Suamiku Adik Kelasku

Suamiku Adik Kelasku
34. Kendaraan Baru


__ADS_3

Raisa menatap Naufal dari kejauhan, tidak lama pandangan mereka bertemu. Dengan spontan, Naufal langsung mengedipkan sebelah matanya kemudian dibalas bentuk ciuman dengan bibir oleh Raisa.


.


.


.


Naufal, Raisa, dan Lia pulang dari kantor saat hari sudah mulai gelap, dikarenakan Kevin yang menyuruh mereka melakukan banyak persiapan untuk keperluan esok hari saat turun ke lapangan.


"Kak, kakak dimana rumahnya? Mau aku anterin?" tanya Lia yang sudah naik diatas motornya.


"Ohh nggak usah. Aku nanti naik taksi online aja, soalnya masih mau singgah di tempat lain" ucap Raisa, memberi alasan.


"Oh iya kalau gitu. Hati-hati ya Kak".


"Iya".


Lia sudah pergi, dan tinggallah Raisa sendiri. Tidak lama kemudian, Naufal datang menemuinya.


"Beb kok kamu lama banget sih?".


"Maaf, tadi aku masih beresin berkas-berkasnya. Ayo kita pulang, kita langsung mampir aja ke dealer motor ya. Kita belinya sekarang aja" ujar Naufal.


"Beneran beb? Asik. Iya sekarang aja biar nggak capek lagi nungguin angkot atau taksi" ucap Raisa, kegirangan.


Keduanya langsung pergi ke dealer motor, menaiki taksi online.


Sesampainya disana, Naufal dan Raisa langsung melihat-lihat berbagi macam model motor.


"Silahkan dipilih, Mas, Mba" ucap pegawai tokonya.


"Siapa yang mau beli motor? Mba atau Masnya nih?" lanjut pegawai itu.


"Eh..Dia, Pak" tunjuk Raisa kepada Naufal.


"Oh..iya..iya. Saya yang mau beli" kata Naufal sedikit tergagap.


"Kalau masnya ini kelihatan masih sangat muda. Kalau anak muda zaman sekarang sih, pilihnya yang ini, apalagi ini keluaran terbaru loh mas".


Pegawai itu menunjuk ke salah satu motor keluaran terbaru, yang seperti digunakan pembalap.


Saat Naufal melihat harga motornya, ia tercengang dan membatin.


Gila mahal banget. Kalau dulu belum nikah, mungkin Papa bakal beliin, tapi sekarang kan udah nikah. Untuk uang penghasilan sendiri ditambah uang tabungan Raisa mah ini nggak akan cukup.


"Nggak usah yang ini Pak. Saya mau beli motor matic yang biasa aja. Hanya untuk sekolah kok" ucapnya.


"Iya benar Pak. Adik saya nggak suka terlalu mewah kayak gini" kata Raisa, menambahkan.


"Ohh ini adiknya? Pantesan mukanya mirip. Sini saya tunjukkin yang motor matic".


Mendengar kata pegawai yang menyebut wajahnya mirip dengan Naufal, membuat Raisa menjadi salah tingkah.


"Beb, katanya muka kita mirip. Memang jodoh ya" bisiknya sangat pelan.


"Iya benar beb" balas Naufal.


"Oke, jadi ini motor maticnya Mba, Mas. Silahkan dilihat-lihat dulu".


Raisa dan Naufal langsung melihat-lihat motor yang cukup bagus dan juga harga yang terjangkau dengan keuangan mereka.


Setelah melihat-lihat cukup lama, akhirnya mereka sudah memutuskan motor mana yang akan dibelinya.


"Pak, saya mau yang ini ya".


"Oh jadi yang ini Mas? Baiklah kalau begitu, silahkan menuju ke ruang administrasinya untuk mengisi beberapa berkas dan juga membayarnya".


Setelah mengisi beberapa berkas yang diperlukan, Naufal dan Raisa langsung membayar lunas motor yang dibeli.


"Baik Mas, Mba. Besok pagi motornya akan segera diantarkan ke alamat rumahnya ya. Terima kasih sudah membeli di toko kami".

__ADS_1


"Sama-sama Pak. Kami permisi" ucap Naufal.


Raisa dan Naufal langsung pulang ke rumah, setelah selesai membeli motor.


"Akhirnya besok kita punya motor sendiri beb. Aku senang banget" ucap Raisa.


"Iya beb. Aku juga senang. Tapi maaf ya, aku belum bisa beliin kamu mobil biar kamu nggak kepanasan" ujar Naufal.


"Iya nggak apa-apa. Kan motor lebih so sweet daripada mobil. Kalau dimotor bisa aku peluk kamu sampai puas. Sedangkan naik mobil kan enggak".


"Makasih ya beb, kamu sudah mengerti keadaan kita".


"Sama-sama" kata Raisa, kemudian mencium singkat pipi Naufal.


Sesampainya di rumah, Naufal memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Sedangkan Raisa, memilih untuk menghubungi sahabat-sahabatnya karena sudah rindu.


(R \= Raisa)


(SR \= Serly)


(S \= Sevia)


(D \= Dara)


R : Halo guys. Rinduuuuu.


D : Aku juga rindu kalian huaaaa. Padahal belum sampai satu minggu kita nggak ketemu.


S : Bener banget. Kapan-kapan ketemu yuk.


SR : Iya nih. Ketemu untuk terakhir kali, kita kan pasti sibuk nanti.


D : Sorry guys aku nggak bisa ketemu. Sekarang aku udah di Yogyakarta. Mau ikut tes kuliah".


SR : Dih, kok nggak bilang-bilang sih kalau lo udah mau kesana.


D : Sorry, gue buru-buru soalnya.


S : Iya benar tuh.


D : Oh iya ngomong-ngomong gue punya berita loh.


R : Berita apa?.


D : Gue nggak sengaja ketemu Pak Nathan disini. Ternyata dia udah kerja di kota ini juga. Terus, tadi kita ngobrol dan besok dia mau ngajak gue makan. Gila senang banget gue.


SR : Wih gercep banget lo.


R : Nggak sia-sia lo suka dia. Memang udah jodoh kali, jadi ketemu.


D : Iya nih. Terus kalian bertiga gimana kabarnya?.


S : Kalau gue sih baru mau tes juga bareng si Serly.


R : Gue sih udah kerja dan tadi hari pertama gue kerja.


S : Keren tuh. Terus gimana rasanya kerja bareng suami?.


R : Senang dong. Tapi managernya yang nyebelin.


SR : Managernya kenapa? Ganteng nggak?.


D : Kenapa Ser? Lo mau embat juga? Kirain lo suka si Satria.


SR : Siapa tau ada cadangan gitu.


R : Dasar lo, ganjen.


Saat sedang tertawa bersama teman-temannya, Naufal sudah keluar dari kamar mandi.


R : Guys udah dulu ya. Naufal udah selesai mandi soalnya. Gue mau mandi dulu, gerah.

__ADS_1


SR : Ciee ada yang mau mantap-mantap.


R : Yang belum nikah nggak boleh iri sama yang udah nikah. Bye guys.


Raisa menghentikan obrolannya. Kemudian bersiap untuk mandi.


"Kamu telfonan sama siapa beb?".


"Sama teman-teman aku. Kenapa? Kamu cemburu ya beb? Tenang aja kok, aku nggak mungkin selingkuh" ujar Raisa.


"Aku cuma tanya doang kok. Sana mandi, terus kita makan malam. Aku mau masak dulu".


"Oke suamiku".


Raisa masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Naufal mulai untuk memasak.


Saat sedang memasak, Naufal terkejut karena mendengar suara teriakan dari arah kamar mandi.


"Aaaaaahhhhh beb, kesini cepetan ada kecoa beb. Aku takut" teriak Raisa.


Dengan cepat, Naufal langsung berhenti memasak, lalu dengan cepat menghampiri Raisa.


"Beb aku udah di depan pintu. Kamu nggak apa-apa?".


"Cepetan masuk, kecoanya ada di depan ini udah liatin aku. Aku udah nggak kunci pintunya".


"Kamu mending pakai baju dulu beb".


"Gimana caranya pakai baju kalau kecoanya udah di depan mata?" kesal Raisa.


Mau tidak mau Naufal akhirnya masuk ke dalam kamar mandi. Benar saja ada kecoa di lantai sedang menatap Raisa yang sudah jongkok di atas kloset.


Naufal menelan ludah melihat posisi Raisa yang jongkok dan hanya menggunakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya.


"Beb kenapa bengong? Itu kecoanya diusir".


Naufal langsung tersadar dari lamunannya dan langsung menangkap kecoa itu dalam sekali tangkap, kemudian langsung membuangnya keluar.


"Udah dibuang beb?" tanya Raisa.


"Udah" jawab Naufal.


"Beb" panggilnya lagi.


"Kenapa?".


"Kamu..masih lama selesai datang bulan ya?" tanya Naufal ragu-ragu.


"Memangnya kenapa? Kamu udah nggak tahan ya karena ngeliat aku kayak gini?".


Dengan polosnya, Naufal mengangguk, membuat Raisa tertawa kencang.


"Kok ketawa?".


"Habisnya kamu lucu sih. Dulu aja bilangnya nggak mau gituan sama aku. Sekarang malah nanya-nanya".


"Maaf" kata Naufal tertunduk lesu.


"Tunggu 5 atau 6 hari lagi beb. Sabar ya".


"Lama banget".


"Udah nggak tahan? Atau aku buka aja nih handuknya sekarang?".


"Jangan. Nanti aku tunggu aja. 5 atau 6 hari lagi kan?".


"Iya".


"Oke. Aku pergi ke dapur lagi, lanjutin masak. Kamu ganti baju aja dulu".


Tahan Naufal. Kamu pasti bisa menahan beberapa hari lagi. Anggaplah ini hukuman karena sudah membiarkan istri secantik Raisa dibiarkan perawan sampai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2