
"Iya aku pacarnya. Salam kenal" potong Laras sambil tersenyum.
Raisa menatap Naufal dan Laras secara bergantian, kemudian menampar keduanya secara bersamaan.
"Dasar brengsek. Yang cowok nggak tau diri, yang cewek malah gatal!" teriak Raisa.
Dirinya yang sudah sangat emosi langsung keluar dari cafe itu tanpa memperdulikan tatapan orang-orang disekitar.
Laras tidak terima pipinya ditampar oleh Raisa dan berniat ingin mengejarnya, namun ditahan oleh Naufal.
"Jangan berani macam-macam pada istri saya. Saya pikir Kak Laras orang yang baik makanya saya bersikap baik juga ke Kakak. Ternyata Kakak nggak lebih dari sekedar perusak rumah tangga orang"
Naufal memberikan ucapan menohok kepada Laras, sebelum pergi menyusul Raisa.
Laras yang mendengar hal itu tentu saja terkejut dan dan malu karena menjadi bahan pembicaraan mahasiswa lain yang ada di cafe itu.
Dia berniat keluar dari cafe saking malunya, akan tetapi ditahan oleh pemilik cafe.
"Bayar dulu dong Mbak. Masa udah jadi perusak, terus nggak mau bayar minumannya sih" ejek pemilik cafe.
Benar-benar sangat memalukan, itulah yang dirasakannya saat ini. Dia mengeluarkan sejumlah uang dan langsung menaruhnya di atas meja tanpa mengucapkan apa-apa, kemudian langsung meninggalkan cafe.
Disisi lain, Naufal masih terus memohon kepada Raisa yang saat ini sedang menunggu taksi.
"Jangan sentuh aku deh, jijik banget" kata Raisa, sangat kasar.
"Maafin aku beb. Aku benar-benar nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Laras. Dia hanya senior aku di kampus. Tadi aku bantuin dia gantiin ban mobil, habis itu dia ajak aku minum katanya sebagai ucapan terima kasih. Aku udah nolak beb, tapi dia mohon-mohon, jadinya aku ngga enak untuk tolak lagi"
"Alah alasan aja kamu. Bilang aja kalau kamu juga mau. Kamu kan lagi berantem sama aku, pasti lah harus cari pengganti sementara. Cewek nggak ada cantik-cantiknya kayak gitu malah dideketin. Pengen muntah tau nggak?"
"Iya aku minta maaf beb. Ayo kita selesain dulu masalah kita baik-baik"
"Nggak ada yang perlu diselesain baik-baik lagi sekarang. Aku tadi kesini pengennya selesain baik-baik, tapi apa yang aku dapat? Kamu malah berduaan dengan cewek lain. Gila ya! Janji kamu untuk setia itu hoax tau nggak! Aku akan siapin surat cerai untuk kita. Aku nggak mau berurusan dengan kamu lagi. El akan ikut denganku"
Bak tersambar petir, hatinya terasa sangat sakit saat mendengar kata cerai dari mulut Raisa. Tentu saja ia tidak ingin bercerai dengan Raisa. Tidak sekalipun terbayangkan di pikirannya, bagaimana rasanya bercerai dengan wanita yang amat sangat dicintainya itu.
"Beb istigfar. Aku nggak mau kayak gitu. Kamu tenangin diri kamu dulu. Jangan ucapin yang aneh-aneh" kata Naufal.
"Bodo amat. Memang kenyataannya kayak gitu kok. Sana pergi temui pelakor itu. Aku mau pulang ke rumah Mama" ucap Raisa, mulai masuk ke dalam taksi.
Naufal benar-benar sangat stres dan kacau saat ini. Ia memutuskan untuk menyusul Raisa yang ingin pulang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
Segera ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke rumah Mama Nia dan Papa Adit.
Flashback on
Mama Nia mengetuk pintu kamar Raisa, tidak lama kemudian, Raisa membukakan pintu dengan mata yang sedikit sembab.
"Ada apa, Ma?"
"Mama boleh masuk, nggak?" tanya Mama Nia.
"Boleh" jawab Raisa.
Mama Nia masuk ke dalam kamar anaknya itu dan melihat baby El yang tengah bermain sendirian di atas kasur dan dilihatnya bantal yang basah karena tangisan Raisa.
"Kamu habis menangis ya?"
"Iya" ucap Raisa dengan jujur.
"Kalau kamu sedih kayak gini, kenapa nggak kamu minta maaf duluan ke Naufal? Bagaimana pun dia nggak sepenuhnya salah loh. Dia kepala rumah tangga. Menjadi kepala rumah tangga itu nggak mudah apalagi diumurnya yang masih sangat muda. Mama sangat kagum loh dengan dia. Jadi kamu harus ngertiin dia juga sayang. Kamu mau kan minta maaf ke dia?"
Apa yang dikatakan Mama Nia ada benarnya. Raisa menjadi tidak enak karena terlalu banyak marah-marah kepada Naufal. Padahal Naufal sendiri tidak pernah memarahinya, sampai berniat pergi dari rumah seperti yang dilakukannya saat ini.
"Iya Ma. Aku akan minta maaf ke Naufal"
"Iya. Terima kasih ya, Ma"
Raisa segera bersiap-siap dan pergi ke rumah mereka untuk menemui Naufal.
"Kok rumah dikunci ya? Apa jangan-jangan Naufal lagi di kampus?" duga Raisa.
"Mending langsung ke kampusnya aja deh. Nggak usah di chat biar tiba-tiba muncul aja" lanjutnya lagi.
Raisa memutuskan untuk mendatangi kampus Naufal dengan tiba-tiba. Ia sengaja tidak ingin memberitahukan Naufal lebih dulu, agar terkesan menjadi kejutan.
Setelah sampai di kampus, ia tidak melihat sosok suaminya itu sama sekali di depan gerbang kampus.
"Apa mungkin dia masih ada kuliah ya sekarang? Mending aku ngadem aja dulu di cafe, sambil nungguin dia datang"
Baru saja memasuki cafe yang berada di depan kampus, matanya tiba-tiba menangkap sosok suaminya sedang bersama perempuan lain, duduk di satu meja yang sama dengan kursi yang saling berhadapan.
Apa-apaan ini. Bukannya merasa bersalah dia malah duduk bareng cewek lain. Benar-benar percuma aku ada disini. Kurang ajar! Gumam Raisa.
__ADS_1
Dengan tangan terkepal kuat, ia segera melabrak Naufal dan Laras.
Flashback off
Raisa lebih dulu sampai di rumah, kemudian tidak lama setelahnya Naufal juga muncul.
"Ma, temenin aku siapin surat perceraian" kata Raisa, sesaat setelah masuk ke dalam rumah.
"Apa? Kamu sudah gila ya? Kenapa datang-datang langsung bilang cerai?" kaget Mama Nia.
Naufal muncul dari arah belakang dan mencoba menjelaskan semuanya.
"Maaf, Ma. Aku bisa jelasin apa yang terjadi"
"Nggak usah dengerin dia Ma. Intinya tadi itu aku pergokin dia lagi makan bareng selingkuhannya di cafe" kata Raisa.
"Dia bukan selingkuhan aku, beb. Aku sudah bilang dia cuma senior aku aja"
"Jadi mana yang benar ini? Selingkuhan atau senior?" tanya Mama Nia bingung.
"Selingkuhannya ya seniornya sendiri. Gitu kan maksud kamu?" bentak Raisa.
"Itu nggak benar" kata Naufal.
"Alah terserah. Malas banget aku dengerin kata-kata kamu yang bulshit itu. Jangan suruh aku minta maaf lagi ya, Ma. Malahan aku jadi tambah sakit hati gara-gara mau perbaiki rumah tangga aku sama dia. Aku ke atas dulu. Mama usir aja dia"
Raisa menatap sinis ke arah Naufal, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Ma, aku mohon dengerin penjelasan aku. Aku nggak mungkin kayak gitu, Ma. Aku nggak mungkin selingkuh dari Raisa"
"Mama percaya kamu. Tapi sekarang, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan Raisa. Dia lagi emosi"
"Tapi dia udah ucapin kata-kata pengen pisah. Aku benar-benar nggak mau, Ma"
"Nanti Mama yang bicara ke Raisa. Jangan banyak dipikir ya. Mama yakin kalian nggak akan cerai kok. Kamu balik kuliah atau kerja saja dulu" ucap Mama Nia.
"Aku mohon bantuin ya, Ma"
"Iya pasti"
"Aku permisi dulu. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
Naufal keluar dari rumah Mama Nia dengan perasan campur aduk. Dia menatap ke arah balkon kamar milik Raisa dan menemukan Raisa yang sedang mengintip dari balik gorden jendela kamarnya. Namun, saat mata mereka bertemu, Raisa langsung menutup gordennya dengan rapat.