
Maaf semuanya, author baru bisa hadir dengan 2 episode hari ini hehe 😁
Selamat Membaca ❤
...****************...
Naufal mencium puncak kepala istrinya, kemudian menarik selimut menutupi tubuh mereka dan akhirnya ikut tidur, sambil memeluk Raisa.
.
.
.
Hari demi hari dilewati Raisa di kantor, tidak lepas dari pertengkarannya dengan Lia dan juga Kevin.
Ya, mereka bertiga layaknya kucing, anjing, dan macan yang sedang bertengkar. Tentu saja macan pemenangnya, yaitu Raisa.
Karena selalu kalah dari Raisa, Kevin dan juga Lia merencanakan sesuatu. Disaat Raisa sedang berjalan, Kevin mencoba berpura-pura tidak sengaja menabrak Raisa agar Raisa jatuh ke lantai dan bisa membuat wanita itu malu karena dilihat oleh banyak orang.
Namun, rencana mereka gagal karena dengan sigap Naufal menolong Raisa. Beruntung saat mereka melakukan rencana itu, Naufal baru saja datang ke kantor. Jika tidak, mungkin bayi yang dikandung Raisa tidak akan selamat karena ulah Kevin dan Lia.
"Kamu tidak apa-apa, Beb?" tanya Naufal.
"Iya nggak apa-apa. Untung ada kamu. Aku yakin mereka itu sengaja" jawab Raisa.
Naufal yang memang melihat semua perbuatan yang disengajai oleh Kevin. Tanpa basa basi, ia langsung memukul wajah Kevin hingga tersungkur ke lantai.
"Berani-beraninya kamu pukul aku. Semakin meluncak kamu mentang-mentang punya koneksi dengan Bos Tio" teriak Kevin.
"Kamu yang lebih dulu sengaja menabrak Raisa biar terjatuh. Kamu merencanakan semua ini dengan Lia kan? Aku lihat kalian berdua tersenyum tadi, brengsek"
Lagi-lagi pukulan kedua mendarat di wajah Kevin. Karena tidak terima terus dipukuli, Kevin akhirnya membalas memukul Naufal.
Naufal yang belum lama keluar dari rumah sakit, mendadak langsung pusing dan tiba-tiba pingsan saat dipukuli.
"Cih, baru pukulan begitu saja sudah pingsan" kata Kevin, sambil tersenyum sinis.
"Kurang ajar kamu Kevin gila. Akan aku tuntut kamu brengsek"
Raisa terus menerus mengeluarkan sumpah serapahnya terhadap Kevin.
Tiba-tiba muncul Papa Tio yang melihat lagi-lagi ada suara ribut dan suara itu seperti terdengar suara Raisa yang sedang berteriak. Dengan cepat, Papa Tio segera menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya Papa Tio.
"Pa, lihat ini. Kevin mukul Naufal sampai pingsan, Pa" adu Raisa.
"Kamu apakan anakku Kevin? Keterlaluan kamu!" bentak Papa Tio.
__ADS_1
Semua orang yang ada disitu, termasuk Lia dan juga Kevin melongo kaget mendengar perkataan Papa Tio.
"Maaf, Pak. Apa saya tidak salah dengar? Naufal anak Bapak?" tanya Kevin.
"Iya dia anak tunggal saya, dan nantinya akan meneruskan perusahaan ini. Berani sekali kamu pukul dia. Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini Kevin. Kalau anak saya kenapa-napa, jangan harap kamu bisa bekerja di kantor manapun" ancam Papa Tio.
"Tolong angkat Naufal, dan bawa dia ke rumah sakit" perintah Papa Tio kepada pegawainya yang lain.
Mereka semua dengan sigap membantu mengangkat Naufal.
"Ayo Raisa, kita ke rumah sakit sekarang"
"Baik, Papa Mertua" kata Raisa.
Kata-kata Raisa barusan, lagi-lagi membuat semua orang syok dan kaget.
"Papa mertua?" kaget Lia.
"Iya. Kenapa? Kaget? Aku sebenarnya istri Naufal dan sekarang aku sedang mengandung anaknya. Puas kamu?" kata Raisa kepada Lia.
"Kamu juga laki-laki brengsek. Tunggu pembalasannya karena sudah berani-berani membuat suamiku pingsan" tunjuk Raisa tepat didepan wajah Kevin.
Setelah itu, Raisa segera berlalu pergi menyusul Papa Tio yang sudah lebih dulu pergi ke mobil.
Salah satu pegawai mulai bercerita dengan temannya, dengan nada yang masih dapat didengar oleh Kevin maupun Lia.
"Ternyata Naufal anak Pak Tio. Wajar sih, wajah mereka memang kelihatan mirip. Gimana ya nasib Pak Kevin dan Lia nanti. Pasti hancur tuh, karena mereka yang selalu buat ulah"
"Diam semua. Kembali bekerja sekarang juga" perintahnya.
"Yaelah, Pak. Daripada suruh kita kembali bekerja, mending Bapak pikir nasib Bapak nantinya. Kamu juga Lia" kata salah satu pegawai.
"Mati aku. Nggak bakal lulus SMA kalau gini ceritanya" ucap Lia, terduduk lesuh di kursi kerjanya.
Kurang ajar. Ternyata Naufal anak Pak Tio. Terpaksa harus memohon nih biar nggak dipecat. Bodoh banget memang. Harusnya aku lihat CV Naufal sebelumnya. Batin Kevin, merutuki dirinya sendiri.
Di Rumah Sakit
Papa Tio dan Raisa sedang menunggu diluar ruangan, karena Naufal sedang diperiksa. Tidak lama kemudian, Mama Siva muncul dari kejauhan dengan tergesa-gesa.
"Mana Naufal, Papa, Raisa? Dia nggak apa-apa?"
"Mama tenang dulu. Naufal lagi diperiksa didalam" kata Papa Tio.
"Gimana mau tenang kalau anak satu-satunya aku dipukul orang sampai pingsan. Katanya pegawai kamu ya, Pa. Pecat orang kayak gitu" emosi Mama Siva.
"Iya, Ma. Sabar dulu dong"
"Iya, Ma. Kita tunggu sampai Dokter selesai periksa Naufal dulu ya" ucap Raisa, mencoba menenangkan Mama Siva.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa Raisa? Gimana kondisi bayi kamu?" tanya Mama Siva.
"Baik kok, Ma. Bayinya laki-laki"
"Serius? Alhamdulillah. Akhirnya baby boy lagi dong. Mama sih senang"
"Iya, Papa juga senang. Jadi ada cucu laki-laki deh"
"Kalau bisa anak kamu nanti jangan satu ya Raisa. Kami kesepian karena Naufal kan hanya anak tunggal. Jadi pengennya rame" ucap Mama Siva.
"Semoga aja bisa dikasih lagi nanti ya, Ma" kata Raisa.
"Amin. Oh iya gimana dengan orang tua kamu? Udah tahu belum?"
"Belum sih. Kami berdua rencananya mau kunjungin Mama dan Papa hari ini, tapi Naufal pingsan sekarang"
"Ya ampun. Yang sabar ya sayang. Semoga Naufal baik-baik saja. Mama juga khawatir soalnya"
Saat sedang mengobrol, Dokter keluar dari ruangan, membuat mereka menghentikan obrolannya.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Mama Siva.
"Iya, Dok. Suami saya bagaimana?" sambung Raisa.
"Pak Naufal baik-baik saja. Tapi sebelumnya saya mau tanya, apa Pak Naufal pernah operasi sebelumnya? Karena mungkin pingsannya bisa disebabkan oleh operasinya yang belum lama dilakukan"
Papa Tio dan Mama Siva terkejut. Mereka yang memang tidak mengetahui Naufal pernah dioperasi sebeumnya menjawab tidak kepada Dokter. Dengan suara pelan, Raisa memberitahukan kebenarannya.
"Maaf, Dok. Suami saya memang pernah operasi seminggu yang lalu" kata Raisa, sambil tertunduk.
"Apa? Operasi apa Raisa? Kenapa kamu nggak bilang ke Mama dan Papa?"
"Maaf, Ma. Naufal nyuruh aku nggak kasih tahu siapa-siapa"
"Kenapa dia bisa dioperasi?" tanya Papa Tio.
"Dia ditabrak. Tapi orangnya sudah tanggung jawab kok. Maaf, Ma, Pa"
"Sepertinya itulah yang membuat Pak Naufal pingsan. Tapi tenang saja, itu tidak terlalu berbahaya. Saya hanya akan memberikan obat nantinya. Jadi, Pak Naufal bisa pulang saat sadar nanti" kata Dokter.
"Terima kasih, Dok" ucap Papa Tio.
Papa Tio, Mama Siva, dan Raisa pun masuk kedalam ruangan Naufal. Tidak lama kemudian, Naufal mulai siuman dari pingsannya.
"Kamu sadar, beb" ucap Raisa, sangat senang.
"Kamu sudah sadar sayang" kata Mama Siva.
"Mama, Papa. Kalian disini juga. Ada apa? Aku hanya butuh Raisa saja" ujar Naufal.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu. Mama dan Papa sudah kesini malah kamu bilang gitu. Oh iya, Mama sudah dengar kalau kamu ternyata baru habis operasi. Mama khawatir sama kondisi kamu, takutnya kamu juga nggak bisa jagain Raisa sekarang. Jadi, untuk sementara waktu, gimana kalau Mama nginap di rumah kalian?"
Waduh gawat nih kalau Mama Siva ke rumah. Mana aku belum tahu masak lagi sampai sekarang. Kan takut kalau Mama Siva jadi mertua jahat kayak di film-film. Batin Raisa.