Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
56. Pertemuan Penuh Drama


__ADS_3

Ia tersenyum puas, sambil duduk dikursi kerjanya.


.


.


.


4 bulan kemudian


Usia kandungan Raisa sudah memasuki usia ke 9 bulan, yang artinya kelahirannya tinggal menghitung hari.


Naufal juga sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional, sehingga ia sangat disibukkan dengan belajar untuk persiapan ujian serta mengawasi istrinya yang entah kapan bisa saja tiba-tiba melahirkan.


Raisa juga sudah resign dari kantor, karena ingin fokus mengurus anaknya nanti. Kini, ia hanya menghabiskan waktu di rumah orang tuanya ataupun di rumah orang tua Naufal, saat Naufal sedang sekolah dan juga bekerja.


"Beb, hari ini aku nggak ke rumah Mama Siva atau Mama Nia ya" ucap Raisa yang tengah duduk di sisi ranjang, sambil mengusap perutnya yang sudah sangat besar.


"Loh, kenapa begitu? Nanti kalau kamu udah mau lahiran gimana? Aku nggak mau kamu tinggal sendiri disini" kata Naufal.


"Aku nggak sendiri kok. Hari ini anggota geng aku mau datang semuanya, katanya mereka lagi libur semester juga, jadi pengen ngajak aku jalan" ujar Raisa.


"Oh iya bagus juga sih. Kamu kan disuruh Dokter untuk banyak jalan, beb. Ya sudah aku izinin. Kapan kalian perginya?"


"Ehmm..Nanti jam 10 kayaknya"


"Oke. Kamu hati-hati ya. Aku pergi ke sekolah dulu. Dah beb, dah jagoan kecil Papa, jangan nakal kalau Papa nggak ada ya"


Naufal mencium pipi dan juga bibir Raisa, kemudian tidak lupa mencium perut buncit Raisa.


"Dadah Papa" kata Raisa, mencoba menirukan suara anak kecil.


"Jangan terlalu capek ya, beb. Kalau kamu udah ngerasa capek beres-beres rumah, nanti aku lanjutin kalau pulang kerja nanti" ucap Naufal.


"Iya, tenang saja. Aku akan berhenti kok kalau udah capek" kata Raisa.


Naufal pun akhirnya pergi ke sekolahnya dengan menaiki sepeda motor.


Setelah suaminya telah pergi, Raisa memutuskan untuk beres-beres rumah.


Satu jam kemudian, seluruh ruangan telah bersih tanpa noda sedikit pun.


"Hufftt..Akhirnya selesai juga"


Raisa duduk di sofa panjang, kemudian mulai mengobrol dengan sahabat-sahabatnya di grup chat mereka.


(R \= Raisa)


(SR \= Serly)


(S \= Sevia)

__ADS_1


(D \= Dara)


R \= Gengzzz kapan ke rumah nih? Bumil mau jalan-jalan nih sumpek di rumah terus.


D \= Jam 10 otw. Mandi aja lo bumil. Gue tahu pasti lo belum mandi kan?


R \= Wah aunty Dara kayak peramal deh, cocok sama Pak Tarno 🤣


D \= Kurang ajar lo 😂


SR \= Bentar ya, gue lagi temenin calon mama mertua belanja nih. Nanti gue nyusul.


R \= Siapa nih pacar Serly? Nggak bilang-bilang ya lo.


D \= Iya nih nggak bilang-bilang.


S \= Biasa, Serly mah punya jurus baru. Kalau nggak bisa ajak anak orang pacaran setidaknya ajak mamanya dulu jalan-jalan hahahaha.


SR \= Enak aja. Mamanya juga suka gue kali.


S \= Tapi anaknya nggak suka 🤣


SR \= 😈😈😈


D \= Eh jangan pada berantem dong. Mentang-mentang satu kampus, jadi gampang berantem.


R \= Iya nih nggak seru. Cepetan kesini ya. Aku tungguin. Bye 😘


Hari-hari sebelumnya, Raisa sudah mempersiapkan segala keperluan melahirkannya. Jadi, ia tidak perlu repot lagi, kalau-kalau ia tib-tiba sudah merasa ingin melahirkan.


Dokter kan bilang hari ini harus periksa lagi ya. Ya sudah lah, nanti malam aku cek aja, pas Naufal juga pulang kerja. Gumam Raisa.


Piippp piiiipppp


Bunyi klakson mobil terdengar dari arah luar. Raisa mengintip dari balik jendela, dan ternyata itu adalah sahabatnya-sahabatnya yang sudah datang.


"Halo guys. Lama tam berjumpa. Tunggu ya"


Raisa mengunci pintu rumahnya dan mulai masuk kedalam mobil.


"Wih perut lo udah besar banget nih, Sa. Udah berapa bulan?" tanya Sevia, takjub.


"9 bulan" jawab Raisa.


"Apa?" teriak ketiganya.


"Kenapa sih?" tanya Raisa, bingung.


"Lo mau kita jalan-jalan dengan keadaan lo lagi hamil tua gini? Kalau tiba-tiba lahiran di jalan gimana?" tanya Serly.


"Lebay banget sih. Prediksi Dokter bukan hari ini jadi tenang aja. Aku juga disuruh banyak jalan, biar lahiran normalnya bisa berjalan lancar"

__ADS_1


"Ohh gitu. Ya sudah kita lets go" kata Dara.


Keempat geng 'Wanita Buas' akhirnya bisa berkumpul kembali. Mereka pergi mengisi perut mereka dengan makan di sebuah restoran, kemudian lanjut jalan-jalan ke mall, walau hanya sekedar untuk menyegarkan mata.


Disaat jalan-jalan mereka sedang berlangsung, tiba-tiba Raisa menghentikan langkahnya dan memegangi perutnya terasa kram.


Serly, Sevia, dan juga Dara yang melihat hal itu tentu saja langsung panik.


"Sa, lo kenapa? Jangan bilang lo mau lahiran sekarang. Nggak lucu dong, lahiran di mall" ucap Serly.


"Nggak tahu, tiba-tiba perut gue kram terus sakit banget. Duhh... Kenapa ini"


Raisa juga ikut panik, kemudian memegang erat kedua lengan Dara dan Sevia yang berada disamping kiri dan kanannya.


Tiba-tiba cairan berwarna bening keluar dari sela kaki Raisa, tentu saja itu membuat Raisa tamba panik lagi.


"Guys, ketuban gue pecah. Gue udah mau lahiran. Gimana ini?" panik Raisa.


"Serius lo?" tanya Dara.


"Iya, cepetan bawa ke rumah sakit"


Raisa menarik dan menghembuskan nafasnya secara bergantian.


"Sa, ini lantai 5 loh. Dan lo mau lahiran? Oh My Good" kata Sevia.


Mereka akhirnya meminta bantuan pengunjung lainnya untuk membantu menggendong Raisa masuk kedalam mobil.


"Dara, lo telepon Naufal ya, suruh dia ke rumah sakit dekat sini sekarang juga" ucap Sevia.


"Oke" kata Dara.


Di dalam mobil, Raisa berteriak menjerit kesakitan. Ia bahkan menarik rambut Serly yang berada disebelahnya saat ini.


"Woy rambut gue kenapa ditarik? Sakit woy" teriak Serly.


"Tahan aja, Ser. Pasti Raisa jauh lebih kesakitan itu, bentar lagi sampai sabar dulu ada macet dikit ini" kata Dara yang duduk di kursi depan.


"Iya kok macet banget sih" sambung Sevia, yang sedang menyetir.


"Woy coba kalian yang ada disini, gue juga kesakitan tahu. Suruh mobil cepetan jalan. Gue udah kayak orang mau lahiran juga ini teriak-teriak. Ya ampun Raisa, rambut gue botak lo tarik gini" teriak Serly, kesakitan.


Raisa tidak perduli dengan Serly yang sudah berteriak kesakitan, karena disini dia juga sangat amat merasakan sakit yang luar biasa.


"Dara, pasang alarm ambulance dari hp lo terus teriak minta jalan. Jangan sampai pas udah di rumah sakit ada 2 orang yang masuk rumah sakit gara-gara nolongin teman lahiran" ujar Sevia.


Dara mengangguk setuju kemudian mulai menyalakan sirene ambulance dari hp nya dan mulai berteriak menggunakan mic bluetooth yang ada di mobil Sevia.


"Mohon Maaf Bapak, Ibu. Tolong beri jalan, karena teman kami sudah mau melahirkan saat ini. Tolong pengertiannya. Terima kasih"


Semua mobil akhirnya memberikan jalan untuk mereka. Mobil pun melaju hingga sampai ke rumah sakit. Pertemuan lengkap geng 'Wanita Buas' diakhiri dengan penuh drama.

__ADS_1


__ADS_2