
Acara belajar masak pun dimulai dengan model seperti militer ala Mama Nia.
"Ambil bawang putih, cincang halus. Cepat!" perintah Mama Nia.
"Sabar dong, Ma. Kan baru belajar nih"
"Jangan ngebantah, ini demi kebaikan kamu"
"Iya ini juga lagi dipotong. Gini kan caranya?"
"Iya begitu cepetan"
Selesai memotong beberapa bahan untuk membuat cabenya, kini saatnya Raisa harus mengeksekusi ikan di dalam wajan berisi minyak yang sudah mulai panas.
"Cepat masukkan ikannya"
"Ma, tapi kalau minyaknya kena aku gimana? Aku pakai helm dan jas hujan ya untuk pelindung diri. Aku lihat di internet gitu caranya"
"Nggak boleh. Kamu harus berani. Masa kecipratan minyak dikit aja harus takut daripada kehilangan suami sih. Cepetan lakuin, kalau nggak mau suami kamu terbuai dengan wanita lain"
"Ih Mama sukanya pakai ancaman kayak gitu segala. Naufal nggak mungkin kayak gitu"
"Kamu nggak pernah tau. Memangnya 24 jam kamu temenin dia terus di sekolah dan di kantor? Nggak kan? Jadi jangan banyak bicara"
Setelah menarik napas cukup panjang, Raisa segera memasukkan ikan secara perlahan ke dalam wajan.
Saat ikannya dimasukkan, bunyi cipratan minyak membuat Raisa terkejut. Mama Nia juga ikutan terkejut melihat anaknya yang sudah berteriak.
"Raisa kamu mau bikin jantungan ya? Mama jadi kaget gara-gara kamu teriak"
"Mama sih pakai acara suruh goreng ikan segala. Dimana-mana tuh harus dimulai dari yang mudah dulu masaknya" kesal Raisa.
Percecokan antara ibu dan anak terjadi selama proses masak-memasak.
.
.
.
Raisa baru saja selesai memasak. Ia sangat kelelahan diajari oleh mamanya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, karena tidak kuat lagi berdiri.
"Baru gitu aja udah capek, gimana kalau Mama suruh masak yang lain? Kira-kira masih sanggup nggak?" tanya Mama Nia.
"Nggak tau, Ma. Aku capek banget pokoknya. Mana El? Aku butuh dia jadi penyemangat nih"
Raisa langsung memanggil bibi yang sedang menjaga baby El, agar bisa memberikan baby El kepadanya.
"Sini sayang sama Mama. Mama kangen peluk kamu. Oma kamu jahat soalnya"
Mama Nia langsung mencubit tangan Raisa hingga sang anak meringis kesakitan.
"Aww Mama kok cubit aku sih? Sakit tau" kesal Raisa.
"Mama tuh bukannya jahat, tapi hanya mengajarkan kamu memasak sedikit saja biar setidaknya ada yang kamu tau. Nggak lucu kalau nanti Naufal berpaling dari kamu karena kamu nggak bisa masak"
"Dia nggak mungkin kayak gitu, Ma. Sekarang dia tuh udah bucin banget ke aku. Masa ya, tadi kan mendung tuh terus dia hampir nggak mau ke sekolah gara-gara pengen berduaan dengan aku. Mantap kan, Ma?"
__ADS_1
"Wah serius kamu?" tanya Mama Nia, takjub.
"Serius dong. Padahal kan Naufal dulunya nggak pernah kayak gitu" jawab Raisa.
"Hebat sih. Terus kenapa dia tetap ke sekolah sekarang?"
"Karena dia udah istigfar tadi, jadinya akal sehatnya muncul lagi deh" kata Raisa, sambil memanyunkan bibirnya.
"Kalau itu mah nggak sengaja namanya. Udah pokoknya kamu harus bisa masak, karena sebentar lagi Naufal akan masuk kuliah. Kamu nggak mau kan tersaingi dengan wanita-wanita kampus yang cantik-cantik? Jadi ikuti saran Mama"
"Siap, Ma. Aku akan dengerin semua perkataan Mama meskipun menyebalkan hehe" ucap Raisa sambil cengengesan.
"Huhh untung anak Mama. Udah sana kamu buatin susu untuk El, kelihatannya dia haus tuh" tunjuk Mama Nia kepada baby El yang sedang menghisap jempolnya.
"Oh iya aku buatin susu dulu. Mama jagain El bentar ya"
Raisa bangkit dari sofa, kemudian mulai membuatkan susu untuk Baby El.
Sesudah membuatkan susu, Raisa segera memberikannya kepada baby El, namun ditolak.
"Loh kok dia nggak mau minum, Ma?"
"Coba sekali lagi"
Raisa kembali memberikan di depan mulut baby El, tapi tetap saja ditolak dan memalingkan wajahnya sambil menggeliat seperti tidak suka.
"Tetap nggak mau, Ma"
"Mungkin dia udah nggak suka susu ini" kata Mama Nia.
"Tapi kemarin dia masih mau kok" ucap Raisa.
"Tapi ini susunya masih banyak Ma, mubazir kalau dibuang. Mana mahal lagi harganya"
Raut wajah Raisa kelihatan sangat sedih. Mama Nia memahami keadaan anaknya itu.
"Nanti Mama yang beliin ya. Kamu nggak usah khawatir"
"Nggak usah, Ma. Aku punya uang kok, nggak apa-apa" tolak Raisa.
"Simpan uang kamu untuk keperluan El yang lain. Untuk sekarang nanti Mama yang beliin untuk cucu Mama"
"Makasih ya, Ma. Maaf ngerepotin"
"Nggak dong. Mama malah senang kamu repotin gini. Kalau nggak direpotin Mama jadi sedih"
"Makasih Mama sayang"
"Iya sama-sama. Nanti sore kita pergi je supermarket dekat sini ya untuk beli susu El" ucap Mama Nia
"Siap bos" kata Raisa, sangat bersemangat.
Raisa sangat terharu karena Mama Nia sangat pengertian. Ia memeluk mamanya itu saking senangnya.
Malam harinya, Naufal baru saja pulang dari kantor. Ia mampir ke rumah mertuanya untuk menjemput anak dan istrinya yang sedari tadi berada disana.
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Beb akhirnya kamu datang juga. El sama aku udah tungguin loh dari tadi" kata Raisa, bergelayut manja di lengan Naufal.
"Elnya dimana?" tanya Naufal.
"Lagi di kamar main sama Mama dan Papa" jawab Raisa.
"Kita makan malam disini aja ya. Udah malam juga ini" lanjutnya.
"Iya boleh"
Raisa dan Naufal akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama di rumah Mama Nia dan Papa Adit.
Ia mengajak Naufal masuk ke dalam rumah dan memanggil orang tuanya untuk turun di bawah.
Papa Adit dan Mama Nia yang sedang menggendong baby El, turun bersamaan menuruni tangga.
"Eh nak Naufal udah datang. Kita makan malam bareng dulu ya. Kan udah lama kalian nggak makan bareng disini" ucap Mama Nia.
"Iya, Ma" kata Naufal, sambil tersenyum.
Di tengah makan malam mereka, tiba-tiba Papa Adit bertanya "Gimana ekonomi keluarga kalian? Baik-baik aja?"
"Iya. Baik kok, Pa" jawab Raisa dan mendapat anggukkan dari Naufal.
"Kalau butuh apa-apa bilang ya. Jangan sungkan. Kita kan keluarga, jadi jangan malu untuk meminta bantuan apapun itu" jelas Papa Adit.
"Iya, Pa. Sejauh ini keuangan kami baik-baik saja, walaupun sempat ada masalah sedikit. Tapi sekarang sudah diperbaiki kok" ucap Naufal.
"Bagus lah kalau begitu. Silahkan lanjut makan lagi"
Setelah makan dan sedikit mengobrol, Mama Nia menawarkan Raisa dan juga Naufal agar menginap di rumah. Akan tetapi, mereka memutuskan untuk tetap pulang karena esok hari Naufal harus berangkat ke sekolah.
Sesampainya di rumah, Naufal langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Raisa sedang sibuk mengganti pakaian tidur baby El.
"Beb, tolongin ambilin handuk dong. Aku lupa tadi" kata Naufal dari dalam kamar mandi.
"Hmm lupa beneran apa lupa boongan? Jangan-jangan sengaja godain aku ya" ucap Raisa, sambil tertawa kecil.
"Nggak dong, beb. Kalau godain kamu mah udah dari tadi aku keluar telanjang"
"Ih bagus itu. Kamu mulai nakal sekarang ya beb. Aku suka deh"
"Bercanda doang. Tolong ambilin dong, aku udah kedinginan nih beb"
"Oke tunggu-tunggu"
Raisa mengambilkan handuk untuk Naufal, kemudian mengetuk pintu kamar mandi untuk memberikannya.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Naufal benar-benar dalam keadaan tanpa sehelai benangpun berdiri di depan Raisa. Tentu saja hal itu membuat Raisa sangat syok. Meskipun mereka sudah berhubungan dan sudah saling melihat kepunyaan masing-masing, tetapi tidak pernah dalam keadaan sejelas ini.
"Beb, kamu beneran mau godain aku hah? Biasanya kamu nggak berani kayak gini loh" kata Raisa, yang masih terkejut.
"Kamu kan istri aku. Apa lagi yang harus disembunyiin? Sini handuknya"
Raisa menyodorkan handuk kepada Naufal dengan wajah yang masih syok.
"Jangan kaget gitu dong beb. Nanti kita tempur kalau El udah tidur" bisik Naufal, kemudian keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya.
__ADS_1
Gila. Kok sekarang jadi dia yang agresif ya. Padahal dulu kan aku yang kayak gitu. Malah sekarang aku yang jadi deg-degan nih, gawat. Gumam Raisa.