
"I love you istri bar-barku".
"Love you too".
Ini pertama kalinya Raisa merona merah mendengar perkataan Naufal.
.
.
.
Setiap malam Naufal selalu mengajari Raisa belajar. Karena besok adalah hari ujiannya, kali ini Naufal tidak membiarkan Raisa beristirahat sedikit saja.
"Beb istirahat sebentar ya. Kepala aku rasanya udah beruap nih".
"Nggak bisa. Kamu tuh harus diajarin disiplin biar nggak malas-malasan belajar kayak gini".
"Tapi capek beb. Hapal perkalian susah banget".
"Perkalian ini sudah ada sejak SD beb dan paling tidak harus wajib menghapal sampai perkalian 10. Sedangkan kamu cuma sampai 5 hapalnya, jadi tambah lagi 5 biar nanti ngerjain soal ujiannya nggak kesusahan" tegas Naufal.
"Iya, aku hapalin lagi sekarang".
"Oke, nanti habis itu aku tes ya".
"Iya! galak banget kayak kayak bu Susi" kesal Raisa.
Naufal hanya diam mendengarkan kekesalan Raisa. Ia tahu, kalau Raisa tidak ditegaskan seperti ini pasti akan bermalas-malasan untuk belajar.
"Udah hapal aku beb" ucap Raisa sambil menutup buku hapalannya.
"Cepat banget, tapi bagus. Aku tes ya sekarang".
"Iya".
"6x7?".
"42".
"Bagus" kata Naufal.
"Kalau 7x6?".
"24" jawab Raisa percaya diri.
"Kok 24 sih? kan 6x7 dengan 7x6 sama aja, cuma dibalik doang. Harusnya hasilnya 42 juga".
"Ya, maka dari itu, karena angkanya cuma dibalik doang jadi hasilnya juga dibalik harusnya beb. Jadi 42 tadi dibalik hasilnya 24x" ucap Raisa dengan polosnya.
Naufal yang mendengarkan penjelasan Raisa, mencoba menahan emosi.
"Jadi, kamu nggak tahu cara perhitungannya beb? dan dengan santainya kamu jawab 24 karena angkanya dibalik? logis banget ya".
"Iya dong. Pintar kan aku?".
Raisa belum menyadari kesalahannya dan malah menanyakan kepintarannya pada Naufal.
"Berdiri sekarang, lalu angkat kakinya sebelah".
"Heh? kenapa memangnya beb?".
"Ikut aja".
Raisa mengikuti perintah Naufal dan langsung berdiri dengan satu kaki.
__ADS_1
"Sudah beb".
"Letakkin tangannya ditelinga".
"Loh kok kayak lagi dihukum sih".
"Memang kamu lagi dihukum" kata Naufal.
"Kenapa bisa aku dihukum beb? aku salah apa?" tanya Raisa tidak terima.
"Jangan diturunin tangan dan kakinya" ucap Naufal dengan wajah datarnya, membuat Raisa mengikuti perintahnya lagi.
"Hapalin lagi perkaliannya dengan benar. Kali ini jangan pernah memakai insting nggak jelas. Ucapkan dengan keras perkaliannya, aku dengar dari kamar".
"Beb jangan tinggalin sendiri disini dong" rengek Raisa.
"Hapal sekarang" tekan Naufal, kemudian berlalu ke kamar.
Setelah melihat Naufal sudah masuk ke dalam kamar, Raisa segera menurunkan kakinya dan tangannya.
"Ihh sebel banget deh. Nih otak juga, kenapa nggak pintar sedikit aja sih" sungutnya.
"Mulai perkaliannya sekarang, jangan lupa kaki dan tangannya diangkat" sahut Naufal dari dalam kamar.
"Iya bawel" balas Raisa.
"1x6\=6, 2x6\=12".
Perkalian Raisa lancar tanpa ada kesalahan apapun di perkalian 6, 7 dan 8. Pada saat memasuki perkalian 9 ternyata dia salah menyebut yang harusnya 72 menjadi 71.
"Ulangi, harusnya 72. Mula dari perkalian 6 lagi".
"Apa beb? cuma tinggal ditambah 1 angka doang. Jangan di ulang dari awal dong".
"Ulangi" kata Naufal penuh penekanan.
Naufal yang mendengar kekesalan Raisa di luar, tertawa ngakak tanpa bersuara.
Raisa sebenarnya masih melakukan beberapa kesalahan dalam perkaliannya, tetapi karena Naufal tidak tega, ia akhirnya menyudahi hukumannya itu.
"Sudah cukup. Yang penting kamu sudah tahu walaupun masih ada yang salah sedikit. Semangat ya besok ujiannya" ucap Naufal, memeluk tubuh istrinya yang sudah kelelahan.
"Kamu jahat beb. Badan aku sakit semua ini, kamu tanggung jawab kalau aku kerja soalnya nggak fokus besok".
"Kalau nggak diginiin pasti kamu nggak berusaha beb. Maafin aku ya".
"Iya beb. Maaf juga otak aku bodohnya udah sekarat".
"Hush nggak boleh ngomong gitu. Ayo sekarang tidur, biar besok bisa semangat ke sekolah".
"Siap. Aku mau peluk kamu banyak-banyak malam ini, biar semangat bangunnya besok".
"Oke tuan putri diizinkan untuk peluk sepuasnya".
"Horeee" teriak Raisa seperti anak kecil diberi permen.
Keesokan paginya, Raisa dan Naufal sudah bersiap untuk ke sekolah.
Naufal membuatkan sarapan spesial untuk Raisa, memperingati hari pertama ujian dimulai.
"Ini makan yang banyak ya, aku doain semoga sebentar soalnya mudah dijawab".
"Makasih beb. Aku makan ya".
Naufal mengangguk dan mulai ikut makan bersama Raisa.
__ADS_1
Setelah itu mereka segera ke sekolah naik bis bersama-sama.
"Aku kok takut ya beb, padahal kan kamu yang amu ujian sebentar" bisik Naufal ke telinga Raisa.
"Kenapa gitu beb? aku aja yang ujian santai aja nih".
"Kamu mah nggak pernah aku lihat nggak santai kalau soal pelajaran".
Raisa cekikikan mendengar pernyataan Naufal.
Bis pun berhenti di sekolah Raisa.
"Doain ya. Dadah" ucap Raisa.
"Pasti" kata Naufal.
Raisa turun dari bis dan segera menuju ke ruang ujiannya. Disana ia sudah melihat sahabat-sahabatnya yang sedang membuat contekan.
Ada yang membuat di kertas lalu diselip di balik lengan baju, ada yang menulis langsung di lengan, dan bahkan ada yang menulis di paha.
"Ckckck gimana Indonesia mau maju, modelan kalian aja masih kayak gini. Nyontek terosss" sahut Raisa.
"Memangnya lo enggak apa? malah bilangin kita" ucap Serly.
"Memang nggak. Coba periksa aja kalau nggak percaya" tantang Raisa.
"Dih tumben banget lo. Kesambet apa?" tanya Dara.
"Pasti Naufal ya yang ngajarin lo belajar? makanya berasa udah pintar sekarang" duga Sevia.
"Benar sekali. Kekuatan cinta mengalahkan semuanya hahaha" ucap Raisa dengan bangga.
"Kita lihat aja guys, sampai mana dia nggak mau manggil kita saat ujian nanti" ejek Dara.
"Benar banget. Awas lo manggil-manggil" tambah Serly.
"Nggak akan" kata Raisa.
Akhirnya ujian pun berlangsung. Baru diawal soal Raisa mendadak terlihat cemas, ia menengok ke kanan dan ke kiri, melihat sahabatnya semua santai karena sudah menulis contekan.
Duh kok gue mendadak amnesia ya. Kenapa tiba-tiba nggak ada satu pun soal yang gue tahu. Satu-satunya cara harus minta bantuan nih, nggak bisa mikirin gengsi lagi. Batin Raisa.
Beruntung, tempat duduk Raisa dekat dengan Serly dan Sevia, jadi ia bisa memanggil mereka dengan pelan.
"Shutt..shutt..Serly. Bagi jawaban dong" kata Raisa dengan sangat pelan, agar tidak ketahuan guru.
Serly tidak menggubrisnya dan tetap melanjutkan mengerjakan soal.
"Shutt..shutt..Sevia. Bagi jawaban dong".
Kali ini Raisa beralih ke Sevia, namun sama seperti Serly, Sevia juga tidak menggubrisnya.
Karena kesal tidak mendapat respon dari kedua sahabatnya, Raisa pun menggebrak meja dan berdiri.
Brak.
"Siapa itu?" tanya guru pengawas.
Semua murid menatap ke arah Raisa yang menggebrak meja.
"Saya izin ke kamar mandi ya bu. Nggak tahan pengen buang air nih".
"Ohh kamu. Ya sudah cepat pergi, nggak lucu kalau kamu buang air disini".
"Terima kasih bu".
__ADS_1
Raisa dengan cepat menuju ke kamar mandi dan mulai menulis contekan.
"Kampret tuh berdua nggak mau bagi jawaban. Terpaksa harus nulis contekan nih. Maafin aku Ya Allah, maafin aku juga bebeb. Aku nggak bisa tanpa contekan".