
"Beb, El bangun" ucap Raisa.
"Yah gagal deh. El nggak pernah mau lihat Mama dan Papanya bermesraan deh kayaknya" kata Naufal dengan wajah cemberut.
.
.
.
Langit tidak bersahabat di pagi ini. Tanda-tanda mulai hujan terlihat dari langit yang mendung dan tidak adanya sinar matahari yang muncul.
"Duh kayaknya mau hujan nih. Beruntung juga ya udah ada mobil, jadi Naufal nggak kepanasan deh" kata Raisa, sambil menatap ke arah langit dari balik jendela kamar.
Tiba-tiba terasa sebuah tangan melingkar diperut Raisa, membuatnya sontak saja terkejut.
"Beb, kok ngagetin sih" kata Raisa.
"Hehe maaf, beb. Habisnya kamu natap langit kayak orang mau photoshoot" ucap Naufal.
"Aku tuh cuma lagi lihat langitnya yang mendung. Tumben aja gitu, kan akhir-akhir ini sering panas"
"Ohh gitu ya. Eh mumpung hujan, gimana kalau aku bolos sekolah aja hari ini?" tanya Naufal, dengan tatapan genitnya.
"Ih kok kamu yang udah jadi kepengen terus sih beb. Nggak biasanya loh seorang Naufal Rahka mau bolos sekolah demi berhubungan suami istri. Apa aku seksi ya, jadi bikin nagih?"
"Astagfirullah, untung kamu sebut namaku beb. Hampir aja aku jadi terlena"
"Yaah tau gitu nggak mau deh aku sebut nama kamu tadi"
"Hehehe kan sudah terlanjur. Aku berangkat ke sekolah dulu ya" ucap Naufal.
"Iya. Hati-hati ya. Jangan sampai nawarin cewek lain untuk naik ke mobil, apalagi hujan kayak gini. Biasanya mulai tuh akting cewek-cewek penggoda pakai wajah kasihan biar dikasih tumpangan" ujar Raisa.
"Kok kamu tau banget sih beb? Pernah ngalamin ya?" tanya Naufal.
"Iya hehehe. Tapi dulu kok" jawab Raisa.
"Kirain sampai sekarang juga gitu. Oke aku pergi dulu ya, dah istriku yang cantik dan anakku yang ganteng"
Naufal mencium Raisa dan juga baby El sebelum berangkat ke sekolah.
Setelah kepergian Naufal, Raisa mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tidak lupa juga ia mengurus anaknya dengan memberikan susu formula dan juga memandikan baby El.
Setelah semua acara mengurus rumah, anak dan mengurus diri sendiri telah selesai, Raisa mulai merasa bosan. Sifatnya yang memang aktif, tidak bisa membuatnya tenang jika hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa.
"El, mau nggak kita ke rumah Oma dan Opa? Yuk kita pergi. Mama bosan nih di rumah" ucap Raisa, sambil menatap baby El yang berada di stroler.
__ADS_1
Raisa mengambil hp nya dan mulai menghubungi Mama Nia.
*Assalamualaikum, Ma.
Waalaikumsalam. Mana cucu Mama?
Baru aja telfon bukannya tanya anaknya dulu ini malah nanya cucunya.
Iya dong kan Mama udah kangen. Kapan mau main kesini lagi?
Ini rencananya aku telfon Mama karena mau kesana. Boleh nggak?
Ya boleh dong. Masa nggak boleh sih. Cepetan datang ya, Mama tunggu loh. Disini juga Mama bosan cuma sendirian. Papa kamu kerja, adik kamu masih di sekolah juga.
Siap, Ma. Aku kesana sekarang bareng El. Assalamualaikum.
Oke Mama tunggu. Waalaikumsalam*.
Raisa memutuskan sambungan teleponnya bersama Mama Nia dan mulai bersiap-siap mengganti pakaiannya begitu pun dengan pakaian baby El.
Setelah semuanya dirasa sudah siap, Raisa langsung memesan taksi online dan tidak lupa juga untuk mengirimkan pesan kepada Naufal.
Beb, aku ke rumah Mama aku ya bareng El. Nanti pulang kerja langsung jemput aja disana. Love you😘
Begitu lah pesan yang dikirimkan Raisa kepada Naufal. Beberapa saat kemudian, taksi pesanannya sudah datang. Raisa segera menaikinya bersama baby El.
Akhirnya setelah 20 menit perjalanan, Raisa sudah sampai di rumah orang tuanya.
"Assalamualaikum. Anak Mama yang cantik udah datang" teriak Raisa.
Mendengar suara Raisa, Mama Nia cepat-cepat berjalan keluar dari kamarnya untuk menemui Raisa.
"Ya ampun cucuku yang ganteng udah datang. Sini Oma peluk"
Bukannya menyambut kedatangan Raisa, Mama Nia malah menyambut El dan langsung menggendongnya.
"Yaelah Mama. Peluk anaknya dulu dong baru cucunya gimana sih" kata Raisa.
"Oh iya, sini sayang Mama peluk kamu juga. Maaf ya, Mama udah terlalu rindu sama El" ucap Mama Nia.
"Iya nggak apa-apa"
"Bibi, tolong bawa tas Raisa ke dalam kamarnya ya" perintah Mama Nia ke asisten rumah tangganya.
"Baik, Nyonya"
Raisa dan Mama Nia duduk di sofa bersama dengan baby El yang berada di gendongan Mama Nia.
__ADS_1
"Gimana kamu dan Naufal? Baik-baik aja kan?"
"Baik kok, Ma"
"Mobil yang Mama bilang gimana? Mau nggak dibeliin?" tanya Mama Nia lagi.
"Nggak usah. Kita udah beli kok. Naufal udah jual motornya" jawab Raisa.
"Mama kirain belum ada. Hampir aja Mama mau suruh Papa kamu beliin"
"Oh iya, kamu udah tau masak belum? Udah hampir 2 tahun loh kamu nikah" lanjut Mama Nia.
"Eh itu..Belum Ma" kata Raisa dengan suara pelan.
"Ya ampun kamu belum tau masak? Memang keterlaluan. Kenapa nggak belajar sih? Jadi yang masak selama ini siapa? Kalian beli makanan terus tiap hari?" tanya Mama Nia bertubi-tubi.
"Duh Mama kalau tanya satu-satu dong jadi pusing nih jawab yang mana duluan" kesal Raisa.
"Jawab semuanya, sekarang juga!"
"Aku udah pernah belajar tapi cuma beberapa kali doang. Terakhir kali aku coba tuh kemarin dan aku kepedesan kena bawang merah di mata, dan selama ini yang masak ya Naufal" ujar Raisa.
Mendengar penuturan anaknya itu, Mama Nia langsung memukul lengan Raisa.
"Aww, Ma. Kok dipukul sih" kata Raisa, sambil meringis.
"Untung kamu nggak dicerai Naufal dan dia nggak berpaling ke wanita lain. Masa suami yang masak terus sih. Kamu harus belajar masak sekarang juga, Mama nggak mau tau"
"Tapi, Ma"
"Nggak ada tapi-tapi" potong Mama Nia.
"Bibi, tolong jagain El ya. Saya mau ngajarin Raisa masak dulu. Nggak bisa dibiarin terus kalau gini. Dia nggak boleh cuma hebat di ranjang doang, harus seimbang juga dengan masak"
"Ih Mama apaan sih. Malu ah"
"Jangan malu-malu kamu. Biasanya juga nggak ada malu. Cepetan belajar sekarang" bentak Mama Nia.
Parah sih ini. Mana Mama kalau ngajarin kejam banget lagi kalah-kalah ibu tiri. Batin Raisa.
"Ayo mulai masak. Ikuti semua langkah yang Mama bilang. Kalau kamu sampai nggak bisa juga, Mama akan datang ke rumah kamu tiap hari biar kamu bisa masak" ancam Mama Nia.
Waduh lebih gawat tuh kalau Mama ke rumah. Bisa-bisa Mama marahin aku di depan Naufal, kan malu.
"Siap ibu bos. Aku akan belajar sekarang juga" katanya sambil memberi hormat.
Acara belajar masak pun dimulai dengan model seperti militer ala Mama Nia.
__ADS_1