
Raisa menaruh kembali foto mereka di atas meja, lalu berjalan keluar untuk makan malam bersama sang suami.
"Wah beb, kamu masak apa? kelihatannya enak nih" ucap Raisa.
"Memangnya kapan makanan aku nggak enak?".
"Hehe enak terus kok, aku suka banget".
"Ini aku buat ayam kecap spesial buat istri tersayang" kata Naufal dengan bangganya.
"Karena tadi sudah dikasih jatah jadi makanannya ayam ya sekarang" goda Raisa.
"Kamu bisa aja. Iya dong hahahaha" Naufal tertawa mengingat pertempuran mereka tadi.
"Mulai mesum ya sekarang. Tapi aku suka kok, asal mesumnya sama aku aja. Awas aja kalau sama cewek lain, bakal aku cincang" ujar Raisa, tersenyum menakutkan.
"I..iya nggak kok beb. Udah jangan gitu lagi senyumnya. Aku takut beneran" gugup Naufal.
"Oke" kata Raisa, langsung mengubah ekspresinya kembali menjadi seperti malaikat.
Keduanya makan malam bersama dengan penuh canda tawa. Pernikahan mereka memang penuh dengan drama dan juga tantangan. Tetapi, berkat itulah yang membuat cinta mereka semakin kuat. Sikap tanggung jawab dan pengertian Naufal, berperan sangat penting dalam rumah tangga mereka yang bisa dibilang diumur segitu masihlah labil. Tapis sampai saat ini, mereka bisa melaluinya dengan baik. Tidak semua pernikahan di usia muda berakhir buruk. Buktinya, Naufal dan Raisa bisa melalui itu.
POV Naufal
Aku tidak menyangka akan menikah di umur semuda ini. Padahal dulunya aku berpikir akan menikah di umur 27 atau 28 tahun. Bahkan aku juga sudah merancang semua masa depan aku. Mulai dari kuliah S1 lalu lanjut S2 kemudian melanjutkan bekerja di perusahaan Papa, setelah itu baru nantinya aku akan memikirkan soal pernikahan. Tetapi kenyataannya, aku menikah lebih dulu sebelum aku mencapai cita-cita yang aku inginkan.
Awalnya aku sangat kesal dan takut. Kesal, karena aku dijebak sehingga terpaksa harus menikah muda. Lalu takut, karena aku harus menghidupi seseorang yang bahkan tidak aku kenali sebelumnya. Tetapi rasa takut dan kesal itu hilang, saat wanita yang duduk dihadapanku ini merubah semua itu.
Aku tidak menyangka, walaupun diluar kelihatan sifatnya sangat bar-bar, namun di dalamnya dia kelihatan sangat lembut, penyayang, tidak mudah putus asa, dan juga tidak pernah mengeluh.
Aku pikir dia akan sama dengan wanita lain, yang tidak bisa hidup sederhana saat dulunya dia memiliki hidup yang sangat berkecukupan. Ternyata dugaanku salah, dia berbeda dengan wanita lain. Dia istri terbaik yang pernah ada. Aku bersyukur memilikinya. Terima kasih Raisa, semoga kita berdua akan selalu bersama hingga maut memisahkan.
POV Author
Raisa yang sedang menikmati makanannya merasa heran karena melihat Naufal senyum-senyum sendiri menatapnya.
"Kamu kenapa beb? Kok liatin aku kayak gitu? Muka aku jelek ya?" tanya Raisa.
"Iya" jawab Naufal singkat.
"Iihhh yang benar?" teriak Raisa, panik.
"Jangan teriak-teriak beb, udah malam loh. Cuma bohong kok tadi, memangnya kalau jelek juga kenapa? Kan tetap aku suka" ujar Naufal.
"Masa? Beneran?" tanya Raisa, tidak percaya.
"Beneran kok, tenang aja" jawab Naufal.
__ADS_1
"Makasih bebeb Naufal, suami terbaikku" puji Raisa.
Naufal tersenyum, salah tingkah. Hanya Raisa yang bisa membuatnya salah tingkah seperti itu.
.
.
.
Di Kantor
"Pegawai tidak tahu sopan santun, kasih laporan kamu ke ruangan saya sekarang juga!" bentak Kevin kepada Raisa.
Raisa yang sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu dari Kevin, hanya bisa memutar matanya, jenuh.
Ia menuju ruangan Kevin dan memberikan laporan kerja yang telah dibuatnya.
Kevin menerima laporan tersebut dan mulai membacanya. Baru lembaran kedua, ia sudah melemparkan laporannya ke lantai.
"Loh kenapa dibuang, Pak?".
"Kenapa kamu bilang? Itu jelas-jelas salah. Kamu nggak tahu baca apa? Ulangi semuanya dari awal!" perintah Kevin.
"Kalau nggak sesuai bilang aja, nggak usah pakai acara dilempar-lempar segala" sungut Raisa.
"Nggak tahu diri banget sih. Kalau di kantor aja marah-marah, tapi tadi malam pakai acara ngajak makan malam. Mana yang lebih nggak tahu diri? Asal Bapak tahu ya, saya nggak akan mau makan bersama Bapak. Nggak sudi".
Raisa keluar dari ruangan Kevin dengan penuh emosi. Sedangkan Kevin, terlihat syok mendengar perkataan Raisa.
Bodoh banget sih, kenapa pakai acara marah-marah segala. Jadinya dia nggak mau makan kan sama aku. Pokoknya aku harus buat dia mau makan malam bersama. Hanya dia satu-satunya orang yang berani melawanku. Batin Kevin.
Raisa terlihat menghentak-hentakan kakinya di lantai saking kesalnya. Lia yang melihat hal itu, menjadi bingung.
"Kakak kenapa tiap keluar dari ruangan Pak Kevin, wajahnya marah-marah terus?" tanya Lia.
"Nggak usah sok peduli deh" bentak Raisa.
Ya, semenjak Raisa tahu kalau Lia mencoba mendekati Naufal, semenjak itu ia menyatakan permusuhan dengan Lia.
"Maaf, aku cuma nanya doang kok".
Raisa tidak merespon perkataan Lia, dan lebih memilih memperbaiki laporannya.
Saat jam makan siang, Naufal baru saja tiba di kantor sehabis pulang sekolah.
Ia melihat semua orang masih sibuk dengan pekerjaannya, tidak terkecuali dengan Raisa.
__ADS_1
Naufal mendekati Raisa dan pura-pura menjelaskan tentang kesalahan laporannya.
"Kamu kenapa nggak makan siang?" tanya Naufal sangat pelan, agar tidak didengar oleh orang lain.
"Si iblis itu suruh aku perbaiki laporan ini. Marah-marah mulu dia, kesal banget".
"Nanti aku bantuin, sekarang makan dulu. Nanti kamu sakit".
"Ihh perhatian banget sih. Tambah suka deh".
Lia yang merasa tidak nyaman melihat kedekatan Naufal dan Raisa tiba-tiba berdehem sangat keras, membuat pembicaraan mereka terganggu.
"Apa sih nggak jelas banget" ucap Raisa.
Raisa kembali mengobrol dengan Naufal, membuat Lia menjadi kesal. Saking kesalnya, ia keluar dari ruangan itu karena tidak tahan melihat kedekatan mereka berdua.
Tiba-tiba Kevin membuka pintu dan keluar dari ruangannya, kemudian menuju ke tempat Raisa dan Naufal yang sedang mengobrol.
Raisa dan Naufal yang melihat Kevin sudah berdiri dihadapan mereka menjadi heran.
"Mohon maaf, Pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya Naufal.
Kevin tidak menjawab pertanyaan Naufal dan lebih memilih menatap Raisa.
"Pengumuman untuk kalian semua. Mulai hari ini, dihadapan kalian semua. Saya ingin menyatakan sesuatu kepada Raisa, jadi tolong dengar baik-baik" ucap Kevin.
Raisa dan Naufal saling pandang, tidak mengerti.
"Raisa Nur Azizah, maukah kamu jadi pacarku?".
Kevin menggenggam tangan Raisa, membuat Raisa sangat syok dan cepat-cepat melepaskan genggaman tangan itu.
"Aku sudah punya pacar" kata Raisa.
"Putuskan saja pacarmu. Aku jamin, aku lebih baik dari dia" ucap Kevin.
Tiba-tiba suara hantaman sangat keras melayang di pipi Kevin, membuatnya jatuh tersungkur di lantai.
"Bodoh! Dia bilang dia sudah punya pacar" teriak Naufal.
"Kamu? Berani kamu memukul saya? Memangnya apa hak kamu untuk ikut campur hah?" teriak Kevin tidak kalah kerasnya.
"Karena saya adalah pacarnya. Kamu mau apa?".
Seisi ruangan terlihat terkejut mendengar pernyataan Naufal. Lia yang melihat dari kejauhan, semakin patah hati dibuatnya. Sedangkan Raisa, ia tersenyum senang mendengar pernyataan Naufal.
"Itu baru suamiku" bisik Raisa ke telinga Naufal.
__ADS_1