Suamiku, Cinta Masa Kecilku

Suamiku, Cinta Masa Kecilku
Masih bersamanya


__ADS_3

Minggu pagi itu Abdi sedang tidak bertugas. Ia mengajak Kayla sarapan di warung pecel langganannya. Karena tidak membawa baju ganti, Kayla memakai kaos raglan milik Abdi dan leging yang kemarin dipakai saat mengenakan setelan kebayanya serta sandal jepit milik Abdi yang mestinya agak kebesaran. Namun Kayla tampak percaya diri.


Memang Kayla gadis yang sangat cantik dan langsing. Meskipun memakai baju seperti itu tak mengurangi kecantikannya.


"Bu' pecelnya 2 teh hangat ya 2 , ya!" Abdi memesan makanan untuknya dan Kayla.


"Wah tumbenan nih Mas Abdi bawa pacar" goda Ibu penjual di warung pecel itu.


"Ceweknya cantik banget, Mas Abdi!" imbuh ibu itu


Kayla hanya tersenyum mendengar percakapan Abdi dan penjual pecel itu.


"Yuk dimakan yuk!" ajak Abdi


"Mas langganan makan di sini, ya?" tanya Kayla sambil menyendok makanannya.


"Kenapa, enak, ya?" jawab Abdi sambil mengunyah makanannya.


Kayla mengangguk sambil memakan sarapannya itu dengan lahap. Nasi pecel ini terasa begitu nikmat. Mungkin karena suasana hati Kayla sudah mulai klik dengan Abdi.


Selesai sarapan Abdi menawari Kayla untuk pulang ke kosnya.


"Kita ke kosmu ya?" tanya Abdi sambil mengemudikan mobilnya.


"Aku nggak mau." rengek Kayla


"Lha, kenapa nggak mau?" tanya Abdi dengan santai.


"Aku belum siap ketemu temen-temen kos. Pasti mereka yang nggak suka sama aku, puas nyinyirin aku, Mas!" jawab Kayla.


"Kalau hanya untuk ambil baju dan keperluan pribadimu bagaimana? Kamu bisa menambah semalam lagi tinggal di rumahku. Tapi ada biaya sewanya ya!" goda Abdi


Kayla hanya nyengir tak menjawab. Ia memang masih betul-betul sakit hati dan tidak ingin bertemu dengan teman-temannya.


"Siapa teman cewek yang dekat denganmu?" tanya Abdi serius.

__ADS_1


"Santi! Ya, aku harus minta tolong Santi." ide Kayla


Santi, sahabatnya itu sudah mengetahui kejadian kemarin. Meskipun Kayla belum sempat bercerita, Santi pasti memahaminya. Karena kemarin ia sempat ada di dekat Kayla saat antre di stand sialan itu.


Kayla memencet ponselnya untuk menghubungi sahabatnya itu.


"Hallo, San, tolongin donk! Habis ini aku ke rumahmu, ya! Tolong kamu ambilin baju dan beberapa keperluanku, nanti aku chat apa saja yang harus kamu ambil dari kostku, terus nanti kita ketemuan di cafe Sweet ya , San. Hubungi aku kalau kamu udah siap."


Di seberang sana Santi mengiyakan dan akan membantu sahabatnya itu.


"Kita ke supermarket dulu, ya! Aku mau beli beberapa makanan untuk di rumah dan keperluanmu!"


Kayla mengangguk dan merasa senang, karena cowok di sebelahnya sangat pengertian.


Di Supermarket yang cukup lengkap itu, Kayla sibuk memilih keperluan pribadinya. Abdi membuntut sambil membawa troly.


Kayla membeli keperluan mandi seperti sabun, sikat gigi, dan handuk. Tak lupa ia membeli dalaman dan piyama untuk digunakannya tidur.


Abdi dengan sabar mengikuti calon istrinya itu berbelanja.


drrtt...drtttt Ponsel Kayla berdering.


"Halo Key aku udah di cafe sweet ni kamu cepetan kesini ya, soalnya aku mau keluar sama pacar aku,, nih!" terdengar suara Santi menelepon Kayla.


Stelah membayar semua belanjaannya di kasir, Kayla meminta Abdi mengantarnya ke Cafe Sweet tempatnya janjian dengan sahabatnya.


Abdi menancapkan gas mobil ya menuju cafe yang dimaksud Kayla.


Kayla sedikit lega, setidaknya saat ini masalah mulai bisa teratasi. Itu tampak di binar wajah Kayla yang mulai ceria.


"Hai, Santi sayang!" seru Kayla sambil memeluk sahabatnya.


"Ih, katanya nggak terlalu cinta, napa sampe frustasi gini, sih?"goda Santi


"Aku bukannya patah hati,,,,....." Belum sempet selesai bicara tiba-tiba Fatir, pacar Santi, datang.

__ADS_1


"Hai, Key!" sapa Fatir dan selanjutnya mengulurkan tangan kepada Abdi untuk memperkenalkan diri.


"Eh, iya siapa ini Key? Hebat bener baru kemarin patah hati langsung dapat gantinya aja!" ledek Santi


"Oh, iya, kenalin ini Mas Abdi, Mas ini sahabatku Santi dan Itu pacarnya, Mas Fathir namanya." jelas Kayla.


Abdi yang dikenalkan pun langsung tersenyum ramah dan segera memanggil pelayan cafe itu untuk memesan minuman dan makanan ringan untuk mereka.


Mereka berempat sibuk membahas kejadian kemarin. Kini Kayla sudah tidak menangis lagi. Namun rasa sakit hatinya masih belum bisa terobati begitu saja. Ia seakan ingin menerkam pasangan gila itu.


"Key, kalau menurutku kamu ke kos saja. Kalau bisa sih sama Mas Abdi. Kalian harus terlihat mesra. Supaya mereka tahu kalau kamu sudah punya cowok yang lebih tampan dari Beny." ide gila Santi muncul tanpa memikirkan bagaimana ekspresi keduanya.


"Iya, kenalkan bahwa Mas Abdi ini calon suamimu. Pura-pura sementara kan nggak masalah. Toh mereka nggak tahu kalau kamu punya sepupu." imbuh Fatir yang menyangka Abdi adalah sepupu Kayla.


"Ih emang dasar ya kalian berdua. Kompak bener kalau ngasih ide konyol begini! ketua Kayla kesal.


"Lagian nih ya, siapa yang bilang kalau Mas Abdi ini sepupuku? Dia emang bener calon suamiku, kok!" ceplos Kayla yang sontak membuat Santi dan Fatir kaget.


"What?!!!" mereka kompak dengan ekspresi kagetnya.


"Iya, aku memang dijodohkan dengan Mas Abdi. Orangtua kami bersahabat sejak lama. Ini semua gara-gara Mas Abdi yang sudah umur segini nggak pernah pacaran, padahal udah kerja." ucap Kayla sambil melirik dan tersenyum nakal kepada Abdi.


Santi dan Fatir langsung tertawa. Mereka heran seorang Kayla mau aja dijodoh-jodohkan. Padahal menerima cinta Beny aja membutuhkan waktu yang lama.


"Hmmm kenapa? Ada yang salah ya?" tanya Abdi heran


"Nggak, gini Abdi, Kayla itu susah banget jatuh cinta. Bahkan saat ditembak Beny kala itu aja, Beny sampai rela menunggu lama supaya Kayla bisa menerima cintanya. Tahu nggak sih, Kayla kan punya 'cinta' sendiri. Ia masih sangat memimpikan ketemu langeran masa kecilnya." Santi menjelaskan sambil tersenyum menggoda Kayla.


Seketika wajah Kayla memerah." Kamu Apaan sih, San!"


"Oh, ya?" Abdi tersenyum penuh arti, ia tidak menyangka jika Kayla menyukainya sejak jaman mereka masih sering bermain bersama.


"Ih, Santi, nggak enak sama Mas Abdi tuh!" bisik Kayla kepada Santi.


Mereka pun melanjutkan kegiatan bercengkeramanya di cafe siang itu.

__ADS_1


Sampai akhirnya kedua pasangan itu berpisah dengan tujuan masing-masing.


__ADS_2