
Keempatnya langsung berlari mengambil air wudhu dan melupakan pembalasan mereka pada kedua perempuan tadi.
Selesai sholat, mereka sudah tidak menemukan dua orang perempuan yang dari tadi mencari gara-gara pada mereka.
"Itu kan, kita udah nggak dapat mereka lagi. Pasti udah pada kabur tuh" ucap Serly.
"Sabar. Yang penting kita dapat pahala" kata Sevia.
"Iya benar juga. Alhamdulilah jadi lega" ujar Dara.
"Kirain bakal kepanasan. Bukannya tadi lo bilang lo setan ya?" celetuk Raisa.
"Yaelah bohong doang tadi mah" ucap Dara, mendapat tertawaan dari pada sahabatnya.
"Ke kantin yuk, sekalian ngecek hutang kita ke ibu kantin sama mang Tatang" ajak Serly.
"Oke" jawab ketiganya kompak.
Sesampainya di kantin, pertama-tama mereka mendatangi ibu kantin.
"Halo bu, eh makin cantik aja nih" ucap Dara.
"Udah tiga tahun gombalan kalian sama terus, ibu mah udah nggak mempan yang gituan. Pasti kalian kesini mau bayar hutang ya? ayo sini bayar, udah mau lulus kan?" cerca ibu kantin.
"Eh, emangnya berapa hutang kita bu? soalnya kita lupa nih. Udah lama kan. Paling 50 ribu atau 100 ribu per org, ya kan bu? tanya Raisa.
"Enak aja 50 ribu. Ibu udah catat nih. Tunggu ibu lihat catatannya dulu".
"Waduh gawat nih. Pasti mahal kan? belum lagi hutang yang di mang Tatang" bisik Raisa.
"Iya nih. Rebut aja tuh catatan hutangnya biar hilang catatan hutang kita" ujar Serly.
"Bagus juga ide lo" kata Dara.
"Eh jangan dong. Hutang itu dibawa mati, mau lo semua kena azab?" ujar Sevia mengingatkan.
"Wah iya juga ya. Dibayar semuanya guys, ustadzah Sevia udah bahas azab nih. Jangan pada berdosa lo semua" ucap Serly.
"Nah, ini hutang-hutang kalian selama 3 tahun disini. Ibu sebutin satu-satu nih?" tanya ibu kantin.
Keempatnya kompak menganggukkan kepalanya.
"Yang pertama Dara totalnya 300 ribu, yang kedua Raisa totalnya 250 ribu, yang ketiga Sevia totalnya 150 ribu dan terakhir Serly totalnya 500 ribu".
"Apa? kenapa saya yang paling banyak bu?" kaget Serly.
"Lo nggak sadar apa? lo selama ini yang paling banyak makan" kata Dara.
"Iya juga ya. Nanti besok ya bu uangnya, minta ke mama dulu" kata Serly.
"Iya kami semua besok ya bu" sahut yang lainnya.
"Iya, ibu tunggu ya".
"Yuk ke mang Tatang guys" ajak Serly.
Keempatnya segera menuju ke warung mang Tatang untuk menanyakan perihal hutang piutang mereka.
"Mang Tatang makin cakep euyy, keringatnya seksi banget kayak atlet binaragawan gitu" puji Dara.
__ADS_1
"Ah neng ini suka muji tiap hari. Makasih loh, sebenarnya eneng itu udah orang ke 1000 yang ngatain saya kayak atlet binaragawan" ucap mang Tatang dengan bangganya.
"Wah yang benar nih? emang ya, nggak salah sih saya ngomong kayak gitu. Beneran seksi deh, glowing lagi kayak artis-artis korea".
"Udah neng jangan muji lagi. Entar saya terbang loh. Eneng semua mau makan bakso ya?".
"Eh nggak kok. Kami mau nanya hutang kita aja mang" ucap Sevia.
"Ohh masalah hutang? udah lah mamang udah ikhlasin. Hitung-hitung sedekah sama kalian. Kalian juga pada senang makan disini, biar udah dengar rumor yang nggak baik tentang mamang. Jadi mamang kasih gratis" jelas mang Tatang.
"Yang benar nih mang? Alhamdulillah rezeki anak solehah" ucap Raisa.
"Makasih loh mang. Kita semua terharu loh" ucap Dara.
"Iya sama-sama. Kalau udah sukses jangan lupain mamang ya".
"Oh tidak akan. Akan kami ingat selamanya mang, jangan khawatir" kata Raisa.
Gue harus bilang ke Naufal nih kalau mau bayar hutang. Kira-kira dia marah nggak ya? tapi kalau marah, aku pakai uang tabungan aja yang dari mama. Batin Raisa.
Sesampainya di rumah, seperti biasa sudah ada makanan di meja makan. Kali ini menunya ikan goreng sambal matah serta sayur kangkung.
"Wah enak banget masakannya. Coba aja kalau gue tahu masak. Pasti nggak bakal nyusahin kayak gini" ucap Raisa, masih menikmati makanannya.
Setelah merasa kenyang, Raisa membersihkan seisi rumah, kemudian memilih tidur.
Raisa merasa wajahnya sedang dielus-elus. Ia berpikir itu hanyalah mimpi, sehingga ia tersenyum dalam tidurnya.
Tapi semakin lama, elusan itu semakin nyata menurutnya. Dibukanya matanya, kemudian melihat Naufal yang sudah berada disampingnya, tengah mengelus wajahnya.
"Aahhh beb. Kenapa nggak bilang kalau udah pulang?" kaget Raisa.
"Hehehe maaf beb, aku kelupaan tadi".
"Oke. Lain kali jangan gitu ya".
"Iya. Oh iya beb, ada yang mau aku omongin".
"Apa itu?" tanya Naufal.
"Aku punya hutang ke ibu kantin dan rencananya besok aku mau bayar, soalnya udah mau lulus".
"Oh iya harus dibayar itu. Emangnya berapa? nanti aku kasih uangnya".
"Nggak usah beb. Aku pakai uang tabungan aku aja bayarnya".
"Emangnya kenapa kalau aku yang bayar? jadi curiga deh".
"Eh nggak beb. Nggak apa-apa sih kalau kamu mau bayar. Tapi itu..".
"Kenapa? hutang kamu banyak? ngomong aja" ucap Naufal dengan lembut.
"Hutangnya 250 ribu" kata Raisa pelan.
Naufal terlihat menarik napasnya panjang. Kemudian terlihat mulai berpikir sebentar.
"Nggak apa-apa. Besok dibayar ya, aku kasih uangnya. Uang tabungannya disimpan aja. Itu kan uang dari orang tua kamu".
"Kamu nggak marah beb? aku minta maaf ya" kata Raisa merasa bersalah.
__ADS_1
"Iya nggak masalah. Tapi, lain kali jangan hutang kayak gitu lagi ya. Biar hutangnya nggak menumpuk".
"Iya, makasih beb".
Raisa segera memeluk suaminya. Ia bersyukur karena mendapat suami yang sangat baik kepadanya.
"Kamu kapan ujian nasionalnya?".
"Senin nanti. Kenapa beb?".
"Astaga, 3 hari lagi dong?".
"Iya. Emangnya kenapa sih?" tanya Raisa penasaran.
"Kenapa belum belajar padahal bentar lagi udah mau ujian?".
Kini Naufal menatap istrinya itu dengan tatapan tajam.
"Eh itu, nanti hari minggu aja beb".
"Mana ada orang belajar untuk ujian sehari sebelum ujiannya dimulai. Nggak bakal masuk di otak".
"Kalau gitu ajarin. Aku nggak tahu apa-apa beb" ucap Raisa sambil memelas.
"Yang ujian siapa yang belajar siapa. Ya sudah, ayo belajar".
"Yeayy makasih beb".
Naufal segera mengajari Raisa secara perlahan. Pelajaran yang diajarinya saat ini adalah matematika.
"Nah jadi ini nanti ini ditambah setelah diakarkan. Akar 25 berapa?".
"2" kata Raisa dengan suara sangat kecil.
"5 beb bukan 2. Masa akar 25 aja kamu nggak tahu? nggak mungkin dong kita kembali ke pelajaran SD tentang sistem perakaran" ucap Naufal yang terlihat kelelahan mengajari Raisa.
"Maaf beb. Istri kamu ini emang bodoh banget. Dari dulu kebanyakan dihukum daripada belajarnya. Jadi aku beneran nggak tahu" kata Raisa, tertunduk.
Ia merasa malu kepada Naufal, karena kebodohannya yang tiada tara.
"Jangan gitu beb. Maafin aku ya karena udah bicara kayak tadi. Aku bakal ajarin kamu belajar, asal kamu juga mau berusaha. Gimana?".
"Iya mau beb".
"Nah gitu dong baru istri aku. Sini peluk".
Raisa segera mendekat ke arah Naufal dan membalas pelukan suaminya yang begitu hangat.
"Terima kasih udah ngerti dengan kebodohan aku, suamiku".
"Kamu nggak bodoh kok, cuma malas belajar aja. Mulai sekarang rajin belajar ya".
Raisa mengangguk.
Naufal kembali memeluk istrinya dan mencium puncak kepalanya.
"I love you istri bar-barku".
"Love you too".
__ADS_1
Ini pertama kalinya Raisa merona merah mendengar perkataan Naufal.