
"Ihh kirain orang jahat mau masuk. Kamu sih kenapa pakai nunduk segala, aku kan nggak bisa lihat wajah kamu tadi, beb"
"Hehe maafin aku ya" kata Naufal, sambil cengengesan.
.
.
.
Hampir setiap hari, Naufal selalu pulang larut malam. Raisa selalu saja memberitahukan kepada Naufal untuk tidak hadir sekali saja dalam musyawarah besar yang diadakan kampusnya itu. Namun, Naufal tidak pernah mau karena dirinya merupakan anak yang taat aturan. Berbeda halnya dengan Raisa. Menurutnya, sekali bolos saja tidak akan menjadi masalah.
"Hari ini kamu pulang malam lagi ya?" tanya Raisa, menatap ke arah Naufal yang sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Iya beb. Sisa 2 hari lagi kayak gini, habis itu sudah nggak ada lagi kok. Jadi sabar ya" jawab Naufal.
"Orang tua kamu dan orang tua aku kan lagi ke luar kota menghadiri acara perusahaan teman bisnis mereka. Nanti kalau ada apa-apa di rumah, aku minta tolong ke siapa?"
"Kamu kok bicara kayak gitu? Jangan bicara yang aneh-aneh. Semoga saja nggak beb. Kita harus terus berdoa biar dijauhkan dari bahaya apapun"
"Tapi badan El agak hangat hari ini. Kalau dia kenapa-kenapa gimana?"
"Kan kita sudah pergi ke dokter, kasih aja obatnya. Insya Allah nggak bakalan terjadi apa-apa. Tinggal 2 hari beb, aku mohon kamu ngerti"
Naufal memegang kedua bahu Raisa, sambil menatap lekat manik mata istrinya itu.
"Aku mohon ya"
Dengan terpaksa Raisa mengiyakannya. Ia tidak tega menolak, kalau Naufal sudah memohon seperti itu padanya.
Malam harinya, seperti biasa Raisa belum bisa tertidur. Ia memilih untuk menunggu suaminya pulang lebih dulu, baru dirinya akan tidur.
Biasanya Naufal akan pulang pukul 1 atau 2 dini hari dan saat ini waktu masih menunjukkan pukul 12 malam.
Raisa sudah menidurkan baby El sejak jam 10 malam, sehingga ia bisa leluasa menonton drama korea kesukaannya malam ini.
__ADS_1
Tiba-tiba ia terkejut saat mendengar suara tangisan baby El yang sangat kencang. Dipegangnya kening baby El, terasa sangat panas.
"Ya ampun dia panas tinggi. Gimana ini?"
Raisa menjadi panik. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi saat ini.
Ia segera mengambil hpnya dan mencoba menghubungi Naufal. Namun, percuma saja karena Naufal tidak mengangkatnya.
"Nggak diangkat lagi. Ya Allah nak, kita tetap harus ke rumah sakit sekarang. Mama akan minta bantuan tetangga"
Raisa menggendong baby El, kemudian meminta pertolongan pada tetangga samping rumahnya. Untung saja tetangga mereka sangat baik dan mau membantu.
Sepanjang perjalanan Raisa terus berdoa, agar baby El bisa cepat sembuh.
Sesampainya di rumah sakit, Raisa langsung membawa baby El masuk dan segera ditangani oleh Dokter.
Raisa kembali menghubungi Naufal, tetapi suaminya itu belum juga mengangkatnya.
"Keterlaluan. Anaknya sedang sakit tapi hpnya malah nggak diangkat. Aku benar-benar kecewa beb" ucap Raisa, sambil menatap layar hpnya.
Tetapi saat sampai di rumah, ia mengetuk pintu dan tidak ada jawaban. Digedor-gedornya pintu rumah cukup kuat, namun hasilnya nihil.
"Pada kemana sih?"
Naufal merogoh tasnya dan mengambil hp di dalamnya. Ia menemukan beberapa panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk dari Raisa.
Dibukanya pesan masuk, berisi pesan yang menyuruhnya untuk segera ke rumah sakit karena baby El demam tinggi.
"Astagfirullah. Kenapa aku baru lihat hp sekarang? Ini sudah 2 jam yang lalu. Pasti Raisa sangat marah sekarang. El, maafkan Papa nak"
Naufal sangat merasa bersalah dan segera menuju ke rumah sakit yang dikatakan Raisa di dalam pesan teksnya.
Setelah sampai di rumah sakit, Naufal langsung mencari keberadaan istri dan anaknya itu dan akhirnya berhasil menemukan mereka.
"Beb bagaimana keadaan El?"
__ADS_1
"Kamu baru datang? Anak kita hampir saja tidak selamat karena kamu yang selalu pulang tengah malam! Aku sudah bilang kan jangan pergi sekali saja, kenapa kamu nggak mau dengar Naufal? Untung saja tadi ada tetangga yang baik mau mengantarkan aku dan El ke rumah sakit. Aku benar-benar kecewa sama kamu!"
Raisa benar-benar sangat marah. Perasaannya saat ini bercampur aduk, antara sedih, kecewa, dan juga marah kepada Naufal.
"Maaf beb. Aku tau aku salah. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah ketentuan dari kampusnya" kata Naufal.
"Ketentuan kampus apa? Aku yakin sekali dua kali kamu nggak hadir itu tidak akan menjad masalah. Pasti banyak kok teman-teman kamu yang juga minta izin nggak hadir. Kamunya aja yang terlalu bersemangat dengan kegiatan kampus kamu, sampai melupakan anak dan istri kamu di rumah. Ingat beb, kamu itu sudah berkeluarga beda dengan teman-teman kamu yang belum menikah. Harusnya kamu sadar" ujar Raisa, panjang lebar.
Naufal sedikit kecewa mendengarkan perkataan Raisa. Menurutnya, dirinya selama ini bekerja keras demi istri dan anaknya juga. Naufal juga terpaksa harus mengikuti kegiatan kampus, karena ia tidak enak untuk menolak pada senior-senior yang sudah baik kepadanya selama ini.
"Aku minta maaf sekali lagi, tapi tolong mengerti keadaan aku sedikit saja beb"
"Urus saja urusan kampus kamu. Aku akan tinggal dengan El di rumah orang tuaku untuk sementara waktu. Kebetulan mereka juga pulang hari ini dari luar kota"
"Baiklah kalau itu mau kamu"
Naufal mengiyakan permintaan Raisa karena tidak ingin berdebat lebih panjang lagi. Sementara Raisa merasa kecewa dengan jawaban Naufal. Ia ingin sekali Naufal menahannya untuk tidak pergi dari rumah. Akan tetapi, Naufal malah membiarkanya pergi, membuat Raisa tambah kecewa.
Pagi harinya, baby El sudah diperbolehkan pulang. Selama perjalanan pulang ke rumah, tidak ada satu ucapan pun keluar dari mulut Raisa maupun Naufal.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah, belum ada juga obrolan apa-apa diantara mereka.
"Kamu kapan mau ke rumah Mama dan Papa? Nanti aku anterin"
"Nggak usah. Kamu pergi aja ke kampus atau ke kantor. Aku nanti pergi naik taksi bareng El" ucap Raisa, tanpa menatap ke arah Naufal.
"Aku tau kamu masih marah beb. Tapi setidaknya izinin aku untuk anterin kamu dan El ke rumah orang tua kamu"
"Aku pergi nanti siang. Kamu kan harus kuliah"
"Aku bisa minta izin nanti, kan nganternya nggak lama"
"Itu kamu bisa izin. Aneh banget kalau kegiatan malam nggak bisa kamu minta izin. Memang cuma alasan kamu aja kan beb? Udah lah. Aku nanti pergi sendiri, nggak usah dianterin"
Raisa berlalu pergi ke kamar, meninggalkan Naufal sendirian di ruang tengah. Naufal tidak membantah apapun karena dirinya tidak ingin masalah semakin panjang. Padahal kalau saja Raisa tahu bagaimana susahnya menjadi anak kuliahan, mungkin saja istrinya itu tidak akan berkata seperti saat ini.
__ADS_1