
Naufal langsung berlari ke kamar, karena merasa ngeri melihat tangan Raisa yang sudah ancang-ancang siap meninju.
.
.
.
Keesokan harinya di kantor, seperti biasa Raisa datang lebih awal karena Naufal masih harus ke sekolah.
Baru saja ia datang, sudah disuguhkan wajah-wajah menjengkelkan dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan Lia dan Kevin.
"Kerja gini amat. Nemunya biawak semua. Cocok memang jadi pasangan" kata Raisa, dengan malas.
"Heh, siapa yang kamu bilang biawak? Baru datang udah ngelunjak ya" ucap Kevin.
"Iya nih, aneh banget" sambung Lia.
"Dih, kalian berdua merasa ya kalau mukanya mirip biawak? Ya, maaf nih. Padahal bukan kalian loh yang aku bilang" ujar Raisa, sambil tertawa sinis.
"Nyebelin banget sih"
Lia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, dia sangat tidak suka karena selalu kalah berdebat dari Raisa.
"Kamu jangan macam-macam Raisa, kalau model karyawan nggak sopan kayak kamu masih disini, hancur perusaahan kita. Secepatnya akan segera saya proses agar kamu dipecat" ucap Kevin.
Raisa menatap tajam ke arah Kevin dan mulai menunjuk tepat didepan wajah Kevin.
"Bukan aku yang akan dipecat, tapi kamu. Nggak percaya? Kita lihat nanti. Oh iya satu lagi untuk kamu Lia, 2 minggu lagi kamu selesai magang disini kan? Aku pastikan lulus nanti kamu nggak akan bisa bekerja disini" ucap Raisa, penuh percaya diri.
"Cih, memangnya kamu peramal? Sok nentuin masa depan lagi" kata Lia, meremehkan.
"Ya, terserah kalau nggak percaya"
"Tunggu, ngomong-ngomong kamu udah gendutan ya Raisa? Apa jangan-jangan kamu sedang hamil? Hamil anak bos? Makanya kamu berani banget dengan semua orang disini"
Perkataan Lia berhasil membuat Raisa sangat marah. Tidak mungkin Raisa berselingkuh dengan ayah mertuanya sendiri.
Saking kesalnya, ia mengambil kopi yang masih panas, yang dibawa salah satu karyawan disana.
"Maaf Kak, nanti aku ganti kopinya ya"
Kemudian, disiramkannya ke baju Lia, membuat Lia berteriak karena kepanasan.
"Awww panas. Keterlaluan kamu Raisa" pekik Lia.
"Kamu yang cari masalah duluan denganku. Pakai acara fitnah segala lagi. Untung aja tadi aku nggak jambak rambut kamu yang jelek itu"
Raisa berlalu pergi dan menuju ke meja kerjanya. Sedangkan Lia, dibantu Kevin untuk mwmbersihkan tumpahan kopi dibajunya.
"Memang jodoh mereka. Baguslah, karena aku mereka bisa jadi lebih dekat hahaha" tawa licik Raisa.
__ADS_1
Semua karyawan yang melihat hal itu, sudah tidak kaget lagi. Mereka sudah biasa melihat ketiga trio itu bertengkar. Bahkan hampir tiap hari mereka memang selalu bertengkar.
Siang harinya, waktunya Naufal datang untuk bekerja ke kantor. Saat ia datang, ia sudah merasakan hawa yang mencekam, apalagi saat melihat wajah Lia yang seperti ditekuk karena marah.
"Beb, kamu bertengkar lagi sama Lia ya?" bisik Naufal.
"Iya, plus Kevin juga tadi" kata Raisa, dengan santainya.
"Kenapa kalian bertiga kayak kucing dan anjing sih bertengkar mulu"
"Nggak tahu tuh, mereka selalu cari gara-gara duluan beb. Masa tadi si Lia bilang jangan-jangan aku hamil anaknya Papa Tio. Kan gila namanya. Mereka nggak tahu aja, yang hamilin sebenarnya anaknya Papa Tio" ucap Raisa, dengan suara pelan.
"Ya ampun gara-gara itu ternyata? Tapi iya juga sih beb. Perut kamu udah mulai terlihat sedikit besar, nggak ada rencan mau resign dulu?" tanya Naufal.
"Nggak. Nanti kalau udah besaran dikit lagi, baru aku berhenti" jawab Raisa.
"Oke kalau begitu. Semangat kerjanya, jangan kecapean ya"
"Iya beb, makasih"
.
.
.
Malam harinya, Naufal dan Raisa pergi ke dokter kandungan untuk mengecek jenis kelamin dede bayi. Mereka berharap akan segera mengetahui jenis kelaminnya agar segera mempersiapkan segala sesuatunya.
Dokter mengoles gel ke perut Raisa, kemudian mulai mengeceknya kandungan Raisa.
"Bisa dilihat disini ya, Pak, Ibu. Anaknya sangat aktif didalam sana dan tentunya sehat" ucap Dokter.
"Wah, kayaknya sifat anak kita bakalan mirip kamu beb" kata Naufal kepada Raisa.
"Ya, bagus dong. Asal otaknya nggak mirip aku" ujar Raisa.
Naufal tersenyum mendengar perkataan Raisa, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ek arah monitor.
"Apa kami bisa mengetahui jenis kelamin bayinya, Dok?" tanya Naufal.
"Tunggu ya akan saya cek. Berhubung kehamilan Ibu Raisa sudah mau 5 bulan, harusnya sudah bisa sih"
Dokter mulai terlihat fokus untuk mengecek dan akhirnya ketemu juga.
"Wah selamat ya, Bapak, Ibu. Anak kalian sepertinya laki-laki"
"Yang benar, Dok? Alhamdulillah, baby boy, beb" girang Raisa.
"Iya Alhamdulillah. Akhirnya aku akan punya jagoan kecil" kata Naufal.
Keduanya sangat bahagia, karena tidak lama lagi bayi mereka akan segera lahir.
__ADS_1
Raisa dan Naufal pulang dengan sangat amat bahagia.
"Beb, anak kita mau dinamain apa ya yang bagus?" tanya Raisa, sesampainya mereka di rumah.
"Hmm.. Entahlah. Nanti aku coba cari nama yang bagus untuk anak kita" jawab Naufal.
"Oke. Untuk nama bayi kita, aku serahkan semua ke kamu, beb"
"Iya sayangku. Kita makan yuk, aku akan buatin kamu makanan spesial"
"Apa itu?"
"Cumi goreng asam manis, spesial untuk istri tercinta"
"Wahh aku nggak sabar pengen nyoba, beb. Aku mau"
Naufal mulai memasak dan memperlihatkan keahliannya. Raisa terus terpukau dengan tangan lincah Naufal.
Akhirnya, masakan pun telah jadi. Tanpa menunggu lama, Raisa langsung menyantap makanan Naufal dengan sangat lahap.
"Beb, aku kenyang. Sekarang aku udah ngantuk banget. Kayak capek banget hari ini, beb" kata Raisa, bersandar disandaran kursi.
"Alhamdulillah kalau kenyang, tapi jangan tidur dulu dong"
"Kenapa memangnya?" tanya Raisa, mencoba menahan kantuknya.
"Kita nggak mau lanjutin yang tertunda di rumah sakit waktu itu ya?" tanya Naufal, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lanjutin yang tertunda di rumah sakit? Apa itu?"
Raisa sesaat lupa. Namun, dengan cepat ia kembali mengingatnya.
"Oh itu, beb. Iya aku ingat. Tapi aku ngantuk banget sih sekarang" katanya lagi.
"Ya sudah, nggak usah kalau kamu ngantuk. Besok aja" ucap Naufal.
"Eh jangan. Sekarang aja, aku nggak mau berdosa sama suami"
"Kamu yakin?" tanya Naufal.
Raisa mengangguk.
Naufal tersenyum senang karena telah mendapat persetujuan Raisa. Ia mengangkat tubuh Raisa dan membaringkannya di ranjang.
Didekatkannya bibirnya, hingga menyentuh bibir Raisa. Kemudian mereka pun saling membalas ciuman satu sama lain.
Naufal menurunkan ciumannya ke leher putih milih Raisa. Anehnya, tidak ada suara mengerang atau desahan yang dilakukan Raisa seperti biasanya.
Naufal menoleh keatas untuk melihat wajah Raisa, ternyata istrinya itu sudah terlelap di awal percintaan mereka.
"Ternyata sudah tidur. Pasti ngantuk sekali dia. Ya sudah, terpaksa malam ini harus ditunda dulu. Maaf ya Naufal junior, hari ini bukanlah hari keberuntunganmu"
__ADS_1
Naufal mencium puncak kepala istrinya, kemudian menarik selimut menutupi tubuh mereka dan akhirnya ikut tidur, sambil memeluk Raisa.