Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
32. Mulai Bekerja


__ADS_3

Raisa memeluk tubuh suaminya dalam tidurnya. Ia sudah terbiasa untuk tidur dengan memeluk Naufal. Entah akan jadi apa, kalau Naufal tidak berada disampingnya.


.


.


.


Hari ini, merupakan hari pertama Raisa akan memulai sebagai karyawan magang. Ia sangat bersemangat untuk hari pertamanya.


"Beb, gimana baju aku rapi nggak? Rambut aku gimana?" tanya Raisa.


"Semuanya rapi kok" jawab Naufal.


"Beneran beb? Aku gugup banget soalnya"


"Iya beneran. Aku nyusul di kantor siang nanti ya, karena aku harus sekolah dulu. Kamu nggak apa-apa kan hari pertama kerja sendirian?".


"Iya nggak apa-apa kok. Kan nanti ada yang kasih tahu" ucap Raisa.


"Oke kalau begitu. Ayo pergi".


Raisa dan Naufal menaiki bis untuk pergi. Naufal lebih dahulu sampai di sekolahnya, kemudian Raisa pun sampai di kantornya.


Sesampainya di kantor, Raisa langsung disuruh untuk menunggu di ruang tunggu, bersama beberapa pegawai magang baru lainnya.


"Halo" sapa Raisa kepada gadis disampingnya.


"Halo juga" ucap sang gadis sambil tersenyum.


"Nama kamu siapa? Pegawai magang baru juga?".


"Iya. Namaku Aprilia, biasa dipanggil Lia. Kalau nama kamu siapa?" tanyanya dengan ramah.


"Oh kenalin nama aku Raisa".


"Nama yang cantik".


"Ah kamu bisa aja. Nama kamu juga cantik kok. Oh iya ngomong-ngomong umur kamu berapa?".


"17 tahun. Kalau kamu?".


"Wah beda 1 tahun dong. Aku 18 tahun, baru aja lulus" kata Raisa.


"Kalau gitu, aku panggil kak Raisa aja ya?".


"Senyaman kamu aja".


"Oke Kak Raisa" kata Lia.


"Kamu masih sekolah kelas 3 dong? kok bisa kerja?" tanya Raisa penasaran.


"Aku sekolah SMK, jadi dari sekolah aku nyuruh untuk magang di kantor selama 3 bulan" ujar Lia.


"Yaah, jadi 3 bulan doang dong disini? Nggak ada teman aku nanti".


"Kan tetap bisa berteman diluar kantor, Kak".


"Iya sih".

__ADS_1


Tiba-tiba pintu ruangan disebelah tempat mereka menunggu, terbuka. Keluarlah seorang pria yang masih cukup muda dan juga tampan, dari ruangan itu.


"Selamat pagi, Pak".


Semua karyawan magang mengucapkan salam kepada pria itu, hanya Raisa yang terlihat bingung karena tidak mengetahui pria di depannya itu siapa.


"Kamu kenapa bengong? Nggak mau salam? Dimana atitude kamu hah?" teriak pria itu kepada Raisa.


"Eh..maaf Pak. Selamat pagi" kata Raisa sambil terus menunduk.


"Kalian semua, ikuti saya" ucapnya kepada semua karyawan magang yang baru.


"Baik Pak".


Mereka semua mengikuti pria itu ke sebuah ruangan kerja.


"Lia, kamu kenal pria tadi siapa?" tanya Raisa denga. suara sangat pelan.


"Kakak nggak kenal dia siapa? Dia itu Pak Kevin, penanggung jawab kita".


"Yang benar? Galak banget".


"Memang gitu Kak. Rumor yang aku dengar, dia itu sangat keras ke karyawan lainnya dan juga sangat disiplin. Nggak mandang gender" ujar Lia.


Dih belagu amat laki-laki itu. Belum tahu aja dia, kalau aku ini menantu bosnya. Batin Raisa.


"Jadi disini adalah ruangan kerja kalian. Selama bekerja tidak boleh pegang hp. Disini kalian bekerja, bukan untuk bersantai-santai. Mengerti?" ucap Kevin.


"Mengerti Pak".


Kevin terlihat mengedarkan pandangannya ke semua karyawan magang dan pandangannya berhenti kepada Raisa.


Raisa yang merasa dirinya ditatap tajam, langsung menundukkan kepalanya.


Raisa mengangkat kepalanya perlahan dan mulai menatap Kevin.


"Lihat wanita itu, jangan pernah kalian meniru sikapnya yang tidak sopan. Akan saya tandai orang-orang seperti itu. Mengerti?" bentaknya.


"Mengerti Pak".


"Baik, silahkan mulai bekerja. Nanti karyawan magang lama, akan mengajari kalian. Kalau ada pertanyaan, silahkan langsung bertanya pada mereka".


"Baik, terima kasih Pak".


Kevin langsung berjalan keluar dari ruangan dengan wajah datar. Saat melewati Raisa, ia sempat menghentikan langkahnya dan menatap Raisa dari atas sampai bawah.


"Kuno sekali" ucapnya, lalu berlenggang keluar.


"Apa? Dia bilang kuno? Wah parah banget. Aku nggak terima" kesal Raisa.


"Sabar Kak. Pak Kevin memang gitu orangnya" kata Lia.


"Umur berapa sih dia? Pasti belum nikah kan? Model kayak dia tuh, pasti nggak ada cewek yang suka. Kelakuan kejam gitu".


"Setau aku, karyawan wanita disini banyak banget yang ngefans Kak. Katanya tampan dan galak gitu, idaman banget".


"Pasti itu cewek-cewek semua sudah gila. Najis banget deh kalau aku kayak mereka. Kamu nggak gitu kan Lia?".


"Nggak kok Kak. Tenang aja".

__ADS_1


"Syukurlah".


Mereka berdua tertawa kecil dan mulai untuk bekerja.


Siang harinya, Naufal sudah datang ke kantor. Ia akan mulai mengajari para karyawan magang baru.


Selama Naufal menjelaskan, Raisa tidak henti-hentinya menatap Naufal dan tersenyum melihat suaminya yang sangat tampan saat menjelaskan.


Naufal yang melihat hal itu, menjadi sedikit grogi karena ditatap oleh Raisa.


Mereka berdua memang memutuskan untuk menyembunyikan hubungan mereka di kantor, dan juga akan bersikap profesional sebagai rekan kerja.


Setelah selesai menjelaskan, semuanya bubar dan mulai mengerjakan tugas masing-masing.


Saat sedang bekerja, Raisa mendengar suara bentakan yang sangat keras dari arah ruangan Kevin.


Setelah beberapa menit, keluarlah Naufal dari ruangan itu. Dia habis dimarahi oleh Kevin, karena melakukan sedikit kesalahan dalam bekerja.


Bahkan hingga Naufal keluar dari ruangan, Raisa bisa melihat Kevin yang membuang berkas-berkas di wajah Naufal, dan mulai mempermalukan Naufal di depan yang lainnya. Naufal hanya menunduk dan terus meminta maaf.


Raisa tidak terima melihat perlakuan Kevin kepada suaminya. Ingin rasanya ia mengatakan kalau sebenarnya Naufal adalah anak dari bos mereka. Namun, ia teringat dengan perkataan Naufal, untuk tetap merahasiakannya.


Karena kesal melihat Naufal yang terus dimarahi, Raisa berniat untuk menghampiri mereka dan menghentikan perdebatan itu.


Seakan tahu dengan apa yang ingin dilakukan istrinya, Naufal langsung menatap ke arah Raisa, seperti mengisyaratkannya untuk tidak melakukan hal-hal aneh.


Dengan tangan terkepal, Raisa menghentikan niatnya untuk menghampiri mereka.


Setelah cukup lama dimarahi, Kevin kembali ke ruangannya.


Raisa cepat-cepat mengirimkan pesan teks kepada Naufal untuk menemuinya di tangga darurat.


Tidak lama setelah Raisa datang ke tangga darurat, Naufal juga sudah terlihat muncul.


"Jelasin ke aku kenapa dia gituin kamu? Kamu itu anak bos. Kalau sampai Papa Tio tahu perlakuan dia ke kamu, dia bisa dipecat".


"Tunggu beb. Tahan emosi kamu. Aku nggak mau bilang ke orang-orang, karena aku nggak mau mereka hormati aku karena aku anak bos. Aku mau kerja dengan skill aku, dan kalau memang aku salah, itu pantas untuk disalahkan. Tolong jangan bilang ke Papa ya, aku mohon beb" ujar Naufal.


"Tapi aku nggak tega kamu digituin tadi. Apa karena ini yang buat kamu nggak mau aku kerja, beb?" tanya Raisa, dengan mata berkaca-kaca.


"Iya. Aku takut kamu nggak bisa tahan kalau dimarahi. Maaf ya beb, aku udah bikin kamu khawatir".


Naufal langsung menarik Raisa kedalam pelukannya, lalu mencium puncak kepala istrinya itu.


"Jangan sampai dimarah lagi, aku nggak bisa tinggal diam kalau kamu digituin".


"Iya semoga aja nggak, tapi aku nggak bisa janji. Ingat, jangan buat aneh-aneh ya, kamu sekarang sudah tahu kan, Pak Kevin sifatnya gimana".


"Iya beb".


"Ya sudah, ayo kita kembali. Nanti orang-orang curiga" kata Naufal.


"Ciumannya mana?" tanya Raisa.


"Dasar ya kamu, di kantor aja masih ingat kayak gitu".


"Cepetan beb" rengek Raisa.


Naufal langsung mencium bibir Raisa dengan sedikit menghisapnya, kemudian melepaskannya.

__ADS_1


"Semangat beb" ucap Raisa.


"Semangat juga beb" balas Naufal sambil tersenyum.


__ADS_2