kamu nangis?" ganya Indra yang melihat gadis di hadapannya matanya berkaca-kaca.
"Habisnya kamu jahat, Mas!" seru Kayla sambil tangisnya pecah.
"Sttt hey,,, kok nangis sih!" Indra berusaha menghapus air mata di pipi Kayla sambil menoleh ke kanan kiri khawatir ada yang memperhatikan.
"Aku nggak mau makan aku nggak selera!" Kayla merajuk.
"Marah? seharusnya yang marah itu aku, Nona cantik!" rayu Indra khawatir Kayla nangisnya menjadi-jadi.
"Hah? Enak aja emank aku salah apa?" tanya Kayla egois
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu tkdur sampe jam 3 dini hari? Kamu lanjutin telpon-telponan sama Beny kan?" selidik Indra
Kayla tertawa sambil mengusap air matanya.
"Hey, kok malah ketawa sih!" tanya Indra
"Nih lihat periksa aja log panggilannya!" tantang Kayla masih sambil tersenyum dengan menyodorkan ponselnya kepada Indra.
"Mas Indra Abdi Pramana, Aku tuh nggak telpon-telponan sama Beny, Mas. Aku memang nggak bisa tidur karena aku nggak nyangka aja ternyata aku bisa ketemu kamu lagi." jelas Kayla
Wajah Indra memerah karena malu tapi berusaha tetap cool.
"Hmm ya udah, ya udah.. cepet habisin makanannya!" Indra menutupi rasa malunya karena sudah salah sangka sama Kayla.
"Lagian kamu cemburu ya?" goda Kayla
Indra tetap menunjukkan muka coolnya.
"Heran deh sampai saat ini dia kok nggak nembak gue sih!!!!" batin Kayla sambil menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan, Indra menggandeng tangan Kayla menuju bioskop di mall itu.
Indra mengajak Kayla nonton. Ia memang sengaja mengajak Kayla nonton agar ia bisa berlama-lama dengan Kayla. Sebenarnya Indra ingin membelikan cincin untuk Kayla untuk melamarnya. Namun niatnya ia urungkan karena masih belum siap.
"Haduw kenapa seerat ini sih genggaman tangannya. nggak tau apa kalau jantung gue mau copot!" batin Kayla lagi
__ADS_1
Di dalam Bioskop Indra dan Kayla sama sekali tidak menikmati film yang ditayangkan. Saat ini mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
Selesai nonton jam menunjukkan pukul 3 sore.
"Mau pulang nggak?" tanya Indra kepada Kayla, padahal sebenarnya Indra tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan Kayla.
"Aku sih terserah kamu aja Mas." sahut Kayla yang juga berharap Indra tidak mengajaknya pulang.
Mereka berdua masih sama-sama gengsi.
"Hmmm bagaimana kalau kamu temenin aku cari baju." ajak Indra karena sudah tidak punya ide lagi mesti mengajak Kayla ke mana.
Indra mengajak Kayla menuju salah satu outlet baju branded di mall itu.
Indra meminta Kayla memilihkan baju untuknya.
"Key, sini deh. Ini cocok nggak buat aku?" tanya Indra
"Bagus pasti cocok banget. Kamu mah pakai apa aja cocok Mas," tanpa sadar Kayla memuji Indra
"Iya lah," kata Indra sambil menyunggingkan senyuman yang sontak membuat Kayla sadar telah memuji ketampanan pria di hadapannya saat ini. Kini wajah Kayla memerah karena malu.
"Yuk, ah kita cari baju buat kamu!"ajak Indra yang menggandeng tangan Kayla menuju fashion cewek di outlet itu.
Indra memilihkan blouse casual selutut berwarna mustard.
"Pasti cocok buat kulitnya yang putih." pikir Indra.
"Ini pasti cocok buat kamu! seru Indra kepada Kayla yang sibuk melihat-lihat baju.
"Aku kan lagi nggak cari baju Mas. Hmmm tapi pilihanmu oke juga!" Kayla pun tertarik dengan baju pilihan Indra.
Akhirnya mereka menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.
Indra menyodorkan kartu debitnya kepada Kasir.
Selesai membayar mereka keluar dari outlet itu.
"Mas, aku bawa uang kali. Masak kamu yang traktir terus!" ucap Kayla sambil berjalan menyusuri Mall yang besar itu.
"Kan aku yang pilihin kamu, aku memang sengaja beliin kamu baju kok." jawab Indra santai.
"Bukannya gitu sih, Mas, dari tadi kamunterus yang bayarin." sahut Kayla.
"La kan wajar aku yang ngajakin kamu jalan-jalan ini!" elak Indra
"Tapi... " belum selesai bicara kalimatnya sudah dipotong oleh Indra.
"Masak iya cewek bayarin cowok." jawab Indra
" Padahal kalau lagi sama Beny ada aja alasan dia kalau lagi transaksi pembayaran." batin Kayla
"Hey, kok bengong sih!" Indra mencubit hidung Kayla
"Ih kamu ini sakit tau!" gerutu Kayla.
Mereka berjalan menuju parkiran. Mereka segera masuk mobil.
"Kita mau pulang Mas?" tanya Kayla sedikit kecewa
"Emank kamu nggak mau pulang?" tanya Indra
"Hmm bukan gitu sih Mas!" Kayla bingung menjawab pertanyaan Indra
Indra mukai menginjak gas mobilnya meninggalkan mall.
Kayla tampak kecewa. Karena itu berarti sebentar lagi Ia harus berpisah dengan pujaan hatinya.
Kayla hanya terdiam memandangi jalan dari jendela mobil.
"Ssttt,, hey,, kok diam aja sih!" goda Indra ya g sebetulnya sudah peka jika gadis di sebelahnya tak rela berpisah darinya.
"Huuuhhh sebel banget. Nggak peka banget sih! Nggak pingin apa berlama-lama jalan sama aku.... eit tunggu.. tunggu... Ngapain nuntut dia peka. Orang jadian aja juga belum. Emank gue siapanya dia. Widih Kayla.. Kayla... jangan terlalu tinggi donk impiannya. Hmmm tapi kan meskipun nggak jadian juga nantinya aku juga jadi istrinya." Kayla bergelut dengan pikirannya sendiri. Saat mengingat kata-kata 'istri' menbuat Kayla senyum-senyum sendiri.
Indra heran dengan sikap Kayla.
"Eh nih anak nala sih? Kamu kok senyum-senyum sendiri sih Key?" tanya Indra yang membuat Kayla kaget.
"Sebentar-sebentar wajahnya murung sebentar juga senyum-senyum!" imbuh Indra
"Hmm nggak Mas. Aku cuma seneng soalnya lama nggak jalan-jalan di Surabaya." jawab Kayla berbohong
"Key, kita makan bakso dulu yuk! Kamu pasti suka deh. Menu baksonya macem-macem variannya!" ajak Indra
." Yesss!" Kayla tanpa sadar bersorak kegirangan.
"Hmmm aku tahu nih. Pasti kamu nggak ingin oulang kan? Masih kangen sama aku kan?" ledek Indra yang kini sudah mulai terbiasa dengan Kayla. Suasana kaku di antara keduanya sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Kayla hanya menunjukkan senyuman manisnya. Memang benar, Kayka masih ingin bersama cinta masa kecilnya itu.