
"Cepat sembuh, beb. Aku dan dede bayi sangat merindukan kamu"
.
.
.
Hari ini merupakan jadwal operasi Naufal akan dilakukan. Selama menunggu di ruang tunggu ia terus berdoa akan keselamatan suaminya.
Raisa berpikir apakah sebaiknya masalah kecelakaan tabrak lari ini harus diketahui oleh orang tua Naufal dan orang tuanya atau tidak. Tetapi saat dipikir lagi, ia memutuskan untung mengurungkan niatnya. Perkataan Naufal tentang tidak ingin membuat orang tua mereka khawatir, membuat Raisa enggan memberitahukannya.
"Sebaiknya untuk sekarang aku jangan dulu kasih tahu. Aku yakin Naufal mampu melewati semuanya. Dede bayi, kita berdoa sama-sama ya, biar Papa baik-baik aja dan cepat berkumpul dengan kita lagi"
Raisa berbicara sendiri, berusaha menguatkan dirinya yang hanya seorang diri menunggu Naufal di operasi.
Rasa lapar Raisa mendadak hilang, ia bahkan tidak pernah nafsu makan akhir-akhir ini. Tetapi, demi anak yang dikandungnya, Raisa terpaksa harus tetap makan.
Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya operasi pun telah selesai dilakukan. Dokter keluar dari ruangan bersama perawat lainnya.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya? Apakah operasinya lancar?" tanya Raisa.
"Lancar, Bu" jawab sang Dokter.
"Alhamdulillah Ya Allah. Apa saya sudah bisa bertemu dengan suami saya?"
"Sudah, Bu. Suami Ibu sudah melewati masa kritis, sekarang kita tinggal tunggu sampai sadar dari obat biusnya saja. Tapi setelah Pak Naufal dipindahkan dulu di ruangan inap ya"
"Baik, Dok. Terima kasih"
Raisa senang mengetahui Naufal baik-baik saja. Setelah Naufal dipindahkan di ruangan inap, Raisa langsung menghampiri dan menggenggam tangan Naufal.
"Terima kasih, beb. Kamu akhirnya bisa melewati masa kritis dan operasinya juga lancar. Cepat sadar ya. Kami berdua sangat menyayangi kamu, Beb"
Raisa terus menggenggam tangan Naufal sambil sesekali mencium punggung tangannya. Hingga akhirnya ia mulai merasa mengantuk dan akhirnya ia pun tertidur.
Di tengah tidurnya, Raisa merasakan ada seseorang yang mengelus-elus kepalanya. Ia membiarkannya karena dipikirnya itu hanyalah mimpi saja. Namun, elusan itu semakin lama semakin terasa nyata. Raisa segera membuka matanya dan menoleh ke arah Naufal.
Ternyata, Naufal sudah sadar dari obat bius dan kini sedang menatap datar ke arah Raisa.
"Beb, kamu sudah sadar akhirnya Alhamdulillah. Aku panggil Dokter dulu ya" kata Raisa sangat senang.
"Beb? Siapa Beb?" tanya Naufal.
"Beb, kok kamu gitu sih? Aku Raisa Nur Azizah, perempuan yang sangat cantik yang menjadi istri kamu. Jangan pura-pura lupa deh" kesal Raisa.
"Maaf, tapi saya nggak tahu kamu siapa. Dan apa tadi? Istri? Sejak kapan saya sudah menikah?"
__ADS_1
"Ya ampun kamu beneran hilang ingatan? Aku lagi hamil anak kamu loh, jangan bercanda dong" ucap Raisa hampir menangis.
"Maaf, saya tidak kenal" kata Naufal dengan wajah yang masih datar.
Raisa menghela napas dan pergi memanggil Dokter.
"Dok, katanya dia nggak tahu saya, Dok. Masa iya suami saya hilang ingatan? Kayak sinetron banget, Dok" kata Raisa.
"Maaf, Bu. Saya periksa dulu kondisi pasien ya, sekarang"
Dokter segera memeriksa Naufal dan merasa ada yang janggal.
"Kenapa, Dok? Suami saya beneran hilang ingatan? Bisa sembuh atau nggak?" tanya Raisa, bertubi-tubi.
"Eungg...gini Bu. Saya sudah periksa, tapi tidak ada tanda-tanda Pak Naufal geger otak dan jadi hilang ingatan" jawab Dokter.
"Dokter serius?"
"Iya"
"Jadi kalau bukan hilang ingatan terus..."
Raisa menatap ke arah Naufal. Tetapi Naufal mencoba mengalihkan pandangannya.
"Ohh jadi dia bohong ya, Dok. Makasih ya Dokter"
Plak
Pukulan mendarat di bahu Naufal.
"Awwww, beb sakit. Ampun beb" pekik Naufal.
"Berani kamu bohongin aku? Kamu nggak tahu apa aku cemas dan khawatir? Kamu ditabrak tidak jauh dari tempat aku berada dan pelakunya lari begitu saja. Aku syok, beb. Jangan bermain dong" teriak Raisa, sangat kesal.
Saat ini ia benar-benar marah. Pasalnya, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Naufal. Air matanya tidak dapat dibendung lagi. Raisa menangis sejadi-jadinya. Kemudian, Naufal mencoba pelan-pelan untuk duduk dan memeluk tubuh istrinya.
"Maaf, Beb. Aku tadi cuma bercanda. Aku sayang banget sama kamu. Aku cuma nggak mau kamu sedih terus. Tapi aku nggak tahu, kalau ternyata kamu sekhawatir ini, beb. Maafin aku ya" ucap Naufal, masih dengan posisi memeluk Raisa.
"Iya beb. Aku juga minta maaf sudah marah ke kamu. Tapi aku beneran khawatir, beb. Aku takut kamu kenapa-kenapa"
"Iya sayang. Udah nggak usah nangis lagi"
Naufal melepaskan pelukannya, kemudian menghapus bekas air mata yang jatuh di pipi Raisa.
"Siapa yang nabrak kamu, beb? Kenapa dia bisa lari gitu aja?" tanya Raisa.
"Aku juga nggak tahu. Aku cuma lihat sekilas, dia kelihatannya masih muda. Mungkin dia baru belajar bawa mobil jadi gitu"
__ADS_1
"Kita harus lapor ke polisi, beb"
"Nggak usah. Aku sudah ikhlas kok. Aku anggap itu musibah" kata Naufal.
"Kamu jangan terlalu baik lah. Kamu nggak tahu apa, beb. Uang tabungan kita ludes semuanya. Aku pakai semua untuk uang berobat dan operasi kamu" ujar Raisa
"Habis semua? Nggak ada sisa sama sekali?" kaget Naufal.
"Nggak. Kamu sendiri kan yang bilang jangan kasih tahu Mama dan Papa biar mereka nggak khawatir"
"Benar juga sih. Ya sudah nggak apa-apa. Semua sudah terjadi. Berarti nanti kita mulai ngumpulin uang dari awal lagi untuk biaya kuliah kita berdua dan juga biaya melahirkan kamu" ucap Naufal.
"Aku nggak usah kuliah. Kamu aja dulu. Aku ma fokus ngurus anak aja nanti. Sambil kerja magang beberapa jam di perusahaan Papa Tio"
"Kok gitu sih? Dulu kan kamu yang bilang mau kuliah kalau aku kuliah juga. Tenang aja beb, aku berusaha untuk mendapatkan beasiswa untuk kuliah aku. Jadi sisa kamu aja nanti yang dibiayain"
"Nggak usah. Aku juga malas belajar, Beb. Mendingan uangnya disimpan untuk biaya anak kita, lebih menguntungkan" kata Raisa.
"Kamu yakin?" tanya Naufal lagi.
"Yakin, beb" jawab Raisa.
"Oke kalau itu yang kamu mau, beb. Sini naik ke atas ranjang, aku mau tidur bareng kamu. Udah rindu"
Naufal menepuk tempat disebelahnya untuk memberikan ruang kepada Raisa.
Raisa dengan senang hati mengiyakan, lalu naik ke atas ranjang. Kini dalam satu ranjang ada Raisa dan Naufal.
Keduanya saling berpelukan. Kemudian, Raisa mencium seluruh wajah Naufal.
"Kangen banget, beb" kata Raisa.
"Aku juga kangen banget, beb" balas Naufal.
"Beb, jangan cium lagi dong" lanjut Naufal.
"Kenapa memangnya?"
"Nanti kalau kebablasan gimana? Ini kan rumah sakit"
"Kan sekarang cuma ada kita berdua. Yakin nggak mau?" goda Raisa.
Walaupun dalam keadaan sehabis operasi dan masih memakai infus, nafsu Naufal tetap bangkit.
Tanpa pikir panjang, ia mencium bibir Raisa. Saat sedang asyik bercumbu, tiba-tiba Dokter dan 2 orang perawat masuk kedalam ruangan, membuat Raisa dan Naufal kelabakan dan Raisa pun cepat-cepat turun dari ranjang.
"Baru selesai operasi Pak Naufal gercep ya" kata Dokter.
__ADS_1
Raisa dan Naufal hanya tertawa canggung karena merasa malu.