
Pergi ke supermarket hanyalah alasan yang diberikan Mama Nia, agar Raisa tidak curiga.
.
.
.
1 tahun kemudian
Naufal telah menjadi senior di kampusnya. Perkuliahannya kali ini sudah memasuki semester ke tiga, dengan ipk selalu di atas 3,5 tiap semesternya.
Tahun ini juga menjadi lebih spesial untuk Naufal, karena Raisa sudah memutuskan untuk berkuliah juga di kampus yang sama dan menitipkan baby El ke rumah orang tuanya ataupun orang tua Naufal, selama berkuliah.
Alasan Raisa berkuliah karena orang tuanya sendiri sudah menyuruhnya untuk melanjutkan perkuliahan dan yang paling penting adalah mengawasi Naufal agar tidak terjerat oleh cewek-cewek lain.
Hari ini merupakan hari pertama Raisa harus di ospek. Dengan pakaian hitam putih, ditambah pita merah 10 buah yang menghiasi rambutnya, tidak lupa dengan papan nama besar yang tergantung di depan tubuhnya, melengkapi semua persyaratan yang harus dilakukannya.
"Beb, gimana penampilan aku? Masih cocok nggak?" tanya Raisa.
"Masih dong. Cantik kok" jawab Naufal.
"Kamu kan nanti yang ospek aku beb, jangan dikasih susah ya. Apalagi di tempatin di tempat yang panas, aku nggak mau"
"Iya nanti aku yang atur tentang kamu beb, tenang aja ya"
"Oke. Kalau begitu kita antar El ke rumah Mamaku dulu yuk" ucap Raisa.
Mereka akhirnya pergi ke rumah Mama Nia dan Papa Adit untuk menitipkam baby El.
"Assalamualaikum Mama, Papa" teriak Raisa, sambil mengetuk pintu rumah.
"Waalaikumsalam. Tunggu sebentar" sahut Papa Adit, dari dalam rumah.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka.
"Papa ini hari pertama aku kuliah. Ada Mama nggak? Aku mau nitip El" kata Raisa.
"Ada kok di dalam. Ayo masuk"
Setelah mengobrol sebentar dan menitipkan baby El, Raisa dan Naufal langsung menuju ke kampus.
Selain kampus yang sama, ternyata Raisa juga memilih jurusan yang sama dengan Naufal yaitu bisnis.
Sesampainya di kampus, Raisa mulai jalan memisah dengan Naufal. Ia berkumpul ke tempat mahasiswa baru, sedangkam Naufal berkumpul di tempat panitia.
"Naufal, katanya istri lo juga kuliah tahun ini? Yang mana orangnya? Kok jadi penasaran sih" ucap Reza.
"Itu tuh yang paling cantik" tunjuk Naufal ke arah Raisa, yang terlihat sedang mengobrol dengan perempuan lain.
"Wih cantik juga. Ada nggak kira-kira temannya yang bisa dikenalin ke kita berdua?" tanya Reza, sambil menunjuk dirinya dan juga Andra.
__ADS_1
"Apaan sih. Gue nggak ikut-ikutan ya" kata Andra.
"Ada kok. Entar dibahas lagi, udah mau mulai tuh" ucap Naufal.
Serangkaian acara dimulai untuk menyambut penerimaan mahasiswa baru.
Naufal terus melihat ke arah Raisa saat acara sedang berlangsung. Raisa pun membalas tatapan Naufal dengan sesekali mengerlingkan matanya, membuat Naufal tertawa kecil.
"So sweet banget ya kalian. Jadi pengen deh pacaran juga. Nasib jomblo" ucap Reza.
"Lo mah bukan jomblo, tapi playboy. Sukanya ngegantungin cewek, tanpa status yang jelas" kata Andra.
"Mendingan gue masih respon cewek-cewek lain. Daripada lo, dingin banget ke cewek-cewek, dikirain lo homo" balas Reza.
"Apa lo bilang?" kesal Andra.
"Nggak usah berantem dong. Kalian nggak malu ya diliatin orang-orang" lerai Naufal.
Selesai acara, para mahasiswa baru segera disuruh ke lapangan untuk memulai ospek mereka. Tentu saja didampingi oleh panitia. Segala peraturan dijelaskan oleh Naufal, selaku panitia.
Banyak mahasiswi baru yang mengagumi ketampanan dan kepintaran Naufal saat berbicara. Raisa yang melihat hal itu menjadi jenuh. Bagaimana tidak? Ia sudah terlalu terbiasa melihat respon wanita-wanita lain seperti itu.
"Sepertinya banyak yang kagum dengan Kak Naufal" kata Putri, teman yang baru dikenal oleh Raisa.
"Iya tuh. Tapi udah biasa sih. Suami aku memang selalu banyak fansnya" ucap Raisa.
Raisa memang sudah memberitahukan statusnya dengan Naufal kepada Putri.
"Yang mana?" tanya Raisa, celingak celinguk melihat orang yang dimaksud Putri.
"Itu tuh yang tepat disamping Kak Naufal" tunjuk Putri ke arah Andra.
Andra tidak sengaja bertatapan dengan Putri, saat Putri sedang menunjuknya.
"Kamu yang nunjuk saya. Ngapain tunjuk-tunjuk?" teriak Andra, begitu dinginnya.
Ya, Andra dikenal sebagai senior berhati dingin dan kejam, yang tidak mempunyai belas kasih.
"Mati nih kita ketahuan" ucap Putri, sambil pelan-pelan menurunkan tangannya.
"Kalian berdua maju kedepan" panggil Andra kepada Raisa dan juga Putri.
Naufal yang melihat istrinya dipanggil, langsung menatap tajam ke arah Andra.
"Tenang aja Fal. Nggak gue marahin kok istri lo. Santai"
Putri tampak menunduk saat maju ke depan, sedangkan Raisa tampak santai saat maju.
"Kenapa kalian berdua nunjuk ke arah saya?" tanya Andra dengan tatapan datar.
"Kata Putri Kakak ganteng. Menurut saya juga gitu, tapi masih lebih gantengan Kak Naufal sih"
__ADS_1
Raisa tersenyum ke arah Naufal, sedangkan Naufal sendiri malah jadi salah tingkah.
"Heh kalian. Yang sopan kalau bicara sama senior!" bentak salah satu senior perempuan, teman kelas Naufal.
"Sudah sopan Kak. Kakak juga yang sopan dong, kita kan nggak emosi bicaranya. Kakak aja yang emosian sekarang" ucap Raisa.
Putri melotot ke arah Raisa, karena mendengar temannya itu membalas perkataan senior.
"Apa kamu bilang?"
"Eh udah dong. Bercanda kali dianya. Duh santai aja, jangan emosi" tahan Reza dan Andra kepada teman peempuannya.
Naufal hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Raisa yang selalu berani tanpa rasa takut.
Masalah terselesaikan. Putri dan Raisa akhirnya disuruh kembali ke barisan lagi.
Hingga siang hari, mereka dijemur di tengah terik matahar, membuat semua orang menjadi kelelahan termasuk Raisa.
Naufal yang tidak tega melihat istrinya kepanasan, perlahan mengampiri Raisa dan berdiri tepat disampingnya, menutupi matahari yang mengarah ke istrinya saat ini.
Raisa yang sedang menundukkan kepalanya karena kepanasan, seketika langsung mengangkat kepalanya saat merasa ada sesuatu yang menutupi mataharinya.
"Beb, ternyata itu kamu" ucap Raisa, dengan suara pelan.
"Aku lihat kamu kepanasan, jadi aku samperin"
"Iya beb, makasih udah ngerti. Panas banget loh, ngapain sih kita lama banget dijemur disini. Waktu sekolah aja nggak selama ini loh dijemurnya" gerutu Raisa.
"Kan ini kuliah, bukan lagi sekolah beb. Mulai sekarang kamu akan rasain, apa yang aku alami selama ini. Ya, memang sesusah ini" ujar Naufal.
"Iya maaf ya beb, aku nggak ngertiin kamu. Apa nanti ini ada musyawarah besar juga ya? Aku nggak mau hadir. Kan kasihan nanti El diurus Mama dan Papa terus"
"Kamu tenang saja beb. Soal itu aku yang urus"
"Makasih loh" kata Raisa, tersenyum senang.
"Kakak Naufal kesini dong. Jangan godain junior mulu" teriak Reza, menggoda Naufal.
"Dasar gila" umpat Naufal.
"Teman kamu beb?" tanya Raisa.
"Iya teman aku. Aku balik dulu ya. Bisa kacau kalau gilanya kambuh" jawab Naufal.
Raisa mengangguk.
Saat Naufal berjalan menghampiri teman-temannya yang lain. Lagi-lagi Reza menggoda Naufal.
"Ciee Kakak Naufal baru habis ngapelin Adik Raisa yang imut dan cantik itu" ucap Reza dengan suara sengaja dibesarkan, membuat Naufal melotot tajam ke arahnya.
"Cieeeee" teriak semua mahasiswa yang sedang berkumpul.
__ADS_1
Raisa dan Naufal menjadi salah tingkah, akibat teriakan semua mahasiswa.